
"Vina." panggil Marvin yang melihat Davina baru saja keluar dari lift.
Davina menoleh kearah sumber suara, kedua matanya membulat saat mendapati siapa yang memanggil dirinya.
"Marvin? Kenapa dia ada disini? Dia tidak tahu pertemuanku dengan Ayah dan Ibu kan?" tanya Davina dalam hati.
"Kau disini untuk apa?" tanya Marvin yang sudah berdiri dihadapan Davina.
"Bertemu seseorang." jawab Davina sedatar mungkin agar Marvin tidak mencurigainya.
"Apakah seseorang itu sangat penting bagimu?" tanya Marvin memastikan.
Davina mengernyitkan keningnya mencoba menebak apa maksud pertanyaan Marvin.
"Iya. Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Davina kebingungan.
Marvin menarik tangan Davina menuju pintu tangga darurat. Orkan dan Mely hendak mencegahnya namun tangan Davina memberikan kode bahwa dirinya baik-baik saja sehingga keduanya tidak bisa menghentikan tindakan Marvin.
"Ada apa?" tanya Davina yang mendapati kemarahan diwajah Marvin.
Marvin mendorong tubuh Davina ke tembok yang membuat gadis itu terpojok.
Davina masih berusaha tenang dan tidak melawan perlakuan Marvin.
"Kenapa kau tidak menerima tawaranku saja? Kenapa kau lebih memilih melakukan hal kotor seperti itu?" tanya Marvin membuat Davina kebingungan.
"Apa maksudmu?" tanya Davina.
"Aku melihatmu berpelukan dengan pria paruh baya dan masuk kekamarnya. Kenapa? Kenapa kau tidak memberiku kesempatan justru memilih menjual tubuhmu dengan pria tua itu?" tanya Marvin membuat Davina terkejut.
Davina yang sedari tadi tidak melakukan perlawanan akhirnya tidak sanggup menahan saat mendengar perkataan Marvin yang begitu merendahkannya.
PLAK!
Davina memberikan tamparan dipipi kiri Marvin dengan keras.
"Kenapa kau menamparku? Bukankah yang kukatakan benar? Apa pria tua itu benar-benar sangat penting bagimu?" tanya Marvin semakin menuduh Davina.
PLAK!
Davina kembali menampar pipi kanan Marvin membuat pria itu meringis.
"Ternyata dimatamu aku serendah itu." ucap Davina menatap nyalang wajah Marvin.
"Padahal aku baru saja ingin menyetujui tawaranmu. Tetapi perkataanmu hari ini membuatku sadar bahwa keputusanku itu salah. Kau belum mengenalku sepenuhnya tapi kau semudah itu menilaiku bahkan tidak menanyakan kebenarannya padaku." kata Davina kecewa.
"Aku pikir kau berbeda dari pria lainnya, ternyata aku salah. Dan ya, pria itu sangat penting bagiku bahkan kau tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya dihatiku. Aku harap kedepannya kita tidak perlu bertemu lagi." ucap Davina dengan tatapan penuh kebencian.
Davina bergegas melepaskan diri dan meninggalkan Marvin begitu saja.
"Nona apakah baik-baik saja?" tanya Mely khawatir.
Davina menganggukkan kepalanya namun Mely dan Orkan bisa melihat jelas raut kemarahan diwajah Davina.
Davina memberikan tatapan tajam ke arah Johan.
"Tolong sampaikan ke atasanmu itu, tidak perlu lagi mencari dan menemuiku. Anggap saja aku dan dirinya tidak pernah bertemu sama sekali." ucap Davina kemudian keluar dari hotel bersama Orkan dan Mely yang menyusul dibelakangnya.
Johan terkejut saat mendengar perkataan Davina lalu berniat segera menyusul Marvin.
"Tuan, ada apa Tuan? Kenapa Nona Davina terlihat sangat marah?" tanya Johan yang mendapati Marvin sudah keluar dari pintu tangga darurat.
"Ayo pulang." ajak Marvin yang tertunduk lesu.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Johan kebingungan namun hanya didalam hati.
Johan mengikuti perintah Marvin dan segera mengemudikan mobilnya menuju mansion keluarga Harris.
Sepanjang perjalanan Johan dapat melihat wajah sedih Marvin. Entah apa yang terjadi diantara Marvin dan Davina sehingga membuat majikan Johan yang terkenal tanpa ekspresi itu terlihat begitu murung.
Tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Marvin membuat Johan semakin penasaran namun tidak berani menanyakannya kepada Marvin. Johan takut menyinggung privasi tuannya dan membuat Marvin marah.
20 menit kemudian, sampailah Johan dan Marvin di mansion mewah milik keluarga Harris.
Marvin langsung masuk kedalam kamarnya membuat Julia yang kebetulan berada diruang tamu terheran-heran.
Julia yang hendak menyusul ke kamar Marvin dihentikan oleh panggilan Johan.
"Nyonya besar gawat!" panggil Johan panik.
