Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 26 Pertimbangan Orangtua


"Sial sekali. Niat hati ingin mencari udara segar malah bertemu kucing garong." umpat Davina kesal.


"Nona baik-baik saja kan?" tanya Mely.


"Ya aku baik-baik saja." jawab Davina.


Setelah mengantar pria yang berniat buruk kepadanya kerumah sakit, Davina dan Mely hendak kembali melanjutkan pergi ke tempat tujuannya.


"Kita cari taxi saja." ajak Davina yang disetujui oleh Mely.


"Baik Nona." sahut Mely.


Dari kejauhan Mely melihat sebuah mobil taxi sedang melaju dan ia langsung dengan sigap melambaikan tangan. Taxi itu berhenti tepat dihadapan keduanya. Tanpa pikir panjang Davina dan Mely langsung masuk kedalam mobil. Beruntung kali ini sang sopir sudah separuh baya sepertinya tidak mungkin memiliki niat buruk kepada mereka.


"Ke hutan kota, Pak." ucap Mely memberitahu tujuannya.


"Oke." sahut bapak sopir lalu melajukan mobilnya.


Butuh waktu 20 menit, keduanya sampai dihutan kota. Baru saja keluar dari mobil, Davina sudah disambut dengan angin sejuk yang menerpa dirinya.


"Ah segar sekali." gumam Davina lega.


Setelah Mely membayar ongkos taxi keduanya berjalan untuk menikmati suasana hijau dan angin sejuk dihutan kota itu. Terlihat banyak pengunjung yang memadati tempat yang terletak ditengah kota A. Mulai dari usia tua sampai muda-mudi menikmati suasana segar di pagi hari.


"Nona berjalanlah duluan, aku beli air minum." pamit Mely yang diangguki Davina.


"Lumayan untuk mengembalikan moodku yang tidak tentu akhir-akhir ini." gumam Davina.


Davina berjalan santai sembari menikmati pepohonan hijau dan angin sepoi-sepoi yang menerpa dirinya.


Mata Davina tertuju pada kolam yang tak jauh berada dihadapannya. Davina bergegas ke pinggir kolam, matanya berbinar saat mendapati ikan hias yang ada dikolam itu. Davina menoleh kesana kemari, benar saja ada penjual makanan ikan yang tidak jauh darinya. Davina membeli satu kantong pakan ikan dan melemparkannya ke kolam. Terlihat para ikan itu berenang dengan semangat untuk menyantap makanan yang dilemparkan Davina. Davina tersenyum puas, hal sederhana bisa mengembalikan suasana hatinya.


Drt Drt


Ponsel Davina bergetar, dengan cepat Davina mengangkatnya.


"Selamat pagi Ayah." sapa Davina.


"Pagi sayang. Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Adam.


"Baik Ayah. Ada apa Ayah menelponku pagi-pagi?" tanya Davina.


"Kau ini memangnya salah kalau Ayah rindu pada putriku sendiri." ucap Adam membuat Davina terkekeh.


"Aku bercanda Ayah. Vina juga rindu Ayah dan Ibu." kata Davina jujur.


"Kalau begitu bolehkah Ayah dan Ibu berkunjung ke kotamu?" tanya Adam.


"Ehm.. Memangnya Ayah tidak sibuk?" tanya Davina.


"Sesibuk-sibuknya Ayah juga akan meluangkan waktu untuk berjumpa denganmu, Sayang." jawab Adam membuat Davina terharu.


"Baiklah. Tapi Ayah dan Ibu tidak boleh mengekspos diri kalian. Aku tidak ingin identitasku terbongkar." pesan Davina serius.


"Oke Ayah setuju." sahut Adam.


"Ayah, ada yang ingin Vina tanyakan." ucap Davina lirih.


"Katakan saja, Nak." kata Adam.


"Ehm.. Kalau Vina menikah muda apakah Ayah dan Ibu keberatan?" tanya Davina hati-hati.


Sera yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan suami dan anaknya tiba-tiba dibuat terkejut dengan pertanyaan Davina.


"Apakah kau sudah berpikir mau menikah, Nak?" tanya Sera serius.


"Belum sih, Bu. Vina hanya ingin tahu bagaimana pendapat Ayah dan Ibu." jawab Davina kikuk.


"Apa ada pria yang mendekatimu dan mengajakmu menikah?" tanya Sera lagi.


"Em.. Itu..." jawab Davina terpotong, tidak melanjutkan perkataannya.


