Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 75 Menyiksa Diri


"Kau mengenal gadis itu? Kurang ajar sekali." gerutu Julia kesal.


"Sudahlah Nek, jangan marah-marah lagi. Ingat kesehatan Nenek." ucap Davina lembut.


"Kenapa kau tidak melawannya? Kalau Nenek jadi kau sudah aku tarik rambutnya sampai rontok." kata Julia gemas.


Davina dan Mely terkekeh.


"Kan tadi Nenek sudah menamparnya, itu sudah cukup." ucap Davina.


"Haissh.. Kau itu terlalu baik hati kepadanya. Lebih baik tadi Nenek menamparnya sekali lagi." kata Julia kesal.


"Haha.. Vina diam bukan berarti tidak bisa melawan, Nek. Aku hanya tidak ingin menambah musuh saja. Lagipula dia bukan tandinganku." sahut Davina menjelaskan.


"Kau benar. Jangan kotori tanganmu demi lalat busuk itu. Ah, Nenek baru tahu ada anak muda sebodoh itu. Sepertinya Nenek harus memberinya pelajaran." ucap Julia menyeringai.


"Sudahlah, Nek. Biarkan saja dia." kata Davina.


"Kau diam saja. Karena dia sudah berani menyinggungku dan juga kau cucu menantuku, biar Nenek yang berurusan dengannya." tekad Julia membuat Davina tak mampu melarangnya lagi.


"Baiklah. Asalkan tidak berbahaya untuk kesehatan Nenek. Nenek lakukan saja asal Nenek puas." ucap Davina pasrah.


"Kau memang pengertian." kata Julia.


"Ah Nyonya, Nona mau es krim tidak? Konon katanya es krim bisa mengembalikan suasana hati jadi lebih baik." ucap Mely menyela.


Davina dan Julia menatap Mely serius membuat gadis itu merinding.


"Ah.. Kalau Nyonya dan Nona tidak mau lupakan saja." kata Mely gugup.


Julia dan Davina tertawa kecil membuat Mely kebingungan.


"Ayo kita makan es krim, Nek." ajak Davina bersemangat.


"Ayo!" seru Julia tak kalah bersemangat.


Mely menatap kedua wanita itu tak percaya kemudian tertawa kecil dan segera menyusul keduanya yang sudah berjalan ke outlet es krim lebih dulu.


"Menghadapi orang kaya memang membingungkan." batin Mely.


Setelah puas menikmati es krim dan selesai berbelanja, ketiga wanita itu bersiap untuk pulang.


"Nyonya, Nona saya duluan ya." pamit Mely.


"Eh kau tidak mau mampir dulu?" tanya Davina.


"Tidak, Nona. Saya sangat lelah hari ini. Terimakasih Nona dan Nyonya sudah mengajak saya menjadi orang kaya sehari." ucap Mely sontak memancing tawa Davina dan Julia.


"Kau ini. Sepertinya selama ini aku kurang memperhatikanmu. Kedepannya aku akan mengajakmu menghabiskan waktu seperti ini." kata Davina bersalah.


"Aku hanya bercanda Nona. Nona sudah sangat baik kepadaku." sahut Mely tak enak hati.


"Lain kali kau juga bisa menemaniku. Jangan memanggilku Nyonya, panggil saja Nenek." kata Julia.


"Ah baik Nyo- Nenek." sahut Mely senang.


Julia tersenyum setelah itu Mely menaiki taxi yang sudah berhenti tepat didepannya.


"Nenek juga pulang duluan ya." pamit Julia.


"Loh Nek, bukannya tadi kita berangkat bersama? Kita juga pulang bersama kan?" tanya Davina bingung.


"Tidak. Cucuku bilang akan menjemputmu. Ah itu dia sudah datang." kata Julia yang melihat Marvin dari kejauhan.


"Mas kok kesini?" tanya Davina.


