Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 45 Harapan Nenek


"Dok kenapa istriku semakin kesakitan?" tanya Nathan panik.


"Sayang sabar ya. Kamu kuat, bertahanlah." ucap Bella sembari membelai lembut kening menantunya.


"Saya akan memeriksanya sekali lagi." kata dokter.


Wajah dokter yang lesu menimbulkan pertanyaan dibenak Nathan dan juga Bella.


"Bagaimana, Dok? Apakah istri dan anakku baik-baik saja?" tanya Nathan tak sabar.


"Maaf. Demi keselamatan ibunya, kita harus menggugurkan janinnya." jawab dokter dengan suara berat.


"Tidak. Tolong selamatkan anakku, Dok. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku sanggup menahan rasa sakit ini asal dia tetap selamat." kata Amel histeris.


"Tenanglah, Nak." ucap Bella mencoba menenangkan.


"Apa tidak ada cara lain, Dok?" tanya Nathan mencoba mencari solusi terbaik.


Dokter itu menghembuskan nafas kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kalian diskusikan lebih dulu. Saya akan memberi waktu 4 jam dari sekarang. Lebih cepat lebih baik kalau terlalu lama akan membahayakan nyawa sang ibu." ucap dokter itu kemudian keluar dari ruangan.


"Nathan, tolong selamatkan anak kita. Aku tidak mau kehilangan dia." kata Amel yang sudah menangis sesenggukkan.


Nathan menatap Bella dengan tatapan sendu kemudiam memeluk Amel. Bella memberikan waktu kepada anak dan juga menantunya untuk mengambil keputusan terbaik.


"Sayang, aku tahu kau menyayangi calon bayi ini. Aku juga begitu. Tapi keselamatanmu lebih penting. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu." ucap Nathan menggenggam erat tangan istrinya.


"Tapi apakah tidak ada cara lain? Aku siap menanggung semua rasa sakit ini asal anak ini tetap bersamaku." kata Amel yang membuat hati Nathan ikut tersayat.


"Apakah ini hukuman untukku? Hukuman karena sudah merebutmu dari kekasihmu? Kenapa harus anakku yang menanggung kesalahanku? Dia tidak bersalah. Kenapa dia harus pergi meninggalkanku sebelum aku melihatnya kedunia?" tanya Amel yang sudah mulai tak terkendali.


Nathan segera mendekap Amel dalam pelukannya. Nathan bisa merasakan kepedihan yang dirasakan istrinya. Nathan juga merasakan hal yang sama, namun dia tidak ingin ikut lepas kendali seperti Amel.


"Sayang dengarkan aku. Mungkin ini memang takdir Tuhan yang harus kita jalani. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku juga bagian dari kesalahan itu." ucap Nathan sembari membelai lembut punggung istrinya.


"Demi keselamatanmu, kita harus merelakannya. Kau bisa menerimanya kan?" kata Nathan.


"Tidak." sahut Amel yang masih menolak keputusan suaminya.


"Sayang, lihat aku." pinta Nathan menangkup wajah istrinya yang sudah sembab.


Amel mengikuti permintaan Nathan, ia menatap suaminya lekat.


"Kau harus sehat. Kita bisa memiliki anak lagi dimasa depan. Tapi aku tidak mau kehilanganmu. Kau mengerti maksudku kan?" kata Nathan serius.


Amel menganggukkan kepalanya dengan isakan yang masih terdengar.


"Aku akan segera memberitahu dokter." ucap Nathan bergegas mencari dokter.


"Nak, kamu pasti bisa melalui ini. Mama juga pasti akan mengambil keputusan seperti Nathan jika dalam posisimu. Mama yakin kalian akan melahirkan cucu yang lucu untuk kami dimasa depan." kata Bella mencoba menghibur menantunya.


"Mama maafkan aku. Amel tidak bisa menjaga cucu Mama dengan baik." ucap Amel merasa bersalah.


"Sayang, ini bukan salahmu. Ini memang jalan yang harus kau lalui. Justru ini salah Mama yang tidak terlalu memperhatikanmu dirumah. Maafkan Mama ya, Nak?" kata Bella menyadari jika dirinya belum terlalu dekat berhubungan dengan Amel.


Amel dan Bella saling berpelukan. Keduanya mencoba saling menguatkan.


"Kau harus kuat ya, Nak. Mama janji akan bersikap lebih baik kepadamu kedepannya." ucap Bella yang sudah tidak kuat menahan airmatanya.


"Terimakasih, Ma." sahut Amel.


...****************...


"Kau mau kemana?" tanya Davina saat melihat Marvin akan keluar dari kamar.


"Ada apa? Apakah kau tidak mau aku tinggal sendiri di kamar ini?" kata Marvin balik bertanya dengan sedikit menggoda.


"Aku kan hanya bertanya kenapa kau tidak langsung menjawabnya malah sengaja menggodaku." gerutu Davina.


"Hehe.. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jika kau bosan, kau bisa ikut denganku ke ruang kerjaku." ajak Marvin.


"Hm.. Itu lebih baik. Ayo." sahut Davina membuat Marvin tersenyum.


