Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 88 Suamiku


Davina menatap tajam Amel membuat gadis itu semakin merinding ketakutan.


"A-apa yang akan kau lakukan? Ini tempat umum. Kau tidak takut aku akan berteriak?" kata Amel gemetar.


"Teriaklah sesukamu." sahut Davina dingin.


"A-aku hanya ingin tahu siapa kau sebenarnya." ucap Amel jujur.


"Apakah kau begitu tertarik dengan kehidupanku?" tanya Davina.


"A-aku hanya ingin tahu saja. Semalam aku tidak sengaja melihatmu dikediaman Harris. Aku ingin memastikan bahwa penglihatanku tidak salah." jawab Amel.


"Rupanya kau sangat penasaran dengan hidupku ya? Apakah itu sangat penting bagimu? Aku rasa kita tidak saling mengenal seharusnya itu tidak mempengaruhi kehidupanmu, kan?" sindir Davina membuat Amel terdiam.


"Kau mau kemana?" tanya Amel saat Davina berbalik arah dan berjalan meninggalkannya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi bukan? Berhentilah mengikutiku kalau kau masih sayang dengan nyawamu." ucap Davina memperingatkan.


"Cih! Sombong sekali! Tapi bagaimana kalau ternyata dia benar-benar istri dari Marvin Harris? Tidak mungkin! Aku bisa melihat dulu dia sangat mencintai Nathan. Aku yakin dia pasti belum bisa move on darinya." batin Amel.


"Nona baik-baik saja?" tanya Johan panik.


"Aku baik-baik saja. Ayo kita ke perusahaan. Marvin pasti sudah menunggu." jawab Davina.


"Apakah Nona sudah menemui penguntit itu?" tanya Johan penasaran.


"Hanya seekor lalat pengganggu saja. Aku sudah memperingatkannya." jawab Davina datar.


"Baguslah. Nona benar-benar pemberani sekali." puji Johan.


Davina hanya tersenyum tipis tanpa menimpali ucapan Johan.


"Benar-benar serasi dengan Tuan Muda. Mereka pasangan yang bisa menaklukan dunia." gumam Johan sembari mengemudikan mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, Davina sampai diperusahaan. Para karyawan menyambutnya dengan sangat sopan dan ramah.


"Kenapa lama sekali?" protes Marvin menyambut kedatangan istrinya yang terlambat beberapa menit.


"Apakah suamiku begitu merindukanku?" tanya Davina.


Marvin menghampiri Davina dengan tatapan aneh.


"Ada apa, Mas? Kenapa menatapku begitu?" tanya Davina heran.


"Barusan kau memanggilku apa? Coba ulangi sekali lagi." pinta Marvin.


"Mas?" panggil Davina.


"Bukan itu. Yang sebelumnya kau memanggilku apa? Coba panggil aku sekali lagi." ucap Marvin.


"Eh, bukannya aku memang selama ini memanggilmu, Mas?" tanya Davina kebingungan.


"Ah sudahlah, kau benar. Mungkin saja aku memang salah dengar." jawab Marvin lesu.


Davina menahan tawanya kemudian memeluk suaminya itu.


"Ternyata suamiku pemarah sekali ya?" goda Davina.


"Nah itu, kau barusan memanggilku apa?" tanya Marvin memastikan kembali.


"Su-a-mi-ku." jawab Davina penuh penekanan.


Seketika senyum diwajah Marvin mengembang dan mendekap tubuh Davina cukup erat.


"Akhirnya aku bisa mendengarmu memanggilku dengan sebutan itu." ucap Marvin senang.


"Apakah kau sangat mengharapkannya? Kau terlihat senang sekali." tanya Davina heran.


"Tentu saja. Aku sudah menunggunya sangat lama. Dan akhirnya hari ini kau memanggilku begitu. Aku senang sekali." jawab Marvin puas.


Davina bisa melihat kegembiraan diwajah Marvin. Davina sungguh tidak menyangka jika hanya karena sebuah panggilan bisa membuat suaminya itu begitu senang.


"Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama." ucap Davina bersalah.


Marvin melepaskan pelukannya kemudian mengecup kening Davina dengan lembut.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Aku bersedia menunggumu sampai kapanpun. Meski harus menghabiskan sisa umurku, aku bersedia." kata Marvin membuat Davina tertegun.


"Seberapa dalam cintamu padaku?" tanya Davina.


"Entahlah, aku tidak bisa mengukurnya." jawab Marvin asal membuat Davina terkekeh.


"Terimakasih, Mas." ucap Davina.


