Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 48 Kehilangan


"Ternyata menunggu itu sangat membosankan." gumam Davina yang kurang lebih sudah 2 jam menunggu Marvin yang sedang rapat.


Davina hanya memandangi gedung-gedung tinggi yang terlihat dari kaca ruangan Marvin. Sesekali ia juga bermain ponsel namun itu malah membuatnya semakin bosan.


"Kalau aku keluar ruangan ini, aku malas harus menerima tatapan aneh para karyawan Marvin." gumam Davina lagi.


"Pekerjaan Marvin setiap hari seperti ini pasti sangat melelahkan. Aku juga tidak bisa membayangkan jika harus mengelola perusahaan Ayah. Pasti akan sangat merepotkan." gumam Davina.


Tidak bisa dipungkiri kalau kenyataannya Davina terlahir sebagai putri tunggal Carlos. Mau tidak mau kelak dirinya yang akan mewarisi dan bertanggungjawab meneruskan untuk mengelola kekayaan keluarga Carlos. Membayangkannya saja sudah membuat kepala Davina sangat pusing.


"Bagaimana reaksi Marvin ya saat tahu siapa aku sebenarnya? Bisakah dia menerimaku atau malah kecewa padaku?" tanya Davina dalam hati.


Jujur saja, Davina bingung harus bagaimana jika suatu saat Marvin mengetahui identitas dirinya. Didalam hati Davina bersyukur karena Marvin mau menerima dirinya tanpa memperdulikan latar belakangnya. Tapi Davina juga khawatir kalau identitasnya terbongkar karena dirinya bukanlah gadis biasa. Akankah Marvin mempermasalahkannya?


Davina mengusap wajahnya kasar karena pikirannya semakin tak karuan.


"Aku tidur saja deh." ucap Davina langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Tak lama setelah Davina memejamkan matanya, Marvin sudah kembali ke ruangan.


"Kelinciku pasti sangat bosan menungguku ya sampai tertidur. Biarkan dia istirahat dulu saja lah, ada beberapa hal yang perlu kuselesaikan." gumam Marvin.


...****************...


"Bagaimana ada pergerakkan dari keluarga Millano?" tanya Adam kepada Darwin.


"Sampai saat ini belum, Tuan. Sepertinya mereka tahu kalau kita sedang mengintainya maka dari itu mereka memilih untuk bersembunyi." jawab Darwin.


"Sepertinya kalian sudah mulai lupa bagaimana cara kerja keluarga Carlos. Aku sangat kenal siapa dia. Pria itu tidak akan betah untuk berdiam diri. Pastikan bahwa kau tidak kehilangan jejaknya." titah Adam dengan nada dingin dan raut wajah serius.


"Baik Tuan." sahut Darwin patuh.


"Oh iya, kau juga harus memastikan bahwa identitas putriku tidak bocor. Aku tidak ingin putriku dalam bahaya." tambah Adam.


"Baik Tuan, saya pastikan identitas Nona Muda aman." ucap Darwin.


"Bagus. Terus awasi keluarga Millano. Tambahkan beberapa penjaga untuk putri dan juga menantuku. Tolong blokir semua akses antara aku dan Davina. Aku tidak ingin kecolongan sedikitpun. Kita harus segera bersiap." perintah Adam lagi.


"Baik Tuan, semuanya sudah 80%." sahut Darwin lalu diangguki Adam.


"Lanjutkan tugasmu." titah Adam kemudian Darwin keluar dari ruangan.


"Akan aku pastikan kalian baik-baik saja. Maafkan Ayah, Nak. Saat ini tidak bisa berkomunikasi denganmu." batin Adam mengingat gadis kecil yang saat ini sudah memiliki kehidupan sendiri.


"Aku harap pria itu bisa diandalkan untuk menjagamu." ucap Adam penuh harap.


...****************...


Suasana kamar di rumah sakit seketika menjadi mencekam. Terdengar suara isak tangis bersahutan.


"Aku tidak mau kehilangan dia. Aku mau membesarkannya." teriak Amel.


"Sayang sabar ya. Ini semua demi keselamatanmu. Kita bisa memiliki bayi lagi dimasa depan." ucap Nathan berusaha menenangkan istrinya.


Kenyataan pahit harus diterima Amel dan Nathan bahwa dirinya harus kehilangan calon anak pertamanya. Tindakan itu dilakukan karena kondisi kehamilan Amel yang tidak memungkinkan. Akan sangat berbahaya jika dirinya memaksa untuk mempertahankan janinnya.


