Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 39 Baik-Baik Saja


"Tuan, orang yang mengikuti tuan muda Harris terlibat kecelakaan dan tewas ditempat." lapor salah satu bawahan.


"Sial! Bagaimana dengan keadaan Marvin?" tanya pria itu.


"Dia berhasil menghindar sepertinya hanya menderita luka ringan." jawab bawahan itu.


"Ck! Rupanya anak itu masih selamat juga. Kita jangan lakukan pergerakan untuk sementara waktu. Aku tidak ingin kita terekspos." kata pria dengan suara baritonnya.


"Baik Tuan." sahut bawahan lalu meninggalkan ruangan atasannya.


"Haha.. Aku akan mencari kesempatan lagi untuk menghabisimu anak muda." gumam pria itu sambil menyeringai dan tertawa jahat.


"Setelah selesai denganmu, aku akan kembali ke kota K dan melawan musuh bebuyutanku." batin pria itu.


...****************...


"Jo, apakah dia belum sadar?" tanya Davina.


"Belum, Nona." jawab Johan santun.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Davina serius.


"Iya Nona." sahut Johan kemudian mengikuti Davina keluar ruangan.


"Apa kau sudah menyelidiki kecelakaan yang terjadi pada Marvin beberapa hari yang lalu?" tanya Davina.


"Sudah Nona. Tapi saya tidak berhasil melacaknya." jawab Johan jujur.


"Ck! Beginikah cara kerja orang kepercayaan keluarga Harris?" cibir Davina.


"Maafkan saya Nona." ucap Johan sadar atas ketidakbecusannya.


"Apakah Marvin selama ini sering mendapatkan ancaman seperti ini?" tanya Davina penasaran.


"Iya Nona. Tapi dua serangan terakhir ini sepertinya memang mengincar nyawa Tuan Marvin." jawab Johan.


"Lalu kenapa kau tidak melakukan penjagaan ketat terhadap Tuanmu?" tanya Davina.


"Tuan menolaknya, Nona. Tuan tidak ingin musuh mengetahui kewaspadaannya. Tuan sengaja ingin memberi celah kepada musuh dan berharap bisa segera menangkapnya." jawab Johan membeberkan alasan Marvin.


"Dasar bodoh! Untung saja dia masih selamat. Coba kalau tidak, bukan menangkap musuh tapi malah menjadi korban mengenaskan." gerutu Davina kesal.


"Aku sudah menyuruh orang untuk menyelidiki orang yang menguntit Marvin. Kau bisa menambah orang untuk mempermudah penyelidikan." kata Davina.


"Saya yang akan datang langsung ke lokasi, Nona. Nanti Thomas yang akan berjaga disini." ucap Johan.


"Baiklah." sahut Davina kemudian Johan pamit undur diri.


Davina kembali ke ruangan Marvin dan tak lama Mely sudah datang membawa obat untuk Davina.


"Biar saya bantu Nona." ucap Mely.


Davina mengganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Mely membersihkan luka dikening Davina dengan lihai dan mengobatinya setelah itu menutup lukanya dengan hati-hati.


"Saya berjaga diluar saja. Nona sebaiknya juga istirahat sambil menunggu Tuan Marvin sadar." ucap Mely.


"Ya, terimakasih." kata Davina dibalas senyuman Mely.


Davina menatap Marvin yang masih asyik memejamkan mata.


"Setelah melewati peristiwa mengerikan, kau masih saja bisa tidur dengan tenang." gumam Davina lirih.


"Aku jadi mengantuk." ucap Davina sambil menguap kemudian tak berselang lama mulai memejamkan matanya.


"Vina.." panggil Marvin lirih.


Marvin mulai membuka matanya dan segera mencari keberadaan istrinya. Marvin tersenyum saat ia mendapati Davina yang tertidur pulas di kursi samping ranjangnya.


"Rupanya kau mengkhawatirkan aku juga." lirih Marvin.


"Semoga kau sudah mulai membuka hatimu untukku." harap Marvin kemudian membelai lembut kepala Davina.


"Aku harus segera menemukan siapa dalang dibalik penyerangan ini. Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya lagi." ucap Marvin tegas.


...****************...


"Ayah apakah putri kita akan baik-baik saja?" tanya Sera khawatir saat mendengar kabar tentang putrinya.


"Kau tenang saja. Anak muda Harris itu bisa kita andalkan untuk menjaga Davina." jawab Adam yakin.


"Bagaimana kalau kita menjenguk mereka kerumah sakit?" tanya Sera.


"Tidak bisa. Kalau kita kesana akan membuat musuhnya Marvin curiga dan malah membuat Davina dalam bahaya." kata Adam menolak ajakan istrinya.


"Ayah benar. Tapi Vina tidak apa-apa kan?" tanya Sera memastikan kondisi putrinya.


"Putri kita baik-baik saja, Sayang. Hanya Marvin yang terluka karena melindunginya." jawab Adam membuat Sera bernafas lega.


"Aku harap Marvin benar-benar pria yang bisa diandalkan." ucap Sera penuh harap.


"Ayo kita bersiap. 2 jam lagi penerbangan kita, jangan sampai terlambat. Lebih cepat lebih baik." kata Adam mengingatkan.


