
"Mas, kenapa diam saja? Ayo turun kita sudah sampai." kata Davina menatap Marvin heran.
"Sayang, aku gugup sekali." ucap Marvin dengan ekspresi lucu yang membuat Davina terkekeh.
"Astaga, aku benar-benar tidak menyangka orang sepertimu bisa gugup sampai seperti ini. Ayolah orangtuaku tidak akan memakanmu." ucap Davina geli.
Marvin mengatur nafasnya berkali-kali, Davina yang melihat kegugupan suaminya langsung mendekatinya.
CUP!
"Semua akan baik-baik saja. Ayo Ibu dan Ayah sudah menunggu." ucap Davina mengecup lembut kening Marvin.
"Bolehkah aku meminta ciuman yang lain?" pinta Marvin membuat Davina kaget.
"Eh.. Kalau begini saja langsung normal." cibir Davina.
"Bolehkan?" pinta Marvin lagi dengan wajah memelas.
"Baiklah." sahut Davina pasrah.
Marvin dengan cepat menarik wajah Davina dan memagut bibir ranum itu. Setelah puas keduanya pun melepaskan pagutan mereka. Marvin tersenyum lalu mengecup lembut kening Davina.
"Terimakasih, Sayang." ucap Marvin lembut.
"Sudah, ayo." ajak Davina yang turun dari mobil lebih dulu.
Marvin tersenyum kemudian menyusul Davina. Keduanya berjalan bergandengan menuju resto yang sudah orangtua Davina pesan.
"Malam Ibu, Ayah." sapa Davina yang disambut pelukan hangat Adam dan Sera.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya." sapa Marvin.
"Hei, kau memanggil kami apa? Panggil kami Ibu dan Ayah." protes Sera.
"Ba-baik. Selamat malam Ibu, Ayah." ucap Marvin kikuk membuat Davina dan kedua orangtuanya saling beradu pandang kemudian terkekeh.
"Sepertinya kau tegang sekali. Kemarilah." kata Adam.
Marvin pun mematuhinya dan mendapat pelukan dari Adam membuat hatinya terasa hangat.
"Kalian darimana saja kenapa lama sekali? Ayah hampir saja mati kelaparan." protes Adam.
"Sebenarnya kami sudah datang daritadi. Tapi suamiku sangat gugup jadi kami cukup lama diparkiran." ucap Davina membuat Marvin malu.
"Apa yang membuatmu gugup, Nak? Apakah kau takut melihat wajah ayah mertuamu?" tanya Sera.
"Ti-tidak, Bu. Bukan begitu." jawab Marvin gugup.
"Haha.. Lihatlah menantumu gugup sekali. Sudah kubilang kan wajah Ayah memang menakutkan." goda Sera.
"Apakah benar kau takut padaku?" tanya Adam membuat Marvin merinding.
"Ti-tidak Ayah." jawab Marvin gemetaran sontak membuat Adam tertawa menggelegar.
"Ayah sudah cukup. Jangan membuat suamiku ketakutan." ucap Davina mengingatkan.
"Wah wah.. Sekarang putriku sudah bisa membela orang ya." sindir Adam membuat Davina dan Marvin terkekeh.
"Sudah sudah jangan berdebat lagi. Ayo kita makan sebelum dingin." ajak Sera kemudian duduk dan diikuti yang lain.
Suasana makan malam terasa sangat hangat. Sesekali juga terdengar canda tawa membuat Marvin teringat dengan kenangan bersama kedua orangtuanya.
"Ada apa, Mas?" tanya Davina melihat ekspresi sendu suaminya.
"Aku hanya teringat dengan kedua orangtuaku." jawab Marvin membuat Davina menghentikan makannya.
Adam dan Sera pun ikut iba mendengarnya.
"Orangtuamu pasti sangat bangga memiliki putra sepertimu." ucap Adam mencoba menghibur menantunya.
"Terimakasih Ayah." sahut Marvin.
"Kau jangan bersedih lagi, Ayah dan Ibu juga orangtuamu. Kau bisa bercerita apapun kepada kami. Jika kau butuh sesuatu kau juga bisa meminta pada Ayahmu. Ya kan, Yah?" kata Sera.
"Tentu saja." sahut Adam membuat Marvin menyimpulkan senyum tipis diwajahnya.
Davina menggenggam erat tangan suaminya dan tersenyum manis seolah memberikan kekuatan kepada Marvin.
"Terimakasih." ucap Marvin terharu dengan kehangatan keluarga istrinya.
"Kalian menginaplah disini. Ibu sudah memesankan satu kamar untuk kalian." kata Sera setelah acara makan malam selesai.
"Ibu, rumah kita tidak jauh. Lebih baik kami tidur dirumah saja." tolak Davina.
