Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 72 Menjelajah Dunia


"Kenapa kau meninggalkanku?" tanya Amel tak terima menyusul Nathan yang sudah masuk ke mobil lebih dulu.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Amel kesal karena Nathan malah menyalakan mobil dan tak menjawab pertanyaannya.


"Kau masih ingin melanjutkan keributan?" tanya Nathan dingin.


"A-aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku ingin kau menjawab setiap pertanyaanku." jawab Amel gugup mengetahui suaminya emosi.


"Untuk apa kau bertanya padaku kalau jawabannya bisa kau simpulkan sendiri. Percuma jika aku berkata jujur, kau tetap saja tak pernah percaya kepadaku." ucap Nathan fokus tanpa menoleh ke arah Amel sedikitpun.


"Apa yang telah kulakukan? Kenapa aku bisa bersikap konyol seperti tadi? Lagipula Davina juga kuliah disini. Aku memang sudah berlebihan." gumam Amel menyadari kesalahannya.


"Sayang, maaf. Aku sudah bersikap impulsif." ucap Amel bersalah.


"Maaf, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Bahkan sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Aku hanya khawatir jika bertemu dengannya, kau akan mengingat kenangan bersamanya. Terlebih...." Amel menjeda ucapannya membuat Nathan melirik istrinya itu.


"Terlebih aku telah merebutmu darinya. Andai saja aku tidak mengandung saat itu, pasti sekarang hubunganmu dengannya masih baik-baik saja. Mungkin juga kau akan menikah dengannya." lanjut Amel seketika Nathan menepikan mobilnya.


"Apa yang kau pikirkan? Tidakkah cukup membuktikan bagaimana perasaanku padamu dengan menikahimu?" tanya Nathan tak suka karena istrinya selalu mengungkit masa lalunya.


"Bukan begitu. Sekarang bayi kita yang menjadi alasan utamamu untuk menikahiku sudah tidak ada. Jadi bukankah tidak mungkin ketika kau bertemu dengannya akan kembali mengejarnya?" tanya Amel.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Aku merasa kita sudah menjalani hari-hari bersama bukan dalam sehari dua hari, tapi entah kenapa kau selalu saja meragukanku." kata Nathan lelah.


"Apakah pernikahan ini hanyalah sebuah status bagimu? Kau pikir hubungan kita ini sebuah candaan?" tanya Nathan membuat Amel terperanjat.


"Sayang, maafkan aku." ucap Amel bersalah.


"Jangan marah padaku, oke? Aku berjanji tidak akan mengulangi kekonyolanku lagi." kata Amel yang sudah menangis sesenggukan.


Nathan membuang nafas kasar lalu mendekap Amel kedalam pelukannya.


"Maaf, aku meninggalkanmu tadi karena tidak ingin kau semakin menggila." ucap Nathan tak tega.


"Maaf, aku memang sangat bodoh." sahut Amel.


"Sudah. Aku mengerti perasaanmu." kata Nathan lembut.


"Terimakasih. Kau benar-benar suami yang sangat baik. Aku mencintaimu." ucap Amel sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku masih penasaran siapa pria yang bersama Davina tadi? Dari penampilannya bisa dilihat pria itu bukan orang sembarangan. Apakah mungkin kekasih barunya Vina?" tanya Nathan dalam hati.


...****************...


Karena selera makannya sudah rusak, Davina mengajak Marvin pulang kerumah.


"Kau benar-benar tidak ada pekerjaan lagi?" tanya Davina memastikan.


"Aku ini pemilik perusahaan, kau tak perlu khawatir." jawab Marvin santai.


"Hem.. Baiklah, Tuan Muda Harris." sindir Davina membuat Marvin terkekeh.


"Kau tidak ingin mampir ke suatu tempat?" tanya Marvin.


"Memang tempat mana lagi yang menarik untuk dikunjungi dikota ini?" kata Davina kembali bertanya.


"Aku akan menunjukkan kepadamu. Aku yakin setelah ini suasana hatimu pasti akan membaik." jawab Marvin percaya diri.


"Baiklah. Aku ikut denganmu." sahut Davina.


Marvin mengemudikan mobilnya, butuh 20 menit perjalanan untuk sampai dilokasi yang ia maksud.


Davina bisa melihat pemandangan hijau dihadapannya.


"Ternyata masih ada tempat seperti ini ditengah kota?" tanya Davina tak percaya.


"Jika kau suka, aku akan membuat seluruh kota menjadi taman hijau seperti ini." ucap Marvin.


"Jadi tempat ini milikmu?" tanya Davina.


"Salah satu aset keluarga Harris." jawab Marvin santai.


"Ternyata suamiku kaya raya, sepertinya aku sangat beruntung." puji Davina.


"Tetap saja tidak sebanding dengan keluargamu." sahut Marvin mengundang tawa kecil Davina.


