
"Eh kalian lihat tidak, tadi Tuan Muda Harris bersama seorang wanita?" tanya seorang wanita.
"Iya aku lihat. Tumben sekali ya. Apa dia pacarnya Pak Marvin?" tanya wanita yang lain.
"Mungkin saja. Tapi aku sedikit ragu karena sepertinya wanita itu masih muda sekali." sahut yang lain lagi.
"Iya juga sih. Tapi tadi kalian lihat kan wajah Pak Marvin sangat berbeda sekali." sambung wanita yang menggunakan kacamata.
"Iya benar. Baru kali ini aku lihat senyuman Pak Marvin. Selama ini kita hanya diberi wajah datar dan tatapan tajam. Mengerikan sekali." ucap wanita yang berbadan sedikit berisi.
"Ssst.. Pelankan bicaramu. Kalau Pak Marvin sampai mendengarnya kau bisa dalam bahaya." tegur wanita yang sedari tadi hanya menyimak obrolan ketiga wanita yang sedang menggosip.
"Aduh gawat. Ayo kita kembali bekerja saja."
Davina berjalan berdampingan dengan Marvin. Sedari tiba di perusahaan kedua insan itu sudah menjadi pusat perhatian. Sedangkan Johan mengekor dibelakang mereka.
"Sebaiknya kau tertibkan para karyawan itu agar tidak memberi tatapan aneh itu kepadaku." titah Marvin.
"Baik Tuan." sahut Johan segera.
Johan bergegas melaksanakan tugasnya untuk memberi peringatan kepada karyawan. Sedangkan Marvin dan Davina langsung masuk ke lift eksekutif untuk menuju ke ruangan Marvin.
"Maaf kalau karyawanku tidak sopan." ucap Marvin lirih.
"Tidak masalah." sahut Davina santai.
"Jika kau tidak nyaman maka kau boleh tidak datang ke perusahaan lagi." kata Marvin membuat kening Davina mengkerut.
"Maksudmu?" tanya Davina heran.
"Iya, aku tahu kau pasti sangat tidak nyaman kan datang kesini. Belum lagi para karyawanku yang suka menggosip itu. Jangan dengarkan ucapan mereka." jawab Marvin kikuk.
Davina tersenyum melihat ekspresi Marvin.
"Aku jadi penasaran, apakah yang dikatakan para karyawanmu itu benar?" tanya Davina.
TING!
"Ayo." ajak Marvin tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Hey, kenapa kau tidak menjawab. Ayolah apa benar yang mereka katakan?" tanya Davina lagi semakin penasaran.
Marvin terus berjalan hingga masuk ke sebuah ruangan dan Davina mengikutinya dibelakang.
BUG!
"Aawww...!" ringis Davina.
"Kenapa kau berhenti dan berbalik sih? Sakit tahu." gerutu Davina saat hidungnya menabrak dada bidang Marvin.
"Kau saja yang jalan tidak lihat-lihat." sahut Marvin.
"Memangnya jawabanku sangat penting untukmu ya? Kau bersemangat sekali bahkan sampai tidak fokus." goda Marvin.
"Eh bu-bukan begitu sih. Aku hanya penasaran saja." sahut Davina gugup.
Marvin tersenyum tipis kemudian menutup pintu ruangannya.
"Jadi kau masih ingin mendengar jawabanku tidak?" tanya Marvin.
"Iya dong." sahut Davina.
"Dasar kelinciku ini, lain dimulut lain dihati." batin Marvin terkekeh.
"Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Davina.
"Iya karena istriku ini menggemaskan sekali." jawab Marvin sambil mencubit hidung mungil Davina.
"Uuuh.. Sakit." ringis Davina.
Marvin segera melepaskan tangannya kemudian dengan cepat meraih wajah Davina dan meniup bekas cubitan dihidung istrinya. Davina bisa merasakan nafas Marvin. Untuk sesaat Davina terpesona dengan ketampanan Marvin yang bisa ia nikmati dari jarak sangat dekat. Begitu juga dengan Marvin yang terpikat dengan kecantikan Davina.
Bibir ranum Davina hampir saja membuat Marvin lepas kendali. Untung saja Marvin segera tersadar kalau tidak entah apa yang akan dilakukannya. Hal wajar bagi seorang pria normal.
"Maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu." ucap Marvin bersalah.
"Ti-tidak apa-apa." sahut Davina gugup.
