Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 66 Terungkap


"Tu-Tuan..."


Marvin terkesiap saat melihat sosok yang ada dihadapannya. Mendapatkan tatapan tajam dan wajah yang dingin membuat Marvin menelan salivanya.


Tak disangka Marvin bertemu dengan orang yang paling ditakuti di negeri ini. Meskipun ini kali pertama Marvin berjumpa dengan Adam namun ia langsung mengenali wajah itu.


"Dimana keberanianmu tadi anak muda?" tanya Adam dengan nada remeh.


Marvin hanya terdiam tanpa kata dan melirik ke arah Davina.


"Ja-jadi benar kau putri Carlos?" tanya Marvin terbata.


Davina tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


Marvin merasa tubuhnya bergetar dan tiba-tiba seperti mati rasa.


Davina melirik Adam yang tersenyum tipis melihat reaksi Marvin.


"Jangan sampai kau kencing dicelana dan mengotori ruanganku ini." ancam Adam.


"Ayah! Jangan menakutinya." protes Davina.


"Hei.. Kenapa kau begitu peduli padanya putriku? Bukannya kau tak mau mengakui perasaanmu itu? Ayah masih belum membuat perhitungan dengan menantu kurang ajar ini." ucap Adam.


"Hentikan Ayah! Jangan bermain-main terus." pinta Davina.


Mendengar perdebatan kedua orang yang memiliki hubungan darah membuat Marvin ingin menyelanya. Marvin berusaha mengatur nafas dan menyiapkan hatinya. Ternyata apa yang ia duga selama ini benar-benar menjadi kenyataan. Entah bagaimana ia harus bersikap, ia pun kebingungan.


"Kau bisa menjelaskan semuanya kepadaku?" tanya Marvin kepada Davina.


Davina terdiam. Ia tahu hari ini pasti akan terjadi. Tapi Davina tidak pernah berencana kalau kebenarannya harus terungkap dengan cara seperti ini. Semua gara-gara ulah ayahnya, Adam Carlos.


Davina melirik Adam dan mendapatkan anggukan dari ayahnya itu.


"Kalian pasti bisa melaluinya." ucap Adam sembari membelai lembut kepala putrinya.


Setelah itu, Adam dan Darwin keluar ruangan meninggalkan Marvin dan Davina yang masih saling beradu pandang.


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Marvin.


"Maaf." ucap Davina lirih menundukkan kepalanya.


"Maaf? Untuk apa? Apa kau melakukan kesalahan?" tanya Marvin.


"Ya. Aku tidak memberitahumu siapa diriku sebenarnya. Maaf harus membuatmu tahu dengan cara seperti ini." jawab Davina bersalah.


"Jadi kau benar-benar keturunan Carlos? Dan tadi adalah ayahmu, Tuan Adam Carlos?" tanya Marvin penuh selidik.


"Benar. Aku Davina Almira adalah putri tunggal dari Adam Carlos." jawab Davina.


"Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku benar-benar tidak menyangka kebenaran ini." ucap Marvin.


"Kau kecewa padaku?" tanya Davina dengan tatapan sendu.


Marvin menghela nafas kemudian menarik tubuh Davina dalam dekapannya. Davina terkejut dengan gerakan tiba-tiba Marvin namun ia memilih untuk membalas dekapan itu dan menelusupkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Pelukan itu berlangsung cukup lama hingga keduanya saling menyalurkan perasaan masing-masing.


"Maafkan aku, Mas. Karena identitasku ini aku tidak bisa mengungkapnya sesukaku. Apakah kau masih menerimaku?" tanya Davina.


Marvin mengurai pelukannya kemudian menangkup wajah cantik istrinya.


"Apa yang kau katakan? Bukankah dari awal kau sudah tahu kalau aku menerimamu apa adanya. Aku tak peduli siapa dirimu dan darimana asalmu. Aku jatuh cinta padamu karena dirimu bukan latar belakangmu." kata Marvin.


"Aku hanya shock. Aku tak menyangka jika statusmu begitu kuat. Bahkan aku tak pernah berani membayangkannya." tambah Marvin lagi.


"Jadi kau tidak mempermasalahkan latar belakangku?" tanya Davina.


"Apa kau pernah mendengar aku mengungkit latar belakangmu?" tanya Marvin yang dijawab gelengan kepala Davina.


"Justru sekarang aku takut." ucap Marvin membuat Davina mengerutkan kedua alisnya.


"Takut? Apa kau takut kepada ayahku?" tanya Davina.


"Hemm.. Sedikit." jawab Marvin dengan menggaruk tengkuknya.


"Ayahku hanya terlihat kejam dan dingin diluar tapi sebenarnya hatinya sangat lembut." ucap Davina.


"Iya aku tahu. Tapi aku takut tidak bisa melindungimu. Bahkan kekuatan Harris tidak bisa disandingkan dengan kekuatan Carlos." kata Marvin.


