
"Tuan, sepertinya Nona tau kalau kita sedang menguntitnya." ucap Johan menyadari Davina semakin mempercepat langkahnya.
"Hentikan mobil di pertigaan itu!" titah Marvin tegas.
Johan menurut dan melajukan mobilnya melewati Davina lalu memarkir mobil sesuai instruksi Marvin.
Davina mengernyitkan dahinya saat menyadari mobil yang berhenti tak jauh dari pandangannya.
"Sial! Dia lagi." umpat Davina.
"Ada apa, Vin? Siapa yang kau maksud?" tanya Luna heran.
"Panjang umur sekali. Tadi kau baru saja membahasnya." jawab Davina dengan pandangan malas.
Luna yang kebingungan dengan maksud perkataan Davina hanya bisa terdiam.
Seorang pria dengan tinggi 180 cm keluar dari mobil yang sudah tidak asing bagi Davina. Mobil yang pernah Davina lihat didepan kampus saat Marvin menunggunya.
Luna semakin bingung saat Davina tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Luna.
Karena tidak mendapat jawaban, Luna yang awalnya ingin mengomel malah dikejutkan dengan kehadiran sosok pria yang cukup membuatnya merinding.
Rupa Marvin memang bisa dikatakan sangat menawan, tapi karena pria itu selalu memasang wajah dingin membuat orang-orang yang menatapnya jadi ketakutan. Termasuk Luna yang memilih menundukkan wajahnya saat menyadari Marvin berjalan semakin mendekat kearahnya.
"Selamat sore Vina, akhirnya kita bertemu lagi." sapa Marvin.
Davina hanya memberikan tatapan datar tanpa balas menyapa Marvin.
"Dia menyapaku seperti itu seolah-olah sudah lama saja tidak berjumpa. Dasar buaya." ucap Davina namun hanya didalam hati.
"Gadis ini benar-benar." batin Marvin mencoba menetralkan perasaannya.
"Jika tidak ada hal yang penting, tolong jangan halangi jalan kami." ucap Davina ketus.
Ucapan Davina seketika membuat mata Luna membulat sempurna.
"Vina berani sekali!" seru Luna dalam hati.
"Bisakah kamu memberiku waktu sebentar? Kita bisa berbicara ditempat yang lebih nyaman." pinta Marvin dengan nada selembut mungkin namun malah terdengar mengerikan di telinga Luna.
Luna tiba-tiba mencengkeram lengan Davina.
"Maaf Tuan, sepertinya temanku ketakutan. Jadi saya tidak bisa memenuhi permintaan Tuan." ucap Davina menyadari kepanikan Luna.
"Gadis ini... baru saja kemarin memanggilku kakak tapi sekarang Tuan lagi." batin Marvin kecewa.
"Asisten pribadiku bisa menemani temanmu. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu." kata Marvin.
Davina melirik Luna dan temannya itu memberikan kode anggukan kepala tanda setuju.
"Baik. Tolong beritahu asisten Tuan harus menjaga temanku ini dengan baik." ucap Davina.
Didalam hati, Marvin melonjak kegirangan mendengar Davina menyetujui ajakannya. Akhirnya kesempatan baik yang ia tunggu datang juga.
"Tidak jauh dari sini ada sebuah kafe bagaimana kalau kita ngobrol disana?" tanya Marvin antusias.
"Terserah." jawab Davina datar.
"Kita jalan kaki saja ya?" tawar Marvin.
"Terserah." lagi-lagi Davina menjawab dengan kata yang sama dan memasang ekspresi datar.
"Astaga gadis ini kaku sekali. Sabar-sabar." batin Marvin menyemangati dirinya sendiri.
"Ayo jalan." ajak Marvin mencoba menetralkan kekesalan didalam hatinya.
Davina hanya mengikuti Marvin dan berjalan dibelakangnya membuat Marvin semakin geleng-geleng dengan tingkah Davina.
"Berjalanlah disampingku." pinta Marvin lalu menghentikan langkahnya.
BUG!
Tanpa sengaja Davina menabrak Marvin yang tiba-tiba saja berhenti dan berbalik badan.
"Aduh sakit." ringis Davina sembari mengelus dahinya yang terbentur dada bidang Marvin lumayan keras.
"Kenapa tidak memberi aba-aba kalau berhenti?" gerutu Davina kesal.
Marvin tersenyum tipis melihat wajah Davina yang terlihat imut saat sedang kesal.
"Kau saja yang tidak fokus." ucap Marvin mengejek.
