
"Apa ini?" tanya Davina terkejut saat begitu banyak barang yang menumpuk diruang tamu.
Davina menatap heran kearah Johan yang masih menenteng beberapa paperbag, dan juga Thomas yang ikut membantu.
"Ini semua oleh-oleh untuk orangtua Nyonya yang disiapkan oleh Tuan." jawab Johan.
"Astaga segini banyaknya bagaimana bisa membawanya? Dimana dia?" tanya Davina tak habis pikir dengan tingkah suaminya.
"Tuan diruang kerjanya, Nyonya." jawab Johan santun.
Davina bergegas menuju ruangan yang dimaksud oleh Johan.
"Mas!" panggil Davina.
"Iya, Sayang? Aku baru saja pulang lalu mengecek pekerjaan sebentar. Apa kau sudah merindukanku?" tanya Marvin yang kaget dengan kedatangan Davina.
"Jangan mengalihkan topik. Apa yang dilakukan Johan dan Thomas?" tanya Davina memicing.
Marvin tersenyum lalu menghampirinya istrinya.
"Tentu saja aku menyuruh mereka membeli oleh-oleh untuk mertuaku. Apa aku salah?" tanya Marvin bingung.
Davina menghembuskan nafas kasar lalu menarik pelan daun telinga Marvin.
"Sayang, kenapa menjewerku?" tanya Marvin bodoh.
"Aku paham maksud baikmu tapi tidak sebanyak itu juga, Mas. Bagaimana besok kita membawanya? Nenek saja sudah cukup banyak membeli oleh-oleh tadi." kata Davina.
Nenek dan cucu sama-sama hebohnya, begitulah pikir Davina.
"Kau tenang saja, istriku. Aku pastikan akan membawa oleh-oleh itu sampai kerumah kedua orangtuamu dengan baik. Kau tidak perlu pusing memikirkannya." ucap Marvin lembut.
"Terserah kau sajalah." sahut Davina pasrah.
"Emm.. Sayang, boleh aku bertanya satu hal?" tanya Marvin hati-hati.
"Iya?" sahut Davina serius.
"Kapan kau akan memanggilku sayang atau suami?" tanya Marvin.
Davina terdiam sejenak lalu menatap lekat wajah pria yang sudah berhasil menaklukan hatinya.
Melihat Davina yang tak menjawab membuat Marvin merasa bersalah.
"Maaf, Sayang. Mungkin aku yang terlalu....."
"Ssstt.."
Belum selesai Marvin menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk Davina sudah menempel dibibirnya.
Davina menatap lembut lalu menangkup wajah tampan Marvin dengan kedua tangannya.
"Apakah panggilan itu sangat penting bagimu?" tanya Davina.
Marvin menganggukkan kepalanya.
Davina menghela nafas lalu melepaskan kedua tangannya.
"Aku takkan memaksamu. Maafkan aku, Sayang." ucap Marvin bergegas menarik Davina kedalam pelukannya.
Davina cukup kaget lalu menyunggingkan senyum dan menyambut pelukan hangat suaminya.
"Aku takkan mengungkitnya lagi. Kau boleh tetap memanggilku Mas." ucap Marvin bersalah.
Davina terkekeh kemudian menguraikan pelukannya. Marvin menatap heran Davina yang malah tertawa kecil.
"Kau lucu sekali. Aku tak menyangka kalau Tuan Muda Harris ternyata punya sisi menggemaskan seperti ini." kekeh Davina sembari menarik kedua pipi seorang pria yang terkenal arogan dimata orang lain.
"Kau mengejekku?" tanya Marvin mengerucutkan bibirnya.
Davina semakin tak bisa menahan tawanya melihat sisi lain Marvin yang sangat menggelikan baginya.
"Sudah puas menertawaiku?" kata Marvin.
"Ehemm..."
Davina menghentikan tawanya lalu kembali mengatur nafasnya.
"Aku baru sadar ternyata suamiku ini benar-benar menggemaskan." ucap Davina.
"Apa katamu?" tanya Marvin memastikan.
"Kau menggemaskan." jawab Davina spontan.
Marvin menyeringai tipis lalu mendekatkan tubuhnya kearah Davina.
"Kau mau apa?" tanya Davina panik.
"Istriku baru saja berkata kalau aku menggemaskan, bukan?" ucap Marvin dengan senyum nakal diwajahnya.
Dengan cepat Marvin mengangkat tubuh istrinya lalu mendudukkannya diatas meja kerjanya.
"Mas, kau mau apa? Jangan macam-macam, menyingkirlah biarkan aku turun!" protes Davina meronta.
"Aku ingin membenarkan ucapanmu. Bagaimana kalau begini? Apa aku masih menggemaskan?" tanya Marvin yang sengaja setengah berbisik dan meniupkan nafasnya ke telinga Davina.
BRAK!
"Tuan, semuanya sudah sele-...."
Johan menghentikan perkataannya saat melihat Marvin dan Davina yang berada dalam posisi meresahkan.
"Maaf Tuan, Nyonya. Saya sudah lancang. Permisi." ucap Johan segera menutup kembali pintu ruang kerja Marvin.
