
"Kau yakin ingin ke kota A? Bagaimana kalau kita berlibur ke kota yang lain? Atau keluar negeri?" tanya Nathan sekaligus menawarkan.
"Tidak perlu. Aku ingin ke kota A saja. Aku ingin kembali melanjutkan kuliah untuk menghilangkan dukaku." jawab Amel.
"Kau serius? Kau baik-baik saja kan, Sayang?" tanya Nathan khawatir.
"Ya aku baik-baik saja." sahut Amel.
Nathan menatap Amel intens. Baru beberapa hari yang lalu istrinya setuju untuk berlibur tapi hari ini meminta untuk ke kota A melanjutkan kuliahnya.
"Bagaimana dengan cutimu?" tanya Nathan.
"Aku akan mengurusnya." sahut Amel.
Nathan menghela nafas. Sebenarnya dirinya masih sangat khawatir dengan kondisi istrinya, terutama psikis Amel. Namun ia juga tidak ingin memaksa Amel karena akan membuat istrinya semakin tertekan.
"Yasudah. Aku akan mengantar dan menemanimu di kota A dalam beberapa hari kebetulan jadwal kuliahku tidak padat." kata Nathan.
"Terserah kau saja." sahut Amel.
"Kau tidak ingin aku temani?" tanya Nathan melihat respon Amel yang tidak bersemangat.
"Bukan begitu. Aku tidak ingin merepotkanmu saja." jawab Amel tak enak hati.
"Apa yang kau katakan? Kau itu istriku tidak ada istilah merepotkan dalam hubungan kita." ucap Nathan tak terima.
"A-aku.. Aku takut karena kondisiku jadi menghambat kuliahmu. Aku baik-baik saja. Aku sudah berusaha menerima kenyataan." kata Amel sendu.
Nathan tahu istrinya masih diliputi rasa kesedihan karena kehilangan anak pertama mereka.
"Kau pasti bisa, Sayang. Aku akan selalu berada disisimu." ucap Nathan menguatkan.
Amel menatap wajah suaminya dengan senyuman.
"Terimakasih suamiku." sahut Amel lembut.
...****************...
"Tuan ada yang mengikuti kita." ucap Johan.
"Sepagi ini sudah ada yang ingin bermain-main denganku." decak Marvin.
"Cari jalan memutar saja. Aku ingin lihat bagaimana penampilan mereka." titah Marvin.
"Baik Tuan." sahut Johan bersemangat.
"Hem rupanya anak muda itu cepat juga menyadarinya." gumam penumpang pria di mobil belakang dengan menyeringai.
"Kita ikuti saja kemana dia." ucap pria itu yang diangguki oleh sopirnya.
30 menit sudah adegan kucing-kucingan mobil Marvin dan yang mengikutinya berlalu.
"Mereka gesit sekali, Tuan." kata Johan.
"Kau saja yang tidak becus." cibir Marvin.
"Sial! Jangan meremehkanku!" sahut Johan tak terima.
Dengan cepat Johan menginjak gasnya ingin membuktikan kepada Marvin kalau dirinya tidak bisa diremehkan.
"Ini baru orangku." batin Marvin menyeringai.
CIIITTT!
Johan menginjak remnya saat mobil yang sedari tadi mengikutinya sudah menghadang jalannya. Terlebih kali ini ada tambahan dua mobil lagi yang mengepungnya.
"Sial! Kita terjebak Tuan." umpat Johan.
"Haih.. Lain kali aku tidak akan memujimu lagi." gumam Marvin berdecak.
"Bagaimana ini Tuan?" tanya Johan panik.
"Sejak kapan kau jadi penakut begini? Kita ikuti saja permainan mereka." sahut Marvin santai.
"Tuan yakin?" tanya Johan lagi.
"Kau ini cerewet sekali. Apa selama ini aku terlalu banyak memberikan tugas perusahaan kepadamu sampai kau jadi penakut begini." jawab Marvin kesal.
"Maaf Tuan." sahut Johan bersalah.
"Siapa mereka? Apa tujuan mereka?" tanya Marvin dalam hati.
"Maaf mengganggu perjalanan Anda. Tuan kami ingin bertemu dengan Anda." ucap pria itu.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Marvin dingin.
"Maafkan kami harus melakukan pemaksaan." jawab pria itu.
"Oke aku ikut kalian." ucap Marvin.
"Tuan yakin?" tanya Johan khawatir.
