Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 12 Menikah


"Tuan gawat!" kata Johan panik kemudian masuk keruangan Marvin begitu saja.


"Ada apa? Sepertinya kau sangat panik." tanya Marvin melihat Johan yang tidak tenang.


"Ada yang menyelidiki informasi tuan lagi. Tapi kali ini adalah orang yang tidak bisa kita singgung." bisik Johan sambil melihat keluar ruangan takut ada karyawan yang mendengar suaranya.


"Ayo ke ruang pribadiku." ajak Marvin menuju sebuah ruang khusus yang ada didalam ruang kerja di perusahaannya.


Johan mengikuti Marvin dari belakang menuju sebuah ruangan yang dibangun kedap suara. Ruangan ini berfungsi untuk membahas masalah penting dan hanya orang-orang pilihan Marvin yang bisa memasukinya.


"Siapa lagi yang menyelidiki aku?" tanya Marvin.


"Aku baru saja mendapat kabar ada orang Carlos yang mengakses informasi Tuan." jawab Johan yang masih panik.


"Carlos? Mafia terkuat itu?" tanya Marvin mencoba menebak.


"Betul Tuan." jawab Johan sembari menganggukkan kepalanya.


"Ada urusan apa mereka menyelidiki aku? Sepertinya aku tidak pernah menyinggung mereka." ucap Marvin mengingat dirinya yang tidak pernah berinteraksi dengan anggota mafia itu.


"Entahlah Tuan. Tapi Tuan harus tetap berhati-hati." saran Johan mengingatkan.


"Tentu. Pastikan kau melaporkan padaku jika ada yang menyelidiki aku lagi. Dan kau harus lebih waspada terhadap pergerakan Carlos." ucap Marvin memperingatkan sekaligus memberi perintah.


"Baik Tuan." kata Johan kemudian meninggalkan Marvin untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa aku teringat dengan kelinci kecilku lagi?" gumam Marvin saat wajah Davina tiba-tiba muncul dipikirannya.


"Ekspresi dinginnya itu benar-benar menyihirku." batin Marvin tersenyum tipis.


Marvin mengingat saat Davina kembali menyerangnya. Sudah 3 kali pertemuan namun tetap saja Marvin belum bisa berkenalan dengan Davina. Gadis yang benar-benar tidak mudah ditaklukan. Marvin jadi semakin tertantang untuk mengenal Davina. Marvin ingin tahu kepribadian gadis yang sudah menarik perhatiannya. Sepetinya tanpa disadari, Davina sudah menduduki posisi penting dihati Marvin.


"Bagaimana caraku bisa berbicara dengannya ya?" tanya Marvin sambil berpikir.


Marvin membuka ponselnya kemudian mengetik sesuatu di pencarian.


"Cara menaklukan wanita galak."


Marvin mengklik sebuah artikel, 10 cara menaklukan gadis yang disukai. Marvin membaca dengan teliti satu per satu cara yang tertulis di halaman web yang telah ia pilih. Sesekali Marvin mengerutkan kening dan juga tersenyum tipis.


"Sepertinya aku memang sudah salah langkah. Pantas saja gadis itu selalu melarikan diri saat bertemu denganku. Tapi kalau aku menuruti cara-cara ini apakah mungkin bisa menjinakkan gadis itu?" gumam Marvin bertanya-tanya.


"Aaarrrgggh!!!" Marvin mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya.


"Sejak kapan aku menjadi gila seperti ini. Benar-benar gadis yang istimewa." ucap Marvin terkekeh.


"Tunggu aku, Davina." batin Marvin dengan senyum licik diwajahnya.


*


*


*


Jantung Amelia terasa berdetak begitu cepat, tidak bisa dipungkiri kalau hari ini ia sangat gugup. Walaupun hubungannya diawali dengan kesalahan, didalam hati kecil Amel ia berharap kalau pernikahannya akan bahagia. Amel juga ingin membesarkan janin yang tengah dikandungnya memiliki orangtua yang utuh. Amel dan Nathan sudah sepakat untuk berubah dan menjadi orangtua yang baik untuk anaknya.


"Ayo Nak, acaranya sudah akan dimulai." ajak Arka Wijaya, ayah Amelia.


Arka menghampiri putrinya lalu mengulurkan lengannya. Amelia tersenyum kemudian merangkul lengan ayahnya dengan erat.