"Tapi bukan begini caranya. Anak kita tidak bersalah." ucap Amel yang masih belum bisa menerima kenyataan yang harus ia hadapi.


"Nak, tenangkan dirimu. Mama tahu kenyataan ini pasti membuatmu sangat terpukul. Tapi kau harus tetap kuat ya Sayang. Kau harus segera memulihkan tubuhmu." sahut Bella yang ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa anak dan juga menantunya.


"Mah, maafin Amel. Amel gagal jadi ibu." kata Amel yang masih sesenggukan.


"Sayang kau tidak gagal. Ini bukan rezeki kalian. Mama yakin Tuhan sedang menyiapkan rencana terindah untuk kalian." ucap Bella kemudian memeluk menantunya erat.


"Maafkan Mama ya Nak. Mama kemarin-kemarin kurang perhatian denganmu. Mama janji kedepannya akan lebih peduli padamu. Kau boleh protes kalau Mama mengacuhkanmu. Kau juga boleh minta apapun kepada Mama, jangan sungkan ya." kata Bella lagi menyadari kesalahannya.


Nathan tersenyum dan bernafas lega. Dibalik musibah yang ia terima ternyata membuat hubungan ibu dan istrinya membaik. Nathan merasa tenang melihat ibunya yang sudah mulai membuka hati untuk menerima istrinya. Sebuah hal yang patut disyukuri.


...****************...


"Kenapa kau tidak membangunkanku?" protes Davina.


Davina kaget saat dirinya terbangun matahari sudah tepat berada ditengah.


"Kau tidur nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkanmu." jawab Marvin santai dengan mata dan jarinya masih terfokus pada laptop dihadapannya.


"Tapi kan aku jadi terlambat kuliah." ucap Davina.


"Tenang saja, aku sudah mengajukan izin kepada dosenmu." sahut Marvin.


"Kau? Kau mengajukan izin atas dasar apa?" tanya Davina kaget.


"Memangnya kenapa? Kan aku suamimu." jawab Marvin santai.


"Kau ini. Kan kita sudah berjanji tidak akan mengekspos hubungan kita." protes Davina.


"Memangnya sebegitu memalukan kah menjadi istriku?" tanya Marvin membuat Davina terperanjat.


"Bukan begitu maksudku. Hanya saja aku belum siap dengan status baru kita." jawab Davina lirih.


"Kau tenang saja, kampusmu itu milik keluarga Harris. Jadi identitasmu juga akan aman." sahut Marvin santai.


"Justru itu aku tidak ingin beberapa orang berspekulasi tentangku. Aku tidak mau dinilai orang hanya mengandalkan kekuatan dibelakangku. Bukankah dengan caramu ini seolah memberitahu bahwa aku masuk kesana karena orang dalam?" kata Davina membuat Marvin tertegun.


Marvin meninggalkan laptopnya kemudian beranjak mendekati Davina.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Harusnya kau tidak perlu memikirkan omongan orang." ucap Marvin.


"Kau tidak tahu liciknya pikiran orang, Mas. Salah satu alasanku tidak mengungkap identitasku ya untuk mencegah pemikiran buruk orang lain tentangku. Aku tidak ingin dinilai sebagai anak yang hanya mengandalkan kekuasaan orangtuanya. Aku juga ingin diakui orang karena kemampuanku sendiri. Tapi kau malah melakukan sesuatu tanpa persetujuanku." kata Davina.


"Maafkan aku. Aku tidak memikirkan hal itu." sahut Marvin merasa bersalah.


"Sudahlah. Lagipula sudah terlanjur. Kedepannya aku harus menebalkan wajah dan menulikan telingaku." ucap Davina dengan nafas berat.


"Maaf. Kau boleh marah padaku." kata Marvin.


Davina menatap Marvin lekat, melihat ekspresi bersalah Marvin membuat pikiran jahil Davina muncul.


"Kalau begitu kau harus menerima hukuman dariku." ucap Davina menyeringai.


"Baiklah. Apa yang harus kulakukan?" tanya Marvin pasrah.


"Kau sudah tidak ada rapat kan?" tanya Davina.


"Hem.. Iya." jawab Marvin.


"Baiklah karena kau sudah tidak bekerja dan aku tidak kuliah, ayo pergi ke suatu tempat." ajak Davina bersemangat.


"Kemana?" tanya Marvin penasaran.


"Rahasia. Ikut saja denganku. Tapi kau harus menyetir mobil sendiri ya." jawab Davina.


"Baiklah." sahut Marvin tersenyum.


Kira-kira Davina mau mengajak Marvin kemana ya?


-BERSAMBUNG