"Ah sudahlah. Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian berdua. Nenek pulang dulu ya." ucap Julia meninggalkan Davina dan Marvin.


"Apakah waktumu begitu senggang?" tanya Davina.


"Sepertinya kehadiranku tidak begitu diharapkan ya?" tanya Marvin memelas.


"Haiissh.. Aktingmu buruk sekali. Kau sama sekali tidak cocok dengan ekspresi itu." cibir Davina.


"Haha.. Istriku ini jujur sekali. Ayo ikut aku." ajak Marvin.


"Memangnya mau kemana?" tanya Davina.


"Sudah jangan banyak tanya, ikut saja." jawab Marvin.


"Dasar sok misterius." ucap Davina namun patuh dan mengikuti Marvin.


"Davina? Siapa pria yang bersamanya?" tanya Amel saat melihat Davina memasuki sebuah mobil mewah bersama seorang pria.


"Ada apa, Sayang?" tanya Nathan membuat Amel terkejut.


"Ah tidak. Aku hanya salah melihat. Aku kira melihat temanku ternyata bukan." jawab Amel bohong.


"Oh begitu." sahut Nathan percaya.


"Aku jadi semakin penasaran siapa Davina sebenarnya. Kenapa dia bisa berhubungan dengan Nyonya Harris? Dan lagi siapa pria kaya yang bersamanya?" batin Amel penasaran.


...****************...


"Lagi-lagi kau mengajakku ke tempat mewah seperti ini. Rupanya kau senang sekali menghambur-hamburkan uang ya." ucap Davina.


Saat ini Marvin mengajaknya ke sebuah resort mewah yang tak jauh berada dipinggiran kota.


"Tenang saja. Uangku tidak akan habis untuk menyenangkan istriku." sahut Marvin santai.


"Lebih baik kau menabungnya untuk kebutuhan kita dimasa depan nanti." kata Davina mengingatkan.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, istriku. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku pastikan tidak akan membuatmu kekurangan sedikitpun." ucap Marvin percaya diri.


"Hemm.. Baiklah. Aku tidak pernah bisa menang berdebat denganmu." sindir Davina membuat Marvin terkekeh.


"Ada hal bagus apa disini?" tanya Davina penasaran.


"Kau akan melihatnya nanti." jawab Marvin tersenyum licik.


"Kenapa firasatku tidak enak ya?" gumam Davina menyadari ekspresi aneh Marvin.


Setelah keluar dari lift, keduanya melihat sebuah bar dan juga kolam renang outdoor.


"Ah sepertinya aku sudah benar-benar terjebak." batin Davina lemas.


"Nenek bilang suasana hatimu kurang baik. Jadi aku mengajakmu berenang disini. Kau tidak keberatan bukan?" tanya Marvin.


"Bukankah sudah tidak ada alasan untukku menolak?" sindir Davina ketus.


"Haha istriku jadi semakin imut kalau galak begitu." goda Marvin.


Davina hanya memutar kedua bola matanya malas.


"Dimana pengunjung yang lain? Kenapa sepi sekali?" tanya Davina.


"Aku sudah menyewanya khusus untuk kita berdua. Lagipula aku tidak ingin ada yang mengganggu waktu kita." jawab Marvin.


"Kau benar-benar pria yang penuh persiapan." kata Davina yang langsung memahami maksud suaminya.


"Aku sudah menyiapkan pakaian renang untukmu. Kau gantilah lebih dulu. Aku akan menunggumu disini." ucap Marvin sembari menyerahkan sebuah kantong kepada Davina.


"Hem.." sahut Davina bergegas menuju ke ruang ganti.


Mata Davina membulat sempurna saat mengambil potongan kain dari dalam kantong yang diberikan Marvin.


"Astaga! Apa yang dipikirkan Marvin? Apakah dia benar-benar ingin aku memakai ini?" tanya Davina tak percaya saat melihat bikini seksi ditangannya.


