
Tok Tok Tok
Ceklek!
"Nona, ada apa?" tanya Mely mendapati yang mengetuk pintu adalah Davina.
"Ayo kita cari kos lain." ajak Davina.
"Mau pindah, Non? Mendadak sekali." tanya Mely kaget.
"Iya. Tempat ini sudah tidak aman untukku." jawab Davina membuat Mely semakin terkejut.
"Apakah ada yang meneror Nona? Ada yang membahayakan keselamatan Nona?" tanya Mely panik.
"Belum membahayakan sih. Hanya sedikit merepotkan." jawab Davina santai.
"Maafkan saya Nona. Saya sudah lengah kali ini." ucap Mely merasa bersalah karena lalai dalam tugasnya.
"Sudahlah. Kemasi barangmu kita cari tempat tinggal yang lain." titah Davina.
"Baik Nona, saya akan berkemas secepatnya." sahut Mely bergegas masuk kekamarnya.
Setelah memberitahu bawahannya, Davina kembali ke kamar untuk kembali mengemasi barangnya. Davina hanya mengemasi pakaian dan peralatan kuliahnya saja. Perabotan yang sebelumnya Davina beli secara pribadi ditinggal di kos begitu saja.
30 menit kemudian Davina dan Mely sudah selesai berkemas.
"Ternyata banyak sekali barangmu." ucap Davina melirik tiga buah tas Mely.
Satu tas jinjing besar, satu tas carrier besar dan satu tas daypack. Mely hanya meringis saat Davina menyindirnya. Walaupun Mely adalah pengawal pribadi, namun untuk menunjang penyamarannya sebagai teman kampus Davina dirinya juga harus merubah tampilannya menjadi gadis kuliahan. Banyak sekali pakaian modis yang ia miliki untuk masuk kuliah sehari-harinya. Sejak menemani Davina kuliah, Mely juga mulai belajar make up jadi wajar saja jika barangnya banyak sekali.
"Nona apa taxinya sudah menunggu didepan gang?" tanya Mely sambil clingak-clinguk.
"Siapa yang bilang kita mau naik taxi?" kata Davina seketika Mely membulatkan matanya.
"Lalu kita naik apa Nona?" tanya Mely penasaran.
"Jalan kaki." jawab Davina santai.
"Bagaimana dengan barangku?" tanya Mely panik.
"Urus saja sendiri." jawab Davina kemudian mulai berjalan meninggalkan Mely.
"Nona tunggu aku!" teriak Mely.
"Sial! Harusnya aku tidak menyimpan barang-barang sebanyak ini." gerutu Mely dalam hati.
Dengan susah payah Mely mengangkat dan menggendong tas-tasnya yang lumayan berat. Mely berusaha mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan jejak majikannya.
Davina hanya tersenyum tipis melihat Mely yang mencoba menyusulnya dengan kesusahan.
"Sepertinya kau sudah terlalu nyaman selama ini. Itu adalah hukuman untukmu." batin Davina tersenyum licik.
Setelah berjalan selama 15 menit, Davina menghentikan langkahnya didepan sebuah kos berlantai empat. Kali ini, kosnya lebih bagus dari yang pernah ditempati Davina sebelumnya. Bukan kos eksklusif, karena Davina tidak ingin identitasnya dicurigai orang lain. Davina sengaja menjadi gadis biasa agar mudah untuk berbaur dengan masyarakat. Lagipula Davina juga tidak tertarik dengan kehidupan sosialita karena harus berinteraksi dengan orang-orang munafik. Bagi Davina itu hanya membuang-buang waktu saja. Apalagi kalau orang-orang tidak mengetahui siapa Davina sebenarnya, pasti langsung memperolok dan meremehkan dirinya. Menilai seseorang dari tampilan dan menyimpulkan sesuka mereka sendiri, sungguh miris sekali.
Sebelumnya Davina sudah mengecek kos yang saat ini ia tuju melalui aplikasi online. Tempatnya memang lebih jauh untuk menuju kampus. Namun letaknya yang dekat dengan area persawahan membuat Davina memutuskan untuk tinggal di kos itu. Setidaknya saat dirinya dipusingkan dengan perkuliahan, pemandangan hijau itu bisa membantu Davina untuk melepas penat.
Davina langsung disambut oleh pemilik kos dan menunjukkan kamar kosong yang ada di lantai 1 dan 4. Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya Davina memutuskan untuk menyewa dua kamar dilantai 1 saja. Davina berpikir kalau dilantai 4, dia akan kesusahan apabila ada urusan mendadak dan harus bolak-balik naik tangga itu merepotkan sekali.
Kebetulan dua kamar yang dipilih Davina menghadap langsung ke sawah, hanya pagar yang membatasinya.
