Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 23 Mulai Mengenal


"Aku akan mengantarmu. Temanmu sudah kembali kerumahnya." ucap Marvin.


"Tidak perlu, aku jalan kaki saja. Kos ku tidak jauh dari sini." tolak Davina.


"Kalau begitu izinkan aku untuk menemanimu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja." kata Marvin.


"Jangan khawatir. Ada yang menjagaku." sahut Davina.


"Kau lupa kalau kau akan memberiku kesempatan?" tanya Marvin mengingatkan.


"Aku bilang akan mempertimbangkan bukan menyetujuinya." jawab Davina.


"Jadi kau tidak menolakku kan? Tolong jangan memberikan jarak terlalu jauh padaku. Aku hanya ingin membuktikan niatku." ucap Marvin serius.


Davina menghela nafas kemudian menatap Marvin sekilas. Davina juga belum bisa memastikan apa niat Marvin yang sebenarnya. Davina berpikir kalau Marvin sudah mengetahui identitasnya, namun kenyataanya kekuatan Carlos tidak bisa ditembus dengan mudah. Jika dibandingkan dengan keluarga Harris, jelas keluarga Carlos jauh lebih unggul dari segi kekayaan, kekuatan dan kekuasaan. Ada perasaan senang dihati Davina saat Marvin tidak mengetahui siapa dirinya, namun ada juga kekhawatiran yang menyelimutinya.


Davina tidak bisa menebak apakah Marvin serius atau sedang mempermainkannya. Hanya waktu yang bisa membuktikan. Saat ini Davina memilih untuk mengikuti alur permainan Marvin.


"Baiklah." ucap Davina pasrah.


Marvin tersenyum tipis kemudian keduanya keluar dari kafe dan berjalan menyusuri jalanan yang sudah gelap hanya diterangi lampu jalanan. Tidak ada obrolan diantara keduanya, Marvin berjalan disamping kanan Davina.


"Apakah masih jauh?" tanya Marvin saat menyadari sudah cukup jauh berjalan.


"Jika kau lelah, kau bisa menelpon asistenmu untuk menjemputmu." jawab Davina ketus.


"Gadis ini berani sekali berbicara denganku seperti itu!" batin Marvin.


"Apakah kau setiap hari berjalan kaki seperti ini?" tanya Marvin mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Aku berangkat dan pulang jalan kaki." jawab Davina.


"Jarang sekali wanita zaman sekarang mau capek-capek berjalan kaki. Biasanya mereka lebih memilih untuk naik kendaraan walau jarak tidak seberapa." ucap Marvin memuji Davina.


"Banyak mahasiswi disini yang seperti itu. Kau saja yang terbiasa hidup dengan para wanita elit." sahut Davina membuat Marvin tersindir.


"Mulut gadis ini tajam sekali. Selalu saja membuatku kehabisan kata-kata. Sepertinya aku harus menyetok kesabaranku lebih banyak." ucap Marvin dalam hati.


"Kau benar." kata Marvin enggan berdebat.


Davina melirik sekilas kemudian kembali fokus dengan jalanan didepannya. Tak jauh dari pandangannya, Davina melihat penjual nasi goreng keliling yang sudah menjadi langganannya.


Kruk Kruk Kruk


Perut Davina langsung berbunyi karena memang dia belum makan sedari siang. Hanya memakan snack yang ia pesan di kafe untuk mengganjal perutnya.


"Kau lapar?" tanya Marvin.


Sebenarnya Marvin terkejut saat mendengar suara nyaring yang ia sadari ternyata berasal dari perut Davina. Marvin ingin tertawa namun sebisa mungkin menahannya.


"Aku mau makan nasi goreng, kau mau?" tawar Davina.


"Boleh." jawab Marvin.


"Bang, nasi goreng dua!" teriak Davina kepada penjual nasi goreng.


"Loh, Non kok disini?" tanya penjual yang sudah akrab dengan Davina.


"Iya lagi jalan-jalan cari udara segar." jawab Davina ramah.


"Kau mau pedas atau tidak?" tanya Davina kepada Marvin seketika membuat Bambang, penjual nasi goreng menoleh kepada Marvin.


"Pedasnya sedang saja." jawab Marvin.


"Oke."


"Pedas satu, sedang satu. Seperti biasa spesial ya." ucap Davina.


"Oke, Non." sahut Bambang segera membuatkan pesanan pelanggannya.


Davina menuju kursi umum yang tersedia dipinggir jalan, diikuti oleh Marvin. Davina duduk begitu juga dengan Marvin. Keduanya duduk dengan jarak yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh.


"Kau tidak keberatan kan makan dipinggir jalan seperti ini? Tidak perlu takut walau pedagang kaki lima, nasi gorengnya tidak kalah dengan koki di restoran bintang lima. Untuk masalah kebersihan juga tidak perlu diragukan." ucap Davina menjelaskan.


"Aku tidak masalah. Jika kau suka, aku juga akan belajar menyukainya." sahut Marvin.


