Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 15 Kesempatan


"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Davina ketika melihat dokter keluar dari ruangan.


"Anda siapanya pasien?" tanya dokter.


"Saya temannya, Dok." jawab Davina sungkan.


"Keduanya tidak dalam kondisi berbahaya. Hanya saja salah satu pasien wajahnya perlu melakukan perawatan insentif karena terkena serpihan kaca." kata dokter pria paruh baya menjelaskan.


"Apakah Nona benar-benar mengenalnya?" tanya dokter penuh selidik.


"Kami hanya bertemu beberapa kali, tidak terlalu dekat. Tapi kebetulan saya ada di tempat kejadian jadi menyusulnya kemari." jawab Davina jujur.


"Baiklah. Saya sudah menyiapkan kamar inap untuk keduanya. Mungkin sekitar satu jam lagi mereka baru sadar." ucap dokter menyadari identitas pasien kemudian meninggalkan Davina.


Davina tersenyum lalu menatap ruangan yang masih tertutup. Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka, dua ranjang keluar bersamaan dengan para perawat. Mereka menuju ruang rawat inap VIP disusul Davina dan juga Mely.


Mely tidak berani bertanya hanya mengikuti kemana perginya Davina. Meskipun sudah muncul banyak pertanyaan dibenaknya. Namun Mely memilih untuk memendamnya sendiri.


"Nona!" panggil Orkan.


Davina menghentikan langkahnya kemudian Orkan berbisik kepadanya. Davina hanya menganggukkan kepalanya kemudian Orkan pergi begitu saja. Mely yang melihat interaksi keduanya hanya mengerutkan kening. Mely semakin dibuat penasaran siapa kedua orang yang ada diranjang itu.


"Nona bisa membesuknya 30 menit lagi. Kami sudah memberikan fasilitas terbaik untuk keduanya sesuai dengan permintaan Nona." ucap salah satu perawat wanita menjelaskan.


"Baik. Terimakasih." sahut Davina kemudian para perawat itu undur diri.


"Apa kau tidak penasaran siapa mereka, Mel?" tanya Davina melihat wajah Mely yang kebingungan.


"Em.. Itu aku memang penasaran. Tapi kalau Nona tidak ingin memberitahuku aku tidak keberatan." jawab Mely sopan.


Davina tersenyum tipis kemudian menghela nafas.


"Mereka adalah tuan muda Harris dan pengawal pribadinya." ucap Davina membuat Mely membulatkan kedua bola matanya.


"Nona serius?" tanya Mely tidak percaya.


Davina hanya melirik Mely sekilas kemudian memberikan senyuman tipis.


"Bagaimana Nona bisa mengenalnya? Setahuku tidak banyak orang yang mengetahui wajah tuan muda Harris." tanya Mely penasaran.


"Aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Aku sudah menyeledikinya. Dan Marvin Harris adalah pria yang menguntitku beberapa hari ini." jawab Davina membuat Mely semakin tercengang.


"Jadi tuan muda Harris yang meneror Nona belakangan ini?" tanya Mely tidak menyangka dengan kebenaran yang telah ia dengar.


"Bukan meneror. Lebih tepatnya dia sedang berusaha mendekatiku. Hanya saja aku selalu menghindarinya." jawab Davina menjelaskan.


"Wow! Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Nona mudaku sedang dikejar oleh tuan muda Harris. Pria yang sangat terkenal dengan ketampanannya dan menjadi idola para wanita dinegeri ini." ucap Mely yang sudah muncul aura gosipnya.


Davina hanya memutar bola matanya malas menanggapi pembicaraan Mely.


"Tapi Nona tadi terlihat sangat khawatir dengannya? Apakah Nona benar-benar akan terus menghindarinya?" tanya Mely membuat Davina memberikan tatapan tajam kepadanya.


"Maaf Nona." ucap Mely cepat sebelum mengundang kemarahan Davina.


"Aku melakukannya hanya karena rasa kemanusiaanku." batin Davina.


Entah kenapa saat melihat wajah Marvin tiba-tiba rasa aneh menyelimuti hatinya. Ada perasaan tidak tega dan ingin segera menolongnya.


"Harusnya saat ini para pengawal Harris sudah berada disini kan, Nona?" tanya Mely mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Orkan sudah menemui mereka." jawab Davina disambut anggukan kepala Mely.


30 menit berlalu, Davina mencoba masuk ke ruangan untuk melihat kondisi Marvin dan pengawalnya. Ada rasa ragu yang menghinggapi hati Davina. Tiba-tiba Mely menepuk pelan pundak Davina dan memberikan senyuman kepadanya. Davina membalas senyuman lalu mengatur nafasnya barulah membuka pintu ruangan dan memasukinya.


Davina mengambil kursi kemudian meletakkannya disamping ranjang dimana Marvin berbaring. Davina menatap wajah Marvin yang sudah dibalut perban.