Ruang kerja Marvin berada tepat disebelah kamarnya. Mata Davina nampak takjub saat melihat rak besar dan tinggi berisi banyak buku seperti diperpustakaan.


"Wow! Ini semua koleksi bukumu?" tanya Davina tak percaya.


"Iya, aku mengumpulkannya sejak aku masih sekolah." jawab Marvin.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Marvin.


"Ah tidak. Bolehkah aku membacanya?" tanya Davina mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja. Silahkan kalau ada yang menarik untukmu." jawab Marvin setelah itu duduk dikursi dan membuka laptopnya.


Davina sibuk membaca judul-judul buku yang ada di rak Marvin.


"Haih.. Kebanyakan semuanya tentang bisnis. Tidak heran jika kemampuannya diakui dikota ini." gumam Davina.


"Sepertinya ini cukup seru." ucap Davina saat membaca sebuah judul buku yang menarik perhatiannya.


Davina duduk disoffa sembari mulai membuka buku yang sudah ada ditangannya.


"Kelinciku ternyata tertarik dengan ilmu bela diri." batin Marvin saat melirik buku yang dibaca istrinya.


Keduanya fokus dengan kesibukannya masing-masing hingga tak sadar jika hari sudah gelap.


"Tuan, Nona waktunya makan malam." panggil Mira sembari mengetuk pintu ruang kerja Marvin.


"Ayo kita turun." ajak Marvin kepada istrinya.


"Baiklah." sahut Davina kemudian mengikuti langkah Marvin menuju ruang makan.


"Selamat malam cucu-cucuku." sapa Julia dengan wajah berseri-seri.


"Malam, Nek." balas Marvin dan Davina kompak.


"Kalian benar-benar pasangan sehati." puji Julia membuat keduanya salah tingkah.


"Sudah sudah pengantin baru wajar saja kalau kalian masih malu-malu. Ayo kita makan." ajak Julia sembari menggoda pasangan muda yang duduk dihadapannya.


"Ba-baik, Nek." kali ini hanya Davina yang menjawab dengan kikuk.


"Aku harap rumah tangga kalian selalu harmonis. Dan cucuku itu benar-benar bisa diandalkan. Aku ragu dia bisa memperlakukan cucu menantuku dengan baik." batin Julia.


"Aku tidak salah lihat kan? Kenapa Nenek memberiku tatapan seperti itu?" batin Marvin bertanya-tanya.


Setelah makan malam, Julia mengajak Davina berbincang di ruang keluarga sedangkan Marvin sudah kembali ke ruang kerjanya.


"Duduklah, Nak. Ada yang ingin Nenek bicarakan denganmu." ucap Julia membuka pembicaraan.


"Baik, Nek." sahut Davina sopan.


"Bagaimana perasaanmu dengan status barumu sekarang?" tanya Julia.


"Aku masih menyesuaikan diri, Nek." jawab Davina jujur.


"Apakah Marvin memperlakukanmu dengan baik?" tanya Julia penasaran.


"Iya, Nek." jawab Davina membuat Julia bernafas lega.


"Aku tahu hubungan kalian ini tidak didasari dengan saling jatuh cinta. Nenek tidak tahu kesepakatan apa yang telah dibuat cucuku sehingga kau mau menikah dengannya. Tapi Nenek bisa melihat bahwa perasaan dan perlakuan Marvin tulus padamu, Nak." ucap Julia.


Davina terdiam mencoba mencerna ucapan Julia.


"Selama ini Marvin tidak pernah tertarik berhubungan dengan wanita manapun. Tapi setelah bertemu dengammu, Nenek bisa melihat perubahan yang sangat signifikan pada cucuku yang sifatnya seperti lemari es itu." kata Julia membuat Davina geli mendengarnya.


"Nenek tidak sedang memperolok cucu Nenek sendiri kan?" ucap Davina.


"Apa yang Nenek katakan itu kebenaran, Nak. Kalau kau belum bisa membuka hatimu untuknya, tolong berikanlah dia kesempatan untuk membuktikan perasaannya. Nenek tahu bagaimana perjuangannya sebelum menikah denganmu. Bukan Nenek memaksamu, tapi Nenek hanya berharap kau bisa membalas perasaan Marvin dan kalian bisa hidup bahagia bersama selamanya." kata Julia penuh harap.


"Nenek sudah sangat tua. Marvin tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dengan kehadiranmu dihidupnya, Nenek jadi tidak khawatir lagi jika Nenek pergi dari hidupnya. Sudah ada dirimu yang menemaninya." ucap Julia sendu.


"Nenek tidak boleh berkata begitu. Nenek harus sehat. Bukankah Nenek ingin mempunyai cicit?" kata Davina.


"Tentu saja. Nenek sudah tidak sabar ingin menggendong cicit. Jadi apakah kau mau segera melahirkannya untuk Nenek?" tanya Julia bersemangat.


"Ah itu.. Anu Nek...." jawab Davina gugup.


Julia tersenyum kecil melihat reaksi lucu cucu menantunya.


"Kau tenang saja, Nenek tidak akan memaksamu. Pelan-pelanlah menjalin hubungan dengan suamimu." ucap Julia membelai lembut kepala Davina.


"Baik Nek, terimakasih." sahut Davina.


-BERSAMBUNG