"Karena kau tidak pernah menyerah padaku. Terimakasih sudah membuatku kembali percaya pada cinta." jawab Davina membuat Marvin terharu.


"Aku tidak tahu sedalam apa luka yang sudah kau derita dimasalalu. Seandainya kita bertemu lebih awal, mungkin kau tidak akan pernah merasakan kekecewaan itu." ucap Marvin merasa bersalah.


"Tidak ada seandainya. Tuhan telah mempertemukan kita diwaktu yang tepat." sahut Davina mengecup lembut pipi suaminya.


"Kau sudah benar-benar menerimaku?" tanya Marvin.


"Kau ragu padaku?" kata Davina kembali bertanya.


"Tidak, aku hanya ingin memastikan." jawab Marvin jujur.


"Bukankah kita sudah saling memiliki satu sama lain? Apakah itu tidak cukup membuktikan perasaanku padamu?" tanya Davina menyadarkan Marvin.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud meragukanmu." ucap Marvin merasa bersalah.


"Tak apa, aku memahami perasaanmu. Aku yang harusnya minta maaf padamu." sahut Davina.


"Tidak. Sudahlah, apa kau lapar? Kau mau makan apa, Sayang?" tanya Marvin mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau masih ada pekerjaan?" tanya Davina.


"Tidak, aku sudah menyelesaikan semuanya." jawab Marvin.


"Kalau begitu ayo kita pergi kesuatu tempat." ajak Davina bersemangat.


"Kemana?" tanya Marvin penasaran.


"Sudahlah, ikuti saja aku. Kau hanya perlu mengemudikan mobil." jawab Davina membuat Marvin terkekeh.


"Baiklah." sahut Marvin patuh.


"Tapi kita harus beli pakaian ganti dulu. Kita butuh pakaian santai." ucap Davina.


"Baik, Nyonyaku." sahut Marvin disambut tawa kecil Davina.


...****************...


"Apakah Tuan tidak ingin membuka suratnya?" tanya Robert melihat Anton yang sedari tadi hanya terdiam memandangi surat yang diberikan oleh Adam.


"Aku takut jika mengetahui kebenaran setelah membaca surat itu." jawab Anton.


"Bagaimana kalau saya membuangnya saja?" tanya Robert.


"Hentikan niatmu itu! Jangan berani kau menyentuhnya!" ancam Anton memperingatkan.


"Kalau begitu lebih baik Tuan membacanya saja. Agar Tuan tahu apa yang sebenarnya terjadi dimasalalu." ucap Robert menasehati.


"Kau keluarlah!" kata Anton.


"Baik, Tuan." sahut Robert patuh.


"Aku hanya berharap Tuan bisa melepaskan simpul yang mengikat hatinya selama ini." harap Robert dalam hati setelah itu meninggalkan Anton sendirian.


"Kau membuatku takut membacanya, Riana. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Kenapa kau memilih mengakhiri hidupmu?" tanya Anton dalam hati.


"Dulu aku selalu peduli padamu meskipun kau tidak pernah melihatku. Kau selalu menceritakan apapun kepadaku. Tapi saat kau memutuskan untuk mengakhiri hidupmu, kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Anton lagi mengingat gadis yang sudah mengisi hatinya bertahun-tahun ini.


"Apa kesalahanku, Riana? Kenapa kau tidak jatuh cinta padaku saja? Kenapa kau lebih tertarik padanya?" gumam Anton yang tanpa sadar menitikan airmatanya.


Anton menatap kembali sebuah surat yang tergelatak dimeja depannya. Dengan berat hati ia mengulurkan tangan dan mengambil surat itu.


"Apa maksud Adam memberikan surat ini padaku? Apakah ada sesuatu yang belum aku ketahui selama ini?" tanya Anton penasaran.


"Tapi aku takut membacanya. Aku takut mengingat luka yang membekas itu." batin Anton ragu.


"Lebih baik aku menyimpanya dulu." ucap Anton setelah itu mengambil suratnya dan memasukkan kedalam kantong.


"Aku akan membacanya setelah hatiku siap. Kali ini aku ingin lihat apa yang dilakukan gadis itu dan pemuda Harris." gumam Anton.


"Siapkan mobil." titah Anton.


"Tuan mau kemana?" tanya Robert kaget.


"Aku ingin menemui putri Carlos. Kau sudah mengirim orang untuk mengikutinya kan?" tanya Anton.


"Baik Tuan, saya akan segera kembali." sahut Robert patuh.


"Tunggu kedatanganku gadis kecil." batin Anton dengan senyuman aneh.


-BERSAMBUNG