Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 54 Merusak Mood


"Vina!"


Davina terkejut saat seseorang memanggil namanya yang suaranya terdengar familiar baginya.


"Luna, kau kenapa disini?" tanya Davina dengan senyum kaku.


"Kalau aku tidak disini, aku tidak akan melihat kejutan dihadapanku. Bukankah pria itu Marvin Harris, kenapa kau bersamanya? Kelihatannya kalian juga sangat dekat." tanya Luna penuh selidik dengan wajah kesal.


"Aku akan menceritakannya padamu tapi kita cari tempat dulu, oke?" ajak Davina berjaga-jaga jika ada orang lain yang mendengar pembicaraannya.


"Baiklah." sahut Luna kemudian mengikuti Davina masuk kedalam mobil.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Luna yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan temannya itu.


"Tenanglah. Aku akan menjelaskannya padamu. Tapi kau tidak boleh memotongnya." kata Davina.


"Oke." sahut Luna antusias.


"Aku dan Marvin sudah menikah." ucap Davina membuat Luna terkejut setengah mati.


"APA??!" pekik Luna dengan mata terbelalak.


"Kau serius? Kau tidak bercanda bukan?" tanya Luna tak percaya.


"Hem.. Jangan menyela, biarkan aku menyelesaikan ceritaku dulu." kata Davina mengingatkan.


Dengan cepat Luna menutup mulutnya dan menganggukkan kepalanya.


Luna mendengarkan cerita Davina dengan seksama. Beberapa kali ia tertawa karena kelakuan temannya yang ternyata sangat brutal. Luna sama sekali tidak menyangka jika Marvin Harris yang terkenal kejam itu justru bertekuk lutut dihadapan Davina.


"Jadi kau hanya menikah kontrak dengannya?" tanya Luna memastikan.


"Awalnya begitu." jawab Davina menjeda ucapannya.


"Awalnya? Jangan bilang kau sudah mulai jatuh cinta dengan pria itu dan ingin mempertahankan pernikahan ini?" tanya Luna lagi.


"Mungkin bisa dibilang begitu." jawab Davina membuat Luna senang namun juga khawatir dengan keputusan Davina.


"Kau yakin ingin melanjutkan hubunganmu? Kau sudah tahu kan siapa itu Marvin Harris?" tanya Luna memastikan lagi.


"Ya aku tahu." sahut Davina mantap.


"Kau tidak takut dengannya? Memang sih dia tampan dan juga kaya, siapa sih wanita yang tidak mau bersama dengannya. Tapi setelah tahu betapa kejamnya pria itu, para wanita pasti langsung mundur. Kau yakin siap hidup bersama pria berdarah dingin itu?" tanya Luna lagi membuat Davina terkekeh.


"Kenapa kau tertawa? Aku tidak bercanda. Yang aku katakan itu semua benar." kata Luna kesal.


"Iya aku tahu. Tapi selama aku mengenalnya, dia tidak sekejam itu. Justru dia memperlakukanku dengan sangat baik." ucap Davina santai.


"Jangan terjebak dengan sandiwaranya. Kau harus hati-hati, pria yang berkuasa seperti Marvin pasti bisa menggunakan segala cara untuk menaklukkan mangsanya." kata Luna mengingatkan.


Davina tersenyum, ia tahu Luna sangat mengkhawatirkannya.


"Kau tenang saja. Temanmu ini sangat tangguh, tidak akan terjebak dengan permainan bodoh seperti yang kau pikirkan itu." ucap Davina percaya diri.


"Jadi kau mengatakan aku bodoh?" protes Luna tak terima.


"Bukan kau. Hanya pemikiranmu saja. Sepertinya kau terlalu banyak menonton drama." kata Davina terkekeh.


"Aku kan mengingatkanmu karena mengkhawatirkanmu. Kenapa kau malah mengataiku?" gerutu Luna dengan bibir manyunnya.


"Haha.. Aku hanya bercanda saja. Sudahlah tidak ada yang perlu kau takutkan. Tapi aku harap kau bisa menyimpan rahasia ini. Aku tidak ingin orang-orang tahu hubunganku dengan Marvin, terlebih orang-orang dikampus. Aku malas jika harus meladeni gosip mereka." kata Davina mengingatkan.


"Baiklah. Tapi kau benar-benar akan menghabiskan hidupmu bersama pria itu?" tanya Luna kembali memastikan.


"Iya, Luna." jawab Davina membuat Luna menghembukan nafas kasar.


"Baiklah, aku harap kau akan bahagia bersamanya." sahut Luna.


"Kau sudah sangat ketakutan dengan identitas Marvin. Kau pasti akan lebih terkejut saat tahu siapa diriku sebenarnya, Luna. Maaf aku belum bisa jujur padamu." batin Davina merasa bersalah.