Davina menoleh dan menatap wajah tampan Marvin. Davina bisa memaklumi jika banyak wanita kaya yang berlomba-lomba untuk melemparkan diri kepada Marvin karena parasnya yang menawan.


"Tidak perlu memaksakan dirimu. Aku memberimu kesempatan bukan untuk menyukai semua hal tentangku. Jadilah dirimu sendiri dan aku juga begitu." ucap Davina sadar kalau Marvin pasti sudah terbiasa hidup mewah.


Ucapan Davina membuat Marvin tertegun.


"Baik, aku setuju. Terimakasih sudah memberiku kesempatan, aku akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya." kata Marvin yang diberi anggukan kepala Davina.


"Akan aku tunjukkan kalau aku pria yang bisa kau andalkan, kelinciku." batin Marvin tersenyum senang.


Tidak perlu menunggu lama, Bambang sudah membawa dua piring nasi goreng yang masih berasap kepada Davina dan juga Marvin.


"Wah ini pacar Nona Vina? Ganteng sekali, cocok Non." ucap Bambang.


"Bukan, bang. Kami baru berteman." elak Davina.


"Teman jadi cinta itu sudah hal wajar, Non. Apalagi perempuan dan laki-laki tidak mungkin salah satu dari mereka tidak punya perasaan lebih." goda Bambang.


"Es teh manis dua, Bang." sahut Marvin memotong pembicaraan agar Davina tidak merasa terganggu.


"Oh siap mas ganteng." kata Bambang bergegas menuju gerobaknya.


"Kenapa kamu mengalihkan pembicaraanya?" tanya Davina heran.


"Aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman." jawab Marvin.


"Dia lumayan peka." gumam Davina.


Keduanya sibuk menyendokkan nasi goreng ke dalam mulut karena Davina dan Marvin memang sudah sangat lapar.


"Bagaimana rasanya?" tanya Davina penasaran.


"Tidak mengecewakan." jawab Marvin yang terus memasukkan nasi goreng ke mulutnya.


"Tidak perlu dipaksakan kalau memang rasanya tidak sesuai dengan seleramu." ucap Davina tak enak hati.


Marvin yang sudah menghabiskan nasi gorengnya, menyeruput es tehnya kemudian menatap Davina.


"Ini enak sekali. Aku akui, ini pertama kalinya aku makan dipinggir jalan. Awalnya aku memang meragukan ucapanmu, tapi kenyataanya yang kau katakan itu benar." ucap Marvin jujur.


Davina tersenyum dan bernafas lega. Davina pikir Marvin tidak menyukai nasi goreng itu namun ternyata tebakannya salah.


"Apa kau mau menambah lagi?" tanya Davina yang melihat piring Marvin sudah bersih tanpa meninggalkan sisa nasi sebutirpun.


"Tidak perlu. Apakah aku boleh mencoba milikmu?" tanya Marvin melihat nasi goreng Davina yang tersisa setengah porsi.


"Tapi ini pedas sekali, kau yakin mau mencobanya?" tanya Davina memastikan.


Tanpa menjawab, Marvin mengambil sendok ditangan Davina lalu menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


Melihat hal itu, Davina terkejut dibuatnya.


"Enak." ucap Marvin kemudian mengembalikan sendok kepiring Davina.


"Eh tunggu! Kau baru saja makan menggunakan sendokku!" pekik Davina sadar.


"Lalu?" tanya Marvin polos.


"Itu kan bekas mulutku!" ucap Davina kesal.


"Iya, terus?" tanya Marvin lagi tanpa bersalah.


"Kau ini dasar tidak peka!" gerutu Davina.


"Eh? Memangnya apa salahku? Aku juga tidak masalah." batin Marvin.


"Astaga. Ternyata kelinci kecilku ini pikirannya tidak sepolos itu. Menarik sekali." gumam Marvin dengan tersenyum nakal saat menyadari apa yang ada dipikiran Davina saat ini.


"Ehm, apakah kau mau mengganti sendok yang baru? Maaf aku tadi terlalu bersemangat karena memang nasi gorengnya benar-benar enak." kata Marvin lembut mencoba mencairkan suasana.


"Tidak perlu. Aku sudah tidak nafsu makan." ucap Davina meletakkan piringnya kesamping.


"Hey kau pasti masih lapar kan? Aku akan meminta sendok baru untukmu." kata Marvin bersalah mencoba menebus kesalahanya.


"Tidak usah." sahut Davina.


"Jangan begitu, lagipula kita tidak melakukannya secara langsung." ucap Marvin seketika membuat Davina membulatkan kedua bola matanya.


"Kau! Dasar mesum!" umpat Davina.


Davina dengan cepat menghabiskan minumannya, kemudian beranjak membayar kepada Bambang lalu berjalan meninggalkan Marvin.


"Vina tunggu aku!" teriak Marvin lalu bergegas menyusul Davina yang sudah berjalan menjauh darinya.


"Kisah kasih anak muda memang menyenangkan." gumam Bambang melihat drama Davina dan Marvin.