Johan yang hendak turun dari mobil langsung terdiam saat mendengar ucapan salah satu pria berpakaian hitam itu.
"Jika anak buah Tuan melakukan perlawananan maka kami tidak segan-segan menghabisinya."
Marvin tersenyum tipis melihat Johan yang diam mematung. Marvin sadar orang yang dihadapinya kali ini sangat kuat. Terlebih penjaga bayangan yang ia miliki tidak menampakkan diri. Pasti orang yang mengikutinya sudah menyadari dan mengurus para pengawalnya itu.
Marvin membuka pintu dan turun dari mobilnya disusul oleh Johan.
"Maaf Tuan, kami harus menutup mata Anda." ucap pria dengan membawa dua lembar kain hitam.
Dengan cepat Marvin dibawa ke mobil sebelah kanan dan Johan di mobil bekalang. Lalu ada dua orang lagi yang membawa mobil Marvin.
Marvin hanya bisa merasakan mobil sudah melaju tanpa melihat apapun. 15 menit kemudian mobil berhenti, Marvin berjalan dan diarahkan ke sebuah tempat. Marvin bisa mendengar derap langkah sepatu beberapa orang menapaki lantai disebuah ruangan. Marvin duduk disebuah kursi empuk dengan mata yang masih tertutup. Marvin bisa merasakan hawa dingin, kedap suara dan sepertinya juga ruang yang tertutup tanpa penerangan. Marvin juga merasa hanya dirinya seorang yang dibawa ke ruangan itu. Sedangkan Johan, entah kemana orang-orang berbadan kekar membawa asistennya itu.
"Selamat pagi Tuan." sapa salah satu orang yang membawa Marvin menandakan bahwa bosnya sudah datang.
"Ckck... Apakah kekuatan Harris begitu lemah sehingga dengan mudahnya anak buahku menangkapmu." ucap pria itu remeh.
Marvin mengerutkan alisnya mendengar suara yang sangat asing baginya.
"Aku yang lemah atau Anda yang kuat, Tuan?" kata Marvin.
"Hem.. Lumayan." gumam pria yang tak lain adalah Adam Carlos.
Ya, sesuai dengan rencananya dengan Darwin. Adam ingin memberikan salam kepada menantunya itu.
"Ada urusan apa Tuan membawaku? Apakah Tuan mengenal saya?" tanya Marvin dingin.
Adam tersenyum tipis mendapati keberanian Marvin. Masalah paras dan fisik juga tidak perlu diragukan lagi.
"Kenapa putriku memilih pria yang 10 tahun lebih tua darinya? Penampilannya juga lebih keren mudaku." batin Adam mengomentari menantunya.
"Aku tidak mengenalmu. Hanya pernah mendengar namamu dan kau juga begitu." jawab Adam.
"Lalu apa tujuan Tuan membawaku?" tanya Marvin masih dengan suara tenang dan datar.
"Hahaha.. Tujuanku adalah untuk memberi pelajaran kepadamu." jawab Adam.
"Saya tidak mengenal Tuan. Mungkin Tuan salah orang." ucap Marvin asal.
"Heh.. Sejak kapan kemampuan anak buahku begitu buruk, Tuan Muda Harris? Kau meremehkanku?" tanya Adam yang suaranya terdengar semakin mendekat ditelinga Marvin.
SREEK!
Terdengar suara kursi yang diseret dan berhenti tepat dihadapan Marvin.
"Kau begitu lancang! Bahkan kau sudah berani merebut putriku!" ucap Adam penuh penekanan.
"Apa maksud Tuan? Saya tidak mengenal Tuan. Saya juga tidak mengenal putri Anda. Saya juga sudah menikah." sahut Marvin.
Adam terkekeh mendengar ucapan Marvin.
"Jadi kau sudah menikah? Siapa nama istrimu?" tanya Adam.
"Anda tidak perlu tahu, Tuan." jawab Marvin menutupi identitas istrinya.
Marvin tidak tahu siapa pria yang duduk dihadapannya kini. Marvin tidak akan ceroboh membocorkan identitas istrinya demi orang yang bisa saja menjadi musuhnya.
"Davina Almira." ucap Adam.
Marvin terkejut saat nama lengkap istrinya disebutkan oleh pria tak dikenalnya.
"Davina, itu nama istrimu kan?" tanya Adam menyeringai.
"Bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Marvin dengan dahi berkerut.
"Siapa pria ini? Kenapa tahu nama istriku? Sepertinya kami dalam bahaya." batin Marvin khawatir.