
"Bagaimana Nak? Apakah pria tadi itu Marvin?" tanya Sera kepo.
Davina menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
Adam dan Sera saling berpandangan kemudian tersenyum lalu mendekati Davina.
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya putriku ini bahagia sekali?" tanya Adam menggoda Davina.
"Ayah... Vina malu." rengek Davina membuat Adam dan Sera terkekeh.
"Coba cerita dengan Ayah dan Ibu." pinta Adam.
Davina menatap kedua orangtuanya secara bergantian kemudian mengatur nafasnya sebelum mulai bercerita.
"Menurut Ayah dan Ibu bagaimana kalau aku menikah dengan Marvin?" tanya Davina membuat kedua orangtuanya terkejut.
"Kau serius, Nak?" tanya Sera memastikan.
"Sudah memikirkannya dengan baik?" tanya Sera lagi.
Davina menghembuskan nafas kasar kemudian menggenggam tangan Sera.
"Aku belum bisa memberi jawaban pasti, Bu. Tapi Marvin akan menunggu jawabanku sampai besok." jawab Davina.
"Bagaimana perasaanmu kepadanya, Nak?" kali ini Adam yang gantian bertanya.
"Perasaan? Aku belum bisa mengartikannya, Yah. Aku saja baru bertemu dan mengenalnya beberapa hari." jawab Davina jujur.
"Lalu apa yang membuatmu berpikir akan menerima ajakannya?" tanya Adam penasaran.
"Entahlah, Yah. Aku tidak bisa menolaknya. Aku merasa dia pria yang tepat untukku. Aku rasa dia pasangan yang bisa kuandalkan." jawab Davina mengundang kebingungan Adam dan Sera.
"Kau tau apa arti pernikahan, Nak?" tanya Sera.
"Iya, Bu. Aku tahu." jawab Davina tegas.
"Lalu kau sudah memikirkan resikonya? Selain usiamu yang masih sangat muda, kau juga tidak bisa memilih sembarang orang sebagai suamimu. Pernikahan bukanlah hal yang bisa kau permainkan, Nak. Ibu sangat berharap kau menikah sekali seumur hidup bersama orang yang tepat." ucap Sera bijaksana.
"Terimakasih, Bu. Aku juga berpikir seperti itu. Tapi entah kenapa saat bertemu dengan Marvin dan berbicara dengannya aku merasa aman. Meskipun perasaan itu belum muncul, tapi aku yakin kalau dia pria yang bisa kuandalkan." kata Davina membuat Adam dan juga Sera terdiam.
Adam dan Sera saling melemparkan pandangan kemudian serempak menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan identitasmu? Apa Marvin sudah tahu?" tanya Adam.
"Belum, Yah. Tapi aku sudah berkata kepadanya, kalau untuk saat ini aku tidak bisa mengungkapkan identitasku. Marvin tidak keberatan dan mempermasalahkannya bahkan dia berjanji akan selalu melindungiku. Mungkin dia sudah bisa menebak siapa diriku sebenarnya, Yah." jawab Davina.
Adam menghela nafas kemudian membelai lembut rambut putri semata wayangnya.
"Ternyata putriku sudah dewasa ya. Lalu apakah kau membutuhkan bantuan Ayah? Kau tidak mungkin menikah tanpa restu orangtuamu bukan?" tanya Adam menyadarkan Davina.
"Ayah benar, aku melupakan hal penting itu. Ayah dan Ibu bagaimana? Kalau Marvin tahu siapa Ayah dan Ibu pasti identitasku akan langsung terbongkar." kata Davina panik.
"Kau tenang saja, Nak. Ayah dan Ibu tidak akan mengacaukan pernikahanmu." ucap Sera menenangkan putrinya.
"Apakah Ibu punya cara?" tanya Davina penasaran.
"Kau tenang saja, Ayah dan Ibu pasti bisa bekerjasama denganmu." jawab Sera membuat Davina semakin penasaran.
"Ayah dan Ibu merestui pernikanmu dan Marvin, Nak." ucap Adam seketika Davina tersentak.
"Ayah dan Ibu serius? Mudah sekali merestui kami." tanya Davina tak percaya.
"Ayah sudah menyelidiki dan tahu siapa Marvin Harris. Ayah berharap dia benar-benar bisa diandalkan. Semoga saja pernikahan kalian bisa membawa kebahagiaan, Ayah sangat berharap kau bahagia dengan hidupmu, Nak." jawab Adam sekaligus berharap sepenuh hati tentang kebahagiaan putrinya.
"Terimakasih Ayah, Ibu. Vina pasti akan bahagia." ucap Davina kemudian memeluk orangtuanya secara bergantian.
...----------------...
