
Marvin bisa membayangkan bagaimana reaksi Adam jika mendengar ucapannya dengan Johan. Mengingat kembali wajah mertuanya yang selalu menatapnya tajam membuat tubuh Marvin bergidik. Padahal bagi orang lain Marvin juga sama persis dengan mertuanya, sama-sama mengerikan.
"Jo belikan aku makan dan juga beberapa buah segar untuk istriku kalau-kalau dia sudah sadar nanti." pinta Marvin.
"Baik Tuan." sahut Johan lalu pergi untuk memenuhi permintaan Marvin.
Marvin kembali kedalam ruangan melihat istrinya yang masih belum ada pergerakkan.
"Kau tidak sedang marah padaku karena aku tidak melindungimu dengan baik kan? Ayolah bukalah matamu. Lebih baik kau mengataiku dengan mulut pedasmu itu daripada mendiamkan aku begini." ucap Marvin meracau.
Marvin terus mengoceh seolah ingin membangunkan Davina dan mengajak istrinya itu berdebat.
Marvin bisa melihat jari-jari Davina sedikit bergerak. Pria itu mengucek kedua matanya untuk memastikan kalau dirinya tidak salah lihat.
Benar sekali, jari Davina kembali bergerak. Dengan cepat Marvin menekan tombol darurat untuk memberitahu perawat dan dokter.
Tak lama datanglah dokter Faris dengan tergesa diikuti seorang perawat dibelakangnya.
"Apa yang terjadi Tuan Muda?" tanya Faris panik.
"Tadi jari-jari istri saya bergerak, Dok." jawab Marvin antusias.
Faris melirik Davina yang masih terpejam kemudian menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya Tuan salah lihat." ucap Faris.
"Kau tidak percaya padaku? Kau pikir aku akan bercanda dengan kondisi istriku?" tanya Marvin seolah berusaha meyakinkan dokter kalau dia tidak mungkin keliru.
"Tuan tenanglah." ucap Faris bersabar.
"I-itu lihat, Dok!" teriak Marvin ketika jari Davina kembali bergerak.
Faris segera menoleh dan takjub saat melihat jari-jari Davina benar-benar sudah bergerak.
"Tuan bisa keluar sebentar, saya akan memeriksa kembali kondisi Nona." ucap Faris.
"Baik." sahut Marvin patuh.
"Gadis ini benar-benar tangguh. Bisa sadar lebih cepat dari perkiraanku." gumam Faris seraya memeriksa Davina.
"Tapi benturan dikepalanya cukup parah. Semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi." batin Faris berharap.
Setelah selesai memeriksa dan memastikan kondisi Davina, Faris keluar dari ruangan bersama perawatnya.
"Bagaimana keadaan istriku? Apakah sudah membuka matanya?" tanya Marvin tak sabar.
Faris menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Nona hanya memberi isyarat, Tuan. Mungkin butuh beberapa waktu lagi untuk benar-benar bangun." jawab Faris membuat tubuh Marvin seketika lemas.
"Tuan tenang saja, kondisi Nona tidak membahayakan. Hanya saja..." ucap Faris menggantung.
"Hanya saja apa?" tanya Marvin mengerutkan keningnya.
"Em.. Kita menunggu Nona bangun saja baru saya bisa memastikan." jawab Faris membuat Marvin terheran-heran namun tidak ingin bertanya lebih lanjut.
"Permisi Tuan." pamit Faris dan perawat yang mengekorinya.
Marvin kembali duduk menatap wajah cantik istrinya yang masih betah terlelap. Mungkin baru beberapa jam, tapi bagi Marvin itu sudah waktu yang sangat lama. Marvin sudah tidak sabar wajah dingin istrinya yang dulu selalu berkata ketus padanya. Marvin mengingat kembali momen dimana ia berjuang untuk meruntuhkan tembok pertahanan istrinya itu. Rasanya baru kemarin kebahagiaan keduanya merekah saat berhasil memiliki satu sama lain. Tapi itu hanyalah sesaat, hari ini lagi-lagi mereka harus mengalami musibah.
"Sayang, bangunlah. Apa kau benar-benar lebih milih tertidur daripada menemani suamimu ini? Kau jahat sekali." rengek Marvin.
Entah sejak kapan pria itu memiliki kepribadian aneh. Rasanya saat berdekatan dengan Davina, Marvin selalu ingin bermanja-manja dengan istrinya itu. Padahal usia mereka terpaut cukup jauh, tapi justru Marvinlah yang selalu bertindak kekanakan.
CEKLEK!
Johan tiba dengan membawa pesanan Marvin.
"Terimakasih, Jo." ucap Marvin.