"Jangan bilang kalau kalian belum berbulan madu?" tanya Adam penuh selidik.
"Ah itu, Davina masih kuliah, Yah. Davina ingin fokus studi dulu." jawab Davina.
"Jangan-jangan kalian juga belum melakukan malam pertama ya?" tanya Adam lagi seketika membuat Davina dan Marvin terbatuk-batuk.
"Ayah! Vina yang memang belum siap." jawab Davina jujur dengan malu-malu.
"Lihatlah, Sayang. Putri kita ternyata malu-malu." goda Adam membuat wajah Davina memerah.
Marvin hanya tersenyum melihat tingkah lucu istrinya.
"Sudahlah Ayah jangan menggoda lagi. Mereka masih muda, biar saja mereka menikmati setiap tahap hubungannya." sela Sera tak ingin suaminya semakin bertingkah yang membuat anak dan menantunya canggung.
"Yasudah, terserah kalian saja. Tapi ingat Ayah dan Ibu sudah tidak sabar menimang cucu. Ayah harap kalian segera berproses." ucap Adam membuat pasangan muda itu saling menatap lalu menundukkan wajahnya.
"Ayah hentikan. Ibu dan Ayah duluan ya. Ini kunci kamar kalian." kata Sera menyerahkan sebuah kartu kepada Davina.
"Marvin kalau kau belum cukup berpengalaman bisa belajar dengan Ayah." ucap Adam.
"Ayah!" seru Sera kemudian segera menyeret suaminya menuju kekamar.
Davina dan Marvin tidak berani saling menatap. Suasana seketika menjadi sangat hening cukup lama.
"Mas.." panggil Davina lirih.
"Iya?" sahut Marvin.
"A-aku..."
"Aku tidak akan memaksamu. Kalau kau tidak mau menginap disini kita bisa pulang kerumah." ucap Marvin mencoba mengerti.
"Kita menginap disini saja. Tapi hanya tidur bersama." kata Davina membuat Marvin mengerutkan keningnya.
"Maaf aku masih belum siap, Mas." ucap Davina bersalah.
Marvin menghela nafas kemudian membelai lembut kepala istrinya.
"Kau tenang saja. Stok kesabaran suamimu ini masih sangat banyak. Aku juga tidak akan memaksamu." sahut Marvin.
"Mas, terimakasih banyak." ucap Davina yang diangguki kepala Marvin.
"Sepertinya aku sudah keterlaluan. Pasti dia sangat tersiksa menahannya." gumam Davina bersalah.
"Ayo kita istirahat." ajak Marvin.
"Baiklah." sahut Davina.
Keduanya berjalan memasuki lift dan menuju kamar yang sudah dibooking oleh orangtua Davina.
"Mas, masuklah dulu. Aku mau menelpon sebentar." ucap Davina.
"Apa terjadi masalah?" tanya Marvin.
"Tidak, aku hanya mau membahas sesuatu dengan Mely." jawab Davina.
"Baiklah. Jangan lama-lama ya." pesan Marvin diangguki oleh Davina.
"Iya Nona ada apa?" tanya Mely.
"Bisa belikan aku sesuatu?" pinta Davina.
"Apa itu Nona?" tanya Mely penasaran.
"Aku akan mengirimkannya lewat pesan. Tapi jangan menertawaiku." jawab Davina.
Mely membuka pesan dari majikannya, matanya membulat saat membaca isi pesannya.
"Nona, ini serius?" tanya Mely tak percaya.
"Iya, kau tolong belikan aku lalu antar kemari. Aku akan mengirimkan lokasinya." jawab Davina setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Marvin.
"Baiklah. Aku akan segera membelinya." sahut Mely patuh.
"Cepatlah sebelum tokonya tutup." titah Davina mengingat hari sudah malam.
"Baik Nona. Nanti saya akan menelpon Nona lagi." ucap Mely.
"Oke." sahut Davina setelah itu memutuskan panggilan telponnya.
"Nona ini, kenapa aku yang harus membelinya sih. Tapi tidak masalah, ini pertanda kalau hubungan Nona dan Tuan Harris semakin baik. Tenang saja Nona, aku pasti akan memilihkan yang terbaik." gumam Mely bergegas bersiap lalu memesan taxi online menuju ke mall.
"Sudah selesai menelponnya?" tanya Marvin.
"Iya sudah. Eh kita tidak membawa ganti baju ya?" tanya Davina teringat jika mereka datang kesini tanpa persiapan.
Mereka tidak tahu kalau ada rencana menginap.
"Kau tenang saja, aku sudah meminta Johan membawa pakaian ganti. Untukmu juga." jawab Marvin.
"Oh baiklah. Terimakasih." sahut Davina.
-BERSAMBUNG