Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 63 Dilema


Marvin menatap lekat wajah cantik Davina yang sudah terlelap.


"Siapa dirimu? Kenapa ada perasaan takut yang menyelimutiku?" batin Marvin.


"Aku akan menunggumu berkata jujur padaku tapi hatiku juga sudah tidak sabar untuk mengetahui dirimu yang sebenarnya. Apakah aku salah jika aku menyelidikimu untuk menemukan kebenarannya?" tanya Marvin dalam hati sembari membelai lembut kepala istrinya.


Marvin keluar dari kamar dan menemui Thomas.


"Apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Marvin yang saat ini berada ditepi kolam.


"Identitas Nona benar-benar tidak bisa diakses Tuan. Tapi jika Tuan benar, sesuai dengan jurus beladiri yang pernah Nona Davina gunakan, saya jadi ingat pernah menemui seseorang yang menguasai jurus itu saat masih di pelatihan." jawab Thomas.


"Benarkah? Kau tahu siapa dia?" tanya Marvin penasaran.


"Itu adalah Richard Darwin." jawab Thomas.


"Richard Darwin? Siapa dia? Kau mengenalnya?" tanya Marvin merasa asing mendengar nama tersebut.


Thomas terdiam sejenak, ia menimbang-nimbang apakah ingatannya benar atau salah. Dalam hatinya juga ragu karena ia tahu sosok yang ia sebut bukanlah orang sembarangan.


"Yang aku tahu Darwin adalah orang kepercayaan Carlos." jawab Thomas membuat Marvin terkejut.


"Kau yakin?" tanya Marvin memastikan.


"Iya Tuan. Saya ingat betul kalau Darwin bekerja untuk keluarga Carlos." jawab Thomas yakin.


"Tidak mungkin!" ucap Marvin.


"Apa yang tidak mungkin Tuan?" tanya Thomas bingung.


Marvin kembali teringat bagaimana reaksi Davina saat mendengar nama Carlos. Istrinya itu pun sampai berani bertemu dengan Anton.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Nona Davina? Apa Tuan berpikir jika Nona berasal dari keluarga Carlos?" tanya Thomas.


Marvin menatap datar ke arah bodyguardnya itu.


"Apa pikiranmu sama denganku?" tanya Marvin.


"Aku hanya menduganya Tuan. Tapi kemungkinan besar iya. Mengingat bagaimana identitas Nona yang tertutup rapat." jawab Thomas.


"Apa kau pernah dengar Carlos mempunyai seorang putri?" tanya Marvin yang langsung dijawab gelengan kepala Thomas.


"Bagaimana jika dugaanku benar? Apa yang harus kulakukan?" tanya Marvin dengan mengusap wajahnya kasar.


"Apa yang Tuan khawatirkan? Jika memang Nona adalah bagian dari Carlos bukankah itu menguntungkan Tuan?" ucap Thomas membuat Marvin mengernyitkan keningnya.


"Apa maksudmu?" tanya Marvin tak mengerti.


"Posisi Tuan akan semakin kuat karena mendapat dukungan hebat." jawab Thomas.


"Dasar bodoh!" umpat Marvin.


"Apakah yang kukatakan salah Tuan?" tanya Thomas heran.


"Kau pikir keluarga Carlos semudah itu? Terlebih aku dan Davina menikah dengan tersembunyi. Bagaimana jika Tuan Carlos mengetahuinya dan mempersulitku? Terlebih kekuatanku belum seberapa dibandingkan mereka." jawab Marvin.


"Bukankah Tuan sendiri yang bilang kalau orangtua Nona sudah merestui pernikahan kalian?" tanya Thomas.


"Kau benar. Tapi aku belum tahu siapa Davina sebenarnya. Jika memang istriku benar adalah keturunan Carlos, menurutmu apa yang harus kulakukan?" tanya Marvin.


"Apakah Nona tidak pernah berkata ingin mengungkapkan identitasnya?" kata Thomas balik bertanya.


"Dia bilang masih butuh waktu." jawab Marvin.


"Yasudah Tuan tunggu saja Nona bicara sendiri." sahut Thomas.


"Aku juga ingin begitu. Tapi disisi lain aku juga sangat penasaran dan ingin mengetahuinya dengan caraku sendiri." kata Marvin.


"Aku khawatir Nona akan kecewa jika Tuan menyelidikinya sendiri. Nona akan merasa kalau Tuan tidak mempercayainya." ucap Marvin memberi peringatan.


Marvin terdiam sejenak. Perkataan Thomas menyadarkan dirinya. Marvin ingat bagaimana kerasnya dia berusaha untuk mendekati Davina. Saat ini Marvin bisa merasakan bahwa Davina sudah membuka hati untuknya. Jangan sampai rasa penasarannya membuat hubungan mereka kembali merenggang.


"Kau benar." sahut Marvin.


"Yasudah kau istirahatlah." ucap Marvin setelah itu masuk ke mansion.