"Terimakasih Papa." ucap Amel lalu berjalan mengikuti ayahnya menuju tempat dimana dirinya dan Nathan akan mengikrarkan janji suci.


Tatapan kagum diberikan oleh para undangan ketika Amel muncul bersama Arka.


"Ternyata putri Tuan Wijaya cantik sekali. Memang pantas disandingkan dengan putra tunggal Johnson yang termasuk jajaran pria tertampan di kota ini." bisik seorang wanita kepada temannya.


Nathan yang sudah menunggu dipanggung tersenyum saat melihat Amel berjalan kearahnya.


"Tolong jaga putriku." ucap Arka sebelum tangan putrinya dipegang oleh Nathan.


"Baik Pah. Nathan akan menjaga Amel dengan baik." sahut Nathan kemudian meraih tangan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Arka menganggukkan kepalanya kemudian tak terasa menitikkan airmata saat putrinya naik keatas panggung.


"Kau lihat sayang. Putrimu sudah dewasa, hari ini dia menikah. Kau pasti juga bahagia melihatnya disana kan?" gumam Arka seolah berbicara dengan mendiang istrinya.


"Setelah hari ini aku akan menjalani hidupku sendiri. Semoga kau bahagia, Nak." batin Arka mendoakan setulus hati.


Janji suci telah diikrarkan, seluruh tamu yang hadir bertepuk tangan. Suasana menjadi ramai, beberapa tamu undangan sudah mengantri untuk memberikan selamat kepada Andreas dan juga Arka termasuk juga kepada pengantin baru.


"Sepertinya aku harus menjilat Tuan Wijaya karena sudah menjadi bagian dari keluarga Johnson. Pasti banyak keuntungan yang akan aku untungkan jika dapat bekerjasama dengan mereka." batin seorang pria berbadan gempal yang hatinya sudah dipenuhi cara licik.


Dalam dunia bisnis memang ada beberapa orang yang mengandalkan kedekatan untuk menguatkan posisinya. Bahkan saling menjilat sudah biasa terjadi yang tujuannya hanya untuk mendapatkan keuntungan.


Nathan dan Amel juga tidak luput dari sasaran para penjilat itu. Mereka sudah mempromosikan bisnisnya bertujuan untuk menarik pasangan muda itu dan akan berbicara dengan orangtua mereka. Nathan sudah paham dengan kondisi itu, dari kecil dirinya sudah sering menyaksikan kelakuan para manusia munafik yang menjijikan. Namun Nathan tidak ingin menampakkan ketidaksukaanya, ia menanggapi mereka dengan senyuman.


*


*


*


"Mel, aku mau ke supermarket. Kau ikut tidak?" tanya Davina.


"Tentu aku harus ikut kemanapun Nona pergi, itu adalah tugasku untuk mengawal Nona." jawab Mely tegas.


"Cih! Akhirnya kau sadar tugasmu." sindir Davina.


"Maafkan kelalaianku, Nona. Aku akan siap siaga menjaga Nona 24 jam." ucap Mely takut kalau majikannya akan memecat dirinya.


"Berlebihan sekali. Memangnya kau tidak butuh makan, mandi dan tidur? Ayo taxinya sudah menunggu kita." kata Davina kemudian melangkah keluar kos menuju mobil yang sudah menunggunya di tepi jalan.


"Aku memang lalai kemarin. Tapi mulai hari ini aku berjanji akan menjaga Nona dengan jiwa dan ragaku." tekad Mely dalam hati kemudian menyusul Davina yang sudah masuk mobil lebih dulu.


Davina memang lebih senang menggunakan taxi untuk berpergian. Adam sempat menawarkan mobil dan sopir pribadi namun Davina menolaknya. Davina tidak ingin terlalu mencolok. Davina juga tidak senang jika terlalu banyak orang yang mengikuti dan mengawasinya. Davina tahu kalau Adam diam-diam mengirimkan pengawal rahasia untuk mengawasinya namun itu tidak masalah. Selama pengawal itu bisa menjaga jarak dan tidak terlihat maka Davina bisa menerimanya. Davina bisa memahami kekhawatiran orangtuanya terkait dengan identitas dirinya. Davina tidak bisa menolak, waspada dan hati-hati merupakan sikap yang memang harus dimiliki oleh generasi penerus Carlos.