
"Ck! Ada yang mengikuti kita." ucap Marvin.
"Kau yakin?" tanya Davina ragu.
"Iya, aku sudah mencoba mengujinya dan terbukti mobil itu mengikuti kita." jawab Marvin yakin.
"Apa kau mengenali mobil itu?" tanya Davina sembari menoleh kebelakang untuk memastikan perkataan Marvin dan terlihat ada mobil hitam yang menempel dibelakang mereka.
"Tidak. Sepertinya itu mobil sewaan." tebak Marvin.
"Haih.. Belum sehari menikah denganmu sudah masuk dalam bahaya." ucap Davina membuat Marvin terkekeh.
"Kau pasang sabuk pengamanmu, aku akan menambah kecepatan." pinta Marvin sekaligus memberitahu istrinya.
"Berhati-hatilah." ucap Davina lembut.
Marvin menoleh sekilas dan tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu terluka." kata Marvin tegas.
Davina tersenyum simpul, ia mempercayai ucapan suaminya.
Marvin menginjak gasnya dan mencari jalan alternatif untuk mengecoh mobil dibelakangnya.
"Sial, mereka gesit juga." umpat Marvin.
"Bos, sepertinya kita sudah ketahuan." lapor pengemudi mobil melalui panggilan suara.
"Kau bereskan saja. Ingat jangan sampai meninggalkan jejak." perintah seseorang dibalik panggilan suara itu.
"Baik. Jangan lupa tambahan bayarannya." sahut sopir mobil yang menguntit Marvin dengan seringai jahat lalu memutuskan panggilan suaranya.
"Mampuslah kau." gumam pria itu kemudian menancapkan gasnya.
Marvin yang menyadari kecepatan dimobil belakangnya bertambah, ia segera membanting setir ke kiri menerobos trotoar untuk menghindari laju mobil dibelakangnya.
BRAK!
Mobil Marvin menabrak tiang listrik.
"Kau baik-baik saja?" tanya Marvin memastikan keselamatan Davina.
"Iya, aku baik-baik saja." jawab Davina yang masih terkejut dengan kejadian mengerikan yang terjadi dalam beberapa detik lalu.
Andai saja Marvin tidak jeli dan tidak segera mengambil keputusan mungkin keadaan mereka berdua akan lebih parah.
"Kau terluka? Kepalamu berdarah." pekik Davina panik saat melihat darah mengalir dipelipis Marvin.
Ya saat kejadian, setelah membanting stir Marvin menyadari ada sebuah tiang dan untuk menghindari benturan keras, Marvin mencoba melindungi Davina. Alhasil kepala Marvin terbentur lumayan keras.
Marvin hanya tersenyum lalu sesaat kemudian tidak sadarkan diri.
"Hey, bangun! Kenapa kau malah pingsan disaat seperti ini." teriak Davina mencoba membangunkan Marvin namun tak berhasil.
"Cepat, jemput aku." titah Davina kemudian segera mengirimkan lokasinya.
BRAK!
Tidak jauh didepan ternyata terjadi kecelakaan yang melibatkan mobil yang mengikuti Marvin.
"Lihatlah, musuhmu mendapatkan balasannya secara langsung." gumam Davina kepada Marvin.
"Terimakasih sudah melindungiku. Kau harus baik-baik saja." ucap Davina kemudian melepaskan sabuk pengaman keduanya lalu memangku kepala Marvin.
"Sepertinya benturan tadi lumayan keras. Kau tidak akan amnesia kan? Kita baru saja menikah, jangan sampai ada drama kau tidak mengenaliku." kata Davina yang tak bisa menutupi kekhawatirannya melihat kondisi suaminya.
Tak berselang lama, Orkan dan Mely tiba. Orkan bergegas membantu Davina dan mengangkat tubuh Marvin untuk segera dipindahkan ke mobil yang ia bawa bersama Mely.
"Nona baik-baik saja?" tanya Mely memastikan.
Davina hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyusul Orkan yang sudah membawa Marvin masuk ke mobil lebih dulu.
"Orkan, kau periksa dulu kecelakaan didepan. Mobil berwarna hitam yang mengikuti kami tadi. Cari tahu siapa pengemudi dan orang dibelakangnya. Biar Mely yang mengantar kerumah sakit." titah Davina tegas.
"Baik Nona." sahut Orkan patuh.
Mely melajukan mobil segera menuju kerumah sakit terdekat.
"Bagaimana aku menghubungi asistenmu?" gumam Davina.
"Oh iya, ponselmu." kata Davina lalu mencoba mencari ponsel disaku celana Marvin dan merogohnya.
"Halo, Tuan sudah sampai mana?" tanya Johan yang suaranya terdengar khawatir.
"Ini aku. Kami baru saja kecelakaan. Kau bisa menyusul ke rumah sakit. Ingat jangan beritahu Nenek." kata Davina mengingatkan karena tidak ingin membuat Julia khawatir.
"Baik Nona, saya akan segera kesana." sahut Johan patuh tanpa menanyakan kronologis kejadian terlebih dahulu.
