
"Selamat malam Nona. Terimakasih sudah menyelematkan Tuan kami." sambut empat pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam.
Davina hanya menganggukkan kepalanya kemudian salah satu pria yang merupakan kepala pengawal menghampiri Davina.
"Nona, perkenalkan saya Thomas pengawal bayangan Tuan Marvin. Terimakasih sudah membawa Tuan kemari tepat waktu." ucap Thomas sopan.
"Lain kali lebih perhatikan Tuanmu, jangan sampai kecolongan seperti ini lagi." kata Davina dengan tatapan dingin.
"Baik Nona. Kami akui kali ini kami kurang waspada. Terimakasih sudah mengingatkan kami." sahut Thomas dengan menundukkan kepalanya.
"Mely, Orkan ayo kita kembali." ajak Davina.
"Baik Nona." sahut Mely dan Orkan serempak.
Para pria berbaju hitam segera memberikan jalan kepada Davina dan juga pengawalnya dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Siapa Nona itu? Kenapa auranya seperti Tuan? Sama-sama menakutkan?" bisik salah satu pengawal kepada rekannya.
"Mungkin kekasih Tuan muda." jawab pengawal yang lain.
"Benarkah? Aku tidak pernah mendengar Tuan menjalin hubungan dengan seorang wanita." sahut pengawal yang lainnya lagi.
"Ehm!" terdengar suara deheman Thomas membuat ketiga bawahannya itu terdiam.
"Tutup mulut kalian kalau masih sayang dengan nyawa kalian!" kata Thomas memperingatkan dengan memasang wajah serius.
"Ba-baik." ucap ketiga pria itu serempak.
Thomas masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk Marvin sedangkan yang lain berjaga diluar ruangan.
"Permisi Tuan. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Tuan." ucap Thomas sopan.
"Katakan." sahut Marvin tegas.
Walaupun terbaring dirumah sakit dengan sebagian wajah terbalut perban, namun tidak mengurangi wibawa Marvin dihadapan bawahannya.
"Saya sudah menemukan bahwa ada yang sengaja merusak rem mobil Tuan saat berada di perusahaan." kata Thomas membuka pembicaraan.
"Saya sudah menyelidikinya dan telah menangkap orang yang merusaknya. Dia mengatakan telah dibayar oleh seseorang namun tidak mengetahui identitas orang itu. Dia mengaku hanya menerima perintah dan bayaran saja tanpa peduli siapa yang menyuruh dan siapa yang akan ia celakai." ucap Thomas menjelaskan.
"Dimana dia sekarang?" tanya Marvin.
"Kami mengamankannya dimarkas, menunggu perintah dari Tuan." jawab Thomas.
"Kau beri dia pelajaran dulu. Aku akan memperhitungkan perbuatannya setelah aku pulih." ucap Marvin dingin.
"Baik Tuan." sahut Thomas patuh.
"Oh iya Tuan mengenai Nona yang menyelamatkan Tuan, sebenarnya juga ada ditempat kejadian. Sesuai dengan rekaman cctv, Nona itu hampir saja menjadi korban tabrakan mobil Tuan. Beruntung temannya menyadari kedatangan mobil Tuan yang lepas kendali dan melindunginya dengan cepat." ucap Thomas memberitahu secara rinci.
Marvin menghela nafas panjang.
"Untung saja dia tidak ikut terluka." gumam Marvin lega.
"Tugaskan beberapa pengawal untuk melindungi dan memastikan keselamatannya. Aku takut kalau musuh mendapatakan celah dan menargetkan dirinya." titah Marvin serius.
"Baik Tuan." sahut Thomas menyanggupi.
"Pastikan kalian menjaganya dengan baik karena dia akan menjadi Nyonya muda Harris." ucap Marvin percaya diri.
Thomas sedikit terkejut dengan ucapan Marvin tapi kemudian dia langsung tersenyum senang.
"Baik Tuan. Kami akan memastikan keselamatan calon nyonya muda kami." kata Thomas bersemangat kemudian undur diri meninggalkan ruangan rawat Marvin dan juga Johan.
"Kali ini aku memaafkanmu. Tapi kalau terjadi lagi, jangan harap kau bisa mendapat ampunan dariku." kata Marvin penuh ancaman.
"Baik Tuan. Terimakasih." sahut Johan lega.
