
"Kenapa kita langsung ke hotel? Tidakkah kita membeli pakaian ganti terlebih dahulu." kata Davina.
"Tidak perlu. Johan sudah menyiapkannya. Kita tinggal masuk ke kamar." ucap Marvin.
"Jadi kau sudah menyiapkan ini sebelumnya?" tanya Davina dengan tatapan tajam.
"Kan aku tadi sudah bilang, kalau aku mempunyai perencanaan." jawab Marvin merasa tak bersalah.
"Aku benar-benar terjebak." gerutu Davina.
Marvin hanya tersenyum melihat gadis kecil itu yang terlihat lebih imut kalau sedang kesal.
"Sudah jangan menggerutu lagi. Ayo kita istirahat." ajak Marvin memasuki lift disusul oleh Davina.
TING!
"Kita makan malam dihotel saja ya?" tawar Marvin.
"Terserah kau saja." sahut Davina malas.
Marvin terkekeh dengan tingkah istrinya yang semakin menggemaskan.
"Kau mandi duluan saja." ucap Davina.
"Kau saja. Aku masih ada sesuatu yang perlu ku urus." sahut Marvin.
"Oh baiklah." ucap Davina.
"Kenapa ekspresimu kecewa seperti itu? Kau tidak sedang berharap kita mandi bersama kan?" goda Marvin.
"Astaga! Dasar pria mesum!" teriak Davina marah.
"Hei, mesum dengan istrinya sendiri tidak masalah kan?" goda Marvin lagi dengan mengedipkan matanya.
"KAU!"
Davina menyambar pakaian ganti yang terletak didalam kantong di atas nakas. Dengan cepat ia masuk kekamar mandi dan mengunci pintunya rapat-rapat.
"Haha.. Istriku kalau marah imut sekali." kekeh Marvin setelah itu sibuk dengan ponselnya.
"Jo, tolong sampaikan pada Nenek kalau aku dan Vina sedang berbulan madu." kata Marvin.
"Baik Tuan. Tapi apakah Tuan yakin akan berhasil malam ini?" tanya Johan.
"Kau sedang meremehkanku?" ucap Marvin tak terima.
"Tidak Tuan. Hanya saja menurut penglihatanku perjuangan Tuan masih sangat panjang."sahut Johan.
"Haha kau benar juga. Sudahlah sampaikan saja pada Nenek kalau kami tidak pulang malam ini. Kau bisa kemari besok pada siang hari." titah Marvin.
"Baik Tuan. Semoga malam Tuan menyenangkan." ucap Johan setelah itu Marvin langsung mematikan panggilannya.
"Sial! Berani sekali dia mengolokku. Sepertinya aku sudah terlalu baik kepadanya selama ini." gumam Marvin kesal.
"Haih.. Kelinciku ini benar-benar sulit dijinakkan." batin Marvin.
"Tapi tenang saja, aku pasti tidak akan menyerah."
Setelah Davina dan Marvin membersihkan diri keduanya makan malam dibalkon kamar. Terdapat hidangan mewah dan juga lilin diatas meja. Bulan dan bintang serta angin pantai dimalam hari seolah menjadi saksi pendekatan hubungan kedua sejoli itu.
"Makanan disini enak sekali." puji Davina takjub.
"Kalau kau suka, aku bisa meminta kokinya untuk memasak dirumah." sahut Marvin.
"Tidak perlu. Dirumah sudah ada koki bahkan semua jenis masakan dari berbagai negara sudah dikuasainya." tolak Davina.
"Tak masalah kalau kau lebih suka makanan ini maka aku akan mengganti koki dirumah dengan koki dihotel ini." ucap Marvin lagi.
"Atau kalau kau mau kita bisa berkunjung kesini sebulan atau seminggu sekali." tambah Marvin.
"Emm.. Aku setuju dengan pilihan yang kedua. Tapi sebulan sekali itu sudah cukup." kata Davina.
"Baiklah." sahut Marvin disambut dengan senyum keduanya kemudian kembali sibuk menyantap hidangan dihadapannya.
"Apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Marvin setelah makan malam selesai.
"Em.. Tidak." jawab Davina.
"Kau tidak lagi penasaran dengan penawaran yang Anton berikan kepadaku?" tanya Marvin.
"Apa yang kau katakan? Bukankah tadi siang kau masih bersemangat sekali untuk mengetahui permasalahanku? Tapi kenapa kau sekarang kembali memberi jarak padaku? Perubahanmu begitu cepat." kata Marvin sedikit kecewa.
