Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 106 Masih Dalam Proses


"Lain kali bisa tidak bersikap baik pada temanku?" kata Davina.


"Tidak mau." sahut Marvin.


"Menyebalkan sekali." ucap Davina kesal.


"Aku tidak peduli siapapun, yang aku mau kamu hanya memperhatikan aku." kata Marvin.


"Dasar kekanakan." cibir Davina.


"Jo, bisakah kau mengajari atasanmu ini agar tidak bersikap aneh seperti ini?" pinta Davina.


"Emm... Itu.."


Johan bisa melihat tatapan tajam Marvin dari kaca spion membuatnya tak berani berkata-kata.


"Tatapanmu itu bisa mengintimidasi orang. Bisa tidak jangan membuat orang ketakutan?" protes Davina mencubit pelan perut suaminya.


"Aku memang seperti ini. Hanya kepadamulah aku akan bersikap lembut dan manja." bisik Marvin.


"Terserah kau saja!" ucap Davina lelah.


20 menit berlalu, akhirnya sampailah mereka dimansion Harris.


"Nenek sudah tidur?" tanya Davina kepada Mira yang kebetulan masih terjaga.


"Sudah, Nyonya." jawab Mira.


"Permisi, selamat malam Tuan dan Nyonya." pamit Mira bergegas mengundurkan diri saat mendapat tatapan dingin Marvin.


"Kau! Lebih baik kau tutup matamu itu." ucap Davina semakin kesal lalu meninggalkan Marvin begitu saja.


"Apa yang salah?" tanya Marvin bingung lalu segera menyusul istrinya.


Marvin melihat Davina yang sudah berganti pakaian tidur dan sibuk membersihkan wajahnya.


"Sayang, kau marah?" tanya Marvin lembut.


"Tidak." jawab Davina singkat.


"Apa salahku?" tanya Marvin tanpa dosa.


"Astaga pria ini masih saja bertanya apa kesalahannya." gumam Davina tak habis pikir.


"Katakan padaku, Sayang." pinta Marvin memeluk tubuh Davina dari belakang.


Davina membalikkan badannya lalu menatap lekat wajah suaminya.


"Apa salahku?" tanya Marvin yang saat ini berlutut dihadapan Davina.


Davina menghela nafas kemudian menarik kedua sudut bibir Marvin dengan ujung jarinya.


"Bisakah kau menampilkan senyum ini kepada orang lain?" tanya Davina yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Marvin.


"Kenapa?" tanya Davina heran.


"Aku hanya ingin menunjukkan sisi lainku kepada istriku. Hanya kau yang boleh melihat senyumanku, menerima kelembutanku." jawab Marvin membuat Davina tertegun.


"Apa alasannya?" tanya Davina lagi.


"Hanya kau seorang yang bisa membuatku nyaman menjadi diriku sendiri. Kau membuatku tergila-gila, Sayang. Tapi dihadapan orang lain aku tetaplah Marvin Harris yang arogan." jawab Marvin.


Davina tersenyum kemudian menarik wajah Marvin dan memberikan kecupan singkat dikening suaminya.


"Baiklah, aku tidak akan protes lagi dengan tampang yang kau tampilkan kepada orang lain itu. Maaf, aku belum sepenuhnya memahamimu." ucap Davina merasa bersalah.


"Tidak masalah. Waktu kita masih panjang untuk saling memahami satu sama lain. Aku mencintaimu, istriku." kata Marvin lembut.


Kedua sejoli itu saling berpandangan dan memberikan senyum manisnya.


"Bagaimana kalau malam ini....."


"Tidak. Besok aku mau menemani Nenek belanja." tolak Davina segera sebelum Marvin menyelesaikan ucapannya.


"Baiklah. Tapi biarkan aku tidur sambil memelukmu ya?" pinta Marvin yang dijawab anggukan oleh Davina.


...****************...


Pagi-pagi sekali Julia sudah bersiap, terlihat bahwa wanita tua itu sangat antusias untuk membawakan oleh-oleh kepada orangtua Davina.


Davina dan Julia pergi setelah Marvin berangkat ke perusahaan. Kali ini ada Thomas yang menemani mereka.


"Apa saja barang kesukaan Ibumu?" tanya Julia yang saat ini sudah berada dipusat perbelanjaan kota bersama Davina.


"Apa saja yang Nenek beli pasti Ibu suka." jawab Davina dengan senyum manisnya.


"Kalau begitu Nenek akan membawa oleh-oleh yang banyak." ucap Julia bersemangat.


Davina tersenyum lalu mengikuti langkah Julia yang keluar masuk sebuah outlet.


Thomas yang mengikuti mereka sedari tadi pun juga mulai kewalahan membawa beberapa paperbag yang sudah memenuhi tangannya.


