
Davina hanya tertawa geli saat memperhatikan Marvin yang begitu sibuk memilih beberapa pakaian. Davina tidak menyangka jika bertemu dengan orangtuanya membuat Marvin begitu gugup.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Marvin menunjukkan set jas kepada Davina.
"Bagus." jawab Davina tersenyum.
"Tapi ini terlalu formal. Bagaimana kalau yang ini?" tanya Marvin menunjukan setelan kasual.
"Itu boleh juga." jawab Davina.
"Eh kalau yang ini bagaimana?" tanya Marvin lagi seketika membuat Davina menghampiri suaminya.
"Kau duduklah. Biar aku yang memilihkan pakaian untukmu." kata Davina tak tahan dengan tingkah aneh suaminya.
"Apakah kau merasa aku sangat aneh hari ini? A-aku tidak bisa mengontrol diriku. Jujur saja aku sangat gugup bertemu dengan kedua orangtuamu." ucap Marvin jujur.
"Bukankah kau sudah pernah bertemu dengan Ayahku?" tanya Davina mengingatkan.
"Ya kau benar. Tapi saat itu kondisinya sangat berbeda dengan saat ini." jawab Marvin menundukkan wajahnya.
"Apa yang sebenarnya kau khawatirkan, Mas?" tanya Davina lembut sembari menggenggam tangan Marvin.
"Aku takut Ibu dan Ayahmu tidak menyukaiku." jawab Marvin jujur.
"Kalau mereka tidak menyukaimu mana mungkin mereka akan merestui pernikahan kita? Kau benar-benar terlalu banyak berpikir." sahut Davina tak menduga isi pikiran suaminya.
"Benarkah?" tanya Marvin mencoba memastikan.
"Kau bisa mempercayaiku. Awalnya aku ragu untuk menerimamu. Tapi karena Ayah dan Ibuku akhirnya aku setuju menikah denganmu. Mereka sangat yakin kalau kau adalah pria yang tepat untukku." jawab Davina membuat Marvin tertegun.
"Kenapa diam saja? Ibu sudah mengirimkan lokasinya, cepat ganti bajumu. Kita berangkat sekarang." ucap Davina menyadarkan Marvin.
"Baiklah. Tunggu sebentar." sahut Marvin bergegas masuk keruang ganti.
"Dimana wibawa seorang Marvin Harris? Apakah wajah Ayahku sangat menyeramkan sehingga membuat Marvin begitu ketakutan?" tanya Davina heran.
"Aku sudah siap." ucap Marvin.
"Wow! Suamiku tampan sekali." puji Davina.
"Tentu saja. Aku harus setara dengan istri cantikku ini kan?" sahut Marvin membuat Davina terkekeh.
"Sebentar sepertinya masih ada yang kurang." ucap Davina mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Nah, ini baru sempurna." kata Davina yang sudah merapikan rambut Marvin menggunakan pomade ditangannya.
"Kau selalu membawanya kemanapun?" tanya Marvin heran.
"Tentu saja. Untuk berjaga-jaga agar penampilan suamiku paripurna." jawab Davina.
"Sepertinya istriku ini sudah semakin pandai merayu ya." ucap Marvin.
"Bukankah aku juga belajar darimu?" sahut Davina membuat keduanya tertawa bersama.
"Ayo kita berangkat. Orangtuamu pasti sudah menunggu kita." ajak Marvin.
"Baiklah." sahut Davina lalu keduanya berjalan bergandengan tangan.
"Eh bukankah tempat ini yang pernah kita kunjungi saat itu?" tanya Davina saat membuka lokasi yang dikirimkan ibunya.
"Kau benar. Kedua orangtuamu benar-benar pintar memilih tempat." jawab Marvin tersenyum tipis.
"Kenapa aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang tidak beres?" tanya Davina dalam hati.
...****************...
"Siapa dari kita yang berani menyinggung keluarga Harris?" tanya Andreas.
Amel tidak berani menatap wajah mertuanya. Amel mencengkeram kuat lengan Nathan.
"Pah, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba Papa memintaku dan Amel untuk kembali? Dan Papa terlihat emosi sekali?" tanya Nathan mencoba mencaritahu penyebab kemarahan orangtuanya.
"Sepertinya kau sama sekali tidak peduli dengan perusahaan kita, Nak. Saham kita mengalami kemerosotan dan kau masih menanyakan apa yang terjadi?" kata Andreas dengan tatapan tajam.
"Bagaimana bisa terjadi? Bukankah selama ini perusahaan kita berjalan dengan baik?" tanya Nathan tak percaya.
"Jika aku tahu penyebabnya maka aku tidak akan bertanya pada kalian. Semua ini adalah perbuatan keluarga Harris yang menekan perusahaan kita. Aku merasa tidak pernah menyinggung mereka bahkan tidak mengenal mereka. Jadi aku tanya sekali lagi, apakah ada dari kalian yang menyinggungnya?" tanya Andreas penuh selidik.
