
Setelah berjalan-jalan dan bicara dengan Adam, Marvin memutuskan kembali ke kamar. Mata Marvin menyipit saat menyadari hanya ada rancang kecil dikamar itu.
"Haih.. Aku benar-benar tersiksa jauh darimu istriku." gumam Marvin.
"Menjadi menantu Carlos harus melalui hal seperti ini, aku tidak akan menyerah. Akan aku buktikan bahwa aku pantas menjadi priamu." tekad Marvin dalam hati.
"Aku merindukanmu, Sayang." guma Marvin lagi membayangkan wajah cantik istrinya.
"Aku harus istirahat malam ini. Entah besok pagi apa yang akan kuhadapi, aku tidak boleh mengecewakan istriku." ucap Marvin.
Hari semakin larut, Marvin merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang berukuran hanya muat untuk satu orang. Ini pertama kalinya Marvin tidur sendiri dan berjauhan dari Davina semenjak mereka menikah. Sekalinya berpisah dalam waktu yang lama. Perasaan rindu benar-benar menyiksanya. Cukup lama Marvin berusaha memejamkan mata. Akhirnya Marvin pun tertidur karena kelelahan membolak-balik tubuhnya.
...****************...
Pagi ini, Davina bangun dengan tubuh yang segar berbeda dengan kemarin. Davina senang tidak harus melewati harinya dengan drama permualan.
"Terimakasih anak baik." ucap Davina sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Davina bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah berganti pakaian, ia segera turun ke ruang makan. Perut Davina seketika berbunyi nyaring saat hidungnya mencium aroma sedap dari dapur.
"Kau sudah bangun, Nak? Kau terlihat bersemangat hari ini." sapa Sera menyadari kehadiran putrinya.
"Iya, Bu. Aku tidak merasa mual pagi ini. Ibu sedang membuat apa? Baunya membuat perutku keroncongan." tanya Davina penasaran.
Sera terkekeh kemudian meletakkan pancake yang sudah matang keatas piring dan menyajikannya lalu menyerahkannya kepada putri semata wayangnya.
"Ini pancake apel kesukaanmu. Makanlah selagi hangat." ucap Sera lembut.
Mata Davina berbinar, air liurnya hampir saja menetes.
"Ibu baik sekali. Aku jadi tidak sabar untuk menghabiskannya." ucap Davina bersemangat.
Davina mengangkat piring yang sudah berisi pancake apel dan membawanya ke meja makan. Davina segera memasukkan potongan pancake kedalam mulutnya. Davina bisa merasakan kelembutan menyentuh lidahnya.
"Ah masakan Ibu memang yang terbaik." puji Davina tanpa sadar ia menitikkan airmata.
"Kenapa kau menangis, Nak? Apakah masih terlalu panas?" tanya Sera panik.
Davina dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Selama di kota A, saat Davina rindu masakan Ibu berusaha mencoba ke restoran-restoran mewah untuk bisa merasakan pancake apel. Namun tidak ada yang bisa menyaingi buatan Ibu." jawab Davina membuat Sera terharu.
"Maaf, Sayang. Kenapa kau tidak pernah memberitahu Ibu? Kalau kau ingin pasti Ibu akan mengunjungimu dan membuatkannya untukmu." kata Sera.
"Vina tidak ingin merepotkan Ibu." ucap Davina membuat Sera tersentuh.
"Kau ini. Tidak ada Ibu yang merasa kerepotan demi anaknya. Jarak kota K ke kota A juga tidak begitu jauh, Ibu pasti akan datang kalau kau memintanya." kata Sera sembari membelai lembut kepala putrinya.
"Terimakasih, Bu. Ibu memang yang terbaik." ucap Davina mengacungkan kedua jempolnya membuat Sera terkekeh.
"Pelan-pelan, tidak ada yang akan berebut denganmu." ucap Sera melihat Davina yang terburu-buru memasukan potongan pancake kedalam mulutnya.
"Apakah Ibu dulu pernah menjadi chef? Kenapa Ibu tidak membuka restoran saja?" tanya Davina dengan mulut penuh.
"Ibu hanya pernah belajar dengan seorang juru masak sebelum menikah dengan ayahmu." jawab Sera jujur.
"Benarkah? Lalu dimana sekarang orang itu, Bu?" tanya Davina penasaran.
"Beliau sudah lama menutup usia. Saat bertemu dengan Ibu, usia beliau sudah tidak muda lagi." jawab Sera yang wajahnya berubah sendu.
"Pasti hubungan Ibu dengannya sangat baik kan?" tebak Davina yang dijawab anggukan kepala Sera.
"Maaf, Bu. Pertanyaan Vina sudah membuat Ibu sedih." ucap Davina merasa bersalah.
"Tidak, Nak. Ibu tidak sedih. Ibu hanya kembali teringat dengan memori saat memasak dengannya. Beliau benar-benar sabar mengajari Ibu." kata Sera yang kembali menampakkan senyum berseri diwajahnya.
"Apakah Ibu ingin mengunjungi makamnya?" tanya Davina menawarkan.
"Iya, tapi tidak sekarang. Kau lanjutkan makanmu, ada beberapa hal yang harus Ibu selesaikan." jawab Sera kemudian meninggalkan Davina begitu saja.
