
"Nona, pengemudinya langsung tewas ditempat. Riwayat panggilan ponselnya hanya terdapat nomor tak dikenal. Sepertinya orang dibalik kecelakaan ini sudah merencanakannya dengan baik." lapor Orkan.
"Sebaik-baiknya rencana pasti ada celahnya juga. Apakah kau menemukan identitas pengemudi itu?" tanya Davina lagi.
"Iya Nona. Saya sudah mengantongi kartu identitas dan atmnya." jawab Orkan.
"Baik, kau selidiki saja dulu. Segera laporkan padaku kalau kau menemukan sesuatu." pinta Davina tegas.
"Baik Nona." sahut Orkan patuh.
"Nona bagaimana keadaan Tuan Marvin?" tanya Mely yang baru saja muncul.
"Kau darimana?" tanya Davina penuh selidik.
"Ini Nona, saya beli makan untuk Nona dan juga Tuan." jawab Mely dengan menunjukkan sebuah kantong plastik yang ia bawa.
"Kau sendiri?" tanya Davina lagi.
"Saya sudah makan ditempat, Nona." jawab Mely tersenyum.
"Oh, terimakasih." sahut Davina.
CEKLEK!
Andre keluar dari ruangan Marvin, sempat terjadi adu tatap dengan Davina.
"Terimakasih sudah datang dikehidupan sahabatku." ucap Andre tulus.
Davina mengerutkan alisnya kemudian menganggukkan kepalanya sekilas. Setelah itu Davina langsung masuk ke ruangan Marvin.
"Haih.. Gadis itu dingin sekali. Persis seperti Marvin." gumam Andre kemudian berlalu begitu saja.
"Kau membawa apa?" tanya Marvin.
"Ini makan dibelikan Mely. Apakah kau lapar?" tanya Davina menawarkan.
"Iya, temanmu itu pengertian juga." jawab Marvin.
Davina hanya menatap sekilas kemudian membuka bungkus makanan untuk Marvin.
"Makanlah." ucap Davina menyodorkan kepada Marvin.
"Aku kan sedang sakit. Bisakah kau suapi aku?" pinta Marvin manja.
"Yang sakit kan kepalamu bukan tanganmu." kata Davina dingin.
"Apakah kau tidak mau merawat suamimu? Menyedihkan sekali nasibku." ucap Marvin dengan ekspresi yang menggelikan bagi Davina.
"Sudah hentikan. Sejak kapan Marvin Harris punya kepribadian aneh seperti ini." gumam Davina kemudian membantu Marvin duduk lebih dulu.
"Sejak aku bertemu denganmu. Hanya kau yang bisa melihat sisi anehku." sahut Marvin membuat Davina memutar kedua bola matanya.
Davina tidak ingin lagi menanggapi percakapan konyol Marvin. Davina segera menyendokkan makanan dan menyuapi Marvin dengan telaten. Marvin membuka mulutnya dan mengunyah setiap suapan dengan senyum yang terus mengembang.
"Bisa tidak kau berhenti tersenyum seperti itu? Aku jadi aneh melihatnya." ucap Davina tak tahan.
"Baiklah. Aku hanya senang saja, ternyata kau bisa jadi gadis lembut yang penuh perhatian." kata Marvin jujur.
"Anggap saja ini sebagai balasanku karena kau sudah menyelamatkanku." ucap Davina.
"Baiklah. Terserah kau saja." sahut Marvin sembari terus menerima suapan Davina dengan lahap.
Tak terasa bungkusan makanan ditangan Davina sudah habis tak tersiksa.
"Makanmu banyak juga." sindir Davina.
"Tentu saja. Karena ada kau, nafsu makanku jadi bertambah." goda Marvin yang hanya mendapatkan gelengan kepala Davina.
"Minumlah obatnya dulu." ucap Davina menyerahkan dua tablet obat kepada Marvin dan juga segelas air putih.
Marvin mengikuti ucapan Davina dengan patuh.
"Kau makanlah. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Apakah lukamu itu tidak parah?" tanya Marvin menyadari kening Davina yang ditambal plester.
"Iya, ini hanya luka kecil." jawab Davina setelah itu ia menggeser kursi lebih jauh dari ranjang Marvin lalu membuka makananannya dan segera melahapnya.
Marvin tersenyum melihat istrinya yang masih belum leluasa disampingnya.
****************
"Tuan sesuai dengan penyelidikan saya, keluarga Harris tidak pernah terlibat dengan pertikaian bisnis. Seharusnya mereka tidak mempunyai musuh yang berbahaya." lapor Darwin kepada Adam.
"Kita tidak bisa menyimpulkannya begitu saja. Sesuai dengan berita yang kudengar dari Davina, Marvin mengalami kecelakaan yang hampir membahayakan nyawanya sudah dua kali ini. Keberuntungan anak itu lumayan besar jadi bisa lolos dari dua serangan itu." ucap Adam tegas.