"Pah, maaf sepertinya istriku sangat ketakutan melihat Papa semarah ini. Aku akan membawanya ke kamar." ucap Nathan yang mendapat kibasan tangan Andreas.
"Sudah tidak apa-apa, kau tidak perlu takut. Papaku memang seperti itu kalau ada masalah. Setelah menemukan solusinya pasti akan baik-baik saja." kata Nathan menenangkan istrinya.
"Sayang, apakah kau akan menyalahkanku?" tanya Amel hati-hati.
"Menyalahkanmu? Untuk apa? Apa kau melakukan kesalahan?" tanya Nathan mengerutkan keningnya.
Amel menganggukkan kepalanya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau sangat ketakutan? Jangan bilang kau menghilangkan nyawa seseorang?" tanya Nathan penuh selidik yang langsung dijawab gelengan kepala Amel.
"Lalu apa yang sudah kau lakukan?" tanya Nathan penasaran.
"A-aku.. Aku yang sudah menyebabkan saham perusahaan Papa merosot." jawab Amel gugup.
"APA?!" sahut Nathan tak percaya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Nathan dengan suara mulai meninggi.
"Sayang, jangan marah kepadaku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Kau harus percaya padaku." jawab Amel ketakutan.
"Percaya padamu? Ceritakan padaku kejadian yang sebenarnya!" sahut Nathan dingin.
"Kau ingat saat kita di kota A, aku pernah mengajakmu berbelanja?" ucap Amel memulai ceritanya.
"Ya aku ingat." sahut Nathan.
"Sa-saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan Davina ditoko perhiasan." kata Amel melanjutkan.
"Davina? Apa hubungannya?" tanya Nathan heran.
"Ya saat itu aku melihatnya bersama seorang Nenek sedang memilih sebuah kalung, kebetulan aku juga tertarik dengannya. Kami sempat berdebat sebentar. Namun siapa sangka jika Nenek yang bersama Davina adalah Nyonya Besar keluarga Harris." jawab Amel jujur.
"Nyonya Besar keluarga Harris?" tanya Nathan memastikan.
"Iya benar. Aku tidak mengenalnya dan bahkan sudah menyinggungnya. Mungkin inilah balasan yang ia berikan dengan menyerang perusahaan kedua orangtua kita." jawab Amel bersalah.
"Kau benar-benar ceroboh! Sudah berulangkali aku mengingatkanmu untuk tidak berurusan dengan Davina. Apa kau tidak pernah mau mendengarkanku?" kata Nathan marah.
"A-aku tidak bermaksud begitu. Saat itu aku diliputi dengan kecemburuan. Aku mengira dia sengaja mengikutimu. Aku takut dia merebutmu kembali, jadi aku berniat memperingatkannya. Namun siapa sangka jika aku telah salah menyerang lawan." ucap Amel menitikkan airmatanya.
"Apakah kau sama sekali tidak pernah percaya dengan perasaanku padamu?" tanya Nathan.
"Apa maksudmu?" tanya Amel tak mengerti.
"Kau selalu meragukanku dan mengira Davina akan merebutku kembali. Apa kau benar-benar tidak pernah yakin dengan hubungan kita ini?" tanya Nathan dengan tatapan sendu.
"A-aku tidak bermaksud begitu." jawab Amel bersalah.
"Sudahlah lupakan saja. Kali ini bagaimana kau harus menjelaskannya kepada kedua orangtua kita? Aku yakin mereka pasti akan sangat marah dan kecewa denganmu." tanya Nathan kembali ke topik permasalahan.
"A-aku tahu. Kalau begitu besok aku akan kembali ke kota A." jawab Amel.
"Untuk apa kau kesana?" tanya Nathan heran.
"Untuk menemui Nyonya Harris dan meminta maaf padanya. Aku yang sudah menyinggungnya maka aku juga yang harus bertanggungjawab menyelamatkan perusahaan keluarga kita." jawab Amel percaya diri.
"Kau pikir Nyonya Harris begitu mudah untuk ditemui orang? Sepertinya kau benar-benar tidak tahu siapa orang yang kau singgung." ucap Nathan.
"Kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya. Lagipula aku memang harus bertanggungjawab, apapun akan aku lakukan untuk mengembalikan kejayaan perusahaan kita." kata Amel membuat Nathan menghela nafas.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Kita berangkat besok." ucap Nathan.
"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Disini pasti sangat membutuhkan bantuanmu." tolak Amel.
"Kau yakin?" tanya Nathan memastikan.
"Tentu." jawab Amel tegas.
"Baiklah. Kau harus menjaga diri baik-baik." ucap Nathan membelai lembut kepala istrinya.
"Baik, suamiku." sahut Amel.
-BERSAMBUNG