"Mati aku! Pasti Tuan Marvin akan menghukumku. Astaga, aku ceroboh sekali!" gumam Johan ketakutan.
"Sudah melapor kepada Tuan? Cepat sekali?" tanya Thomas heran.
"Thom, kalau terjadi sesuatu padaku tolong kabarkan pada keluargaku ya. Aku mau istirahat dulu." jawab Johan.
"Hey, apa maksudmu?" tanya Thomas kebingungan saat Johan langsung berlalu begitu saja.
"Ada apa dengannya? Wajahnya ketakutan sekali. Apakah dia sudah melakukan kesalahan yang membuat Tuan Marvin marah?" gumam Thomas bertanya-tanya.
Kembali ke ruang kerja Marvin.
"Mas, turunkan aku!" pinta Davina.
"Tidak mau." sahut Marvin.
"Johan sudah melihatnya. Kau membuatku malu." protes Davina kesal.
Marvin menarik dagu Davina lalu memagut bibir ranum istrinya.
"Jangan pedulikan pria lain. Kau hanya boleh melihatku." bisik Marvin.
"Dasar kekanakan sekali." cibir Davina.
"Bagaimana kalau kita melakukannya disini?" tanya Marvin dengan tatapan nakalnya.
"Jangan gila, Mas! Menyingkirlah." berontak Davina.
Lagi-lagi Marvin ******* bibir manis istrinya, kali ini cukup lama sehingga membuat keduanya hampir kehabisan oksigen.
"Cukup, Mas. Kau mandilah dulu." ucap Davina.
"Emm.. Jadi setelah mandi, boleh?" tanya Marvin menyeringai.
"Astaga, sepertinya aku salah bicara." batin Davina.
"Sudahlah hentikan. Cepat bersihkan dirimu." ucap Davina kesal.
Marvin terkekeh, lalu menarik pelan hidung mungil istrinya.
"Baiklah-baiklah. Aku hanya menggodamu." kata Marvin.
"Kau mau apa? Turunkan aku!" seru Davina kaget saat tubuhnya kembali diangkat oleh Marvin.
"Diamlah. Aku akan menggendongmu sampai kamar. Kalau kau memberontak, dengan terpaksa aku akan benar-benar melahapmu disini." ancam Marvin seketika membuat Davina terdiam.
Marvin menyeringai tipis lalu mengecup lembut kening istrinya.
Saat keluar, Thomas yang kebetulan masih berada diruang tamu pun menyaksikan pemandangan yang membuat jiwa jomblonya meronta.
"Sial! Sekarang aku tahu kenapa Johan tadi ketakutan. Lebih baik aku juga segera istirahat." gumam Thomas bergegas melarikan diri.
Marvin sama sekali tidak peduli saat berpapasan dengan pelayan yang kebetulan masih melaksanakan tugasnya dimansion itu. Sedangkan Davina memilih untuk menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya.
"Oh, manis sekali. Semoga Tuan dan Nyonya bahagia selalu." batin beberapa pelayan itu.
...****************...
"Mas, kau menipuku!" seru Davina kesal.
Bagaimana tidak, Marvin menggendong dan membawanya kekamar mandi. Sudah kepalang basah, Davina pun harus menemani suaminya. Tentu saja bukan hanya sekedar mandi.
"Hehe.. Maaf, Sayang. Entah kenapa saat berdekatan denganmu, aku jadi tidak bisa mengontrol diriku." ucap Marvin tertawa kecil.
"Cih! Alasan saja." sahut Davina.
Marvin menarik Davina kedalam pelukannya. Setelah lelah bercinta, membersihkan diri dan mengganti pakaian tidur mereka pun bersiap untuk beristirahat.
"Emm.. Terimakasih istriku. Kau juga menikmatinya, bukan?" goda Marvin seketika membuat wajah Davina memerah.
"Percaya diri sekali." ucap Davina.
"Hem.. Istriku ini masih saja pemalu. Kita sudah saling melihat dan memiliki satu sama lain" kata Marvin.
"Sudah hentikan. Aku lelah sekali. Besok kita akan melakukan perjalanan." ucap Davina yang memang merasa tenaganya terkuras habis.
"Hem, baiklah. Selamat malam, istriku. I love you." ucap Marvin lembut lalu mengecup pucuk kepala Davina mesra.
"I love you too, Mas." balas Davina.
Marvin tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Tak berselang lama, pasangan yang sedang dimabuk cinta itu pun terlelap.
-BERSAMBUNG
Maaf ya Readers, Minthor untuk sementara ini akan terlambat update karena sedang persiapan persalinan nih π Hpl masih bulan depan, tapi sudah mulai waspada nih π Badan juga sudah mulai gak karuan rasanya π
Mohon doanya ya agar semuanya lancar, sehat dan selamat π€²π
Terimakasih untuk antusiasnya yang luar biasa dikarya keduaku ini π€
Semoga tetep setia menunggu kelanjutan episode cerita Davina dan Marvin ya π€
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya.
Boleh bantu vote dan subscribe untuk dapat notif update episode π
Loveyouallπ€