"Tuan sebaiknya juga istirahat. Biar saya bergantian menjaga Nona." kata Johan tak tega melihat tuannya yang terlihat lusuh.
"Bu-bukan begitu maksud saya, Tuan." ucap Johan kikuk.
"Sepertinya karena jatuh cinta, otak Tuan jadi sedikit bermasalah." kata Johan yang tentunya hanya ungkapan didalam hati.
Mana mungkin Johan berani mengatai tuan yang sudah ia ikuti bertahun-tahun. Yang ada nyawanya akan benar-benar melayang.
"Lalu? Jelaskan padaku!" ucap Marvin dengan suara meninggi.
"Tuan juga terluka, jadi Tuan juga butuh istirahat. Saya akan menjaga diluar pintu. Atau saya bisa meminta ranjang tambahan untuk Tuan." kata Johan segera meralat agar Marvin tidak semakin salah paham.
Marvin hanya mendengus kesal.
"Tidak perlu. Kau keluarlah!" ucap Marvin kasar.
Kali ini Johan hanya memutar kedua bola matanya jengah. Dengan patuh Johan menuruti ucapan Marvin.
"Tuan benar-benar pencemburu sekali. Lagipula mana mungkin aku berani memiliki niat seperti itu pada Nona." batin Johan kesal.
Setelah selesai makan, Marvin membersihkan diri. Tidak lupa sebelum itu Marvin kembali memerintahkan Johan untuk mengambil pakaian ganti untuknya dan juga Davina.
Hari sudah mulai gelap, Marvin masih setia menunggu Davina terjaga. Namun sesaat kemudian matanya mulai terasa berat dan sesekali menguap. Mungkin karena efek obat yang diminumnya tadi. Tak berselang lama Marvin terlelap dengan posisi terduduk dan menggengam tangan Davina erat.
...****************...
"Mansion Ibu luas sekali." puji Sera takjub saat baru pertama kalinya mengunjungi kediaman Harris.
"Tentu tidak seluas milikmu bukan?" sahut Julia membuat Sera terkekeh.
"Ah, tapi tempat seluas itu terasa sangat sepi sejak Davina memutuskan untuk kuliah dikota ini. Lebih baik rumah kecil tapi penghuninya banyak pasti akan terasa hangat, ya kan Bu?" ucap Sera yang disetujui Julia dengan anggukan.
Kedua wanita itu memasuki mansion yang lagi-lagi membuat Sera takjub dengan dekorasinya yang tertata sangat rapi dan terlihat elegan.
"Rumah ini didesain oleh putriku, ibunya Marvin." ucap Julia seolah bisa menebak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Sera.
"Pasti ibu Marvin adalah wanita yang hebat." puji Sera mengakui.
"Iya, dia sangat menyukai dengan desain interior. Bahkan setiap seluk beluk rumah ini dirancang dengan sangat detail olehnya. Tapi sayang sekali, umurnya tidak panjang." ucap Julia yang tiba-tiba merindukan putri semata wayangnya.
"Tuhan sudah menentukan rejeki dan maut seseorang. Ibu kan masih punya cucu yang hebat, tidak boleh bersedih." kata Sera mencoba menghibur wanita tua yang kini berdiri disampingnya.
"Ya kau benar. Bahkan sekarang cucuku sudah menikah dengan putrimu yang luar biasa itu. Ah aku jadi rindu suara tangisan bayi." ucap Julia membuat Sera terkekeh.
"Mereka masih muda, Bu. Biarkan saja mereka memuaskan waktu pacaran mereka." kata Sera yang sebenarnya juga memiliki harapan yang sama dengan Julia.
"Hem.. Aku setuju." sahut Julia kemudian mengajak Sera kekamarnya.
"Kau sudah memberitahu suamimu kalau kau disini?" tanya Julia.
"Sudah, Bu." jawab Sera.
...****************...
Tengah malam, Marvin yang tidak sengaja tertidur perlahan membuka matanya saat mendengar suara lenguhan yang sangat familiar ditelinganya.
"Sa-sayang?" panggil Marvin saat melihat Davina perlahan mulai membuka matanya.
"Kau sudah bangun?" tanya Marvin bersemangat dengan wajah berbinar.
Tidak ada jawaban dari Davina, gadis itu hanya menatap pria dihadapannya linglung.
Melihat ekspresi Davina yang aneh seketika membuat Marvin overthinking namun dengan segera menampiknya.
"Kau baik-baik saja, Sayang? Aku akan panggilkan dokter ya?" tanya Marvin lembut dan penuh perhatian.
"Kamu siapa?"
DEG!
-BERSAMBUNG