"Saya sudah mendata semua perusahaan yang bekerja sama dengan keluarga Harris. Saya menemukan nama perusahaan besar JB Group dalam daftar kerjasama itu." kata Darwin memberitahu.
"JB Group?" tanya Adam yang merasa familiar dengan nama perusahaan tersebut.
"Iya Tuan. Perusahaan milik keluarga Millano." jawab Darwin membuat Adam terkejut.
"Keluarga Millano? Bukankah keluarga itu sudah dimusnahkan? Apakah masih ada yang tersisa dari mereka?" tanya Adam tak percaya.
"Apakah Tuan masih ingat Tuan muda kedua Millano? Kakak dari Nona Ariana?" Darwin mencoba mengulik ingatan Adam.
"Ya aku mengingatnya. Ternyata dia masih hidup. Apakah dia mengetahui keberadaan Davina?" tanya Adam khawatir.
"Untuk saat ini identitas Nona Davina masih aman, Tuan. Tapi saya tidak bisa menjamin kedepannya. Apalagi jika Tuan kedua Millano tahu kalau Marvin sudah menikah, pasti ia tidak akan diam saja. Ia akan menyelidiki identitas Nona Davina." jawab Darwin.
"Kau pastikan bahwa identitas putriku tidak akan terbongkar. Aku akan memperingatkan Davina dan juga Marvin untuk tidak terlalu mengekspos hubungan mereka. Oh iya, tugaskan beberapa pengawal bayangan ke kota A untuk menjaga Davina." perintah Adam tegas.
"Baik Tuan." sahut Darwin patuh.
"Utus orang untuk menyelidiki keluarga Millano tapi jangan sampai gerak-gerik kita terbaca." titah Adam memperingatkan.
"Baik Tuan." ucap Darwin kemudian segera melaksanakan tugasnya.
"Aku memang belum tahu pasti siapa pelakunya, tapi kalau keluarga Millano benar-benar terlibat dan membahayakan nyawa putriku maka aku tidak akan diam saja." gumam Adam serius.
"Ariana, sepertinya kakakmu belum merelakan kepergianmu. Kejadian salah paham dimasalalu itu, aku harus segera menyelesaikannya." batin Adam kemudian memejamkan matanya mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Maafkan aku, aku tidak akan membiarkan kakakmu menyakiti keluargaku." ucap Adam dalam hati.
...****************...
"Apakah aku tidak bisa pulang sekarang?" tanya Marvin tidak sabar.
"Kau ini sekarang adalah pasien, bisa tidak mendengarkan kata dokter?" tanya Andre.
"Kau cerewet sekali. Aku ingin istirahat dirumah saja." kata Marvin.
"Kau keras kepala sekali. Aku harus benar-benar memastikan bahwa benturan dikepalamu tidak membahayakan otakmu." sahut Andre kesal.
Davina yang sedari tadi mendengar pertikaian kedua pria itu hanya memijat keningnya penat. Benar-benar seperti dua anak kecil yang berebut mainan. Padahal usia mereka lebih tua dari Davina.
"Ck! Itu alasan saja biar kau bisa mendapatkan bayaran mahal karena sudah merawatku kan?" kata Marvin mengejek Andre.
"Kalau saja aku tidak mengenalmu, mungkin kau sudah aku berikan suntikan mati." ucap Andre yang sudah terbiasa menghadapi omongan pedas sahabatnya itu.
Davina terkekeh saat Andre kesal karena omongan Marvin. Memang benar Marvin adalah orang yang menjengkelkan. Apalagi kalau bicara tidak pernah difilter, kejam dan dingin.
Andre dan Marvin menatap Davina yang malah tertawa mendengar perdebatan mereka.
"Maaf maaf. Aku tidak akan mengganggu kalian. Lanjutkan saja pertengkaran kalian. Aku keluar dulu." kata Davina yang langsung keluar ruangan membuat Andre dan Marvin saling beradu pandang.
"Kau lihat, istrimu saja menertawakan dirimu yang keras kepala. Aku ragu dia akan tahan denganmu." sindir Andre.
"Sialan kau! Itu semua karena ucapanmu. Dia justru menertawakan dirimu yang tidak becus jadi dokter." sahut Marvin.
"Mulutmu pedas sekali. Kalau begitu jangan sampai kau masuk kerumah sakit lagi. Aku tidak sudi merawatmu." ancam Andre.
"Aku juga tidak mau dirawat oleh dokter sepertimu. Kau saja sangat galak dengan pasien." cibir Marvin.
"Kau benar-benar pasien yang sangat menjengkelkan. Baiklah untuk malam ini kau masih perlu dirawat disini. Besok pagi kau bisa kembali ke rumah." ucap Andre memberitahu.
"Aku akan mentransfer biaya perawatanmu dan memberikan biaya kompensasi atas semua kata-kataku." kata Marvin.
"Baguslah kalau kau sadar diri." ucap Andre setelah itu keluar dari ruangan Marvin.
...----------------...
-BERSAMBUNG