Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 111 Pria Menjengkelkan


Akhirnya mobil yang ditumpangi Davina dan Marvin sampai dihalaman villa mewah yang berada diatas bukit S. Beruntung mereka sampai diwaktu pagi menjelang siang jadi bisa menikmati pemandangan indah ditempat itu.


"Sudah sampai?" tanya Marvin bertanya kepada Davina yang sudah membuka mata sedari memasuki jalan berkelok ke arah bukit.


"Ayo turun." ajak Davina bersemangat.


"Apakah ini milik keluargamu?" tanya Marvin yang diangguki oleh Davina.


Marvin takjub dengan kekayaan Carlos. Sungguh dirinya hanyalah butiran debu bila dibandingkan dengan keluarga istrinya.


"Kalian ikutlah masuk dan pilih kamar sesuka kalian. Aku berencana untuk bermalam disini." ucap Davina kepada Edwin dan pengawal lainnya.


"Apakah Nyonya dan Tuan membutuhkan sesuatu? Kami akan menyiapkannya lebih dulu." tanya Edwin sopan.


"Tidak perlu. Fasilitas disini sudah sangat lengkap. Kalian nikmati saja waktu bersantai, anggaplah ini liburan singkat." jawab Davina membuat para pengawal tersenyum senang.


"Terimakasih banyak, Nyonya." sahut para pengawal serempak.


Davina menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng tangan Marvin menuju sebuah kamar yang paling besar dan mewah di villa itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Davina heran saat menyadari Marvin tidak berhenti memandangnya.


"Aku kagum padamu." jawab Marvin.


"Kenapa?" tanya Davina penasaran.


"Bawahanmu sangat hormat kepadamu dan kau juga punya aura memimpin yang luar biasa." jawab Marvin memancing tawa kecil Davina.


"Kau terlalu menyanjungku, Mas. Kenyataanya aku terlahir sebagai putri Carlos dan darah Ayahku mengalir didalamku." ucap Davina santai.


"Kau benar. Sepertinya aku memang tidak boleh macam-macam denganmu." goda Marvin.


"Tentu saja. Jika kau berani bermain dibelakangku maka aku tidak akan segan kepadamu." sahut Davina mengancam.


Marvin bisa merasakan tatapan dingin Davina menusuk jantungnya. Melihat ekspresi Marvin yang tiba-tiba terdiam membuat Davina terkekeh.


"Aku hanya bercanda, Mas." ucap Davina menepuk pelan pundak suaminya.


"Aku pastikan itu tidak akan terjadi." kata Marvin bertekad.


"Baik. Aku percaya padamu." sahut Davina membuat keduanya saling melempar senyum.


"Apa agenda kita hari ini?" tanya Marvin.


"Ayo berenang." ajak Davina.


"Berenang? Kau yakin?" tanya Marvin dengan senyum nakalnya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Aku benar-benar ingin berenang jangan menggangguku." ancam Davina mengingatkan seketika Marvin terkekeh.


"Ada pakaian renang dilemari itu, kau pilihlah." ucap Davina menunjuk lemari besar yang ada dikamar itu.


Marvin bergegas menuju lemari dan membukanya. Matanya melebar saat mendapati banyak setelan pria lengkap didalamnya.


"Apakah ini memang tersedia sebelumnya?" tanya Marvin curiga.


"Kau tidak sedang mencurigaiku kan?" tebak Davina.


"Tenang saja, kau adalah pria pertama yang aku ajak kemari. Semua pakaian itu juga aku yang meminta untuk menyiapkannya dua hari yang lalu." kata Davina membuat Marvin tersenyum.


"Jadi kau menyiapkan semuanya untukku? Aku tak menyangka rupanya istriku pengertian sekali. Terimakasih, Sayang." ucap Marvin senang.


Davina hanya tersenyum kemudian menyusul Marvin memilih pakaian renang yang akan ia gunakan. Setelah berganti keduanya menuju kolam renang yang berada di rooftop. Udara dingin dan pemandangan indah menyambut mereka.


"Benar-benar tempat yang bagus." puji Marvin.


"Tapi kenapa sepi sekali?" tanya Marvin yang tidak mendapati pengunjung hanya beberapa pelayan dan pengawal yang ia temui sedari tadi.


"Mana mungkin aku membiarkan orang lain mengganggu waktu kencan kita." jawab Davina seketika membuat Marvin melongo.


"Jangan bilang kalau kau menutup villa ini hanya demi kedatangan kita berdua?" tanya Marvin tak percaya.


"Begitulah." jawab Davina santai.