"Baik." sahut Sera kemudian bergegas merapikan barangnya dan menatanya dalam koper.


Adam dan Sera segera menuju bandara dan tak lama pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.


Setelah sampai di kota K, Adam segera memanggil Darwin untuk menyelidiki musuh Marvin sesuai permintaan Davina.


"Kau selidiki siapa saja musuh Marvin Harris. Aku tidak ingin mereka juga menjadikan putriku sebagai target. Perketat penjagaan untuk Davina dan jangan sampai identitasnya bocor." perintah Adam tegas.


"Baik Tuan." sahut Darwin patuh.


"Belum juga aku menemukan musuhku sendiri, sekarang justru ada musuh lagi dari pihak menantuku. Aku harus lebih waspada dan tidak boleh lengah sedikitpun." gumam Adam serius.


...****************...


Waktu sudah menjelang sore, Davina perlahan membuka matanya.


"Sudah bangun?" tanya Marvin.


"Kau sudah sadar?" kata Davina kaget.


"Aku akan memanggil dokter." ucap Davina hendak berdiri namun ditahan oleh Marvin.


"Tidak perlu. Aku baik-baik saja." kata Marvin menolak.


"Itu menurutmu. Bagaimana kalau ada luka dalam yang tidak terlihat? Biar dokter yang memastikannya sendiri." ucap Davina.


"Hem.. Kau benar-benar peduli denganku. Apakah kau sudah mulai menaruh hati padaku?" goda Marvin.


"Jangan bercanda. Kesehatanmu saat ini lebih penting." kata Davina yang langsung meninggalkan Marvin dan memanggil dokter.


"Masih saja malu-malu. Tenang saja aku tidak akan memaksamu, istriku. Kau bisa menerimaku pelan-pelan." gumam Marvin dalam hati.


Andre sudah datang memeriksa kondisi Marvin.


"Tidak ada luka yang parah. Hanya saja butuh istirahat dan pastikan luka dikepalanya tidak terkena air beberapa hari. Jangan sampai terbentur lagi." kata Andre menjelaskan yang didengar dengan seksama oleh Davina.


"Siapa gadis ini? Kenapa aku belum pernah melihat sebelumnya." bisik Andre kepada Marvin.


"Bukan urusanmu." kata Marvin ketus.


"Ck! Menyebalkan sekali. Jika kau tidak ingin memberitahuku, aku akan mencari tahu sendiri." ancam Andre membuat Marvin memutar malas kedua bola matanya.


"Vina, bisa tinggalkan kami berdua sebentar?" pinta Marvin lembut.


Davina menatap kedua pria itu secara bergantian kemudian menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan rawat Marvin.


"Kenapa dia menatapku seperti itu?" tanya Andre kebingungan.


"Apa yang ingin kau tahu? Katakan saja jangan membuang waktuku." kata Marvin ketus.


"Galak sekali. Baru 2 bulan aku meninggalkanmu, kau sudah berubah begini. Apakah kau sudah tidak menyayangiku?" ucap Andre.


"Hentikan bicaramu! Kau jangan membuat istriku memiliki pikiran yang tidak-tidak tentang hubungan kita. Kalau tidak aku akan membuatmu kehilangan profesimu." ancam Marvin tegas.


"Cih! Kejam sekali." gerutu Andre.


"Eh tunggu dulu! Kau menyebut gadis itu istrimu? Tidak mungkin!" kata Andre tersadar dengan ucapan Marvin dan membuatnya tak percaya.


"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Marvin tak acuh.


"Kau yakin? Mana mungkin gadis muda itu mau menikah denganmu." kata Andre ragu.


"Kau berani merendahkanku?" ucap Marvin memberikan tatapan tajam kepada Andre.


"Tidak, tidak. Aku hanya belum percaya saja. Kapan kau menikah? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Andre tak terima.


"Kau cerewet sekali. Kami baru menikah tadi pagi. Kami belum bisa mengekspos pernikahan ini. Aku harap kau bisa membantuku menjaga rahasia ini." kata Marvin serius.


"Iya iya, baiklah. Kau bisa percaya padaku. Tapi aku masih penasaran, sejak kapan kau bisa tertarik dengan wanita? Pasti gadis itu bukan gadis biasa kan?" tanya Andre yang sangat penasaran.


Marvin menganggukkan kepalanya dengan senyum yang belum pernah Andre lihat sebelumnya.


"Aku jadi sangat penasaran apa kehebatan yang dimiliki gadis itu sehingga bisa membuat pria karatan sepertimu ini jatuh cinta." kata Andre.


"Kau akan mengetahuinya jika sudah mengenalnya." ucap Marvin yang terus menampakkan senyum.


"Sial! Sepertinya kau memang benar-benar sudah tergila-gila dengan gadis itu." kata Andre takjub.


Dalam hati Andre, ia bersyukur karena sahabat kecilnya itu akhirnya mau membuka hatinya untuk seorang wanita.


"Semoga gadis itu benar-benar bisa membuatmu bahagia dan membawa perubahan yang baik untukmu." batin Andre penuh harap.


...----------------...


-BERSAMBUNG