"Itu adalah milik ayahku, bukan milikku. Aku hanyalah gadis biasa jika tanpa pengaruh orangtuaku." ucap Davina.


"Aku bangga padamu, istriku." puji Marvin tersenyum tipis kemudian mengacak rambut Davina asal.


"Ah, Mas! Apa yang kau lakukan? Rambutku jadi berantakan." gerutu Davina kesal.


"Kau terlihat sangat menggemaskan kalau mengoceh seperti itu." goda Marvin.


"Berhenti menggodaku. Bukankah kau berkata ingin memperbaiki suasana hatiku?" tanya Davina mengingatkan.


"Hem.. Tentu saja. Kemarilah, aku yakin kau pasti puas hari ini." ajak Marvin memberikan uluran tangannya.


"Memangnya harus jalan bergandengan?" tanya Davina heran tak langsung menerima tangan Marvin.


"Dasar pemaksa." cibir Davina.


"Tapi kau suka kan?" goda Marvin lagi.


BUG!


Sebuah tinju melayang diperut Marvin.


"Istriku kasar sekali." lirih Marvin.


"Berhenti menggoda kalau kau ingin aku bersikap lembut padamu." ucap Davina.


"Aih.. Istriku ini benar-benar unik." gumam Marvin.


Marvin dan Davina berjalan bergandengan tangga hingga sampai didepan kandang kuda. Davina bisa melihat beberapa kuda yang dipelihara dengan baik ditempat itu.


"Selamat siang Tuan Muda." sambut seorang pria penjaga.


"Siang. Ini istriku, panggil dia Nona Muda." titah Marvin.


"Istri? Jadi Tuan benar-benar sudah menikah?" tanya Frans dalam hati, seseorang yang bertanggung jawab mengelola tempat milik Harris.


"Selamat siang, Nona Muda." sapa Frans yang dibalas anggukan kepala Davina.


"Dimana Hero?" tanya Marvin.


"Dia baru saja selesai mandi. Apakah Tuan ingin bermain dengannya?" tanya Frans.


"Bawa dia kemari." perintah Marvin.


"Baik Tuan." sahut Frans bergegas melakukan perintah tuannya.


"Siapa itu Hero? Apakah dia kerabatmu?" tanya Davina penasaran.


"Kau akan tahu dan melihatnya sendiri nanti." jawab Marvin.


Tak berselang lama, Frans sudah datang dengan menuntun seekor kuda putih yang sangat menawan.


"Apakah dia yang kau sebut Hero?" tanya Davina tak percaya.


"Iya, dia adalah kuda kesayanganku." jawab Marvin bergegas menghampiri hewan itu dan mengelusnya.


"Kemarilah." ucap Marvin.


"Apakah tidak apa-apa? Aku takut dia merasa terganggu dengan kehadiran orang asing." kata Davina takut.


"Kau bukan orang asing bagiku. Kemarilah, aku sudah memberitahunya. Kau bisa berkenalan dengannya." ucap Marvin lagi.


"Baiklah." sahut Davina kemudian mendekati kuda putih itu.


"Hai, Hero. Senang bertemu denganmu." sapa Davina yang mendapatkan sambutan suara kuda itu.


"Sepertinya dia menyukaimu." kata Marvin senang.


"Benarkah?" tanya Davina tak percaya.


"Iya Nona. Tidak sembarang orang yang bisa mendekati Hero kecuali Tuan Muda." jawab Frans yang langsung mendapat tatapan tajam dari Marvin.


"Tuan mengerikan sekali. Sepertinya aku tidak dibutuhkan disini." batin Frans.


"Permisi Tuan, Nona ada beberapa hal yang perlu saya kerjakan." pamit Frans berlalu begitu saja.


"Kenapa dia seperti sedang ketakutan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Davina heran.


"Tidak usah pedulikan dia. Kemarilah, kau pasti ingin menaikinya bukan?" tawar Marvin.


"Iya sih, tapi aku takut dia menolakku." ucap Davina ragu-ragu.


"Aku akan menemanimu. Naiklah." ajak Marvin yang sudah duduk dipunggung kuda lebih dulu.


"Memangnya dia kuat menahan beban dua orang?" tanya Davina tak tega.


"Kau tenang saja. Kudaku ini sangat tangguh. Ayo." ajak Marvin mengulurkan tangannya dan menarik Davina untuk duduk didepannya.


"Memang harus dengan posisi seperti ini? Lagi-lagi kau mengambil kesempatan dariku." protes Davina membuat Marvin terkekeh.


"Bukankah hal yang wajar jika dilakukan oleh suami istri? Berdekatan denganmu memang itulah tujuanku." ucap Marvin membuat Davina tersipu.


"Kau benar-benar menyebalkan." umpat Davina.


"Ahahaha.. Berpeganglah yang erat, aku akan mengajakmu menjelajahi dunia." ucap Marvin yang mulai menarik tali kuda.


"Dasar lebay." gumam Davina.


-BERSAMBUNG