Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 49 Merubah Penampilan


"Kenapa kita kesini?" tanya Marvin heran.


"Sudah kau ikut saja." jawab Davina.


"Hem.. Baiklah." sahut Marvin.


Entah apa yang dipikirkan Davina yang mengajak Marvin ke pusat perbelanjaan kota.


"Apa semua wanita seperti itu ya? Dia pasti ingin berbelanja untuk meluapkan emosinya." gumam Marvin sembari terus mengikuti langkah Davina.


"Ayo masuk." ajak Davina.


Marvin menurut namun dengan pikiran penuh pertanyaan.


"Kenapa dia masuk ke toko pakaian pria?" tanya Marvin dalam hati.


"Kau cobalah ini." ucap Davina sembari menyerahkan satu set pakaian kasual pria kepada Marvin.


Marvin dengan cepat mematuhinya saja dan masuk ke ruangan ganti.


"Mbak, tolong siapkan yang itu dan itu ya." pinta Davina.


"Baik Nona." sahut pegawai wanita ramah.


"Itu juga bagus, terlihat santai tapi pasti keren kalau dipakai Marvin." gumam Davina.


"Mbak yang ini juga ya." kata Davina lagi.


"Baik Nona." sahut pegawai wanita antusias.


KREK!


Marvin keluar dari ruang ganti, seketika penampilannya menghipnotis para wanita yang ada di toko pakaian itu, termasuk Davina.


"Tampan sekali." ucap Davina lirih.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah aku terlihat aneh?" tanya Marvin heran.


"Ah tidak. Sekarang kau coba yang ini dan ada beberapa lagi." kata Davina.


"Oke." sahut Marvin menurut.


Penampilan Marvin benar-benar berbeda, biasanya ia hanya menggunakan pakaian formal. Kali ini Marvin tampak lebih muda dan tentunya sangat keren.


Davina memilih beberapa pakaian dengan mode terbaru untuk Marvin. Tak terasa hampir 1 jam mereka berada di toko pakaian tersebut.


"Mbak bungkus ini semua ya." ucap Davina.


"Baik Nona." sahut pegawai dengan senang hati.


"Biar aku yang membayarnya. Kan aku yang mengajakmu kesini." cegah Davina saat melihat Marvin mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.


"Tidak. Kau istriku, sudah seharusnya aku yang mengeluarkan uang." tolak Marvin.


"Tidak mau. Anggap saja ini hadiah pernikahan dariku." ucap Davina tak mau mengalah.


"Kau simpan saja uangmu. Pakai ini saja, kau bisa menggunakannya sesuka hatimu." kata Marvin kekeh.


"Aku akan memakai uangmu tapi untuk saat ini biarkan aku membayar dengan uangku sendiri. Aku juga ingin berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Aku tidak mau kau berjuang sendiri dalam hubungan ini." ucap Davina seketika membuat Marvin tertegun.


Marvin tersenyum kemudian membelai lembut kepala Davina.


"Baiklah. Kau simpan ini saja, kau boleh menggunakannya sepuasmu. Pinnya adalah tanggal pernikahan kita." kata Marvin.


"Oke. Terimakasih, Mas." sahut Davina tersenyum.


"Terimakasih istriku, Sayang." ucap Marvin lembut.


Tak bisa dipungkiri saat mendengar panggilan mesra dari Marvin membuat hati Davina bergejolak. Namun sebisa mungkin Davina mencoba menutupinya. Yah, masih malu-malu kucing.


"Karena kau sudah memberiku hadiah maka sekarang gantian aku yang membelikanmu hadiah." kata Marvin.


"Tidak perlu. Pakaian yang kau sediakan dirumah sudah sangat banyak. Aku saja belum sempat memakai semuanya." tolak Davina.


"Siapa bilang aku mau membelikanmu pakaian?" tanya Marvin.


"Lalu?" tanya Davina heran.


"Ayo ikuti aku." ajak Marvin yang sudah menenteng beberapa kantong belanjaan kemudian menggandeng tangan Davina.


