
"Kenapa kau kemari?" tanya Marvin dengan tatapan tak suka saat melihat kedatangan Johan.
"Maaf Tuan, ada meeting yang harus Tuan hadiri pagi ini." ucap Johan menyela Marvin dan Davina yang tengah sarapan.
"Bukankah aku sudah memintamu untuk mengosongkan jadwalku hari ini?" kata Marvin emosi.
"Maaf Tuan, tapi ini permintaan Tuan Anton." sahut Johan bersalah.
"Batalkan saja. Ganti saja dilain hari." ucap Marvin tak bersemangat.
"Tapi Tuan..."
"Aku tidak mau tahu. Aku sudah berjanji untuk menemani istriku hari ini. Jangan menggangguku." potong Marvin dengan ekspresi yang menakutkan bagi Johan.
"Mas, jangan seperti itu. Johan hanya melakukan tugasnya. Kau meeting saja dulu." ucap Davina menyela karena tak tega melihat Johan yang hanya tertunduk merasa bersalah.
"Tapi kan.."
"Sudah.. Lagipula kau meeting tidak mungkin seharian kan? Setelah meeting baru kita jalan-jalan." ucap Davina mencoba membujuk suaminya.
"Baiklah kalau begitu." sahut Marvin setuju.
"Kau tunggu diluar." titah Marvin dingin yang diangguki oleh Johan.
"Kau galak sekali dengannya. Lihat saja dia sampai ketakutan dengan amarahmu." ucap Davina.
"Aku atasannya wajar saja kalau dia harus takut kepadaku. Tapi kenapa kau membelanya? Jangan bilang kau tertarik padanya?" tanya Marvin membuat Davina tertawa.
"Bodoh sekali. Aku hanya tidak ingin kau dicap sebagai bos kejam oleh bawahanmu." jawab Davina santai.
"Syukurlah aku kira kau tertarik padanya. Tidak ada sisi dari diriku yang bisa dibandingkan dengannya." kata Marvin angkuh.
"Kau percaya diri sekali. Cepat habiskan sarapanmu, setelah itu segera bersiap." ucap Davina mengingatkan.
"Baiklah. Terimakasih istriku, ternyata keahlian memasakmu lumayan juga." puji Marvin.
"Hem.. Kau tidak boleh meremehkanku." sahut Davina dengan senyum tipis kemudian keduanya melanjutkan menikmati makanannya.
Setelah berganti pakaian, Marvin dan Davina bergegas menyusul Johan yang sudah menunggu didalam mobil.
"Kau bisa berbelanja jika bosan menungguku." ucap Marvin yang diangguki kepala Davina.
Marvin sengaja mengajak Davina untuk ikut dengannya. Kebetulan pertemuannya dengan Anton ada di hotel yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan. Setelah meeting, Marvin berniat untuk mengajak Davina berjalan-jalan sesuai dengan rencananya tadi pagi.
"Sudah sampai, Tuan. Tuan Anton sudah menunggu di ballroom." ucap Johan setelah memarkirkan mobil.
"Di ballroom? Bukannya hanya meeting berdua?" tanya Davina merasa ada hal aneh.
"Kau tidak perlu khawatir, istriku." jawab Marvin santai.
"Apakah orang yang mengajakmu meeting adalah orang dalam foto itu?" tanya Davina teringat dengan nama Anton yang pernah disebut Marvin.
"Iya, kau benar." jawab Marvin.
"Apakah kau yakin dia tidak akan berbuat sesuatu?" tanya Davina sedikit panik.
"Sepertinya kau sudah mulai jatuh hati padaku ya? Kau benar-benar sangat mengkhawatirkan aku." goda Marvin membuat wajah Davina memerah.
Marvin tersenyum saat melihat kegugupan Davina kemudian membelai lembut kepala istrinya itu.
"Kau tenang saja, Sayang. Dia tidak akan berani mencelakaiku disini." jawab Marvin mencoba menenangkan Davina.
"Kau yakin?" tanya Davina memastikan.
"Oke. Jaga dirimu." kata Davina penuh perhatian.
Marvin tersenyum puas karena wanita yang diawal selalu menolaknya kini sudah mulai perhatian dengannya.
"Terimakasih, istriku." ucap Marvin bersemangat.
Dengan cepat Marvin memberikan kecupan dikening Davina membuat gadis itu termangu. Setelah itu Marvin meninggalkannya begitu saja bergegas menyusul Johan untuk menemui Anton.
"Pria ini benar-benar bersikap seenaknya sendiri." gerutu Davina kesal namun juga ada perasaan aneh yang bersemayam dihatinya.