"Ada apa dengan Ibu?" tanya Davina dalam hati.
Matahari sudah semakin meninggi menampakkan sinarnya. Setelah mengabiskan pancake apel buatan ibunya tanpa sisa, Davina bersiap untuk keluar. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa ingin mengunjungi suatu tempat yang sudah lama ia tidak menginjakkan kakinya disana.
"Kau yakin tidak perlu Ibu temani?" tanya Sera khawatir.
"Ibu tenang saja, ada Edwin dan bodyguard yang melindungi Vina. Ibu bisa fokus selesaikan urusan Ibu saja." jawab Davina santai.
"Hem, baiklah. Tapi kau harus berjanji pada Ibu kalau kau tidak akan bertindak gegabah. Entah kenapa Ibu merasa banyak orang yang mengincarmu setelah mengumumkan identitasmu." ucap Sera khawatir.
"Ibu tahu. Tapi kali ini kau tidak sendirian, sudah ada nyawa lain yang ada ditubuhmu. Ingat, kau harus menyembunyikannya. Jangan sampai ada orang yang tahu kalau kau sedang hamil. Ibu tidak ingin calon cucu Ibu menjadi target kejahatan." ucap Sera memperingatkan.
"Ibu tidak perlu khawatir. Vina tidak akan membiarkan orang-orang jahat itu menyentuh anakku." kata Davina membuat Sera tersenyum lega.
"Baiklah, Ibu percaya padamu. Edwin, pastikan putri dan calon cucuku aman." kata Sera.
"Baik Nyonya." sahut Edwin.
"Vina pergi dulu, Bu." pamit Davina mengecup pipi Sera lalu berlalu begitu saja.
Sera tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah mau menjadi Ibu masih saja seperti itu. Sikap anakku memang unik, berubah-ubah seperti bunglon saja." gumam Sera terkekeh sembari menatap kepergian putri tunggalnya.
Davina pergi dengan mobil yang dikemudikan oleh Edwin. Ditengah perjalanan Edwin menyadari bahwa ada yang mengikuti mereka.
"Nyonya Muda ada yang mengikuti kita." ucap Edwin memberitahu.
"Biarkan saja. Aku ingin lihat siapa yang berani mencari masalah denganku." kata Davina dingin.
"Baik Nyonya." sahut Edwin.
"Sikap Nyonya Muda persis seperti Tuan Besar." gumam Edwin.
Tak lama tiba-tiba sebuah mobil memotong jalan mereka. Untung saja Edwin menyadarinya dan langsung menginjak remnya.
"Nyonya Muda baik-baik saja?" tanya Edwin memastikan.
"Aku baik-baik saja." jawab Davina datar.
Dua orang pria berbadan kekar keluar dari mobil yang telah memotong jalan mereka lalu menghampiri dan mengetuk kaca mobil Davina.
"Ck! Mereka tidak sabaran sekali." cibir Davina.
"Apa yang harus saya lakukan Nyonya?" tanya Edwin melirik Davina dari spion depan.
"Bereskan dengan cepat. Cari tahu siapa yang menyuruh mereka." jawab Davina dingin.
"Baik Nyonya." sahut Edwin tersenyum menyeringai kemudian bergegas turun dan dengan cepat menutup pintu mobilnya.
"Kau punya nyali juga. Biarkan Nonamu keluar." ucap pria berbadan kekar.
"Siapa kau berani memerintahku? Lagipula Nonaku tidak akan mau bertemu dengan orang acak sepertimu." sahut Edwin membuat kedua pria itu kesal.
"Cih sombong sekali! Lihat bagaimana aku menghabisimu!" ancam pria itu yang langsung menyerang Edwin.
Ilmu beladiri Edwin tidak perlu diragukan lagi, ia menghindar dengan cepat.
"Siapa yang akan menghabisi siapa, kita lihat saja. Aku harap kau tidak menyesal karena sudah menghalangi jalan tuanku." ucap Edwin dengan tatapan dingin.
"Heh! Kau sendirian saja berlagak!" umpat prja yang lebih tinggi.
"Kata siapa aku sendirian?" ucap Edwin.
PROK PROK!
Tiba-tiba datang enam orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil yang berhentinya tidak disadari oleh kedua pria itu.
"Sial! Kau main keroyokan?" kata kedua pria itu.
"Ck! Ayo katanya mau menghabisiku? Apakah nyalimu tidak seberani tadi?" tanya Edwin dengan tatapan remeh.
"Apa boleh buat, sudah tidak bisa mundur lagi. Ayo habisi mereka." ucap kedua pria itu kembali menyerang.
Tak perlu menghabiskan waktu lama kedua pria itu sudah terkapar.
"Kalian bawa mereka ke markas. Biarkan Nyonya Muda yang memberinya pelajaran." titah Edwin lalu merapikan setelan jasnya.
"Baik, Bos." sahut para bodyguard itu serempak.
"Menaklukan dua tikus saja butuh waktu 10 menit. Kau lamban sekali." sindir Davina saat Edwin kembali ke mobil.
Edwin menelan ludahnya.
"Sepertinya Nyonya Muda lebih kejam dari Tuan Besar." batin Edwin.
-BERSAMBUNG