"Dalam keadaan terluka begini, kau tetap saja terlihat sangat tampan." batin Davina tanpa sadar memuji suaminya.
Davina memandangi wajah Marvin kemudian menyeka dan mencoba menahan darah dipelipis Marvin yang terus mengalir dengan bajunya.
"Lebih cepat, Mel." perintah Davina yang langsung dipatuhi Mely menambah kecepatan mobilnya.
"Baru kali ini aku melihat Nona panik." gumam Mely tersenyum tipis.
Mobil yang membawa Marvin dan Davina akhirnya sampai dirumah sakit. Mely turun lebih dulu untuk memanggil perawat dan membawakan ranjang untuk Marvin.
"Nona sepertinya juga butuh diperiksa untuk memastikan kondisi Nona." kata Mely.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja." tolak Davina tegas kemudian segera mengikuti perawat yang membawa Marvin ke ruang IGD.
"Siapa yang membawa pasien ini?" tanya dokter yang usianya masih terbilang muda dan berparas tampan.
"Saya." jawab Davina.
Dokter muda itu menatap Davina tak percaya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya dokter itu.
"Kami baru saja kecelakaan. Bisakah kau bergegas memeriksanya? Aku khawatir benturan dikepalanya lumayan keras." kata Davina membuat Andre, dokter muda itu mengerutkan keningnya.
"Baiklah. Aku akan memindahkan pasien ke kamar lebih dulu." ucap Andre yang hanya disetujui oleh Davina.
"Siapa gadis ini? Kenapa bisa membawa Marvin kesini?" tanya Andre penasaran dalam hati.
"Baru saja 2 bulan aku tinggal keluar negeri sudah mempunyai rahasia saja." batin Andre.
"Untunglah, benturannya tidak keras. Mungkin ia akan sadar dalam waktu dua jam dan butuh beberapa hari untuk menyembuhkan lukanya." ucap Andre menceritakan kondisi Marvin.
"Baik, terimakasih." sahut Davina dingin.
"Apakah aku boleh tahu apa hubunganmu dengan pasien?" tanya Andre penasaran.
"Apakah dokter sekarang juga mengurusi kehidupan pribadi pasien?" sindir Davina dengan tatapan dingin.
"Sial, gadis ini memiliki aura seperti Marvin." batin Andre terkejut.
"Maaf, kalau begitu aku permisi dulu. Sepertinya kau juga perlu berobat untuk lukamu." ucap Andre mengingatkan setelah itu meninggalkan ruangan.
Davina menuju kaca yang terletak ditembok kamar mandi.
"Argh.." rintih Davina saat merasakan perih dikeningnya yang sedikit terluka.
Davina segera memanggil Mely untuk membeli kapas, obat merah dan juga plester untuk mengobati lukanya.
"Haih.. Sudah kedua kalinya aku membawamu kerumah sakit." gumam Davina menghampiri Marvin dan duduk dikursi yang terdapat disamping ranjang.
"Nona, bagaimana keadaan Tuan dan Nona?" tanya Johan panik.
Davina menoleh kemudian bangkit dari duduknya.
"Lukanya tidak parah. Kau temani dia dulu, aku mau menelpon." kata Davina yang diangguki Johan.
Davina keluar dari ruangan Marvin kemudian memastikan tidak ada orang yang akan mendengar suaranya.
"Ayah, kau bisa membantuku untuk menyelidiki siapa musuh keluarga Harris?" tanya Davina lewat panggilan telpon.
"Ada apa, Nak? Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan musuh keluarga suamimu?" kata Adam balik bertanya.
"Saat ini aku berada dirumah sakit, Yah. Marvin terluka karena melindungiku. Tadi ada mobil yang mengikuti kami dan berusaha untuk menabrak kami. Untung saja Marvin jeli sehingga kami bisa selamat." jawab Davina menjelaskan.
"Sial! Siapa yang berani melukai putriku? Karena kau sudah menikah dengan keluarga Harris, maka musuhnya adalah musuhku juga." kata Adam emosi.
"Ayah, kami baik-baik saja. Ayah cukup selidiki saja dulu jangan melakukan pergerakan apapun. Aku khawatir musuh akan curiga kalau Ayah melakukan tindakan gegabah. Itu akan semakin membahayakan keselamatanku dan Marvin." ucap Davina mengingatkan.
Terdengar suara helaan tarikan nafas Adam.
"Kau benar, Sayang. Baiklah Ayah akan meminta Darwin untuk menyelidiki. Ayah juga akan menambah beberapa pengawal untukmu. Ayah harap kali ini kau tidak menolak karena menyangkut keselamatanmu." kata Adam tegas.
"Baik, Ayah." sahut Davina patuh.
...-----------------...
-BERSAMBUNG
Terimakasih sudah menunggu kelanjutan novel Minthor. Maaf ya Minthor gak up beberapa hari karena sibuk pekerjaan dan juga kurang sehat.
Minthor harap tidak mengurangi antusias baca novel ini ya . Terimakasih
Jangan lupa tinggalkan like dan komen!
Subscribe untuk mendapatkan notif up episde terbaru!