Tanpa disadari Davina menyentuh kening bekas ciuman Marvin sambil tersenyum tipis.
...****************...
"Sayang, kenapa kau diam saja? Ayo berbicaralah. Kau juga sudah tidak makan seharian. Kalau kau terus begini kau bisa sakit." kata Nathan sedih melihat kondisi istrinya.
Setelah kehilangan janinnya, Amel berubah menjadi pemurung. Hal itu membuat Nathan dan kedua orangtuanya merasa iba. Mereka tahu apa yang dialami gadis itu sangat membuatnya terpukul.
"Bagaimana kalau kau ajak istrimu berlibur?" kata Andreas menawarkan.
"Apa yang dikatakan Papamu benar, Nak. Mungkin dengan begitu bisa membantu istrimu melupakan kesedihannya." sahut Bella setuju dengan ide suaminya.
"Nanti aku coba bicarakan dengan Amel, Pah Mah." ucap Nathan sendu.
"Bersabarlah. Temani istrimu sampai dia bisa menghilangkan kesedihannya. Maaf jika dulu Papa sempat tidak merestui hubungan kalian. Tapi kali ini Papa hanya ingin kalian bahagia." kata Andreas bersalah dengan menepuk pundak putranya.
"Terimakasih Pah." sahut Nathan lega.
Nathan merasa sedih dengan kondisi istrinya yang masih terpuruk karena kehilangan calon anak mereka. Bukan Nathan juga tidak merasa sedih tapi ia tidak ingin ikut terlarut dalam keterpurukan seperti istrinya. Nathan berusaha untuk menguatkan dan menghibur Amel agar kembali menjadi gadis periang yang selama ini ia kenal. Namun dibalik kehilangan itu, Nathan merasa bahagia melihat perubahan kedua orangtuanya yang mulai menerima Amel.
"Sayang, kau dengar sendirikan Papa dan Mama sudah mulai menerimamu. Aku harap kau bisa segera bangkit dari kesedihan ini. Kau harus ikhlas, anak kita pasti akan sedih jika melihat ibunya terpuruk seperti ini." ucap Nathan setelah kedua orangtuanya keluar dari kamarnya.
"Maafkan aku tidak bisa menjaganya." kata Amel lirih dengan airmata menetes.
"Sayang ini bukan salahmu, oke? Jangan terus meratapinya. Kau juga harus melanjutkan hidupmu lagi. Kau sudah tidak peduli padaku?" tanya Nathan sedih.
Pertanyaan Nathan membuat Amel menoleh. Nathan bisa melihat wajah sendu dan mata istrinya yang membengkak karena terlalu lama menangis.
"Melihat kau seperti ini membuat hatiku sakit. Bisakah kau kembali menjadi Amelku yang dulu?" pinta Nathan mengiba.
Amel sadar jika dirinya sudah terlalu lama berlarut dalam kesedihan. Amel merasa bersalah karena mengabaikan suaminya dalam beberapa hari ini.
"Maafkan aku." ucap Amel lirih.
"Kau tidak salah, Sayang. Berjanjilah padaku kau akan keluar dari kesedihan ini ya?" kata Nathan sembari memeluk istrinya erat.
"Baik. Akan aku usahakan." sahut Amel membalas pelukan suaminya dengan suara sesenggukkan.
"Tidak apa menangislah sepuasmu. Tapi setelah ini kau harus kembali seperti dulu. Kita jalani kehidupan baru dan membuat Nathan dan Amel junior lagi, oke?" ucap Nathan mencoba menghibur istrinya yang sudah mulai menghangat.
"Oke." sahut Amel sembari mengeratkan pelukkannya.
Nathan tersenyum dan bernafas lega karena Amel sudah mulai kembali seperti sedia kala. Nathan akan terus berusaha untuk membahagiakan istrinya l walaupun sebenarnya dalam hatinya itu belum sepenuhnya milik Amel. Sampai saat ini masih ada bayang-bayang Davina yang menghantui dirinya namun ia berusaha keras untuk menghapus bayangan itu. Nathan tidak ingin melukai hati wanita lagi. Nathan akan berusaha menjadi suami terbaik untuk istrinya mulai saat ini dan seterusnya.
"Papa meminta kita untuk pergi berlibur. Apakah kau mau?" tanya Nathan lembut.
"Tidak masalah. Mungkin dengan begitu aku bisa merasa lebih baik." jawab Amel membuat Nathan tersenyum lega.
"Baiklah, aku akan meminta Papa menyiapkan semuanya. Kita akan bersenang-senang, oke?" kata Nathan lagi yang diangguki oleh kepala Amel dengan senyum tipis.
-BERSAMBUNG