
20 menit perjalanan, Davina sudah sampai di parkiran rumah sakit. Sebelum turun Davina menahan Thomas untuk berbicara dengannya terlebih dulu.
"Kemana kalian membawa pengawalku?" tanya Davina memastikan keberadaan Orkan.
"Nona tenang saja, kami menempatkannya ditempat aman dan tidak akan melukainya." jawab Thomas.
"Baik. Aku pegang perkataan kalian." ucap Davina tegas.
"Benar-benar pantas menjadi Nyonya muda Harris." gumam Thomas.
Karakter kuat yang dimiliki Davina membuat Thomas dan bawahannya kagum. Jika Davina gadis biasa pasti sudah ketakutan melihat pria berbadan kekar yang berpakaian serba hitam mengepung dirinya. Tapi Davina malah terlihat sangat tenang seperti seorang majikan berbicara dengan bawahannya.
Thomas semakin penasaran siapa sebenarnya Davina calon istri dari Tuan mudanya itu. Terlebih lagi keberadaan pengawal rahasia Davina memperkuat dugaan Thomas kalau wanita yang berjalan didepannya itu bukanlah gadis biasa.
Davina diantar Thomas menuju ke ruangan rawat Marvin tanpa perlawanan. Kali ini Marvin sudah dipindahkan diruang rawat yang terpisah dengan Johan. Marvin sengaja melakukan itu agar tidak ada yang mengganggu dirinya dan Davina.
"Nona silahkan masuk. Tuan sudah menunggu kedatangan Nona." ucap Thomas memberitahu dengan sopan.
Ceklek!
"Tidak menyangka Nona Davina ternyata datang menjengukku. Hatiku bahagia sekali." ucap Marvin menyambut kehadiran Davina.
"Tidak usah bersandiwara. Aku benar-benar tersanjung dengan cara yang dilakukan Tuan Harris untuk bertemu dengan seorang gadis." balas Davina membuat Marvin terkekeh.
"Ternyata Nona tidak memiliki selera humor ya." ucap Marvin meremehkan.
"Tidak usah basa-basi lagi. Sebenarnya apa tujuan Tuan memaksaku kesini?" tanya Davina tidak ingin lagi meladeni sandiwara Marvin.
"Ternyata Nona tidak sabaran ya, apakah Nona benar-benar ingin mendengar apa tujuanku memaksa Nona datang kemari?" tanya Marvin menggoda.
"Katakan!" ucap Davina ketus.
"Baiklah karena Nona sudah tidak sabar maka aku akan mengatakan niatku yang sebenarnya." ucap Marvin sengaja menjeda sejenak perkataannya.
Davina tidak bergeming hanya memberikan tatapan dingin kepada Marvin.
"Sepertinya Nona tidak begitu penasaran dengan niatku." ucap Marvin mencoba memancing Davina.
"Tidak usah berbelit-belit! Katakan saja apa tujuanmu!" kata Davina yang suaranya mulai meninggi.
Marvin tersenyum licik menyadari kelinci kecilnya sudah mulai terpancing emosi.
"Nona tenang dulu. Aku akan mengatakan niatku yang sebenarnya tapi bisakah duduk terlebih dahulu?" pinta Marvin menyadari Davina masih berdiri mencoba menjaga jarak darinya.
"Jika Tuan tidak ingin mengatakannya maka lebih baik aku undur diri." ancam Davina.
"Apakah Nona sudah tidak peduli dengan pengawalmu itu?" tanya Marvin memberi peringatan.
"Kau berani-beraninya mengancamku! Baiklah aku akan duduk cepat katakan apa tujuanmu!" kata Davina dengan emosi yang sesaat lagi akan meledak.
"Menikahlah denganku." pinta Marvin seketika membulatkan matanya.
"Kau gila!" ucap Davina tak percaya.
"Aku memang sudah gila. Dan kau yang membuatku seperti ini. Jadi bagaimana apakah Nona Davina mau menjadi istriku?" tanya Marvin kembali membuat Davina tercengang.
"Tuan muda Harris ternyata benar-benar humoris. Menikah saja bisa dijadikan bahan lelucon." ucap Davina tersenyum sinis.
"Aku tidak bercanda. Aku benar-benar ingin kau menjadi istriku." kata Marvin serius.
Davina menatap mata Marvin yang juga menatap dirinya dengan pandangan penuh harap.
"Jangan pikir dengan kekuasaan Tuan bisa mempermainkan gadis biasa sepertiku." ucap Davina.
Davina bisa menangkap perkataan tulus dari Marvin, namun Davina tidak ingin terbius bisa saja Marvin memang pandai berakting. Davina tidak ingin terjebak dengan percintaan yang akan menyiksa dirinya. Terlebih status Marvin yang bisa dengan mudah mendapatkan apa saja yang diinginkan.
