Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 68 Membuka Hati


"Kenapa pria tua itu ada disini?" tanya Davina dalam hati.


Hari ini Davina masuk kuliah, saat ingin pulang ia melihat sebuah mobil yang penumpangnya adalah Anton dan anak buahnya diseberang jalan gerbang kampus.


"Nona, Tuan saya ingin bicara dengan Nona." ucap Robert menghampiri Davina.


"Katakan saja pada Tuanmu kalau aku sibuk hari ini. Maaf tidak bisa menemuinya." sahut Davina dingin.


"Nona jangan lancang. Tuanku sudah menyempatkan waktunya kesini dan hanya ingin berbicara dengan Nona tapi Nona malah bersikap tidak sopan." kata Robert kesal.


Davina tersenyum tipis kemudian menatap tajam Robert, pria yang mungkin seusia Marvin.


"Bukankah kalian datang kesini tanpa persetujuanku? Memangnya aku tidak boleh menolak? Lagipula aku tidak tahu apa tujuan kalian." ucap Davina.


"Tuan Anton hanya ingin bertemu dan membicarakan sesuatu dengan Nona." kata Robert mencoba membujuk Davina.


"Maaf, sudah kukatakan aku sibuk hari ini. Aku tidak bisa menemui Tuanmu." ucap Davina setelah itu masuk kedalam mobil yang menjemputnya.


"Sial! Gadis itu sombong sekali! Siapa dia berani menolak pertemuan dengan Tuanku!" gerutu Robert kesal kemudian kembali ke mobil.


"Kenapa gadis itu malah kabur? Apa yang kau katakan padanya?" tanya Anton yang melihat semua kejadian dari kaca mobil.


"Nona berkata kalau dia sibuk hari ini." jawab Robert jujur.


"Gadis yang menarik." gumam Anton dengan tersenyum.


"Kenapa Tuan repot-repot begini untuk menemui Nona sombong itu? Bukankah Tuan bisa saja memaksanya bertemu seperti beberapa hari yang lalu?" tanya Robert penasaran.


"Dia bukan gadis sembarangan. Dengan melihat sikapnya begini malah membuatku semakin tertarik. Atur penerbangan ke kota K sore ini. Aku akan menemui gadis itu lain waktu." jawab Anton sekaligus memberikan perintah.


"Baik Tuan." sahut Robert patuh.


"Tuan benar-benar aneh. Apa yang menarik dari gadis sombong itu?" tanya Robert dalam hati setelah itu melajukan mobilnya.


"Kenapa pria tua itu ingin menemuiku lagi? Apa yang ingin dia bicarakan padaku?" gumam Davina.


"Nona, Tuan Muda meminta Nona untuk datang ke perusahaannya." ucap Thomas yang ditugaskan untuk menjemput Davina sekaligus memastikan keselamatan istri Tuannya.


"Kau tadi sudah melihat semuanya kan?" tanya Davina yang dijawab gelengan kepala Thomas.


"Ada urusan apa Robert menemui Nona?" tanya Thomas penasaran.


"Tidak penting. Kau belum melaporkannya pada Marvin kan? Aku yang akan bercerita padanya sendiri." kata Davina.


"I-itu maafkan saya Nona. Saya sudah langsung melapor pada Tuan." jawab Thomas bersalah.


"Aih.. Kau benar-benar melaksanakan tugasmu dengan baik rupanya." ucap Davina justru membuat Thomas semakin merasa bersalah.


"Maafkan saya, Nona." kata Thomas lagi.


"Sudahlah. Tambah kecepatannya agar segera sampai diperusahaan." titah Davina.


15 menit berlalu, Davina sudah sampai di perusahaan Harris. Para karyawan yang melihat kedatangan Davina langsung menyapanya dengan ramah.


Davina langsung menuju ruangan Marvin, ia melihat pintu yang tidak tertutup rapat dan memutuskan untuk mengintipnya terlebih dahulu.


"Ternyata dia sangat tampan kalau sedang fokus seperti itu." gumam Davina terpesona dengan penampilan serius Marvin.


"Sampai kapan kau mau mengintip suamimu, istriku?" tiba-tiba Marvin bersuara membuat Davina terkejut.


"Jadi kau tau kedatanganku?" tanya Davina yang masuk ruangan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tentu saja. Aroma tubuhmu sudah tercium sejak kau masuk loby perusahaan." jawab Marvin asal padahal sedari tadi ia memantau kehadiran istrinya dari cctv.