"Meskipun sudah tertutup seperti ini tetap saja tidak mengurangi ketampananmu." batin Davina menyadari baru kali ini dirinya memperhatikan wajah Marvin.


Sebelumnya Davina hanya melarikan diri ketika bertemu dengan Marvin.


"Sudah puas memandangku?" tanya Marvin membuat Davina terhenyak.


"Kau sudah sadar?" tanya Davina dingin.


"Kau yang menolongku?" tanya Marvin dengan suara baritonnya.


"Terimakasih. Aku akan membalas kebaikanmu kalau aku sudah keluar dari rumah sakit." ucap Marvin yang melembutkan suaranya.


"Dokter bilang kondisimu dan juga pengawalmu itu tidak parah. Hanya kau perlu waktu pemulihan untuk wajahmu yang terkena serpihan kaca." kata Davina menjelaskan.


"Oh iya kau harus meminta anak buahmu untuk menyelidiki kasus ini. Tidak mungkin kau tidak memeriksa mobilmu secara rutin kan?" saran Davina berwajah serius.


"Perkataanmu ini seperti seseorang yang sedang mengawatirkan kekasihnya." ucap Marvin menggoda.


"Jangan berlebihan. Melihat kondisimu sepertinya aku harus segera pergi." kata Davina berniat keluar dari ruangan namun tangannya ditahan dengan cepat oleh Marvin.


"Tunggu! Bolehkah aku berkenalan denganmu?" tanya Marvin.


"Bukankah kau sudah mengetahui namaku?" tanya Davina membuat Marvin terkekeh.


"Itu berbeda. Aku ingin langsung berkenalan denganmu." jawab Marvin yang masih tidak mengundurkan niatnya untuk mengenal Davina.


Davina hanya menatap Marvin tanpa ekspresi.


Marvin mengulurkan tangannya cukup lama barulah Davina menjabatnya.


"Aku Marvin." ucap Marvin yang masih terbaring.


"Davina." balas Davina.


"Bolehkah aku meminta kontakmu? Aku menebak kau pasti sudah pindah kos kan?" tanya Marvin.


"Dimana ponselmu?" tanya Davina segera melepaskan tangannya.


"Sebelum kejadian ponselku ada dikantongku. Tapi entah dimana sekarang aku tidak tahu." jawab Marvin mencoba mengingatnya.


Davina melirik ke seisi ruangan, lalu matanya tertuju pada dua ponsel yang terletak di nakas samping ranjang Marvin.


"Ponselmu yang mana?" tanya Davina sembari menunjukkan dua buah ponsel kepada Marvin.


"Yang itu." tunjuk Marvin pada ponsel berwarna hitam yang berada ditangan kanan Davina.


Davina meletakkan ponsel disebelah kirinya kemudian menghampiri Marvin dengan ponsel ditangan kanannya.


"Aku sudah menyimpan nomorku diponselmu." ucap Davina lalu menyerahkan ponsel kepada Marvin.


Marvin menerima ponsel itu lalu tersenyum senang.


"Terimakasih." kata Marvin bersemangat.


"Mungkin keluargamu akan segera datang menjengukmu. Aku pergi dulu." pamit Davina.


"Sekali lagi terimakasih." ucap Marvin dibalas anggukan kepala Davina.


Davina meninggalkan Marvin dan menutup pintu ruangan dengan hati-hati.


"Kapan kau akan berhenti berpura-pura belum sadar?" tanya Marvin yang menyadari kalau Johan sudah siuman.


"Maaf Tuan. Saya hanya tidak ingin mengganggu." jawab Johan gugup.


"Bagaimana menurutmu gadis itu?" tanya Marvin meminta saran.


"Apakah itu adalah gadis yang Tuan sebut sebagai calon istri Tuan?" tanya Johan memastikan.


"Iya." jawab Marvin mantap.


"Sepertinya saya tidak yakin Tuan." ucap Johan berhati-hati.


"Apa maksudmu?" tanya Marvin dengan suara meninggi.


"Sepertinya Tuan membutuhkan perjuangan yang tidak mudah untuk menaklukan calon istri Tuan. Saya lihat gadis itu sangat tenang dan dingin saat berhadapan dengan Tuan." jawab Johan jujur sesuai dengan penilaian pribadinya.


"Kau benar. Untuk itulah setelah kita pulih kau harus siap membantuku." kata Marvin.


"Baik Tuan." sahut Johan.


"Permulaan yang bagus. Ternyata kalau Tuhan berkehendak ternyata tidak terlalu sulit untuk mengenalmu, Davina. Tunggu aku sembuh, aku akan mulai mengejarmu." gumam Marvin dalam hati yang sedang berbunga-bunga.


-BERSAMBUNG