
"Davina belum sadar?" tanya Marvin kepada Julia dan Sera saat baru saja masuk diruang rawat istrinya.
"Belum." sahut mereka serempak.
Marvin terlihat tertunduk lesu dan Julia segera menghampirinya dengan menepuk pundak cucunya itu.
"Bukankah dokter sudah berkata kalau istrimu sudah melewati masa kritisnya? Kita tunggu saja sampai dia sadar." ucap Julia menenangkan.
"Nenek pulanglah dulu, ajak Ibu sekalian." kata Marvin lirih.
"Tidak aku ingin...." sebelum Sera menyelesaikan ucapannya dengan cepat Julia menggengam tangannya.
"Aku akan segera menghubungi kalian kalau Vina sudah sadar." kata Marvin.
"Ayo Nak ikut aku ke mansion, kita bisa bercengkarama untuk mengeratkan hubungan kita. Cucuku ini cukup bisa diandalkan." ucap Julia mengerti kondisi hati cucunya saat ini.
"Baiklah. Ibu titip Vina ya." sahut Sera pasrah setelah itu keduanya berpamitan.
Marvin kembali terduduk seraya memijat keningnya. Bayangan menyeramkan kembali menyelimuti pikirannya.
"Bagaimana sudah bisa menemukan orangnya?" tanya Marvin kepada Johan yang hanya diam mematung tak jauh darinya.
"Kami sudah menangkap sopir yang mengemudikan mobil itu. Apakah Tuan ingin bertindak sekarang?" tanya Johan.
"Kau amankan dan interogasi dia sampai mengaku siapa yang menyuruhnya." jawab Marvin dingin.
"Baik Tuan." sahut Johan patuh.
"Satu lagi, bagaimana dengan pengemudi mobil yang bertabrakan denganku?" tanya Marvin lagi.
"Sudah dirawat Tuan, lukanya tidak terlalu parah." jawab Johan memberitahu.
"Baguslah, pastikan dia terawat dengan baik." titah Marvin.
"Baik Tuan." sahut Johan mengangguk.
CEKLEK!
Pintu ruangan terbuka menampakkan seorang perawat wanita muda yang masuk keruangan Davina.
"Maaf permisi Tuan, saya ingin memeriksa pasien." ucap perawat takut karena aura dingin yang ditampilkan wajah Marvin.
Marvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya lalu menyingkir untuk memberikan ruang. Perawat itu bergidik ngeri tak berani melihat wajah Marvin.
"Jika ada pergerakkan dari pasien tolong segera beritahu saya." kata wanita itu gugup setelah memastikan kondisi tubuh Davina.
Marvin kembali menganggukkan kepalanya tanpa berkedip melihat istrinya yang masih terbaring tak berdaya.
"Permisi, Tuan." pamit wanita itu yang bergegas meninggalkan ruangan yang terasa semakin dingin.
"Terimakasih." ucap Johan.
"Tuan benar-benar tidak berubah kalau berhadapan dengan orang lain." gumam Johan menghembuskan nafas kasar.
"Pria itu menyeramkan sekali." gumam perawat itu saat sudah berada diluar ruangan.
"Berhadapan dengan orang kaya dan berkuasa memang berbahaya sekali." ucapnya lagi.
Marvin kembali duduk disamping ranjang Davina dan menggenggam tangan istrinya. Melihat pemandangan itu, Johan dengan sadar diri keluar dari ruangan tidak ingin mengganggu momen tuannya bersama istri tercinta.
"Semoga Nona baik-baik saja dan segera pulih. Hanya Nona yang bisa membuat wajah Tuan Muda menjadi cerah." gumam Johan penuh harap.
Cukup lama Marvin memandangi wajah istrinya yang masih tertidur dengan wajah sedikit pucat. Marvin menarik tangan wanita itu dan mengecupinya dengan lembut.
"Ini hal yang paling aku takutkan, istriku. Aku tidak bisa melindungimu justru malah membuatmu terluka seperti ini." ucap Marvin lirih.
"Aku tidak tahu bagaimana hancurnya diriku jika terjadi sesuatu denganmu." kata Marvin lagi.
"Hah.. Kau benar-benar sudah berhasil menaklukanku, Sayang. Kau membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu." kekeh Marvin.
Tatapannya kembali sendu saat melihat wanita yang biasanya cerewet itu masih memejamkan mata tak menyahuti perkataannya.
"Cepatlah bangun, Sayang. Aku merindukanmu. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku." ucap Marvin lagi.
Melihat Davina belum ada respon, Marvin keluar sebentar untuk membicarakan sesuatu hal dengan Johan.
