Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 87 Mencari Masalah


"Nona, Nyonya ingin menemui Anda." ucap Virat membuat senyum Amel merekah.


"Baik." sahut Amel senang.


"Apa-apaan ini?" tanya Amel panik saat tiba-tiba dua pria berbadan kekar menghampirinya dan menutup kedua matanya dengan kain.


"Lebih baik Nona patuh jika masih ingin menemui Nyonya Besar." ucap Virat memperingatkan.


"Ba-baik." sahut Amel gemetar.


"Apakah ini cara orang berkuasa bertindak? Jangan-jangan mereka ingin membunuhku? Bagaimana ini?" batin Amel ketakutan.


Ketiga pria itu membawa Amel entah kemana, Amel tidak bisa melihat apapun. Amel bisa merasakan mereka memasuki sebuah ruangan dan ketiga pria itu mempersilahkan Amel duduk.


Amel menurutinya dengan perasaan cemas namun ia berpura-pura tetap tangguh.


"Selamat pagi, Nyonya." sapa Virat sopan.


"Hem." sahut Julia dingin.


"Dia sudah datang." batin Amel gugup.


Julia tersenyum menyeringai, ia bisa melihat gadis dihadapannya sedang ketakutan.


"Nyalimu lumayan juga." ucap Julia.


"Apakah Nyonya sedang memujiku?" tanya Amel.


"Untuk apa kau kemari? Apakah untuk menyerahkan perusahaan keluargamu?" tanya Julia.


"Ti-tidak, Nyonya. Saya ingin Nyonya melepaskan keluarga saya. Mereka tidak bersalah, saya mohon maafkan kesalahan saya, Nyonya." jawab Amel dengan tubuh gemetar.


"Kau punya rasa takut? Bukankah saat menghinaku kemarin kau begitu berani?" sindir Julia.


"Sa-saya tahu saya salah, Nyonya. Saya akan melakukan apa saja asal Nyonya tidak lagi menekan keluarga Wijaya dan Johnson." jawab Amel mengiba.


"Kau pikir aku akan berbelas kasih padamu? Rupanya kau tidak mengenal siapa orang yang sedang kau hadapi." ucap Julia dingin.


"Gawat, aku harus bagaimana ini?" tanya Amel panik.


"Nyonya, saya mohon. Saya bersedia melakukan apapun." ucap Amel lagi dengan nada memelas.


"Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Julia remeh.


"Sa-saya bersedia menjadi pelayan Nyonya." jawab Amel membuat Julia mengerutkan keningnya.


"Kau pikir keluarga Harris bisa menerima orang sembarangan? Kau terlalu memandang tinggi dirimu, Nak." cibir Julia seketika membuat nyali Amel menciut.


"Bawa dia keluar. Aku sudah selesai" titah Julia tegas.


"Apa maksud perkataan Nyonya? Nyonya belum memberiku jawaban. Apakah Nyonya akan melepaskan keluargaku?" berontak Amel saat tiba-tiba tubuhnya diangkat dan dibawa entah kemana.


"Pastikan gadis itu tidak datang lagi kemari. Perintah seseorang untuk mengawasinya agar tak mengganggu cucu menantuku." perintah Julia tegas.


"Baik Nyonya." sahut Thomas patuh.


"Kalian kasar sekali pada wanita!" umpat Amel saat tubuhnya dilempar keluar.


Amel membuka penutup matanya dan memaki-maki ketiga pria itu dengan penuh emosi.


Tiba-tiba ponsel Amel berdering lalu dengan segera ia mengangkatnya.


"Hallo, Sayang? Ada apa?" tanya Amel.


"Apa sesuatu terjadi? Kau terdengar sangat kesal." tebak Nathan.


"Tidak, aku baik-baik saja." jawab Amel segera mengatur nafasnya dan kembali berbicara lembut.


"Syukurlah. Papa memberiku kabar kalau perusahaan sudah mulai stabil." ucap Nathan.


"Be-benarkah?" tanya Amel tak percaya.


"Iya, kau berhasil, Sayang." jawab Nathan.


"Rupanya tidak sesulit yang kubayangkan." gumam Amel tersenyum puas.


"Kau bisa pulang, Sayang." pinta Nathan.


"Baik, tapi masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dikampus. Mungkin besok aku baru pulang." kata Amel.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik." sahut Nathan berpesan.


"Oke."


Setelah keduanya mematikan ponselnya.


"Aku masih penasaran siapa gadis semalam. Aku harus memastikan dulu apakah dia Davina atau bukan." gumam Amel.


...****************...


"Vina, kau kemana saja? Aku sangat merindukanmu." sapa Luna yang langsung menyambut kedatangan sahabatnya dengan sebuah pelukan.