"Nenek kejam sekali mengataiku seperti itu. Memangnya Nenek tidak penasaran dengan apa yang membuat cucu Nenek sebahagia ini?" kata Marvin.
"Paling juga permasalahan tidak jelas." sahut Julia ketus.
"Nenek sungguh tidak penasaran? Aku rasa Nenek akan menyesal kalau tidak segera mengetahuinya." goda Marvin membuat jiwa penasaran Julia muncul seketika.
"Kalau kau mau mengatakannya katakan saja. Kalau tidak aku sumpahi kau akan menjadi bujang selamanya." ancam Julia.
"Nenek kejam sekali. Bagaimana kalau dalam waktu dekat cucu Nenek ini akan melepas masa lajangnya? Apakah Nenek tidak bahagia?" tanya Marvin membuat Julia tersadar.
"Tunggu, apa yang kau katakan? Apakah gadis itu sudah menyetujui ajakanmu?" tanya Julia penasaran.
"Bukankah tadi Nenek baru saja menyumpahiku? Aku tidak ingin memberitahu Nenek." goda Marvin pura-pura merajuk.
"Kau ini! Baiklah Nenek minta maaf, Nenek tarik perkataan tadi. Jadi bisakah kau menjawab pertanyaanku?" kata Julia mengundang tawa Marvin.
"Davina belum memberi jawaban pasti, Nek. Aku masih memberinya waktu sampai besok. Tapi dari perkataannya tadi sepertinya 99% dia akan setuju menikah denganku, Nek." ucap Marvin percaya diri.
"Hah.. Kau yakin sekali? Lebih baik kau siapkan hatimu jika ternyata kau ditolak." cibir Julia.
"Nenek! Kenapa Nenek malah mendoakan keburukan untuk cucu Nenek ini?" tanya Marvin tak terima.
"Nenek tidak mendoakan, hanya mengingatkanmu untuk bersiap dengan kemungkinan terburuk." jawab Julia santai.
"Itu sama saja, Nek." ucap Marvin kesal.
"Sudah-sudah. Kalau begitu Nenek mau menemui Davina lebih dulu. Kau bisa mengaturnya kan?" pinta Julia.
"Mau apa Nenek bertemu dengannya? Jangan-jangan Nenek mau membuat Davina menolakku ya?" tanya Marvin khawatir.
"Kau pikir Nenekmu ini sejahat itu? Sudahlah pokoknya besok Nenek ingin bertemu dengannya sebelum dia bertemu denganmu. Bisa kan?" tanya Julia penuh harap.
"Hem.. Baiklah." jawab Marvin menuruti Neneknya.
"Bagus. Yasudah Nenek mau tidur." pamit Julia yang langsung menuju kamarnya meninggalkan Marvin begitu saja.
"Sepertinya Nenek juga sangat menyukaimu. Semoga jawabanmu besok tidak mengecewakanku, kelinci kecil." gumam Marvin tersenyum tipis.
...****************...
Hari yang ditunggu Marvin telah tiba. Sejak membuka matanya, perasaan Marvin sudah tidak karuan. Bahagia, takut, khawatir semuanya menjadi satu.
"Sepertinya hari ini akan berlalu lebih lama." gumam Marvin yang sudah bersiap dengan setelan jasnya.
"Pagi cucuku, sarapan dulu. Nenek sudah memasakkan makanan kesukaaanmu." sapa Julia yang sudah menunggu Marvin di meja makan.
"Nenek berbeda sekali pagi ini. Apa Nenek butuh sesuatu?" tanya Marvin yang langsung bisa menebak isi hati neneknya.
"Kau tidak lupa tadi malam, kan? Apa kau sudah mengatur pertemuan Nenek dengan Davina?" tanya Julia tanpa basa-basi lagi.
"Hem.. sudah kuduga. Aku akan menghubunginya nanti. Nenek tunggu saja dirumah, aku akan memberi kabar melalui Thomas." jawab Marvin.
"Bagus. Cepat habiskan sarapanmu. Kau harus lebih giat bekerja untuk menghidupi cucu menantuku. Aku tidak ingin gadis itu menderita karenamu." ucap Julia mengingatkan Marvin.
"Belum juga sah menjadi istriku, Nenek sudah perhatian sekali dengannya. Sepertinya posisiku sebagai cucu satu-satunya Nenek akan segera tersingkir." sindir Marvin.
"Tentu saja. Sudah Nenek mau bersiap-siap dulu. Kau harus cepat memberi kabar, jangan membuat Nenek menunggu terlalu lama." kata Julia tidak sabar lalu kembali kekamarnya.
"Kau lihat, Nenekku saja sudah tidak sabar bertemu denganmu. Aku harap jawabanmu nanti seperti yang kuharapkan, kelinciku." batin Marvin penuh harap.
......................
-BERSAMBUNG