Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 70 Lelaki Pencemburu


"Vi-Vina." lirih Nathan.


Kebetulan sekali Amel dan Nathan baru sampai dikota A dan mampir untuk makan siang disebuah restoran bersamaan dengan Davina dan Marvin.


"Siapa pria yang bersamanya?" tanya Nathan dalam hati.


"Sayang, ada apa?" tanya Amel yang hendak mengikuti arah tatapan Nathan namun segera dicegah oleh pria itu.


"Tidak ada apa-apa. Ayo duduk, pesanlah makanan kesukaanmu." ajak Nathan mencoba mengalihkan perhatian.


"Hemm..Baiklah." sahut Amel.


"Siapa yang dilihat Nathan kenapa sikapnya aneh sekali?" gumam Amel penasaran.


Setelah memesan makanan, Amel berpamitan ke toilet sebentar. Saat selesai kebetulan sekali ia berpapasan dengan Davina yang sedang mencuci tangan.


"Hei, kau sedang menguntit suamiku ya?" tuduh Amel.


Davina mengernyitkan keningnya menatap Amel dari cermin kemudian memutar badannya.


"Maaf, apakah kita saling mengenal? Siapa suamimu?" tanya Davina dingin.


"Kau jangan berpura-pura. Pasti kau ingin menemui suamiku kan? Kau pasti menyelidiki Nathan selama ini sampai-sampai kau membuntutinya kesini? Jangan pikir aku bodoh, aku tahu trik wanita murahan sepertimu!" hardik Amel.


"Astaga mimpi apa aku semalam? Sial sekali bertemu dengan makhluk tidak jelas begini." batin Davina.


"Kau gila ya?" tanya Davina santai.


"Apa kau bilang? Kau mengataiku aku gila? Kaulah yang gila! Kau ingin merebut Nathan kembali kan? Mimpi saja!" kata Amel penuh emosi.


Davina menatap datar Amel. Tidak ingin membuat keributan, Davina meninggalkan Amel begitu saja yang masih mengoceh tidak jelas.


"Beraninya kau! Awas saja, aku tidak akan membiarkan Nathan kembali padamu!" gumam Amel penuh amarah.


"Tunggu! Apa jangan-jangan Nathan tadi sudah melihat Davina? Sial! Aku tidak boleh kecolongan." batin Amel bergegas kembali ke mejanya.


Amel menoleh kekiri dan kanan mencari keberadaan Davina namun ia tidak menemukan gadis itu.


"Kemana dia?" tanya Amel dalam hati.


"Ada apa Sayang?" tanya Nathan heran saat melihat gerak-gerik Amel yang aneh.


"Oh tidak. Tidak ada apa-apa." jawab Amel memasang senyum terpaksa.


"Kau yakin?" tanya Nathan memastikan.


"Iya, aku yakin." sahut Amel lagi.


"Ah sudah datang, ayo makan." kata Amel bertepatan dengan kedatangan pelayan yang membawa pesanan.


Nathan menatap Amel curiga namun akhirnya mengikuti ajakan istrinya itu dan mulai menyantap makanan dihadapannya.


"Kenapa tiba-tiba ingin pindah tempat? Kau tidak menyukai menu makanan disini?" tanya Marvin heran.


"Tidak. Hanya saja aku malas bertemu dengan lalat." jawab Davina.


Marvin menatap wajah datar Davina, kemudian membelai lembut kepala istrinya.


"Apa yang membuat istriku begitu kesal?" tanya Marvin.


Davina menatap Marvin sekilas kemudian menghela nafas.


"Tadi saat di toilet aku bertemu dengan wanita tidak jelas. Aku malas meladeninya." jawab Davina.


"Siapa? Apakah dia melukaimu?" tanya Marvin khawatir.


Davina menggelengkan kepalanya dengan cepat membuat Marvin bernafas lega.


"Ceritalah kepadaku." pinta Marvin.


Davina menatap Marvin lekat yang saat ini duduk di kursi kemudi.


"Dia istrinya Nathan, mantan kekasihku." ucap Davina.


Marvin mengernyitkan keningnya, Davina bisa melihat tatapan tak suka dari Marvin.


"Mau lanjut atau tidak? Kalau tidak aku tidak akan bercerita lagi." kata Davina yang sangat hafal dengan kecemburuan Marvin.


"Lanjutkan." pinta Marvin.


"Hm.. Baiklah." sahut Davina.


"Jadi kita tidak sengaja bertemu di toilet. Tapi tiba-tiba dia menuduhku kalau aku menguntit dan ingin merebut suaminya. Konyol sekali bukan?" ucap Davina kesal.


"Apa kau benar-benar sudah melupakannya?" tanya Marvin membuat Davina tersentak.


Marvin menghela nafas kemudian membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Aku dengar kau menjalin hubungan dengannya tidak dalam waktu yang singkat. Apa kau benar-benar sudah tidak mempunyai perasaan apapun padanya?" tanya Marvin namun ada perasaan tak nyaman didalam lubuk hatinya.