"Tuan benar-benar lucu sekali. Sudah memaksaku datang kemari sekarang malah membual. Benar-benar permainan yang mengasyikan." kata Davina.
"Maaf kalau caraku salah. Tapi kau bisa melihat dimataku bahwa perkataanku kali ini benar-benar serius." ucap Marvin mencoba meyakinkan wanita dihadapannya.
"Apakah Tuan tahu siapa diriku?" tanya Davina mencoba memancing.
"Aku tidak peduli siapa dirimu dan darimana asalmu. Aku sudah memutuskan kalau dirimu adalah wanita satu-satunya yang akan menjadi nyonya muda Harris." jawab Marvin tulus seketika menyentuh hati Davina.
Namun Davina yang keras kepala tidak ingin terlena begitu saja. Davina sudah mengetahui rayuan maut para lelaki buaya darat saat ingin mendapatkan mangsanya. Tapi di sisi lain, Davina bersyukur karena Marvin belum mengetahui identitas aslinya.
"Ucapan Tuan manis sekali. Tapi membuatku percaya dengan ucapan Tuan ini tidaklah mudah. Aku bukanlah gadis yang mudah tertipu dengan bualan pria." kata Davina membuat Marvin tersenyum.
"Jadi kau akan memberiku kesempatan untuk mengejarmu?" tanya Marvin memastikan.
"Tergantung bagaimana kemampuan, Tuan." jawab Davina masih tanpa ekspresi.
"Aku pastikan akan menunjukkan kemampuan terbaikku." kata Marvin bersemangat.
"Tuan fokuslah dengan pemulihan lebih dulu." ucap Davina mengalihkan pembicaraan.
"Terimakasih. Aku pasti tidak akan mengecewakanmu." kata Marvin senang.
"Aku akan meminta anak buahku mengantarmu." ucap Marvin.
"Tidak perlu. Tuan cukup melepaskan pengawalku saja." kata Davina.
"Baiklah sesuai dengan permintaanmu." sahut Marvin.
"Oh iya kau tidak perlu memanggilku Tuan. Kau bisa memanggilku Marvin." ucap Marvin.
"Sepertinya itu terdengar tidak sopan. Anda lebih tua 10 tahun dariku." kata Davina yang langsung menusuk hati Marvin.
"Kau benar. Aku sudah tua, jadi kau akan memanggilku apa?" tanya Marvin sadar diri.
"Emm.. Om?" jawab Davina membuat Marvin tersedak air liurnya sendiri.
"Kau keterlaluan sekali. Memangnya wajahku setua itu?" tanya Marvin yang hampir saja membuat Davina tertawa namun dengan cepat Davina mengembalikan wajah datarnya.
"Baiklah. Bagaimana kalau kakak Marvin?" tanya Davina menawarkan.
"Hem.. Itu lebih baik." jawab Marvin yang mendengar sebutan kakak lebih enak didengar daripada om, paman atau panggilan lainnya.
"Baiklah. Aku akan pulang, kakak jaga kesehatan ya." ucap Davina yang merasa geli sendiri saat mendengar ucapannya.
"Hem. Hati-hati." sahut Marvin tersenyum tipis.
Walaupun tidak bisa melihat wajah Marvin sepenuhnya, Davina dapat menilai ketampanan yang dimiliki Marvin benar-benar sempurna. Memiliki rahang yang tegas, hidung mancung, mata tajam beralis tebal, dagu lancip dan bibir tipis sungguh pria yang menawan.
"Tunggu!" teriak Marvin saat Davina hendak membuka pintu dan melangkah keluar ruangan.
"Bolehkah aku memanggilmu, Vina?" tanya Marvin yang mendapat angukkan dari Davina setelah itu berlalu pergi meninggalkan Marvin.
Hampir saja Marvin meloncat kegirangan saat Davina mengizinkannya memanggil nama gadis itu kalau tidak ingat dia sedang terbaring dirumah sakit. Seketika rasa perih yang ada diwajahnya mendadak hilang begitu saja. Marvin senang akhirnya ada kemajuan hubungannya dengan Davina. Meskipun tidak mudah namun Marvin bukanlah pria yang mudah menyerah begitu saja.
"Kali ini Tuhan sudah memberiku kesempatan lagi, aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Kelinci kecilku, aku pasti akan meluluhkan hatimu dan menjadikanmu sepenuhnya milikku." batin Marvin.
"Aku penasaran bagaimana penampilanmu, Tuan muda Harris. Aku menantikannya" gumam Davina dengan senyum penuh arti.
-BERSAMBUNG