
Siang hari setelah selesai kuliah, Davina menuju hotel dimana kedua orangtuanya menginap. Davina didampingi Mely dan juga Orkan.
Karena jarak hotel yang tidak terlalu jauh, mereka hanya membutuhkan perjalanan dalam waktu 5 menit menggunakan taxi.
Davina langsung menuju resepsionis dan menanyakan letak kamar hotel orangtuanya. Tentunya Adam sudah memberitahu Davina tentang identitas palsu yang digunakan untuk menyewa kamar hotel.
Davina bersama dua pengawalnya langsung memasuki lift dan menekan angka 5.
"Davina? Apakah aku tidak salah lihat? Untuk apa dia disini?" tanya Marvin yang kebetulan ada dihotel itu.
"Ada apa Tuan?" tanya Johan.
"Apakah kau melihat Davina?" tanya Marvin.
"Nona Davina? Saya tidak melihatnya Tuan. Mungkin Tuan salah lihat." jawab Johan.
"Memangnya mataku ini buta? Ayo kita ikuti saja untuk memastikan." ajak Marvin yang sangat penasaran.
"Baik Tuan." sahut Johan mengikuti Marvin.
"Selamat siang Tuan." sapa resepsionis wanita yang berusia dua puluhan tahun dengan senyum semanis mungkin.
"Bisakah kau memberitahuku gadis yang baru saja masuk ke lift tadi menuju ke kamar berapa?" tanya Marvin dengan tatapan dingin.
"Kamar 502 Tuan." jawab resepsionis gugup.
Marvin dan Johan berlalu begitu saja dan segera memasuki lift.
"Astaga ternyata rumor itu benar." batin resepsionis wanita dengan mengelus dada dan mengatur nafasnya.
"Tuan Marvin memang tampan tapi rasanya mengerikan sekali berhadapan dengannya. Lebih baik aku tidak bertemu dengannya lagi." harap wanita itu yang masih ketakutan.
TING!
Davina bergegas mencari kamar 502, tepat berada disisi kanannya. Davina menekan bel kamar sedangkan Orkan dan Mely mencari posisi tersembunyi untuk berjaga-jaga. Kedua pengawal itu tahu batasan dan tidak ingin mengganggu privasi majikannya.
CEKLEK!
Adam membuka pintu kamar dan Davina langsung berhamburan dipelukannya.
"Vina rindu Ayah." ucap Davina lirih.
"Ayah juga merindukanmu." sahut Adam membelai lembut punggung putri semata wayangnya.
"Ayo masuk, ibumu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." ucap Adam.
"Wow Ibu memang luar biasa." puji Davina kemudian mengikuti Adam masuk ke kamar.
Ternyata pemandangan itu tidak luput dari Marvin yang dibuat sangat terkejut.
"Kenapa gadis itu berpelukan dengan pria? Dihotel mewah seperti ini?" gumam Marvin bertanya-tanya.
Tidak bisa dipungkiri muncul pikiran-pikiran negatif yang menyerang Marvin.
"Tapi siapa pria itu? Mereka terlihat mesra sekali. Tidak mungkin dia gadis yang seperti itu kan?" batin Marvin yang tidak percaya dengan hal yang baru saja ia lihat.
"Kenapa Tuan? Apakah Tuan bertemu dengan Nona Davina?" tanya Johan yang matanya menyusuri koridor namun tidak menemukan siapapun.
"Mungkin aku salah lihat." jawab Marvin.
"Kita ke loby saja." ajak Marvin membuat Johan kebingungan.
"Bukannya tadi Tuan yakin sekali? Kenapa sekarang begitu saja?" tanya Johan dalam hati namun mengikuti Marvin kembali ke lift.
"Bagaimana kuliahmu, Nak? Semuanya lancar?" tanya Adam kepada putrinya.
"Ayah tenang saja semuanya lancar." jawab Davina bersemangat.
Davina memejamkan matanya saat hidungnya mencium aroma sedap yang sangat ia rindukan.
"Harum sekali." gumam Davina.
"Hai sayang, ini sudah matang. Ayo kita makan siang bersama." ajak Sera dengan membawa semangkuk sup kesukaan Davina.
"Ibu masak sendiri? Disini?" tanya Davina tak percaya.
Sera tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ibumu baru saja datang yang dipikirkan hanyalah dirimu Vina. Jadi Ayah meminta hotel menyiapkan dapur dan peralatannya dikamar ini." ucap Adam memberitahu.
Ketiganya makan siang bersama menunjukkan sebuah keluarga yang harmonis.
"Nak apa ada yang ingin kau ceritakan?" tanya Sera setelah membereskan peralatan makan.
Davina menoleh kearah Sera kemudian memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, orang lain yang melihat pasti akan mengira Sera adalah kakak Davina.
"Vina bingung harus memulai darimana, Bu." jawab Davina sesekali menghela nafas.
"Katakan saja apa yang bisa kau katakan agar tidak menjadi beban dihatimu." ucap Sera lembut.
"Hem..." sahut Davina yang terdiam sejenak kemudian duduk dengan tegak dan melepaskan pelukannya dari Sera.