"Pantas saja dia menyewa tempat ini. Haissh.. Benar-benar pria yang sangat licik." gumam Davina.


"Baiklah akan aku ikuti permainannya. Aku ingin lihat bagaimana dia bisa menahannya." ucap Davina menyeringai.


Setelah memakai bikini itu dan melapisinya dengan bathrope yang tersedia diruang ganti, Davina pun kembali ke kolam renang. Davina melihat Marvin yang sudah berenang.


GLEG!


"Sial! Tubuhnya menggoda sekali." batin Davina terpesona dengan Marvin.


Davina bisa melihat otot-otot kencang milik Marvin yang semakin terlihat sempurna karena basah terkena air.


"Hei istriku, apakah kau sudah puas melihat tubuhku?" tanya Marvin menyadarkan Davina.


"Percaya diri sekali." jawab Davina segera mengalihkan pandangannya sebelum dia benar-benar lepas kendali.


"Kemarilah. Ayo kita berenang bersama." ajak Marvin.


"Cih! Dasar tidak tahu malu." umpat Davina membuat Marvin terkekeh.


"Apakah istriku tidak bisa berenang? Atau apakah tidak suka dengan pakaian yang aku siapkan?" tanya Marvin.


"Jangan berpura-pura bodoh. Kau pasti sengaja kan? Kau benar-benar pria yang punya banyak taktik." jawab Davina kesal.


Marvin keluar dari kolam dan menghampiri Davina yang masih berdiri dipinggir kolam. Seketika membuat Davina kembali menelan salivanya.


"Kau benar-benar sengaja menggodaku ya?" tanya Davina dengan menundukkan wajahnya.


"Eh.. Apa ada yang salah?" tanya Marvin kebingungan.


"KAU! Benar-benar menyebalkan!" umpat Davina menyadarkan Marvin kalau istrinya itu sedang tersipu.


"Oh.. Apakah istriku malu melihat tubuh suaminya sendiri? Kau bisa menikmatinya setiap hari, Sayang." goda Marvin.


"Jangan menggodaku!" seru Davina kesal.


"Ayolah Sayang. Bukankah sudah sewajarnya kita melihat satu sama lain? Kalau kau ingin lebih, aku juga siap kok." kata Marvin lagi membuat Davina mendelik dan memukul dada pria itu cukup keras.


"Aaaww!" ringis Marvin.


"Dasar tidak tahu malu! Katakan apa sebenarnya tujuanmu mengajakku kesini?" tanya Davina.


"Tentu saja untuk membuatmu rileks, istriku." jawab Marvin jujur.


"Lalu siapa yang memilih pakaian renang ini?" tanya Davina dengan tatapan tajam.


"Ten-tentu saja aku. Apakah kau tidak menyukainya?" tanya Marvin kikuk sambil menggaruk tengkuknya.


"Bagaimana kau bisa tahu ukuranku?" tanya Davina mengingat bikini itu sangat pas ditubuhnya.


"Aku mengukurnya saat kau sedang tidur." jawab Marvin asal membuat wajah Davina merah padam.


"Dasar kurang ajar!" seru Davina kesal memukuli Marvin membabi buta.


"Hahaha.. Aku hanya bercanda, Sayang. Ayolah jangan bertengkar. Kita nikmati suasana disini dengan hati yang damai, oke?" ajak Marvin seketika menghentikan pukulan Davina.


"Kenapa kau menutupinya? Apakah kau malu?" tanya Marvin.


"Kalau kau tidak nyaman, kau boleh tidak memakainya Maaf aku sudah lancang." ucap Marvin bersalah.


Davina menatap wajah tampan Marvin dan menghela nafas.


"Tidak masalah hanya berenang saja." ucap Davina.


Perlahan Davina membuka bathropenya seketika membuat Marvin tidak bisa mengalihkan pandangannya.


DEG!


"Sial! Sepertinya aku sedang menyiksa diriku sendiri." batin Marvin.


-BERSAMBUNG