"Duduklah." ajak Marvin yang langsung diikuti oleh Davina.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu. Kau masih ingin mendengarnya bukan?" tanya Marvin yang diangguki Davina.
"Hem.. Yang dikatakan para karyawan itu hampir semuanya benar." ucap Marvin mengawali jawabannya.
"Apakah kau merasa terganggu dengan itu?" tanya Marvin lembut.
Davina menggelengkan kepalanya dengan cepat membuat Marvin tersenyum.
"Aku hanya penasaran saja. Mungkin kalau mendengar sifatmu yang dingin dan terkesan menakutkan, aku sangat percaya. Tapi memangnya benar aku wanita pertama yang datang ke perusahaanmu?" tanya Davina.
"Iya, kau memang benar. Kau wanita pertama yang datang ke perusahaanku dan datang bersama denganku. Jadi hal ini sangat mengejutkan bagi para karyawanku." jawab Marvin membuat Davina tak percaya.
"Kau serius?" tanya Davina.
"Iya lah. Memangnya kenapa?" tanya Marvin heran.
"Aku merasa aneh saja. Kau kan penerus keluarga Harris punya paras tampan, kekuasaan dan juga kekayaan. Mana mungkin pria sepertimu tidak pernah bermain dengan seorang wanita?" kata Davina.
"Jadi kau tidak percaya padaku?" tanya Marvin.
"Bukan begitu. Hanya saja pria zaman sekarang yang tidak pernah bermain wanita itu pasti langka sekali." jawab Davina jujur.
"Jadi kau harus bersyukur karena suamimu adalah pria langka itu." sahut Marvin percaya diri.
Davina menatap Marvin lekat mencoba mencari kebenaran ucapan suaminya.
"Aku berani bersumpah, aku tidak pernah bermain dengan wanita manapun sebelum aku bertemu denganmu. Jika kau masih meragukannya, kau bisa bertanya pada seluruh karyawan disini. Atau kau bisa langsung tanya Nenek, Johan dan Thomas." ucap Marvin mencoba meyakinkan Davina.
Davina terdiam sejenak. Davina mengingat bagaimana reaksi para karyawan saat melihat dirinya bersama dengan Marvin. Davina bisa menyimpulkan bahwa perkataan Marvin merupakan sebuah kejujuran.
"Iya aku percaya padamu." kata Davina dengan senyuman manis.
"Syukurlah kalau begitu." sahut Marvin lega.
TOK TOK!
Suara ketukan pintu terdengar membuyarkan suasana hangat pasangan pengantin baru itu.
"Masuk." sahut Marvin.
Davina tersadar dan merasa canggung saat Johan masuk keruangan.
"Tuan, rapatnya akan segera dimulai." ucap Johan memberitahu.
"Baik. Kau duluan saja. Siapkan semua materi yang sudah kita susun semalam." titah Marvin tegas.
"Baik Tuan." sahut Johan kemudian membawa sebuah laptop kemudian keluar ruangan.
"Sepertinya pembicaraan kita harus tertunda." ucap Marvin.
"Tidak masalah. Kau urus pekerjaanmu dulu." kata Davina santai.
"Baiklah. Kau tunggu aku disini ya. Tapi kalau kau bosan aku bisa mengutus seseorang untuk menemanimu berkeliling di perusahaan ini." ucap Marvin memberi penawaran.
"Tidak perlu. Aku disini saja." sahut Davina menolak.
"Kalau begitu kau bisa menggunakan ruang istirahatku disana." ucap Marvin menunjukkan sebuah ruangan didalam ruang kerjanya.
"Oke. Terimakasih." kata Davina.
"Aku rapat dulu, Sayang. Baik-baiklah disini, tunggu suamimu kembali." pamit Marvin dengan nada menggoda kemudian meninggalkan Davina begitu saja.
"Astaga. Kenapa dia berkata seperti itu?" gumam Davina yang merasa wajahnya memanas.
"Uuh.. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Vina!" batin Davina memarahi dirinya sendiri.
Marvin keluar dari ruangan dengan senyuman yang membuat setiap orang yang melihatnya merasa heran. Bahkan ada beberapa karyawan yang merasa merinding saat melihat Marvin tersenyum.
"Tenang saja kelinciku. Aku tidak akan buru-buru. Kita akan memulai hubungan ini pelan-pelan sampai kau benar-benar jatuh hati padaku." ucap Marvin dalam hati.
-BERSAMBUNG