"Sebenarnya akhir-akhir ini ada seorang pria yang berusaha mendekatiku. Pasti Ibu sudah tahu karena Orkan selalu melaporkannya kepada Ayah." ucap Davina mengawali ceritanya.
"Iya Ayah dan Ibu sudah tahu. Lalu apakah omonganmu tentang menikah muda kemarin ada hubungannya dengan pria itu?" tanya Sera memastikan.
"Iya, dia mengajakku menikah. Tapi aku belum memberikan jawaban kepadanya. Entah kenapa aku tidak bisa menolaknya." jawab Davina malu-malu.
Sera membelai lembut kepala putrinya kemudian tersenyum.
"Apakah kau tertarik padanya?" tanya Sera.
"Tertarik? Aku tidak tahu, Bu. Aku belum mengenalnya lagipula dia sepuluh tahun lebih tua dariku." jawab Davina bingung.
"Kau sudah tahu siapa dia?" tanya Sera lagi.
"Iya, dia Marvin Harris. Penerus tunggal keluarga Harris yang merupakan keluarga berpengaruh dikota ini. Bahkan karena Marvin, keluarga Harris sudah bisa masuk ke jajaran keluarga terpandang di negara ini." jawab Davina membuat Sera dan Adam saling beradu pandang.
"Kau sudah mengetahuinya dengan jelas. Lalu apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Adam yang kali ini ingin tahu apa isi hati putrinya.
"Aku takut, Yah. Aku belum bisa mengetahui apa motifnya mendekatiku. Aku takut kalau itu hanya permainannya." jawab Davina jujur dengan ekspresi sendu.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu, Nak?" tanya Adam heran.
"Aku belum bisa memastikan dia mengetahui identitasku yang sebenarnya atau tidak, Yah. Aku ragu kalau dia tulus padaku. Mana mungkin seorang Marvin Harris akan tertarik pada wanita dari kalangan orang biasa." jawab Davina dengan menghembuskan nafas kasar.
Adam dan Sera kembali beradu pandang kemudian keduanya tersenyum.
"Terkadang cinta memang tidak memandang status, Nak. Ayah dan Ibu akan merestui apapun keputusanmu." ucap Sera lembut mencoba menenangkan putrinya.
"Bu... Memangnya masih ada cinta yang tulus seperti itu?" tanya Davina.
"Mengapa pertanyaanmu seperti itu, Nak? Cinta itu ketulusan hati seseorang, Sayang. Kalau tidak tulus maka perasaan itu tidak layak disebut cinta." jawab Sera membuat Davina tertegun.
"Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup bersama orang yang benar-benar mencintaiku, Bu. Apakah aku salah memiliki pemikiran seperti itu?" tanya Davina memandang Sera dengan lekat.
Adam dan Sera terkekeh kemudian keduanya memeluk Davina dengan erat.
"Kau tidak salah, Nak. Ayah setuju dengan pemikiranmu itu. Meskipun keluarga kita memiliki segalanya tapi urusan hati itu merupakan hak dan privasimu, Nak. Ayah dan Ibu tidak akan mencampurinya jika itu membuatmu bahagia. Ayah berharap kau menemukan pria yang tepat yang sanggup mencintai, menjaga dan menemanimu seumur hidupmu kalau Ayah sudah tidak ada di dunia ini lagi." jawab Adam mengecup lembut puncak kepala putri tunggalnya.
"Terimakasih Ayah." ucap Davina penuh haru.
"Jadi bagaimana apakah kau akan menerima tawaran pria itu?" tanya Adam.
Davina terdiam kemudian bergantian memandangi wajah kedua orangtuanya.
"Entahlah, Ayah. Kalau melihat dari fisik dan kemampuannya aku yakin dia bisa aku andalkan. Tapi kalau masalah hatinya aku tidak bisa menebak." jawab Davina.
"Ikuti saja kata hatimu, Sayang. Pikirkanlah dengan baik-baik karena menikah bukanlah keputusan yang bisa diambil dengan gegabah. Ayah dan Ibu akan selalu mendukungmu." ucap Sera memberi semangat kepada Davina.
"Terimakasih Bu, Yah. Vina akan memikirkannya dengan baik." sahut Davina yang merasa lebih tenang bisa berbagi permasalahan dengan kedua orangtuanya.
"Ayah, bolehkah aku tetap menyembunyikan identitasku? Sampai aku benar-benar yakin dengan pria itu." tanya Davina hati-hati.
Adam tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ayah mendukung apapun keputusanmu, Nak." ucap Adam yang membuat Davina tersenyum lega.
"Menginaplah disini, Sayang. Ibu masih belum puas bertemu denganmu." pinta Sera.
"Baik, Bu. Tapi aku mau keluar dulu ya, ada hal yang harus kuselesaikan. Orkan dan Mely masih menungguku diluar. Nanti sore Vina akan kembali kesini." kata Davina sekaligus berpamitan.
"Baiklah. Hati-hati, Nak." ucap Adam dan Sera serempak.
-BERSAMBUNG