Kamarnya juga lebih luas dan sudah ada perabotan yang tersedia didalamnya. Tentu biaya kos kali ini lebih mahal namun bukan masalah bagi Davina. Yang terpenting Davina bisa menghindari kejaran Marvin walau hanya sementara.
Davina tahu siapa Marvin Harris, sangat mudah bagi pria itu untuk kembali menemukannya. Setidaknya pengamanan di kos ini lebih baik, jadi Marvin tidak akan tiba-tiba muncul didepan kamar Davina. Setelah membayar uang sewa selama 3 bulan, Davina dan Mely langsung masuk ke kamar masing-masing.
*
*
*
"Kenapa tiba-tiba pindah?" tanya Adam heran.
"Sebenarnya beberapa hari ini ada seorang pria yang menguntit Nona Davina, Tuan." jawab Orkan yang tak lain adalah bawahan Adam didunia hitam.
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" tanya Adam marah.
"Maafkan saya Tuan. Tapi pria itu sepertinya tidak mempunyai niat buruk terhadap Nona." jawab Orkan dengan hati-hati.
"Apakah kau menyimpulkannya sendiri? Bagaimana kalau nyawa anakku dalam bahaya. Jangan bermain-main dengan keselamatan putriku!" kata Adam memperingatkan.
"Maaf Tuan. Saya sudah mengikuti dan yang saya lihat pria itu sedang mengejar Nona." sahut Orkan menjelaskan.
"Siapa pria itu? Apakah kau sudah menyelidikinya?" tanya Adam yang suaranya sudah meninggi.
"Sudah, Tuan. Pria yang mengejar Nona adalah tuan muda keluarga Harris." jawab Orkan memberitahu.
"Keluarga Harris?" tanya Adam tercengang.
"Iya, Tuan." jawab Orkan yakin.
"Baiklah aku akan menyelidikinya lebih lanjut. Tugasmu disana pastikan bahwa Davina baik-baik saja." titah Adam.
"Baik Tuan." sahut Orkan kemudian memutuskan panggilan suaranya.
"Tuan muda keluarga Harris? Apakah itu Marvin? Untuk apa dia menguntit Davina? Benarkah dia sedang mengejar Davina seperti yang dikatakan Orkan? Atau pria itu punya motif lain? Sepertinya aku harus mencaritahu sendiri." gumam Adam yang kepalanya penuh dengan pertanyaan.
"Cepat periksa keluarga Harris terutama Marvin Harris. Berikan datanya kepadaku secepatnya." perintah Marvin kepada asisten pribadinya, Darwin.
"Baik Tuan." ucap Darwin kemudian meninggalkan ruang kerja Adam.
Tak butuh waktu lama, Darwin sudah kembali membawa sebuah tablet dan memberikannya kepada Adam.
"Disini sudah tertera tentang semua informasi keluarga Harris, Tuan. Dan dislide berikutnya adalah informasi satu-satunya penerus keluarga Harris yaitu Marvin Harris." ucap Darwin yang diangguki oleh Adam.
Darwin melihat kode kibasan tangan Adam dan keluar dari ruang kerja tuannya.
"Meskipun kekuatannya masih dibawah Carlos tapi pengaruhnya lumayan juga. Sepertinya keluarga ini memiliki kemajuan yang pesat. Dalam waktu 2 tahun bisnis keluarga Harris mampu meraih posisi ke 3 di negara ini semenjak diambil alih oleh Marvin."
Adam membaca dengan sangat teliti tak ingin melewatkan informasi tentang Harris sedikitpun. Adam juga membaca bahwa dunia hitam di kota A dibawah kendali keluarga Harris.
Karena semakin penasaran, Adam menggeser slide dilayarnya untuk membaca informasi tentang pria penerus keluarga Harris.
"Usia 30 tahun, belum pernah menjalin hubungan dengan wanita sama sekali." Adam mengerutkan keningnya.
"Mana mungkin jaman sekarang ada pria seperti ini? Memiliki kekuasaan dan kekayaan harusnya sangat mudah untuknya bermain dengan banyak wanita." gumam Adam tidak percaya.
"Atau jangan-jangan dia punya kelainan seksual?" tebak Adam sembarangan.
"Sayang sekali." batin Adam menghembuskan nafas kasar kemudian meletakkan tabletnya.
"Darwin!" panggil Adam.
"Iya Tuan." sahut Darwin cepat dan bergegas masuk saat mendengar panggilan tuannya.
"Tolong selidiki lebih lanjut tentang asmara Marvin Harris. Jangan ada satupun yang terlewat." titah Adam yang langsung diangguki oleh Darwin.
-BERSAMBUNG