"Sejak kapan Tuan Harris menjadi perhitungan begini?" sindir Davina.


"Aku bukan perhitungan, aku tidak khawatir kau akan menghabiskan seluruh kekayaanku. Tapi bagaimana dengan Ayahmu nanti? Bisnisnya sudah merugi sehari karenaku." kata Marvin jujur.


"Sudahlah jangan memikirkan hal itu. Justru Ayah yang melakukan ini semua, kau tidak perlu khawatir." sahut Davina.


"Benarkah?" tanya Marvin kembali memastikan.


"Ayahku itu memang terlihat kejam tapi jauh dilubuk hatinya ia adalah pria yang penuh kasih sayang. Kau tidak perlu takut padanya." jawab Davina menjelaskan.


"Iya aku tahu. Tapi tetap saja tatapan Ayahmu itu benar-benar membuatku tak berkutik." ucap Marvin jujur.


"Kau akan terbiasa nantinya." kata Davina dengan senyum manisnya.


Marvin menganggukkan kepalanya.


BYUURR!


Davina melompat kedalam kolam setelah membuka bathropenya.


"Ayo lompatlah!" seru Davina.


Marvin tersenyum lalu ikut melompat kedalam kolam menyusul Davina yang sudah mulai berenang.


...****************...


"Benar-benar menyebalkan sekali pergi bersama manusia batu sepertinya." gerutu Melly mengumpat dalam hati.


Baru tadi pagi ia diberitahu Orkan untuk pergi ke kota K menyusul Davina. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam membuat Melly hampir mati karena bosan. Melly yang super cerewet dan Orkan yang hanya akan mengeluarkan suara jika ditanya, benar-benar dua karakter yang sangat berbeda.


Orkan hanya melirik Melly yang duduk disampingnya dengan mengerucutkan bibir. Beruntung Orkan memakai kacamata hitam jadi Melly tidak menyadarinya.


"Wanita ini lucu juga." gumam Orkan tersenyum tipis.


Karena butuh waktu 2 jam perjalanan, Melly memilih untuk tidur daripada bosan menunggu Orkan mengajaknya bicara. Tanpa sadar kepalanya menyandar kepundak Orkan membuat pria itu terkejut. Menyadari wanita yang disampingnya sudah memejamkan matanya membuatnya menggelengkan kepala pelan lalu membenarkan posisi Melly agar lebih nyaman.


"Wanita ini cukup manis kalau tidak berisik." batin Orkan.


Orkan memilih memainkan ponselnya untuk melanjutkan tugasnya.


Saat mendengar pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat barulah Melly membuka matanya. Ia terkejut saat menyadari kepalanya menyandar dibahu Orkan. Dengan segera ia bangun dan menatap Orkan yang hanya sibuk dengan ponselnya tak mengatakan sepatah katapun. Melly memilih diam dan berpura-pura tidak menyadari kesalahannya.


"Sudah bangun?" tanya Orkan seketika membuat Melly menoleh.


Melly menatap Orkan bingung karena dirinya tidak bisa membaca ekspresi pria itu yang tertutup kacamata hitam.


"Kau harus memberikanku kompensasi." ucap Orkan datar.


"Apa maksudmu?" tanya Melly kebingungan.


"Pundakku pegal sekali karena menopang kepalamu yang berat itu." jawab Orkan seketika Melly membulatkan matanya.


"Cih perhitungan sekali! Lalu kenapa kau tidak mendorongku saja?" tanya Melly.


"Aku kasihan padamu sepertinya kau butuh sandaran." jawab Orkan asal.


"Kau benar-benar menyebalkan! Katakan apa maumu?" tanya Melly emosi.


Orkan menatap Melly dalam hatinya ia ingin tertawa melihat tingkah menggemaskan wanita yang duduk disampingnya itu.


"Aku akan memikirkannya. Anggap saja kau berhutang padaku. Aku akan menagihnya saat aku butuh." jawab Orkan membuat Melly semakin kesal.


"Kau tidak tahu diri!" umpat Melly.


"Sepertinya ada orang yang habis manis sepah dibuang. Kira-kira lebih tidak tahu diri mana?" sindir Orkan semakin membuat Melly jengkel.


"KAU!"


Melly membuang mukanya tak melanjutkan perkataannya lagi. Bicara dengan Orkan membuatnya semakin emosi. Melly tak menyangka jika Orkan adalah pria yang sangat menyebalkan. Ia hanya berharap segera sampai dikediaman majikannya agar terlepas dari pria menjengkelkan yang saat ini bersamanya.


-BERSAMBUNG