
"Dimana Nyonya Harris? Kenapa belum menemuiku juga?" gerutu Amel yang sudah 4 jam berdiri didepan gerbang sampai hari berubah gelap.
Mata Amel menyipit saat sebuah mobil mewah datang dan dengan segera penjaga membukakan gerbang. Mobil itu memasuki mansion Harris lalu gerbang tertutup kembali.
"Hei, aku sudah menunggu sangat lama. Bukankah Nyonya Harris bilang mau menemuiku sore hari, ini sudah berganti malam." teriak Amel kepada penjaga gerbang.
"Sebentar Nona akan saya tanyakan lagi." ucap penjaga itu bergegas menuju mansion.
"Ada apa, Vir? Siapa wanita itu?" tanya Marvin yang melihat seorang wanita berdiri didepan gerbang.
"Nona itu ingin menemui Nyonya Besar, Tuan." jawab Virat, sang penjaga gerbang.
"Ada kepentingan apa?" tanya Marvin penasaran.
"Saya tidak tahu, Tuan. Sedari pagi Nona itu memaksa untuk bertemu Nyonya Besar. Namun sampai sekarang Nyonya tak kunjung menemuinya." jawab Virat lagi.
"Sepertinya aku tidak asing dengannya." gumam Davina.
"Ada apa, Sayang? Kau mengenalnya?" tanya Marvin.
"Entahlah. Aku hanya merasa pernah melihatnya tapi aku lupa." jawab Davina jujur.
"Yasudah, sepertinya juga bukan orang penting. Ayo kita istirahat." ajak Marvin diikuti oleh Davina dengan patuh.
"Bukankah itu Davina? Siapa pria itu? Kenapa Davina bisa masuk ke mansion Harris?" tanya Amel saat melihat Davina dari celah pintu gerbang.
"Aku tidak mungkin salah lihat kan? Apa benar itu Davina?" tanya Amel memastikan penglihatannya.
"Permisi Nona, Nyonya Besar sudah tidur. Nona bisa kemari lagi besok pagi." ucap Virat
"APA?!" pekik Amel dengan mata melotot.
"Sial! Aku pasti sudah dikerjai." umpat Amel kesal.
"Baiklah besok pagi aku akan kesini lagi." kata Amel menahan amarah.
"Eh tunggu! Tadi siapa yang datang dengan mobil mewah itu?" tanya Amel penasaran.
"Mereka adalah Tuan Muda dan istrinya." jawab Virat membuat mulut Amel menganga.
"Ti-tidak mungkin." ucap Amel tak percaya.
Virat yang melihat ekspresi aneh Amel meninggalkannya begitu saja dan kembali ke pos penjaga.
"Aku pasti salah lihat. Ya, aku pasti salah." gumam Amel.
"Tidak mungkin Davina menjadi istrinya Marvin Harris. Dia gadis biasa mana mungkin pria itu tertarik padanya. Pasti yang kulihat tadi hanya gadis yang mirip dengannya." ucap Amel mencoba menepis kenyataan yang baru saja ia lihat.
"Ini pasti karena aku menunggu terlalu lama. Lebih baik aku ke apartemen untuk istirahat." kata Amel setelah itu memesan taxi online.
"Selamat malam, Nek." sapa Marvin dan Davina bersamaan.
"Malam cucu-cucuku. Ada apa ini? Wajah kalian terlihat bahagia sekali." sambut Julia yang melihat aura berbeda dari pengantin muda dihadapannya.
"Coba Nenek tebak." sahut Marvin.
"Haih.. Nenek bukan anak kecil lagi jangan mengajak tebak-tebakan." kata Julia sontak membuat ketiganya tertawa bersamaan.
"Kalau tidak mau memberitahu yasudah." tambah Julia lagi.
"Cie Nenek marah." goda Marvin.
"Dasar cucu kurang ajar." umpat Julia memukul pundak Marvin.
"Aww sakit, Nek."
Davina hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan konyol dua orang dihadapannya.
"Nek, tadi Virat bilang ada gadis yang mau bertemu dengan Nenek. Sepertinya dia masih menunggu diluar." kata Davina.
"Ya, biarkan saja. Nenek sudah menyuruh Virat bilang kepadanya kalau Nenek sudah tidur. Palingan dia sudah pulang." ucap Julia membuat Davina dan Marvin saling beradu pandang.
"Apakah Nenek mengenal gadis itu?" tanya Davina penasaran.
"Hah? Aku?" tanya Davina kebingungan.
"Kau ingat gadis yang pernah menyinggung kita ditoko perhiasan beberapa hari yang lalu?" kata Julia mengingatkan Davina.