Davina mengerutkan keningnya mendengar ucapan aneh suaminya.


"Kemarilah." pinta Marvin lembut.


"Aaah.. Apa yang kau lakukan?" pekik Davina kaget saat Marvin menarik tubuhnya kepangkuan pria itu.


"Kau tadi berdiri terlalu jauh. Aku hanya ingin berdekatan denganmu." jawab Marvin yang memeluk pinggang ramping Davina.


"Ta-tapi tidak perlu sedekat ini juga kan? Lepaskan aku, posisi ini membuatku kurang nyaman." ucap Davina gugup.


"Tidak mau. Aku merindukanmu. Biarkan aku memelukmu seperti ini." pinta Marvin yang langsung menelusupkan wajahnya ke ceruk leher Davina.


"Mas..." panggil Davina lirih justru membuat Marvin merasakan sengatan dibawah sana.


"Kau sengaja menggodaku?" tanya Marvin.


"Ti-tidak. Aku tidak bermaksud begitu." jawab Davina yang bisa merasakan reaksi milik Marvin.


Davina cukup terkejut dengan perubahan yang terjadi. Namun ia sadar bahwa Marvin adalah pria normal. Terlebih mereka adalah suami istri dan keduanya belum pernah berhubungan fisik. Jadi Davina memaklumi reaksi tubuh Marvin.


"Diamlah. Aku hanya ingin memelukmu. Jangan menggodaku atau aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya." kata Marvin.


"Kau ini!"


Davina merasakan pelukan hangat Marvin. Entah kenapa dirinya juga merasa candu dengan pelukan itu. Davina merasa sangat nyaman berada dalam dekapan suaminya. Perlahan Davina membalas pelukan itu dan membelai lembut punggung kekar Marvin membuat pria itu tersenyum puas.


"Kau sudah menerimaku?" tanya Marvin yang kini mengurai pelukannya membuat keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.


Davina terdiam sejenak kemudian menghela nafasnya.


"Apakah aku sudah mulai jatuh hati dengan pria ini?" tanya Davina dalam hati mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Davina menatap lekat wajah tampan Marvin, ia tidak menemukan kekurangan dari pria itu. Secara fisik Marvin memanglah pria sempurna. Ditambah dengan kekayaan dan kekuasaan Marvin, tentu banyak gadis yang berlomba-lomba ingin menjadi pasangannya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama." ucap Davina lalu mengecup kening Marvin lembut.


Marvin terkejut dengan kecupan yang ia dapat dari Davina. Pria itu tidak menyangka jika gadis yang selalu menolaknya kini berinisiatif padanya lebih dulu.


"Kau benar-benar sudah menerimaku? Apakah kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Marvin antusias.


Davina menganggukkan kepalanya membuat Marvin hampir saja meloncat kegirangan kalau saja Davina tidak berada dipangkuannya.


"Yess, aku berhasil." seru Marvin dengan mengangkat kedua tangannya yang mengepal lalu kembali memeluk erat Davina.


Davina tertawa kecil, ia tak menyangka dengan reaksi Marvin. Pria yang terkenal arogan itu bisa bertingkah konyol dihadapannya.


"Aku bahagia sekali, Sayang. Akhirnya kau membalas perasaanku." bisik Marvin.


Davina melepaskan pelukan suaminya lalu menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya.


"Terimakasih sudah memperjuangkanku selama ini. Meskipun aku belum yakin dengan perasaanku sendiri, apakah ini cinta atau sekedar kebutuhan tapi aku akan terus berusaha menerimamu." ucap Davina.


Marvin tersenyum kemudian menggenggam kedua tangan istrinya.


"Aku tidak peduli perasaan apa yang kau miliki padaku. Yang terpenting kau menerimaku, itu sudah cukup bagiku." sahut Marvin.


"Kau tidak takut aku hanya memanfaatkanmu?" tanya Davina.


"Jika itu bisa membuatmu terus berada disisiku maka aku menerimanya dengan senang hati." jawab Marvin memancing tawa kecil Davina.


"Apakah jatuh cinta membuat Tuan Muda Harris menjadi bodoh?" ledek Davina.


"Iya, aku menjadi bodoh dan gila karenamu." sahut Marvin seketika membuat wajah Davina memerah.


"Sial! Mulut pria ini manis sekali." batin Davina.


-BERSAMBUNG