
"Apa alasanmu menargetakan kami?" tanya Marvin.
"Heh, rupanya kalian beruntung juga." jawab Robert menyeringai.
"Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Marvin dengan emosi.
"Hahaha kalian adalah umpan." jawab Robert dengan tawa aneh.
"Apa maksudmu?" tanya Marvin dengan nada meninggi.
"Tenang, jangan terpancing." bisik Davina.
"Salah siapa kalian memiliki hubungan dengan orang yang kubenci. Aku menargetkan kalian karena aku tahu kalau Anton ingin membalas dendam dengan Adam Carlos. Awalnya aku mengira setelah mengetahui kalau gadis itu adalah keturunan Carlos maka Anton akan menghabisinya. Namun siapa sangka kalau Tuanku yang bodoh itu malah ingin mengurungkan niatnya." kata Robert.
"Jadi sebenarnya siapa targetmu? Aku atau Adam?" tanya Anton seketika membuat Robert menoleh.
"HAHAHA tentu saja kau! Aku tahu kisah masalalumu lalu memanfaatkannya yang membuatmu semakin menyimpan kebencian padanya. Hingga aku tahu siapa keturunan Carlos. Sayangnya sampai kapanpun kau takkan pernah bisa melawan Carlos untuk itu aku menyerang putrinya agar menghabisimu." jawab Robert.
Anton terdiam sejenak.
"Hah, aku tidak menyangka orang kepercayaanku berniat untuk mencelakaiku." ucap Anton menghela nafas berat.
"Itu salahmu! Kau begitu bodoh dan aku sangat membencimu." kata Robert.
"Bisa kau jelaskan apa kesalahanku?" tanya Anton penasaran.
"Kau tidak mungkin tidak ingat Dewi kan? Mantan tunanganmu? Aku yang mencintainya lebih dulu tapi kau datang menghancurkan segalanya." jawab Robert.
"Rupanya begitu. Sekarang aku mengerti." ucap Anton.
"Nak, apa kau sudah menentukan apa hukuman yang akan kau berikan padanya?" tanya Anton.
Davina menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, biarkan aku yang mengurusnya. Bolehkah?" tanya Anton lagi.
Davina memandang Marvin kemudian Adam secara bergantian.
"Kau bisa memanggilnya Paman." ucap Adam membelai lembut kepala putrinya.
"Baiklah, aku serahkan kepada Pa..."
"Sayang, sadarlah!" pekik Marvin yang terkejut saat Davina tumbang, untung saja tangannya sigap menopang tubuh istrinya yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Cepat bawa dia kerumah sakit!" seru Adam.
"Bagaimana dengan Ayah?" tanya Marvin.
"Aku akan menyusul." jawab Adam tegas.
"Baik." sahut Marvin segera menggendong istrinya ke mobil.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Orkan yang sedari tadi standby dimobil.
"Kembali kerumah sakit!" titah Marvin.
"Baik Tuan." sahut Orkan segera melajukan mobilnya.
"Hahaha aku berhasil!" kata Robert.
"Tutup mulutmu!" seru Adam dengan tatapan dingin.
Robert seketika terdiam saat matanya menatap Adam. Sebuah aura dingin yang mematikan.
"Kau sungguh berani sekali melukai putriku." kata Adam dengan tatapan yang sangat mengerikan.
"Tu-tuan mau apa?" tanya Robert ketakutan.
"Mau apa? Ckck apa kau tidak berpikir apa resikonya karena sudah menyakiti keluargaku?" tanya Adam menyeringai.
"Tu-tuan.. A-aku tahu aku salah. Ma-maafkan aku, Tuan." ucap Robert terbata dengan tubuh gemetar.
"Biarkan aku yang mengurusnya." sela Anton.
"Oke, aku serahkan padamu." ucap Adam.
"Tuan tolong maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku berjanji tidak akan bertindak tanpa perintahmu, Tuan." kata Robert semakin ketakutan.
Anton mendekati Robert dan mencengkeram dagunya dengan kuat.
"Sekali pengkianat tetaplah pengkhianat." ucap Anton menyeringai.
"Neo, pistolku!" seru Anton seketik Robert membulatkan kedua matanya.
"Ini Tuan." ucap Neo menyerahkan sebuah pistol ketangan Anton.
"Tu-tuan jangan Tuan. Tolong ampuni aku. Ingatlah tahun-tahun yang aku lakukan selama ini, Tuan." pinta Robert memelas.
DOORR!
"Baik Tuan." sahut Neo patuh.