Tidak bisa dipungkiri kelalaian Johan kali ini benar-benar fatal yang hampir saja merenggut nyawa Marvin. Walaupun tidak terluka parah tapi tetap saja kecerobohan Johan sudah membahayakan keselamatan Marvin. Bahkan hampir saja melibatkan nyawa wanita yang sedang dikejar oleh Marvin. Keberuntungan masih berpihak pada Johan hari ini.
"Bagaimana keadaan cucuku?" tanya Julia panik.
Setelah mendengar kabar dari bawahannya kalau Marvin kecelakaan, Julia langsung bergegas berangkat ke rumah sakit untuk menemui cucu kesayangannya.
"Tuan sudah sadar. Nyonya bisa langsung menemui Tuan muda didalam." jawab Thomas sopan kemudian memberikan jalan.
Ceklek!
Julia masuk kedalam ruangan kemudian segera menghampiri ranjang Marvin.
"Cucuku apa kau baik-baik saja?" tanya Julia khawatir.
"Aku baik-baik saja. Nenek jangan khawatir." jawab Marvin lembut.
"Apakah ada orang yang baru saja menjengukmu?" tanya Julia curiga saat merasakan kursi yang ia duduki masih terasa hangat.
"Ah itu tadi gadis yang sudah menyelamatkanku baru saja pulang." jawab Marvin kikuk.
"Seorang gadis? Kau yakin dia yang menyelamatkanmu? Nenek curiga kalau gadis itu berpura-pura dan ingin mendapat keuntungan darimu." ucap Julia ragu dan penuh selidik.
"Nenek sepertinya terlalu banyak menonton sinetron. Gadis itu adalah gadis yang sedang aku kejar, Nek. Kebetulan sekali bukan?" kata Marvin senang.
"Kau jangan mudah tertipu. Bisa saja dia sengaja jual mahal padamu, tapi sebenarnya punya niat jahat padamu. Mungkin dia yang merencanakan kecelakaanmu ini dan berpura-pura menjadi penyelamatmu agar kau jatuh hati padanya." ucap Julia yang masih penuh curiga.
"Nenek bisa tanya Thomas kejadian sebenarnya. Dan aku pastikan penyelamatku ini adalah wanita baik. Nenek tidak akan kecewa dengan pilihanku." kata Marvin percaya diri.
"Halah paling tidak lebih hebat dari gadis yang sudah menyelamatkan Nenek. Gadis itu kuat dan mandiri sangat cocok denganmu. Pasti pilihanmu itu gadis yang manja dan lemah kan? Nenek tidak mau punya cucu menantu seperti itu." ucap Julia masih tidak ingin kalah dengan cucunya.
"Marvin berani jamin, Nenek pasti akan menyukainya saat pertama kali bertemu dengannya." kata Marvin penuh keyakinan.
"Cih! Nenek jadi penasaran sehebat apa gadis yang kau kejar itu." sahut Julia meremehkan.
Marvin hanya terkekeh tidak ingin menanggapi perkataan neneknya lagi. Jika Marvin terus berbicara maka akan membuat Julia semakin kesal dan itu tidak baik untuk kesehatan neneknya.
Johan yang sedari tadi mendengar perdebatan nenek dan cucu diruangan itu memilih pura-pura tertidur. Johan tidak ingin terlibat dengan permasalahan pribadi majikannya karena akan membuatnya semakin pusing tujuh keliling.
Davina dan dua pengawalnya sudah berada didalam mobil taxi untuk kembali menuju kos.
"Bagaimana Nona bisa mengenal Tuan Marvin?" tanya Orkan sambil melirik sopir yang fokus dengan kemudinya.
"Ceritanya panjang. Kau pasti sudah lebih mengetahuinya dan melaporkan kepada Ayah kan?" ucap Davina malah memberikan pertanyaan telak kepada Orkan.
"Maafkan saya Nona." ucap Orkan bersalah.
"Tidak apa-apa, itu adalah tugasmu. Setelah ini kau bisa kembali bertugas seperti biasanya. Aku harap kau tidak terlalu mencolok berada disekitarku." kata Davina seolah tidak mempermasalahkan keberadaan Orkan.
Bagaimanapun juga, kehadiran Orkan sudah membantunya kali ini. Sepertinya Orkan juga orang yang bisa diandalkan Davina kedepannya.
"Baik Nona." sahut Orkan patuh.
Kemudian suasana mobil menjadi hening, ketiga penumpang itu fokus dengan pemikirannya masing-masing. Beruntung sopir taxi sama sekali tidak mempedulikan apa yang dibicarakan oleh penumpangnya. Jadi identitas Davina masih bisa dirahasiakan.
-BERSAMBUNG