"Apakah masih ada yang ingin Nenek beli?" tanya Davina.


"Tapi Nenek bisa lihat Thomas sekarang." ucap Davina seketika membuat Julia menoleh.


Julia terkejut saat melihat kedua tangan pria itu yang penuh dengan barang belanjaannya.


"Astaga.. Jadi aku sudah membeli barang sebanyak itu?" tanya Julia tak sadar.


Davina menganggukkan kepalanya dan tertawa kecil.


"Itu sudah cukup, Nek. Ibu pasti sangat menyukai oleh-oleh dari Nenek. Hari sudah siang, Nenek mau makan siang dulu?" tanya Davina menawarkan.


"Iya, boleh. Karena saking asiknya belanja Nenek jadi lupa waktu." kekeh Julia.


"Kau letakkan barang-barang dimobil dulu setelah itu bergabunglah makan siang bersama kami." titah Davina.


"Baik Nyonya Muda." sahut Thomas patuh.


"Nenek mau makan apa?" tanya Davina.


"Apa saja. Wanita tua seperti Nenek ini tidak pilih-pilih makanan." jawab Julia.


"Baiklah kalau begitu biarkan Vina yang memilihkan makanan untuk Nenek." sahut Davina antusias.


"Cucuku memang tidak salah memilih istri." puji Julia membelai lembut kepala Davina.


"Nenek terlalu memujiku. Ah itu dia, ayo kita makan siang disana, Nek." ajak Davina menggandeng wanita tua itu.


"Baik." sahut Julia mengikuti cucu menantunya.


"Pilihanmu benar-benar sesuai dengan selera Nenek." ucap Julia melihat hidangan yang sudah tersaji dimeja mereka.


"Syukurlah kalau Nenek suka." sahut Davina lembut.


"Marvin benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu. Setelah ini tidak ada yang perlu Nenek khawatirkan lagi." ucap Julia seketika membuat Davina menghentikan makannya.


"Apa maksud Nenek?" tanya Davina.


"Nenek lega jika suatu saat meninggalkan Marvin sudah ada dirimu disisinya." jawab Julia.


"Nenek jangan bicara seperti itu kalau Marvin mendengarnya pasti sangat sedih." tegur Davina.


"Usia Nenek sudah tidak muda lagi." ucap Julia sadar diri.


"Bukankah Nenek ingin sekali memiliki cicit? Bagaimana Nenek bisa berkata seperti itu sebelum cicit Nenek lahir?" protes Davina membuat Julia terkekeh.


"Kau benar. Jadi apakah kalian sudah memprosesnya?" tanya Julia.


"UHUK!" Davina terbatuk saat mendengar pertanyaan Julia.


Julia tersenyum tipis.


"Ah Nenek sudah menduganya. Kalau begitu Nenek akan menunggu sampai cicitku lahir. Kalian anak muda harus bekerja keras ya." ucap Julia membuat Davina malu.


"Akhirnya cucu bodohku itu bisa juga diandalkan dalam masalah asmara." gumam Julia senang.


...****************...


"Jo, besok aku akan pergi ke kota K. Aku serahkan semua urusan kepadamu dalam beberapa hari kedepan." ucap Marvin.


"Bisakah Tuan memberi tugas tidak mendadak seperti ini?" protes Johan.


"Kau keberatan?" tanya Marvin dengan tatapan tajamnya.


"Tidak sama sekali, Tuan. Saya pastikan akan mengurusnya dengan baik." jawab Johan.


"Bagus. Kau memang bisa kuandalkan." sahut Marvin menyeringai.


"Bagaimana mungkin aku menolak jika tatapannya saja tadi seperti ingin mengulitiku hidup-hidup." batin Johan merinding.


"Oh ya siapkan beberapa oleh-oleh untuk kedua mertuaku. Malam ini harus sudah diantar ke kediaman Harris." perintah Marvin.


"Baik Tuan." sahut Johan.


"Sudah kuduga. Benar-benar tidak membiarkan aku santai sedikitpun." gumam Johan.


"Kenapa tidak segera pergi? Kau tidak sanggup?" tanya Marvin yang melihat Johan masih berdiam diri.


"Baik akan segera saya laksanakan, Tuan." sahut Johan tergagap.


"Tunggu! Pakai kartu ini." ucap Marvin menyodorkan sebuah kartu hitam kepada Johan.


"Baik Tuan." sahut Johan segera mengambil kartu itu.


"Untung sekali masih punya hati nurani." gumam Johan.


"Kau mengutukku?" pertanyaan Marvin membuat Johan terkesiap.


"Saya tidak berani, Tuan. Permisi." pamit Johan segera melarikan diri.


-BERSAMBUNG