"Ada apa? Kenapa pulang-pulang wajah cucuku jelek sekali? Bahkan dia tidak menyapaku sama sekali." tanya Julia dengan tatapan dingin.
"Saya juga tidak tahu kejadian jelasnya, Nyonya. Tapi tadi waktu melakukan kunjungan dihotel, Tuan Marvin bertemu dengan Nona Davina. Sepertinya keduanya sedang bertengkar. Saya lihat Nona Davina sangat marah sedangkan Tuan muda berekspresi seperti itu." jawab Johan mencoba menjelaskan sesuai dengan apa yang ia lihat.
Julia mengernyitkan dahinya mencoba mencerna penjelasan Johan.
"Apa yang dilakukan cucuku itu?" tanya Julia penasaran.
"Kau suruh Mira membuatkan minuman segar untuk cucuku. Aku akan menyusulnya." perintah Julia.
"Baik Nyonya." sahut Johan patuh.
Julia bergegas menaiki tangga menuju kamar Marvin yang berada dilantai dua. Julia mendapati pintu kamar Marvin yang setengah terbuka dan memutuskan untuk memasukinya.
Julia mendapati pemandangan yang tak biasa dari cucunya itu. Sepatu dan jas yang dilemparkan sembarangan kelantai, sprei yang berantakan dan Marvin yang duduk di balkon dengan memegangi kepalanya.
"Cucuku ada apa?" tanya Julia khawatir.
Marvin terkejut dan menoleh ke sumber suara yang merupakan neneknya, wanita yang paling menyayanginya setelah kepergian kedua orangtuanya.
"Nek.. Aku sudah melakukan kesalahan, Nek." jawab Marvin dengan raut wajah sedih.
"Kesalahan apa yang kau lakukan sehingga membuatmu berantakan seperti ini?" tanya Julia penasaran.
"Aku.. Aku sudah menyakiti Davina, Nek." jawab Marvin menundukkan wajahnya.
"Apa yang kau lakukan kepada gadis itu?" tanya Julia tidak sabar.
Marvin menatap Julia kemudian menceritakan pertemuannya dengan Davina dan kejadian dihotel secara rinci.
Julia memukul pundak Marvin dengan keras membuat pria itu hanya bisa pasrah menerima pukulan neneknya.
"Kau benar-benar bodoh! Kenapa bisa berpikiran sesempit itu? Kenapa kau tidak menanyakan dulu kebenarannya dan langsung menuduhnya seperti itu? Jelas sekali kalau dia sangat marah dan kecewa padamu." umpat Julia menggerutu karena kebodohan cucunya.
"Apa ini bekas tamparan gadis itu?" tanya Julia melihat bekas merah dikedua pipi Marvin.
Marvin menganggukkan kepalanya.
"Nenek juga pasti akan melakukan hal yang sama padamu kalau diposisi Davina. Nenek tidak menyangka ternyata kau sebodoh ini!" ucap Julia kesal.
"Nenek berhentilah mengataiku." protes Marvin.
"Kau memang pantas mendapatkan kata-kata itu. Sekarang karena kebodohanmu itu kau sudah kehilangan kesempatan untuk mendekati gadis itu!" kata Julia.
"Nenek tolong bantu aku. Aku menyesal, Nek. Aku memang salah, aku yang tidak bisa berpikiran jernih saat melihat Davina memeluk pria lain. Harusnya aku tidak berprasangka dan mengatakan hal rendahan itu kepada Davina." ucap Marvin menyesal.
"Semua telah terjadi. Kau ingin Nenek berbuat apa untuk menebus kesalahanmu itu?" tanya Julia yang tidak bisa memikirkan cara untuk menangani masalah cucunya.
"Nenek bujuk Davina saja untuk menikah denganku. Nenek bisa berkata kalau pernikahan ini menjadi balas budi Nenek karena Davina pernah menyelamatkan Nenek." jawab Marvin membuat Julia memutar kedua bola matanya.
"Darimana kau mendapat pikiran seperti itu? Dasar bodoh! Nenek akan membantumu tapi tidak mau menggunakan cara licik yang kau pikirkan itu." kata Julia menolak ide gila cucunya.
"Dan untuk menghilangkan kekesalan Davina kepadamu, kau yang harus berusaha sendiri. Nenek tidak mau memaksanya untuk menikah dengan pria bodoh sepertimu." tambah Julia.
"Nenek kenapa berkata seperti itu?" tanya Marvin yang tidak terima dengan perkataan Neneknya.
"Semua itu ulahmu sendiri. Kau yang harus bertanggungjawab. Nenek tidak mau ikut campur." jawab Julia bijaksana.
"Nenek kejam sekali." lirih Marvin.
"Kau yang sudah menyia-nyiakan kesempatan bagus. Kali ini kau harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan Davina. Semoga berhasil." pesan Julia sebelum keluar dari kamar Marvin.
"Aku memang bodoh! Benar-benar bodoh!" umpat Marvin pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku kelinci kecilku. Tolong berikan aku kesempatan lagi." gumam Marvin penuh harap.
-BERSAMBUNG