"Hey! Seharusnya kau itu minta maaf padaku!" sahut Davina tak terima.
"Jadi kau berharap aku meminta maaf? Baiklah aku akan mentraktirmu sebagai tebusannya." kata Marvin.
"Mana boleh begitu?" ucap Davina heran.
"Lalu kau ingin aku meminta maaf dengan cara seperti apa?" tanya Marvin pura-pura bodoh.
"Dasar pria tidak peka! Tinggal bilang maaf saja susah sekali." batin Davina menggerutu.
"Sudahlah lupakan saja!" jawab Davina ketus kemudian berjalan mendahului Marvin.
Ingin rasanya Marvin tertawa melihat wajah menggemaskan Davina yang sedang kesal.
"Kenapa berhenti? Kalau tidak jadi aku pulang saja." teriak Davina membuat Marvin bergegas menyusul Davina.
"Emosi kelinci kecilku ini ternyata labil juga. Menarik." gumam Marvin menyeringai.
Marvin berjalan disamping Davina, sambil melirik mengamati wajah cemberut Davina. Keduanya berjalan berdampingan tanpa mengeluarkan sepatah kata sampai akhirnya mereka tiba di kafe.
"Kita di lantai dua saja." ucap Marvin.
Davina tidak menyahuti hanya mengikuti langkah Marvin yang menuju tangga untuk naik ke lantai dua kafe tersebut.
"Lady first." ucap Marvin membuat Davina melirik sekilas kemudian menaiki tangga lebih dulu.
Marvin tersenyum kemudian bergegas menyusul Davina. Keduanya memilih tempat duduk outdoor lalu seorang pelayan menghampiri mereka. Marvin dan Davina memesan minuman dan makanan ringan sesuai dengan selera masing-masing.
Angin sepoi-sepoi di sore itu membuat rambut Davina menutupi wajahnya. Davina merogoh tasnya untuk mencari ikat rambut. Dengan cepat Davina merapikan dan mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda. Pemandangan itu tidak luput dari mata Marvin yang seketika membuat pria itu tertegun.
"Cantik." ucap Marvin dalam hati.
"Tadi dia memanggilku Tuan, sekarang galak sekali." gumam Marvin.
Marvin tidak menjawab, tangannya hendak menyentuh kening Davina namun gadis itu dengan cepat menangkis tangannya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Davina marah.
"Aku hanya ingin melihat apakah keningmu baik-baik saja? Aku minta maaf." jawab Marvin.
Davina memberikan tatapan tajam kepada Marvin.
"Maaf." ucap Marvin lagi membuat Davina terdiam.
Kali ini Davina bisa melihat jelas ketampanan Marvin yang duduk dihadapannya. Davina mengernyit saat mendapati bekas luka diwajah Marvin.
"Apakah bekas luka itu karena kecelakaan kemarin?" tanya Davina.
"Oh ini? Iya untung saja hanya meninggalkan bekas kecil ini jadi tidak mengurangi ketampananku bukan?" ucap Marvin sengaja menggoda Davina.
"Dasar narsis!" sahut Davina kemudian melengos.
"Kelinci kecilku imut sekali. Sepertinya kau sudah mulai memperhatikanku." batin Marvin senang.
"Untuk penyebab kecelakaannya aku belum tahu siapa yang merencanakannya karena cctv ditempat terakhir aku parkir mobil sebelum kejadian sudah dihapus oleh seseorang." jelas Marvin.
"Mungkin orang itu ada hubungannya dengan pesaingmu." ucap Davina.
"Bisa jadi." sahut Marvin menyetujui ucapan Davina.
Kemudian keduanya saling diam melihat pemandangan langit yang sudah mulai memerah. Marvin yang tidak ingin melewatkan momen itu segera mengambil ponselnya dan mengabadikan potret cantik Davina dengan background langit senja.
"Cantik sekali. Aku harus berjuang lebih keras lagi. Aku pasti bisa memilikimu, kelinci kecil." batin Marvin.
Tak lama, pesanan keduanya sudah tersaji dimeja. Davina dan Marvin meneguk minuman masing-masing.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Davina.
"Sepertinya kau sangat tidak sabar mendengarnya." jawab Marvin sengaja mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama Davina.
"Jangan basa-basi. Kalau tidak aku pulang saja." ucap Davina tidak sabar.
"Hey jangan begitu. Baiklah aku akan mengatakan apa maksudku yang sebenarnya." ucap Marvin takut jika Davina benar-benar akan pulang karena tidak mudah mendapatkan kesempatan berduaan dengan gadis itu.