"Itu apa, Nak? Bicaralah. Ayah dan Ibu akan mendengarkan." sahut Sera pengertian.


"Ah tidak. Vina akan cerita kalau Ayah dan Ibu sudah sampai disini saja." ucap Davina.


"Kau ini, suka sekali membuat kami penasaran." sahut Sera tak terima.


"Yasudah. Mungkin besok Ayah dan Ibu akan sampai dikota A. Nanti Ayah akan mengirimkan lokasi penginapan dan bertemu disana." kata Adam yang tidak ingin memaksa putrinya.


"Baik Ayah. See you Yah, Bu." pamit Davina.


"Oke Sayang." balas Adam dan Sera lalu memutuskan sambungan telponnya.


"Ayah dengar sendiri kan? Apakah Vina berpikir akan menikah dengan Marvin?" tanya Sera penasaran.


"Aku tidak bisa memastikan. Kita tunggu besok sampai Vina menceritakannya sendiri." jawab Adam yang sebenarnya juga sangat penasaran.


"Tapi kalau pria yang dimaksud itu benar-benar Marvin, apa yang akan Ayah lakukan? Apa Ayah akan menyetujuinya?" tanya Sera memastikan.


Adam menghela nafas sesaat kemudian membelai lembut kepala istrinya.


"Kau tenang saja. Aku sendiri yang akan memastikan kalau Marvin adalah pria yang pantas atau tidak untuk putri semata wayang kita." ucap Adam penuh tekad.


"Baiklah. Aku percaya padamu." sahut Sera.


"Ayo bersiap dan cari penerbangan pagi hari agar kita bisa segera bertemu Vina." ajak Adam bersemangat.


"Baiklah." sahut Sera mengikuti suaminya.


*


*


*


"Dimana rumah gadis itu ya? Aku tidak bisa menemukannya." gumam Julia.


"Anak buah yang sudah kuperintahkan juga tidak bisa melacak keberadaannya." batin Julia.


"Astaga! Kenapa aku tidak mencari informasi dikampus, mungkin saja gadis itu kuliah disana." ucap Julia.


"Johan!" seru Julia.


"Johan! Cepat kemari!" panggil Julia lagi.


Johan yang mendengar namanya dipanggil segera mencari sumber suara yang berasal dari ruang keluarga. Ternyata nyonya besar sudah menunggunya dengan sorotan mata tajam.


"Kenapa kau lamban sekali? Apa kau tidak mendengarku?" tanya Julia bernada tinggi.


"Maaf Nyonya, saya salah." jawab Johan yang tidak berani mengangkat kepalanya.


"Sudahlah. Antarkan aku ke kampus sekarang." titah Julia tegas.


"Baik Nyonya." sahut Johan patuh.


"Nenek mau mengajak Johan kemana?" tanya Marvin yang berpapasan diruang tamu.


"Bukan urusanmu." jawab Julia ketus.


"Tapi Nek, Johan harus ke perusahaan bersamaku. Pagi ini ada meeting dengan klien dari negara C." cegah Marvin.


"Memangnya kau tidak bisa mengatasinya sendiri? Kau yang menjadi bos harusnya bisa menyelesaikannya. Bukan malah semua pekerjaan kau serahkan pada Johan. Sebenarnya siapa yang menjadi penerus keluarga ini?" gerutu Julia memarahi cucunya.


"Nek.. Bukan begitu maksudku." elak Marvin.


"Sudah, Nenek tidak mau tahu. Pagi ini Johan harus bersamaku. Urus saja pekerjaanmu sendiri kalau kau masih ingin nama Harris terpasang dibelakang namamu." ancam Julia membuat Marvin tak berkutik.


"Sebenarnya aku ini cucu Nenek bukan sih? Nenek tega sekali." gerutu Marvin.


"Terserah kau saja. Ayo Johan kita berangkat." ucap Julia tak peduli.


"Baik Nyonya. Maaf Tuan muda, saya berangkat dulu." pamit Johan yang tidak punya pilihan selain harus menurut kepada Julia, pemilik kuasa utama di keluarga Harris.


Marvin menghembuskan nafas kasar menatap kepergian nenek dan juga asisten pribadinya.


"Sebenarnya ada masalah penting apa sampai Nenek harus berkunjung ke kampus sendiri?" tanya Marvin dalam hati.


"Sudahlah. Aku harus menangani klien sendiri. Semoga kerjasama kali ini tidak mengecewakan."


-BERSAMBUNG