"Tidak kusangka kalau Tuan sangat peduli dengan Nona Davina. Sepertinya Tuan Marvin benar-benar sudah jatuh cinta. Kalau dugaanku benar, aku jadi penasaran bagaimana keluarga Harris dan Carlos bersatu. Pasti akan menjadi kelompok terkuat dinegara ini." gumam Thomas.


"Kenapa belum tidur?" suara Julia membuat Marvin terkejut.


"Astaga Nenek mengagetkanku saja." ucap Marvin mengelus dadanya.


"Tidak ada, Nek. Hanya ada hal kecil yang kubicarakan dengan Thomas." jawab Marvin.


"Oh.. Aku kira kau bertengkar dengan cucu menantuku dan diusir dari kamarmu." ledek Julia.


"Itu tidak akan terjadi, Nek." sahut Marvin percaya diri.


"Nek, ada yang ingin kutanyakan pada Nenek." ucap Marvin.


"Apa itu hal yang penting?" tanya Julia malas karena dirinya sudah mengantuk.


"Tentu saja, Nek." sahut Marvin.


"Jika penting cepat tanyakan saja langsung. Aku ingin tidur." ucap Julia dengan menguap.


"Ah Nenek tahan sebentar. Ini berkaitan dengan identitas Davina." ucap Marvin setengah berbisik takut jika ada yang mendengarnya.


"Ke kamarku saja." ajak Julia yang diikuti oleh Marvin.


Setelah keduanya masuk ke kamar, Julia meminta Marvin untuk duduk disofa dan mengatakan maksudnya.


"Ada apa dengan identitas cucu menantuku? Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Julia penasaran.


"Nenek masih ingat teknik beladiri Davina saat menolong Nenek?" tanya Marvin.


"Bagaimana kau tahu?" tanya Julia menyipitkan kedua matanya.


"Tentu saja aku tahu, Nek. Jadi apakah Nenek tahu keluarga besar mana yang menguasai teknik itu?" tanya Marvin menyelidik.


"Nenek hanya mengingat bahwa teknik khusus itu hanya dimiliki oleh tiga keluarga besar. Tapi Nenek tidak tahu Davina berasal dari keluarga yang mana." jawab Julia.


"Jadi Nenek sudah menduga kalau Davina bukan gadis dari kalangan biasa?" tanya Marvin.


"Tentu saja." sahut Julia santai.


"Jadi apakah Nenek tidak mempermasalahkan latar belakang istriku?" tanya Marvin lagi.


"Untuk apa? Aku menyukai Davina. Dia gadis yang tangguh, pemberani dan baik. Aku tidak peduli darimana ia berasal. Aku merasa dia juga pendamping yang sangat cocok untukmu." jawab Julia jujur.


"Tapi Nek..." ucap Marvin terjeda.


"Apa kau sudah mengetahui sesuatu?" tanya Julia.


"Aku belum yakin, Nek. Tapi Thomas mengatakan padaku kalau teknik beladiri Davina sama dengan orang kepercayaan Carlos." jawab Marvin ragu-ragu.


"Carlos? Apakah yang kau maksud Adam Carlos?" tanya Julia memastikan.


"Iya, Nek. Apa Nenek mengenalnya?" kata Marvin ganti bertanya.


Julia terdiam sejenak. Mencoba mengingat teknik yang dikuasai Davina.


"Nek? Kenapa Nenek diam saja? Apa Nenek mengetahui sesuatu? Nenek mengenal Tuan Carlos?" tanya Marvin semakin penasaran.


"Gawat!" seru Julia.


"Apa yang gawat, Nek?" tanya Marvin panik.


"Kalau benar Davina berasal dari keluarga Carlos. Kau dalam masalah besar cucuku!" seru Julia lagi.


"Dalam masalah besar? Apa maksud ucapan Nenek?" tanya Marvin semakin khawatir.


"Kau sudah tahu kan bagaimana pengaruh keluarga Carlos dinegara ini?" tanya Julia menatap Marvin lekat.


"Tentu, Nek. Kekuatan dan kekuasaan Carlos tidak tertandingi." jawab Marvin.


"Itu dia. Sekarang bagaimana dengan dirimu?" tanya Julia.


"Diriku? Apakah yang Nenek maksud adalah kekuatan keluarga Harris?" tanya Marvin.


"Tidak. Dirimu sendiri. Bagaimana jika dirimu tanpa keluarga Harris menghadapi Carlos? Apakah kau mampu?" tanya Julia.


Marvin terdiam sejenak. Sekujur tubuhnya tiba-tiba merasa dingin mengingat bagaimana kuatnya Carlos.


"Bagaimana jika istrimu benar-benar dari keluarga Carlos? Kau tetap menerimanya?"


Pertanyaan Julia membuat Marvin terdiam.


"Bagaimana jika kelinciku adalah keturunan Carlos? Apa yang bisa kulakukan?" tanya Marvin dalam hati.


-BERSAMBUNG