Davina sempat terkejut saat tangannya tiba-tiba diraih oleh Marvin, namun ia tidak menolak. Davina tersenyum kemudian membalas genggaman tangan suaminya. Marvin sempat menoleh sekilas kemudian keduanya saling melemparkan senyum lalu melanjutkan langkahnya. Sebuah perkembangan yang harmonis dalam hubungan mereka.


Marvin mengajak Davina memasuki sebuah toko perhiasana. Marvin meminta pegawai toko untuk menunjukkan satu set perhiasan wanita.


"Kau suka yang mana?" tanya Marvin menawarkan.


"Aku tidak begitu tertarik dengan barang mewah seperti ini, Mas." jawab Davina lirih.


"Aku tahu. Tapi aku harap kau mau memilih dan memilikinya. Ke depannya setelah kita mengumumkan hubungan ini, kau pasti akan menjadi sorotan publik. Kita pasti juga akan mengikuti pesta-pesta besar, jadi biarkan aku menyiapkannya untukmu. Untuk sementara ini, kau bisa menyimpannya terlebih dahulu." ucap Marvin.


"Baiklah." sahut Davina pasrah.


Mata Davina tertuju pada satu set kalung dan juga anting yang terlihat simpel, tak banyak aksesoris yang berkilauan.


"Aku pilih ini saja." ucap Davina.


"Wah selera Nona bagus sekali. Kebetulan model ini keluaran terbaru dan merupakan edisi terbatas. Set perhiasan ini hanya ada 1 set di negara ini bahkan hanya tersedia 5 set di dunia." kata pegawai wanita.


Davina melirik ke arah Marvin dan pria itu menganggukkan kepalanya.


"Bungkus ini." ucap Marvin dingin.


"Baik Tuan." sahut pegawai itu gugup.


Aura Marvin benar-benar sangat menakutkan.


Setelah membayar, Marvin dan Davina kembali ke mobil untuk menuju ke sebuah tempat yang masih menjadi tanda tanya bagi Marvin.


"Lain kali jangan pasang wajah datarmu itu. Pegawai di toko tadi sangat ketakutan melihatmu." tegur Davina.


"Haish.. Kau ini keras kepala sekali. Padahal kalau kau tersenyum terlihat tampan, apalagi penampilanmu yang sekarang jadi lebih keren." ucap Davina.


"Jadi kau sedang memujiku?" tanya Marvin membuat Davina tersadar.


"Iya, itu kenyataan sih." jawab Davina dengan memalingkan wajahnya.


"Sekarang sudah mau mengakuinya? Tidak mengingkari lagi?" goda Marvin.


"Ya mau bagaimana lagi. Aku kan sudah berjanji untuk membuka hati untukmu. Jadi aku rasa aku harus lebih berani mengakui apapun tentang perasaanku padamu." jawab Davina.


Marvin tersenyum simpul, dirinya tak menyangka jika gadis yang dulu selalu menolaknya kini sudah mulai jinak dan mengakui perasaannya.


"Terimakasih, Sayang. Jadi kita sekarang mau kemana lagi?" tanya Marvin yang sudah menyalakan mesin mobil.


"Ayo ke taman bermain." ajak Davina.


"Taman bermain?" tanya Marvin memastikan.


"Iya, kau tidak mau? Kalau begitu kita pulang saja." ucap Davina dengan nada kecewa.


"Aku mau. Sesuai dengan keinginanmu, istriku." sahut Marvin dengan senyum manisnya seketika membuat Davina tersenyum bahagia.


"Let's go!" ucap Davina.


"Ternyata membuat istriku senang itu sederhana sekali." batin Marvin yang terus tersenyum melihat tingkah menggemaskan Davina yang seperti anak kecil.


Jarang sekali Marvin bisa melihat tingkah apa adanya Davina. Biasanya istri kecilnya itu akan menjaga perilakunya saat dihadapannya. Mungkin benar apa yang dikatakan Davina, jika sudah membuka hati untuk seseorang maka tidak perlu menjaga image dihadapan orang yang kita sukai.


Drt Drt


"Hallo, ada apa Mel?" tanya Davina mendapat panggilan dari Mely.


"Nona dimana? Kenapa tidak masuk kuliah? Apakah Nona sakit?" tanya Mely khawatir.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Suamiku sudah mengajukan izin ke dosen." jawab Davina jujur.