"Oh iya, Nek. Lalu kenapa dia kemari? Apa dia ingin mencari masalah lagi?" tanya Davina waspada.
"Mana mungkin dia berani. Aku sudah membuat guncangan dikeluarganya dan juga suaminya. Dia kemari pasti untuk meminta maaf." jawab Julia membuat Davina terkejut.
"Kau jangan kaget, Sayang. Begitulah cara Nenek memberikan pelajaran pada orang yang berani menyinggungnya." kata Marvin memberitahu.
Davina hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Davina paham dunia keluarga Harris tidak jauh berbeda dengan keluarganya. Namun Davina tidak menyangka jika Nenek Julia akan memperhitungkan hal kecil seperti itu.
"Memangnya siapa yang sudah berani membuat Nenek kesal?" tanya Marvin kepo.
"Itu istri dari mantan kekasih istrimu. Beraninya dia sombong dihadapan Nenek dan menghina cucu menantuku. Lihat saja aku pastikan keluarga Wijaya dan Johnson tidak bisa bangkit lagi." ucap Julia geram.
"Istri dari mantan kekasih istriku?" gumam Marvin bertanya-tanya.
"Memang apa yang Nenek lakukan?" tanya Marvin penasaran.
"Aku hanya membuat saham mereka menurun." jawab Julia enteng.
"Nenek jangan begitu. Kasihan mereka." ucap Davina iba.
"Kasihan? Apakah lalat busuk itu memikirkan perasaanmu saat menghinamu ditempat umum?" tanya Julia.
"Nenek, aku tidak mempermasalahkannya. Lagipula aku juga tidak mendengarkan apa yang ia katakan. Nenek jangan mengurusi orang seperti itu, kesehatan Nenek jauh lebih penting." kata Davina mengingatkan.
"Kau pikir Nenek selemah itu? Biar saja, biar dia tahu kalau diatas langit masih ada langit." ucap Julia kesal.
"Nenek.. Ayolah, sudah hentikan. Lagipula kesalahannya ada padanya bukan keluarganya. Seharusnya Nenek cukup menghukum pelakunya saja jangan melibatkan yang lalu. Pasti banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya diperusahaan itu. Nenek tidak kasihan?" kata Davina membuat Julia dan Marvin tertegun.
"Rupanya cucuku tidak salah memilih istri. Hatimu mulia sekali, Nak. Baiklah Nenek tidak akan menekan mereka lagi. Tapi kalau lalat itu berani menyinggungmu lagi maka Nenek tidak akan segan-segan membuatnya dan juga keluarganya menghilang." kata Julia tegas.
"Baiklah. Nenek sekarang istirahat ya, angin malam tidak baik untuk tubuh Nenek." ucap Davina lembut.
"Hem.. Baiklah. Tidak perlu mengantarku, kau pasti sangat kelelahan karena cucuku kan?" perkataan Julia seketika membuat Davina menundukkan wajahnya.
"Tidak heran lagi, pengantin baru. Sudah sana kalian kekamar, cepatlah. Nenek sudah tidak sabar menimang cicit." ucap Julia membuat Davina tersenyum kikuk.
"Nenek jangan menggoda istriku lagi lihatlah pipinya sudah semerah tomat." kata Marvin membuat Julia terkekeh.
"Oke oke, Nenek tidak akan menggodanya lagi. Selamat malam cucu-cucuku." pamit Julia menuju kekamar lebih dulu.
"Sampai kapan kau mau menyembunyikan wajahmu itu? Nenek sudah kembali kekamar." kata Marvin.
"Apakah menggoda orang adalah sifat keturunan kalian?" tanya Davina seketika memancing gelak tawa Marvin.
"Ssstt.. Sudah malam. Jangan mengganggu orang istirahat." bisik Davina segera menutup mulut Marvin dengan telapak tangannya.
Marvin tersenyum menyeringai kemudian mengangkat tubuh Davina secara tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku." protes Davina.
"Tidak mau. Sepertinya kita harus mengulangi malam indah seperti semalam." bisik Marvin.
"Hei, kau serius? Badanku saja masih sangat lelah. Cepat lepaskan aku." ucap Davina memberontak.
"Diamlah, atau kau ingin kita melakukannya disini?!" kata Marvin.
"Kau gila!" umpat Davina kesal.
"Anggap saja ini adalah hukumanmu karena semalam menggodaku lebih dulu. Kita impas kan, Sayang?" ucap Marvin lagi.
"Terserah kau saja. Aku tidak akan pernah menang berdebat denganmu." sahut Davina pasrah.
"Yes! Tenang saja istriku, malam ini akan kubuat sangat indah dan tak terlupakan." bisik Marvin.
-BERSAMBUNG