"Sudah menemukan siapa dalangnya?" tanya Marvin serius.
"Thomas sudah mengurus orang itu, Tuan. Awalnya dia kekeh tidak mau buka mulut namun karena Thomas mengancam keselamatan keluarganya barulah ia mengakui kalau orang yang menyuruhnya adalah Robert, orang kepercayaan Anton." jawab Johan menjelaskan.
"Anton? Berani sekali dia!" seru Marvin kesal.
"Sepertinya aku terlalu meremehkan dia. Buat perusahaanya hancur, biar pria itu tahu apa akibatnya sudah melukai orangku." perintah Marvin tegas dan penuh penekanan.
"Baik Tuan." sahut Johan bersemangat.
Johan tidak bisa menampik kalau sosok Marvin yang tegas, kejam dan dingin sangat disegani. Bahkan tidak ada orang yang berani menyinggungnya. Hanya mendengar namanya saja sudah membuat nyali orang menciut.
"Tuan sepertinya kita terlambat." ucap Johan.
"Apa maksudmu?" tanya Marvin mengernyitkan keningnya.
"Sudah ada yang menghancurkan perusahaan Millano lebih dulu." jawab Johan.
Marvin sudah bisa menebak orang yang sudah bertindak lebih cepat darinya. Siapa lagi kalau bukan ayah mertuanya, Adam Carlos.
"Tunggu, Tuan!" ucap Johan.
"Apa lagi?" tanya Marvin heran.
"Kenapa yang melakukannya adalah Tuan Carlos?" tanya Johan merasa aneh.
Marvin hanya menghela nafas karena tebakannya tidak meleset. Marvin tersenyum tipis mengakui kalau dirinya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan Carlos.
"Kenapa Tuan malah tersenyum?" tanya Johan heran.
"Tentu saja. Tuan Carlos tidak akan tinggal diam kalau putrinya terluka." jawab Marvin.
Johan tampak berpikir sejenak mencoba mencerna jawaban tuannya lalu setelah itu memelototkan kedua matanya.
"Maksud Tuan? No-nona Davina?" tanya Johan mencoba memastikan.
Marvin hanya menganggukkan kepalanya dan menyeringai tipis.
"Ja-jadi Nona Davina adalah putri Tuan Carlos?" tanya Johan heboh.
"Pelankan suaramu. Jangan sampai ada orang yang mendengarnya kalau kau masih sayang dengan nyawamu." kata Marvin memperingatkan.
"Ma-maaf, Tuan." sahut Johan.
Tentu saja kabar mengejutkan yang baru saja ia dengar membuat Johan tidak mudah percaya begitu saja. Tetapi ketika mengingat bagaimana perangai Davina, ia tidak bisa mengelak lagi. Davina benar-benar memiliki darah Carlos.
"Aku tahu kau sangat terkejut, aku awalnya juga begitu. Mengingat bagaimana perilaku istriku itu, aku sudah bisa menduga dan yakin kalau dia bukanlah terlahir dari keluarga biasa. Namun kenyataannya diluar dugaanku kalau dia ternyata adalah putri dari Adam Carlos. Benar-benar membuatku sangat takut. Kau tahu sendiri kan bagaimana kekuatan Carlos?" kata Marvin.
Johan menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Marvin.
"Tapi bukankah ini menjadi hal baik dan sangat menguntungkan, Tuan? Keluarga Carlos dan Harris bersatu, siapa yang berani melawannya?" kata Johan membayangkan seperti apa kekuatan kedua keluarga ini jika disatukan sudah bisa membuat sekujur tubuhnya merinding.
"Kau pikir Tuan Carlos semudah itu?" tanya Marvin membuat Johan tersadar.
"Tuan benar juga. Jadi sekarang saya harus memanggil Nona Davina apa? Nona Muda Carlos atau Harris?" tanya Johan.
"Mulai sekarang kau harus memanggilnya Nyonya. Lebih tepatnya Nyonya Muda Harris." jawab Marvin membuat Johan terpaku.
"Ah baiklah." sahut Johan setuju mengingat status Davina yang sudah menikah dengan Marvin.
...****************...
"Tuan yakin ingin mengajak Tuan Anton menemui Nona Muda? Bukankah itu sangat berbahaya?" tanya Orkan khawatir.
Sejujurnya Adam juga berpikiran sama dengan Orkan, namun ia mencoba mengikuti permainan Anton. Kalau sampai Anton berani mencelakai putrinya lagi maka Adam tidak akan segan menghabisi nyawa pria itu ditempat.
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkan pria itu menyentuh putriku sehelaipun." kata Adam tegas.
"Baiklah." sahut Orkan.
-BERSAMBUNG