
Sebuah mobil hitam berhenti dipinggir jalan dekat taman. Hati Marvin meradang saat melihat Davina bersama dengan pria lain. Marvin bisa melihat Davina tertawa lepas, tawa yang tidak pernah istrinya tunjukkan dihadapannya.
"Apakah Tuan tidak ingin menemui Nona?" tanya Johan.
"Tidak perlu. Kita tunggu saja disini." jawab Marvin ketus.
Johan tahu kalau Tuannya itu sedang diliputi amarah. Johan hanya berharap tidak akan terjadi pertengkaran hebat yang akan membuat hubungan Marvin dan Davina kembali merenggang.
"Siapa pria itu? Berani sekali menemui istriku." tanya Marvin kesal.
"Kenapa Tuan tidak turun saja dan menanyainya langsung?" tanya Johan.
"Diam kau!" kata Marvin.
Johan hanya menghela nafas menghadapi sikap aneh Marvin. Sedari tadi pria itu hanya terus mengamati interaksi Davina dengan seorang pria dan mengumpat didalam mobil. Padahal kalau Marvin menemui keduanya akan lebih jelas sehingga tidak membuat pria itu marah-marah sendiri seperti yang Marvin lakukan saat ini.
"Sepertinya Nona ingin mencari taxi." ucap Johan saat melihat Davina berdiri di tepi jalan.
"Cepat berhenti didepannya." titah Marvin yang langsung dipatuhi oleh Johan.
Davina mengernyitkan keningnya saat melihat mobil yang tak asing baginya berhenti tepat dihadapannya.
"Masuklah!" ucap Marvin dengan membuka setengah jendela mobil.
Davina menurut dan duduk disebelah Marvin. Davina bisa merasakan hawa dingin saat memasuki mobil membuatnya merinding. Davina mencuri pandang kepada Marvin namun pria itu sama sekali tidak menatapnya, masih tetap fokus dengan layar laptop dipangkuannya. Davina bisa tahu kalau suaminya itu sedang memedam amarah namun ia tidak tahu apa penyebabnya. Davina ganti menatap Johan berharap asisten suaminya memberikan petunjuk namun nihil. Johan hanya fokus dengan kemudinya tanpa menoleh ke belakang.
"Maaf Nona, kali ini aku tidak bisa membantumu." batin Johan bersalah.
"Kau baik-baik saja?" tanya Davina memberanikan diri.
"Ya." jawab Marvin singkat.
"Eh? Tumben sekali. Biasanya dia akan bersandiwara jika aku bertanya kepadanya." batin Davina heran.
"Oh.." sahut Davina.
BRAK!
Marvin menutup laptopnya dengan keras membuat Davina dan Johan tersentak.
"Gawat! Tuan benar-benar marah!" batin Johan ketakutan.
"Ada apa denganmu?" tanya Davina kepada Marvin yang sedari tadi hanya diam.
Davina menghela nafas saat tak mendapat jawaban apapun dari Marvin.
"Jo berhenti disini!" pinta Davina seketika Johan menginjak rem mobil.
"Kau mau kemana?" tanya Marvin saat Davina hendak membuka pintu mobil.
"Aku mau turun. Lebih baik aku jalan kaki daripada didalam mobil bersama batu!" jawab Davina.
Dengan cepat Marvin menarik tangan Davina sehingga kini jarak keduanya sangat dekat. Dengan cepat Johan menutup tirai dan keluar dari mobil. Johan tidak ingin mengganggu waktu kedua majikannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Davina saat wajah Marvin begitu dekat dengannya.
Marvin tidak menjawab, justru menyerang Davina dengan mengecup bibir ranum istrinya itu. Davina mencoba memberontak dengan memukul-mukul dada Marvin sangat kencang tapi pria itu tak bergeming justru ciumannya semakin terasa panas.
Davina mendorong tubuh Marvin sehingga pagutan keduanya terlepas. Davina mengusap bibirnya dengan kasar yang terasa perih karena aksi brutal Marvin.
Melihat reaksi Davina, Marvin hanya tersenyum tipis.
"Sebegitukah kau tidak ingin aku sentuh?" tanya Marvin membuat Davina memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Kau gila ya?" tanya Davina kesal.
"Ya aku memang gila. Aku gila karenamu." jawab Marvin yang tak bisa mengontrol emosinya.
"Kau lupa perjanjian kita? Tidak ada sentuhan fisik sebelum kita saling jatuh cinta." ucap Davina mengingatkan.