"Menikahlah denganku." ucap Marvin membuat Davina yang sedang minum tersedak.
Marvin yang panik segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Davina, menepuk-nepuk pelan punggung Davina.
"Are you okay?" tanya Marvin khawatir.
Davina menganggukkan kepalanya membuat Marvin lega lalu kembali ke tempat duduknya.
"Kau tadi bilang apa?" tanya Davina memastikan lagi.
"Menikahlah denganku." jawab Marvin.
"Kau gila!" sahut Davina tak percaya.
"Aku serius. Aku ingin kau menjadi istriku." ucap Marvin.
Davina terdiam, ia hanya menatap Marvin dengan serius.
"Aku tahu ini sangat mendadak bagimu. Tapi bisakah kau memberiku kesempatan?" tanya Marvin dengan tatapan yang membuat hati Davina mendadak hangat.
"Apa alasanmu memintaku untuk menikah denganmu? Bahkan kau dan aku tidak saling mengenal. Setahuku tuan muda Harris seharusnya menikahi wanita dari keluarga terhormat bukan memilih wanita tidak jelas sepertiku." tanya Davina.
"Bagiku pernikahan adalah hal yang akan aku lakukan sekali seumur hidup. Aku ingin menikahi gadis yang memang pantas untuk menemaniku sepanjang hidupku. Aku tidak ingin menikah dengan cara sampah seperti itu." jawab Marvin jujur.
Davina tidak bisa berkata-kata, dirinya kebingungan tidak tahu apakah yang dikatakan Marvin itu serius atau tidak. Davina tidak ingin terjebak dalam permainan cinta para konglomerat.
"Aku bukanlah wanita dari kalangan sepertimu. Keluargamu pasti tidak akan setuju bukan?" ucap Davina sadar diri.
"Ayahku sudah meninggal saat aku berusia 17 tahun. Lalu 2 tahun kemudian ibuku menyusul ayahku. Sekarang hanya tinggal Nenek, aku yakin dia tidak akan keberatan dengan pilihanku." ucap Marvin membuat Davina bisa merasakan kesedihan yang dialami Marvin.
"Maaf aku tidak bermaksud mengungkit kesedihanmu." kata Davina hati-hati karena merasa bersalah.
"Tidak masalah. Aku sudah mengikhlaskan kepergian mereka. Ada takdir yang tidak bisa dihindari yaitu kematian." ucap Marvin.
Davina bisa melihat dengan jelas bahwa dibalik tampilan Marvin yang dingin dan tegas terdapat kerapuhan didalam hatinya.
"Apa yang membuatmu yakin menikah denganku? Apa alasanmu yang sebenarnya?" tanya Davina.
"Entahlah. Saat pertama kali aku melihatmu entah kenapa aku begitu yakin kalau kau akan menjadi istriku. Aku tidak peduli dengan latar belakangmu." jawab Marvin.
Davina bisa menangkap kejujuran dari sorot mata Marvin. Namun Davina tidak ingin lengah begitu saja.
"Jika aku menolakmu?" tanya Davina memancing reaksi Marvin.
"Aku akan memaksamu untuk menerimaku." jawab Marvin percaya diri.
"Ah benar saja. Tuan muda pasti punya sifat arogan." batin Davina.
"Aku masih muda, aku masih ingin berpetualang." ucap Davina mencari alasan.
"Tidak masalah. Aku tidak akan membatasimu. Aku akan memberimu fasilitas untuk mendukung keinginanmu." kata Marvin tegas membuat Davina tercengang.
"Pria ini benar-benar gila." batin Davina tak percaya.
"Bagaimana apakah kau setuju?" tanya Marvin memastikan.
"Aku tidak tahu." jawab Davina.
"Jadi kau tidak menolakku?" tanya Marvin.
Davina menatap Marvin dengan lekat, pandangan mata keduanya saling bertemu.
"Aku tidak mengenal pria ini, harusnya aku menolaknya dengan tegas. Tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya?" tanya Davina dalam hati.
Melihat Davina yang hanya terdiam tanpa memberikan jawaban, Marvin bisa mengerti isi hati gadis dihadapannya itu.
"Mungkin bagimu ini sangatlah aneh. Tapi aku pastikan bahwa niatku ini serius. Aku tidak bermain-main denganmu. Jadi bisakah kau memberiku kesempatan untuk membuktikan keseriusanku kepadamu?" tanya Marvin berusaha membuat Davina nyaman.
"Akan aku pertimbangkan." jawab Davina.
-BERSAMBUNG