Davina terdiam sejenak kemudian menghela nafas.
"Maaf bukan begitu maksudku." ucap Davina bersalah.
"Lalu? Apa kau sedang mempermainkan perasaanku?" tanya Marvin dengan memalingkan wajahnya.
"Kenapa sebelumnya aku tidak menyadari kalau pria ini ternyata sensitif sekali?" tanya Davina dalam hati.
"Huh.. Aku minta maaf. Aku tidak ada niat mempermainkan perasaanmu. Hanya saja aku merasa mungkin sifatku tadi sore sudah terlalu berlebihan padamu." kata Davina mencoba membujuk suaminya.
"Itu hanya alasanmu saja. Aku bisa terima kalau kau belum mau menerimaku tapi tolong jangan menarik ulur hatiku." ucap Marvin.
"Astaga apakah dia benar-benar marah?" batin Davina.
"Baiklah. Kali ini maukah kau berbagi cerita padaku? Apa yang membuatmu sangat kesal tadi?" tanya Davina tak ingin larut dalam pertengkaran karena hal sepele.
"Jadi kau sekarang mau mendengarkan ceritaku?" tanya Marvin memastikan.
"Iya tentu saja." sahut Davina.
"Kita bicara didalam saja. Anginnya semakin kencang tidak baik untuk tubuhmu." ajak Marvin.
"Oke."
Keduanya duduk bersebelahan disofa yang ada di kamar hotel.
"Sebenarnya tawaran Anton tidak merugikanku. Hanya saja aku tidak ingin menjadi batu loncatan untuknya." ucap Marvin mengawali ceritanya.
"Maksudmu?" tanya Davina tak mengerti.
"Iya, dia menawariku kerjasama dan memberikan keuntungan yang lumayan. Tapi aku harus menjadi sekutunya melawan orang yang tidak bisa sembarangan orang singgung." kata Marvin menjelaskan.
"Jadi dia mengajakmu bekerjasama untuk melawan orang lain?" tanya Davina yang dijawab anggukan oleh Marvin.
"Memang siapa orang yang dimaksud dan kenapa kau tidak bisa melawannya?" tanya Davina penasaran.
"Carlos. Anton memintaku untuk bekerjasama menghadapi Tuan Carlos." jawab Marvin.
UHUK!
Davina terbatuk saat mendengar lawan bisnis yang dimaksud oleh Marvin.
"Kau baik-baik saja?" tanya Marvin panik.
Marvin bergegas mengambil segelas air mineral dan menyerahkannya kepada Davina.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Marvin khawatir.
Davina dengan cepat meneguk air kemudian mengatur nafasnya. Davina berusaha untuk kembali tenang agar Marvin tidak curiga. Entah bagaimana reaksi Marvin kalau tahu bahwa dirinya adalah keturunan Carlos, orang yang ditakuti oleh suaminya sendiri.
"Memangnya kerjasama apa itu? Bukankah hanya masalah bisnis?" tanya Davina lagi.
"Entahlah aku juga tidak begitu paham permasalahan mereka. Aku tidak ingin ikut campur karena sebagai pebisnis aku tidak mau rugi. Jadi lebih baik aku menghindari permasalahan yang tidak bermanfaat bagiku." jawab Marvin.
"Hem.. Kau benar juga. Tapi kau harus tetap waspada padanya terlebih kalau orang yang ingin mencelakaimu benar adalah dia." kata Davina mengingatkan.
"Apa kau sedang khawatir tentang keselamatanku?" tanya Marvin.
"Tidak perlu bertanya lagi. Tentu saja aku khawatir padamu." jawab Davina jengah.
"Oh.. Kau benar-benar sudah peduli padaku." goda Marvin.
Davina hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Tenang saja suamimu ini bukan orang yang mudah mempercayai orang lain. Aku sudah meminta Thomas untuk menyelidikinya." kata Marvin.
"Aku tahu. Tapi aku hanya ingin mengingatkan agar kau tidak lengah. Terlebih tadi kau sudah menolaknya, aku khawatir dia akan melakukan siasat kepadamu." ucap Davina memperingatkan.
"Baik istriku. Aku akan berhati-hati dan juga melindungimu." sahut Marvin.
"Apa Ayah mengenal Anton? Aku harus menanyakannya pada Ayah nanti." batin Davina.
-BERSAMBUNG