"Mengenaskan sekali." gumam Neo melihat Robert yang sudah tergeletak tak bernyawa.
...----------------...
"Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah tadi aku sudah memeriksanya dan baik-baik saja?" tanya dokter Faris marah.
"Ma-maaf, Dok. Ada sedikit kejadian yang mungkin membuatnya tertekan." jawab Marvin.
"Untung saja tidak berbahaya. Jagalah istrimu dengan baik. Biarkan dia menginap semalam lagi disini." ucap Faris tegas.
"Baik terimakasih, Dok." sahut Marvin.
"Syukurlah.. Kau baik-baik saja, Sayang. Kau selalu saja membahayakan dirimu sendiri. Aku benar-benar tidak bisa melarangmu." gumam Marvin mengecup punggung tangan istrinya.
"Apakah putriku baik-baik saja?" tanya Adam dengan nafas tersengal-sengal diikuti Anton dibelakangnya.
Terlihat jelas raut kepanikan diwajah pria itu.
"Davina baik-baik saja, Ayah. Hanya perlu istirahat lebih lama." jawab Marvin.
"Syukurlah." sahut Adam bernafas lega.
Adam duduk disofa yang terletak diruang rawat itu disusul dengan Anton yang duduk disebelahnya.
"Maaf karena kecerobohanku membuat putrimu menderita seperti ini." ucap Anton bersalah.
Adam menoleh lalu menepuk pelan pundak Anton.
"Ini bukan salahmu. Sudahlah yang penting anakku sekarang baik-baik saja." sahut Adam.
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak saling bicara sesantai ini." kata Anton.
"Kau benar. Hah... Aku jadi ingat masa-masa kita muda dulu." sahut Adam membuat keduanya terkekeh.
"Maafkan aku karena kesalahpahamanku sendiri membuat persahabatan kita berantakan." sesal Anton.
"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Jalani kehidupan sekarang." kata Adam.
"Haha usia kita sudah tidak muda lagi. Aku merasa sangat lucu." ucap Anton tertawa.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Adam membuat Anton terdiam.
"Seperti kataku tadi, setelah ini mungkin aku akan meninggalkan negara ini. Banyak kenangan yang membuatku teringat dengan Riana dan semakin menyesal." jawab Anton.
"Kau yakin?" tanya Adam memastikan.
"Tentu. Oh ya ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan putrimu, bolehkah?" tanya Anton.
"Boleh saja tapi tunggu sampai ia sadar." jawab Adam.
"Kau benar." sahut Anton terkekeh.
"Kau mendidiknya dengan sangat baik. Diusia muda sepertinya, gadis yang benar-benar tangguh. Sangat jarang putri yang terlahir kaya mempunyai kepribadian seperti itu. Diluar sana pasti akan memanjakannya terlebih jika putri satu-satunya." kata Anton.
"Heh, kau tidak lupa siapa aku kan? Terlalu banyak musuh yang bersembunyi yang bersiap untuk melawanku. Mana mungkin aku membiarkan anakku menjadi sasaran mereka dengan mudah." sahut Adam.
"Baiklah, aku salut denganmu." kata Anton.
"Akhirnya kau memujiku." ucap Adam.
Kedua pria paruh baya itu terkekeh bersamaan.
"Andai aku lebih berani mungkin aku dan Riana..."
"Hei jangan menyalahkan dirimu lagi. Aku rasa Riana juga tidak ingin kau terjebak dalam rasa bersalah seperti ini." sahut Adam menepuk pundak Anton.
"Hah... Karena kebodohanku aku harus kehilangan wanita yang aku cintai sekaligus calon anakku yang belum sempat aku rawat dengan baik." kata Anton kembali bersedih.
"Aku tahu ini tidak mudah bagimu." ucap Adam bersimpati.
"Kenapa kau tidak langsung memberitahuku sebelumnya? Dan membiarkan aku menyerangmu selama ini?" tanya Anton penasaran.
"Untuk apa? Lagipula dengan kemampuanmu itu, kau tidak akan sanggup mengalahkanku." cibir Adam yang tentu saja dengan maksud bercanda.
"KAU meremehkanku?!" protes Anton tak terima.
"Bukan meremehkan tapi kenyataan." sahut Adam terkekeh.
"Sial ucapanmu itu memang benar." kata Anton mengakui.
Marvin tersenyum tipis melihat kedua pria itu tidak lagi bersitegang dalam kesalahpahaman.
-BERSAMBUNG
Apakah masalah sudah selesai dan kehidupan yang damai akan datang?