"Kau berlebihan sekali. Kita hanya tidak bertemu beberapa hari saja." ucap Davina.


"Kau sungguh tidak berperasaan sekali." sahut Luna dengan nada sedih.


"Ratu drama mulai beraksi." cibir Davina membuat Luna tertawa lepas.


"Tumben sekali. Ada apa denganmu? Biasanya kau tidak pernah memperdulikan waktu." tanya Luna heran.


"Aku harus menjadi mahasiswi yang baik sekarang dan cepat lulus." jawab Davina semakin membuat Luna bingung.


"Sejak kapan kau menjadi serius begini?" tanya Luna.


"Hei, dari dulu aku adalah gadis yang fokus dengan masa depanku. Sejak bertemu denganmu saja, aku jadi agak santai." sindir Davina membuat Luna terkekeh.


"Yang kau katakan benar juga." sahut Luna sadar diri.


Davina menggeleng-gelengkan kepalanya lalu masuk ke kelas meninggalkan Luna begitu saja.


"Hei, Vin. Tunggu aku!" teriak Luna berlari menyusul sahabatnya.


Setelah selesai jam mata kuliah, mahasiswa dan mahasiswi pun berhamburan keluar meninggalkan kelas hanya tersisa Davina dan Luna diruangan itu.


"Ayo nongkrong di kafe langganan kita." ajak Luna bersemangat.


"Maaf, Lun. Aku sudah ada janji." tolak Davina.


"Janji? Dengan siapa?" tanya Luna penasaran.


"Suamiku." jawab Davina meringis.


"UHUK! Astaga sejak kapan kau mengakuinya?" tanya Luna tak percaya.


"Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya?" tanya Luna semakin penasaran.


"Menurutmu?" sahut Davina membuat Luna bisa langsung menebaknya.


"Wah sepertinya aku akan segera memiliki keponakan." ucap Luna.


"Kau!" kata Davina memicingkan matanya.


"Baiklah-baiklah, aku tidak akan menggodamu. Kau pasti sedang menunggu jemputan suami kayamu itu kan? Kalau begitu aku duluan ya." pamit Luna.


"Baiklah. Kau berhati-hatilah." sahut Davina.


"Baik, Nona Muda Harris." goda Luna setelah itu melambaikan tangannya.


Davina hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Maaf sudah membuat Nona menunggu lama." kata Johan.


"Tidak perlu sungkan, Jo. Aku baru saja selesai kelas." sahut Davina.


"Baiklah. Tuan sudah menunggu Nona diperusahaan." ucap Johan memberitahu.


"Oke." sahut Davina setelah itu memasuki mobil.


"Nona sepertinya ada yang mengikuti kita." kata Johan memberitahu saat menyadari sebuah mobil membuntuti mereka.


Davina menoleh kebelakang dan melihat mobil yang dimaksud Johan.


"Kau menyetir normal saja, pura-pura tidak tahu." titah Davina.


"Tapi, Nona..."


"Nanti kita mampir di supermarket depan." ucap Davina lagi.


"Apa yang Nona rencanakan?" tanya Johan penasaran.


"Kau ikuti saja." jawab Davina tegas.


"Baik Nona." sahut Johan patuh.


Sesuai dengan instruksi Davina, Johan pun mematuhinya. Mobil mereka berhenti disebuah supermarket diikuti mobil yang sedari tadi menguntit mereka. Davina pun turun berpura-pura untuk belanja.


"Sial kemana dia?" tanya seseorang yang kehilangan jejak Davina.


"Kau mencariku?" suara Davina seketika membuat orang itu terjingkat dan membalikkan tubuhnya.


"A-aku..."


"Rupanya kau!" seru Davina saat melihat siapa orang yang sudah menguntitnya.


"Untuk apa kau mengikutiku? Apa maumu?" tanya Davina dingin.


"Aku tidak mengikutimu. Kau percaya diri sekali." elak Amel.


"Oh, benarkah? Sepertinya aku harus melihat CCTV untuk memastikan kalau tebakanku salah." ucap Davina membuat Amel membulatkan matanya.


"Aku hanya tidak sengaja melihatmu." ucap Amel tak mengaku.


"Hem...terserah kau saja. Entah apa maksudmu, aku harap kau tidak punya niat buruk padaku." kata Davina memperingatkanku.


"Apa kau sedang mengancamku?" tanya Amel tak terima.


"Kau bisa menganggapnya begitu. Aku tidak mengenalmu dan kalau kau berani mencari masalah denganku maka aku tidak akan segan." jawab Davina dengan tatapan dingin seketika membuat nyali Amel menciut.


"Kau!"


"Siapa kau sebenarnya?"


-BERSAMBUNG