Marvin hanya melirik sekilas kemudian kembali fokus dengan kemudinya. Pria itu sedikit penasaran siapa yang menelpon Davina, namun dia memilih untuk menunda bertanya dan membiarkan Davina melanjutkan pembicaraannya.


"Apakah pria itu menindas Nona? Nona tidak diperlakukan dengan kejam kan?" tanya Mely semakin panik.


Davina terkekeh mendengar pertanyaan Mely yang sangat lucu baginya.


"Kenapa Nona malah tertawa? Aku sudah sering membaca novel tentang suami kaya yang menindas istrinya. Nona jangan takut, bilang saja padaku. Aku akan memberinya pelajaran." kata Mely bersemangat.


"Kau yakin? Bukankah hanya dengan melihat tatapannya saja kau sudah ketakutan?" tanya Davina mengingatkan Mely.


"Ah.. Itu benar. Tapi demi menyelamatkan Nona, aku pasti akan melawannya." jawab Mely.


"Lebih baik kau kurangi bacaan novelmu itu. Aku baik-baik saja, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hubungan kami." ucap Davina tenang dengan melirik Marvin yang fokus dengan kemudinya.


Marvin yang mendengar ucapan Davina tanpa sadar menyimpulkan senyum tipis diwajahnya.


"Nona yakin?" tanya Mely tak percaya.


"Iya. Sudahlah kau lanjutkan kuliahmu saja." jawab Davina.


"Untuk apa? Aku disini kan bertugas untuk menjaga Nona. Kalau Nona tidak ada, buat apa aku kuliah. Sepertinya Nona sudah tidak membutuhkanku." ucap Mely sedih.


"Jangan berlebihan. Kau harus tetap kuliah sampai lulus. Lusa aku akan menemuimu ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan denganmu." kata Davina.


"Baiklah Nona. Jaga diri baik-baik ya." sahut Mely kemudian memutuskan panggilannya.


"Telpon dari siapa?" tanya Marvin kepo.


"Mely." jawab Davina.


"Sepertinya hubungan kalian sangat baik ya?" tanya Marvin.


"Iya, kami sudah bertahun-tahun hidup bersama. Dia juga yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi." jawab Davina.


"Apakah kalian sedang membicarakanku?" tanya Marvin lagi.


"Menurutmu?" kata Davina kembali bertanya.


"Apakah aku benar-benar memperlakukanmu dengan baik?" tanya Marvin sesekali melirik Davina.


"Apakah aku harus menjawabnya?" goda Davina.


"Yasudah kalau kau tidak mau memberitahuku." sahut Marvin sedikit kecewa.


"Ckck.. Rupanya Tuan Muda Harris sensitif sekali." kata Davina.


CKIT!


"Kau bilang apa?" tanya Marvin yang langsung menghentikan mobilnya membuat Davina terkejut.


Untung saja tidak ada kendaraan yang mengikuti Marvin dibelakang, jadi tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Kau baru saja mengataiku bukan?" tanya Marvin yang tiba-tiba mendekati Davina.


Mungkin jarak wajah keduanya hanya tinggal beberapa senti saja.


"A-aku ti-tidak." sahut Davina gugup.


Davina seketika memalingkan wajahnya, tak bisa dipungkiri dirinya belum bisa menatap mata Marvin dengan jarak yang sangat dekat. Terlebih lagi Davina bisa merasakan hembusan nafas Marvin menerpa wajahnya.


CUP!


Marvin mengecup kening Davina kemudian membelai lembut kepala istri kecilnya. Marvin tersenyum tipis melihat reaksi lucu dari Davina kemudian kembali melajukan mobilnya.


Davina masih terdiam karena saking terkejutnya. Davina tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Gadis itu tidak bisa menahan detak jantungnya yang bergemuruh semakin kencang.


"Ah kenapa dia melakukan itu? Perasaan apa ini?" tanya Davina dalam hati.


Davina memilih memalingkan wajahnya memandang jalanan dari jendela mobil sembari mengatur nafasnya yang semakin memburu.


-BERSAMBUNG