"Aku tahu! Tapi aku tidak bisa menahannya saat kau tertawa dengan pria lain!" kata Marvin membuat Davina terkejut.
"Aku melihatmu sedang menemui pria ditaman tadi. Dan aku bisa melihat tawamu yang sangat lepas dihadapan pria itu. Kenapa? Kenapa kau tidak pernah menunjukkan senyummu kepadaku?" tanya Marvin membuat Davina tersadar.
"Jadi daritadi kau berada ditaman? Kenapa kau tidak turun dan menemuiku?" tanya Davina.
"Aku tidak ingin mengganggu kebahagianmu." jawab Marvin lirih.
Kini Davina tahu bahwa suaminya sudah salah paham. Ingin rasanya Davina tertawa mengetahui tingkah lucu seorang Marvin Harris. Cemburu buta benar-benar bisa membuat orang bodoh.
"Jadi kau cemburu?" tanya Davina dengan menghela nafas.
Marvin menatap lekat wajah cantik istrinya lalu menganggukkan kepalanya.
"Apa kau tidak tahu siapa pria itu?" tanya Davina lagi.
Marvin mengernyitkan keningnya mencoba mengingat siapa pria yang tadi bertemu dengan Davina namun Marvin rasa tidak mengenalnya. Dengan cepat Marvin menggelengkan kepalanya.
"Haih.. Kau tahu bodyguard yang selalu bersamaku?" tanya Davina yang kali ini mendapat anggukkan Marvin.
"Dia Orkan. Dan pria yang kau cemburui itu adalah dia." jawab Davina membuat Marvin terkejut.
"Tidak mungkin!" sahut Marvin tak percaya.
"Apanya yang tidak mungkin? Ada hal penting yang ingin kubicarakan padanya jadi aku meminta dia berpenampilan seperti pemuda biasa agar tidak menarik perhatian orang lain." jawab Davina jujur.
Marvin menyesali perbuatan bodohnya tadi. Bisa-bisanya dia terbakar api cemburu dan tidak mengenali bawahan istrinya.
"Jadi aku tadi cemburu dengan bodyguardmu?" tanya Marvin tak percaya dengan kelakuannya sendiri.
Davina menganggukkan kepalanya dengan terkekeh.
"Dasar bodoh sekali aku ini!" gerutu Marvin memaki dirinya sendiri.
"Tapi tunggu dulu, kenapa kau meminta Orkan menemuimu ditaman? Bukankah dia seharusnya selalu berada didekatmu?" tanya Marvin membuat Davina terdiam.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya Marvin penuh selidik.
"Ah aku.. Tidak.. Itu.." jawab Davina gugup.
Marvin bisa melihat dengan jelas bahwa istrinya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Katakan padaku." pinta Marvin tegas.
"Apakah harus?" tanya Davina lirih.
"Tentu saja. Kita adalah suami istri, aku tidak ingin kau bermain rahasia denganku." jawab Marvin.
"Kalau kau tidak mau jujur, aku akan menghukummu." ucap Marvin yang melihat Davina hanya diam saja.
"Hukuman? Apa itu?" tanya Davina penasaran.
"Aku akan menyerangmu lagi. Tapi kali ini aku pastikan akan melakukannya dengan lembut." jawab Marvin membuat kedua pipi Davina memerah.
Kejadian singkat tadi begitu membekas diingatan Davina. Walaupun Marvin diselimuti amarah namun bisa merasakan kelembutan saat bibirnya beradu dengan suaminya.
"Hentikan! Ba-baik aku akan jujur padamu. Tapi kita pulang dulu ya? Aku akan menceritakannya dikamar. Aku sangat lelah." ucap Davina.
"Baiklah. Tapi jangan coba-coba untuk mengelabuiku ya, kalau kau berani maka aku tidak akan segan-segan untuk membuatmu tak berdaya malam ini." ancam Marvin dengan tatapan menggoda.
Davina langsung bisa menangkap maksud perkataan suaminya. Davina adalah gadis yang sudah cukup umur maka kode-kode seperti yang dilakukan Marvin sudah bisa ia pahami secara langsung.
"Cepat ayo pulang!" ajak Davina tidak ingin terus meladeni godaan suaminya yang bisa saja membuatnya khilaf.
Davina langsung bergeser beberapa senti menjauhi Marvin dan mengalihkan pandangannya kearah kaca mobil.
Marvin terkekeh dengan reaksi menggemaskan istrinya.
"Pemanasan baru dimulai, istriku." gumam Marvin menyeringai.
-BERSAMBUNG