"Apa kau menyelidiki masa laluku?" tanya Davina.


"Maaf aku tidak bermaksud begitu, tapi..."


Davina menggenggam tangan Marvin membuat pria itu terkejut sampai tak melanjutkan perkataannya.


"Apa kau mencurigaiku? Kau juga mempunyai pemikiran yang sama dengan wanita tidak jelas itu?" tanya Davina.


"Tidak. Aku tidak sedangkal itu." elak Marvin.


"Lalu?" tanya Davina lagi mencoba memancing Marvin mengatakan isi hati dan pikirannya.


"Aku hanya merasa takut kalau kau bertemu dengan mantan kekasihmu akan kembali padanya. Bukankah sudah sering terjadi cinta lama bersemi kembali?" kata Marvin membuat Davina terkekeh.


"Apa yang kau tertawakan? Apakah ada yang lucu?" tanya Marvin heran.


"Apa kau begitu tidak percaya pada dirimu sendiri?" tanya Davina membuat Marvin kebingungan.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku sangat percaya diri." jawab Marvin tegas.


"Benarkah?" tanya Davina remeh.


"Kau meragukanku?" tanya Marvin tak terima.


"Kalau begitu apa yang kau khawatirkan?" tanya Davina membuat Marvin semakin kebingungan.


"Jika kau memang percaya pada kemampuanmu, untuk apa kau khawatir aku akan kembali pada mantanku?" tanya Davina yang menyadarkan Marvin.


"Kau pernah menjalin hubungan dengannya bertahun-tahun. Sedangkan aku hanyalah orang baru bagimu. Aku khawatir tidak bisa menggantikan kenanganmu bersamanya." jawab Marvin jujur.


"Apakah dia masih pria yang terkenal arogan itu?" gumam Davina.


Davina bisa melihat ekspresi Marvin yang penuh kekhawatiran. Davina tidak menyangka jika seorang pria berkedudukan tinggi seperti Marvin juga bisa merasa rendah diri dalam hal percintaan.


"Kau tidak perlu menggantikan kenanganku dengannya. Dia adalah masa laluku. Kau tidak perlu melakukan apapun." kata Davina.


"Biarpun masa lalu tapi pasti ada kesempatan untuk kembali mengulang kan?" ucap Marvin dengan tatapan sendu.


"Lihatlah aku." pinta Davina membuat Marvin menatap lekat istri cantiknya itu.


"Apakah aku masih tidak menghargai perjuanganmu mendekatiku selama ini?" tanya Davina yang dijawab gelengan kepala Marvin.


"Apakah aku masih menolakmu?" tanya Davina lagi.


"Tidak. Kau sudah menerimaku." jawab Marvin yang disambut senyuman manis Davina.


"Kau bisa merasakannya sendiri bukan? Hubungan bertahun-tahun dimasalalu tidak akan ada artinya jika dijalani dengan orang yang tidak berjodoh dengan kita." ucap Davina.


"Hubungan kami berakhir karena pengkhianatan. Kau pikir aku mau kembali kepada seorang pengkhianat?" kata Davina.


"Bagaimana kalau dia tidak mengkhianatimu? Mungkin saja kalian sudah menikah saat ini." sahut Marvin.


Davina menghela nafas kemudian membelai dan merapikan rambut Marvin.


"Kau percaya takdir?" tanya Davina yang dijawab anggukan oleh Marvin.


"Itulah yang terjadi pada kita." kata Davina.


"Apakah kau berpikir bahwa Tuhan benar-benar menjodohkan kita?" tanya Marvin.


"Tentu saja. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan didunia ini. Bukankah semuanya telah diatur?" ucap Davina membuat Marvin tersadar.


"Jangan memandang rendah dirimu, Mas. Kau sudah berusaha begitu keras untuk mendekatiku sampai aku bersedia menikah denganmu. Bahkan dengan mudahnya ayahku memberikan restunya padamu. Apa kau masih khawatir aku berpaling darimu?" kata Davina.


Perkataan Davina membuat Marvin tertegun.


"Benar. Apa yang perlu kutakutkan? Untuk apa aku takut dengan bocah ingusan itu." batin Marvin tersadar.


"Perjalanan hubungan kita pasti tidak akan mulus kedepannya. Tapi jika ada rasa kepercayaan diantara kita bukankah kita bisa melaluinya dengan mudah?" ucap Davina lagi.


"Kau benar istriku. Maaf sudah meragukanmu." sahut Marvin yang langsung menarik tubuh Davina kedalam pelukannya.


"Aku akan terus berjuang dan membuatmu tidak sempat memikirkan pria lain kecuali aku." ucap Marvin kembali dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi.


"Hm.. Aku percaya padamu." sahut Davina terkekeh dan membalas pelukan suaminya.


-BERSAMBUNG