"Tidak apa-apa." sahut Davina tersenyum manis.


"Kali ini aku akan memaafkanmu. Tapi jangan lagi menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu kau hanya menganggapku sebagai teman tapi berbeda denganku. Aku selalu menganggapmu lebih dari seorang sahabat dan saudaraku. Aku berharap kau bisa menerimaku." ucap Luna membuat Davina tersentuh.


"Baiklah. Mulai sekarang aku akan menceritakan apapun kepadamu. Tapi aku tetap berhak punya privasi kan?" kata Davina membuat Luna memutar bola matanya.


"Oke oke. Aku tidak akan mengusik privasimu." sahut Luna mendengus kesal.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk menutupi sesuatu darimu. Tapi aku butuh waktu untuk menceritakannya padamu." ucap Davina tak enak hati.


"Baiklah baiklah. Aku tidak masalah. Kau menganggapku saja itu sudah cukup. Hubungi aku jika kau perlu sesuatu, aku akan selalu ada untukmu." kata Luna membuat Davina geli mendengarnya.


"Perkataanmu itu seperti seorang kekasih saja." ucap Davina dengan menggelengkan kepalanya.


"Bukankah kita dulunya seperti itu? Tapi sekarang kau telah mengkhianatiku. Bahkan menikah saja kau tidak memberitahuku." kata Luna dengan ekspresi yang dibuat-buat.


"Hentikan! Kau benar-benar membuatku mual." ucap Davina jijik.


"Astaga kau kejam sekali, Sayang." kata Luna dengan bergelayut manja membuat Davina risih.


PLETAK!


"Aduh sakit!" ringis Luna saat Davina menyentil keningnya.


"Itu peringatan untukmu. Kalau kau bersikap seperti ini lagi aku akan menendangmu." kata Davina memperingatkan.


"Kau gadis yang galak sekali. Ah aku jadi penasaran bagaimana Marvin bisa tergila-gila padamu." goda Luna.


"Diam. Aku sudah menceritakan semuanya padamu. Sekarang pergilah." kata Davina.


"Ck! Kau mengusirku?" decak Luna tak terima.


"Aku tidak mengusirmu. Tapi suamiku sudah berjalan kemari. Bukankah kau takut jika bertemu dengannya?" goda Davina.


"Astaga kenapa kau tidak mengatakannya daritadi." sahut Luna ketakutan saat matanya melihat Marvin bersama asistennya berjalan semakin mendekat.


"Aku pergi dulu, Vina. Sampai jumpa lagi." kata Luna bergegas keluar dari mobil begitu saja.


Davina terkekeh melihat Luna yang ketakutan karena melihat suaminya.


"Apakah dia benar-benar begitu mengerikan dimata orang lain? Kenapa aku tidak bisa melihatnya." gumam Davina.


"Apa yang sedang kau tertawakan?" tanya Marvin yang sudah duduk disamping Davina.


"Tidak ada." jawab Davina.


"Siapa gadis tadi? Apakah dia temanmu?" tanya Marvin yang mengetahui seseorang keluar dari mobilnya.


"Iya, dia Luna. Temanku sejak SMA. Bukannya kau sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Davina mengingatkan.


"Benarkah? Aku sama sekali tidak mengingatnya." jawab Marvin tak peduli.


"Haish... Sudah selesai meetingnya? Kenapa cepat sekali?" tanya Davina.


"Iya meeting tidak penting. Anton memberikan penawaran gila kepadaku dan aku langsung menolaknya." jawab Marvin kesal.


"Apa itu? Kenapa kau terlihat marah?" tanya Davina penasaran.


"Sudahlah aku akan menceritakannya padamu nanti. Sekarang kita pergi ke suatu tempat dulu untuk mengembalikan moodku yang rusak." kata Marvin penuh penekanan.


Johan menelan salivanya karena ia merasa tersindir dengan ucapan Marvin. Pantas saja jika atasannya itu marah karena Anton menawarkan kerjasama yang tidak masuk akal. Johan merasa bersalah karena dirinya tidak menyelidiki niat Anton terlebih dahulu. Apalagi Johan sudah mengganggu waktu Marvin bersama istrinya. Wajar kalau Marvin kali ini sangat kesal dengan Johan.


"Maafkan saya Tuan." ucap Johan namun tak mendapat sahutan dari Marvin.


Davina hanya menatap kedua pria itu bergantian. Davina bisa melihat ada perang dingin diantara keduanya namun ia lebih memilih untuk diam dan tidak bertanya karena tidak ingin menambah suasana semakin panas.


-BERSAMBUNG