"Kau tidak perlu khawatir." ucap Davina.


"Aku rasa ayahmu pasti punya rencana atau sedang menjalankan misi penting sehingga dia membuatku mengetahui identitasmu dengan cara seperti ini." kata Marvin yang disetujui oleh Davina.


"Su-sudah Tuan." jawab Marvin kaget.


"Oke. Nak, kau keluarlah. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan suamimu ini." ucap Adam.


Davina memicingkan kedua matanya curiga dengan maksud ayahnya.


"Kenapa kau menatap ayahmu seperti itu? Tenang saja, Ayah tidak akan melukai suami tersayangmu ini." ledek Adam.


"Ayah!" seru Davina kemudian keluar dari ruangan dengan bibir manyun.


"Kau lihat putriku itu, sepertinya kau sudah berhasil merebut perhatiannya." ucap Adam.


"Saya harap begitu Tuan." sahut Marvin.


"Heh! Formal sekali kau. Panggil saja ayah. Kau sudah menikahi putriku maka kau sudah jadi bagian Carlos." kata Adam.


"Baik, A-ayah." ucap Marvin gugup.


"Kau jangan canggung begitu. Duduklah ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu." kata Adam menepuk pundak menantunya cukup keras dengan senyum tipis.


"Sshhh.." ringis Marvin.


"Sakit? Baru begitu saja kau sudah kesakitan bagaimana kau akan melindungi putri kesayanganku? Aku jadi ragu dengan kemampuanmu." cemooh Adam.


"Jangan meragukan saya. Saya pasti akan melindungi dan menjaga Davina." sahut Marvin tak terima dipandang remeh oleh mertuanya.


"Oh ya? Aku tidak yakin. Sudah berapa kali milikmu itu ditendang olehnya?" tanya Adam.


Marvin tersentak, ia mengernyitkan keningnya. Darimana Adam bisa tahu kalau Davina pernah menendang benda pusakanya.


"Hahaha... Pasti tebakanku benar kan?" tanya Adam tertawa geli.


"Ituu.. Anu...." jawab Marvin malu.


"Benar-benar putriku yang brutal. Aku harap kau tidak keberatan dengan sikapnya itu." ucap Adam terkekeh.


"Ti-tidak Ayah. Justru penolakannya membuatku semakin bersemangat menaklukannya." kata Marvin antusias.


"Benarkah? Jadi kau sudah berhasil membuatnya jatuh cinta? Apa dia sudah mengatakan perasaannya padamu?" tanya Adam penasaran.


"Belum, Ayah. Tapi dari sikapnya yang mulai terbuka dan menerimaku, aku bisa merasakan kalau hatinya mulai tertarik padaku." jawab Marvin.


"Percaya diri sekali." cibir Adam.


"Memang itu yang harus dimiliki seorang pria kan, Yah?" ucap Marvin.


"Hm.. Menarik." gumam Adam.


"Oke, aku ingin langsung ke tujuanku menemuimu saja. Aku tidak ingin membuang waktuku untuk mendengar kenarsisanmu itu." ucap Adam datar.


Marvin tersenyum dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Haih.. Aku sudah membayangkan identitas Davina. Tapi aku tidak menyangka kalau mertuaku adalah Tuan Carlos. Aku tidak tahu apakah ini anugerah atau ancaman untukku? Bagaimana caraku menghadapinya dimasa depan?" batin Marvin.


"Aku harap bisa mengandalkanmu." ucap Adam sembari melemparkan sebuah foto di hadapan Marvin.


"Ini Tuan Anton?" tanya Marvin saat melihat sosok difoto itu dengan memandang Adam bingung.


"Ya. Kau pasti sudah tahu siapa dia." jawab Adam.


"Apakah Tuan juga mengenalnya?" tanya Marvin.


"Kau pasti sudah tahu kan kalau kemarin Davina pernah bertemu dengannya." ucap Adam yang diangguki Marvin.


"Untuk sementara ini, ia hanya tahu kalau Davina adalah istrimu bukan putriku." kata Adam lagi.


"Apakah ada masalah diantara Ayah dan Tuan Anton?" tanya Marvin penasaran.


"Untuk sementara ini, kau tidak perlu tahu itu. Yang perlu kau lakukan adalah memastikan keselamatan istrimu. Pastikan kalau identitasnya tidak bocor. Karena kalau sampai Anton tahu siapa Davina, aku yakin dia tidak akan melepaskannya dengan mudah." ucap Adam tegas.


"Oh ya alasanku menemuimu hanyalah untuk memastikan keadaan putriku. Jadi jangan berbangga diri karena aku belum sepenuhnya merestui pernikahan kalian." kata Adam memperingatkan.


"Ayah tenang saja, aku pasti akan melindungi istriku." sahut Marvin yakin.


"Heh.. Kita lihat saja nanti." sahut Adam.


-BERSAMBUNG