Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 77 Lebih Tertantang


"Kenapa setelah belanja kau mendadak jadi pendiam?" tanya Nathan heran sembari mengemudikan mobilnya.


Nathan melirik Amel yang hanya diam saja tak menjawab pertanyaannya.


"Sayang?" panggil Nathan kali ini membuat Amel tersadar.


"Ah iya.. Ada apa?" tanya Amel.


"Apa yang kau pikirkan? Kenapa dari belanja kau malah tidak senang? Apakah ada barang yang kau inginkan tapi belum kau beli?" tanya Nathan penasaran.


"Oh bukan. Mungkin aku hanya lelah saja." jawab Amel memaksakan senyumnya yang dibalas anggukan kepala Nathan.


"Sayang, kau pernah mendengar tentang keluarga Harris?" tanya Amel mencoba mengulik informasi.


"Harris? Apa yang kau maksud adalah Marvin Harris?" tanya Nathan kembali.


"Marvin Harris? Aku tidak tahu, mungkin saja benar. Apa kau mengetahui siapa dia?" tanya Amel.


"Hem... Saat pertama kali datang kesini, banyak orang-orang yang menyebut namanya. Aku dengar dia adalah orang paling kejam dan tak ada satupun orang dikota ini yang berani menyinggung keluarga Harris." jawab Nathan.


"Apakah benar sekuat itu?" tanya Amel penasaran.


"Iya mungkin saja. Meskipun kini hanya tinggal nenek dan cucunya tapi keluarga Harris benar-benar tak boleh dipandang remeh. Terlebih nama Marvin Harris juga sudah mulai masuk daftar orang terpenting dinegara kita." jawab Nathan menjelaskan.


"Gawat! Sepertinya aku benar-benar sudah mengusik singa tidur." batin Amel ketakutan.


"Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan keluarga Harris?" tanya Nathan.


"Tidak. Aku hanya tidak sengaja mendengar omongan orang saat berbelanja tadi. Mereka sepertinya menyebut nama itu." bohong Amel.


"Oh wajar saja." sahut Nathan setelah itu kembali fokus dengan kemudinya.


"Ternyata aku benar-benar sudah menyinggung orang yang salah." batin Amel ngeri.


"Kenapa Davina bisa bersama Nyonya Harris? Apakah mereka ada hubungan?" tanya Amel dalam hati.


"Sepertinya aku harus menyelidikinya." gumam Amel.


...****************...


"Mas... Jangan disini." lirih Davina malu-malu.


Marvin tersenyum menyeringai kemudian menempelkan kepalanya ke ceruk leher Davina.


"Apakah kau sudah siap, istriku?" tanya Marvin dengan nada menggoda.


"A-aku.. Aku..." ucap Davina gugup.


Marvin terkekeh kemudian mendekap erat Davina.


"Aku tidak akan memaksamu. Anggap saja aku mencicipi pembuka terlebih dahulu." kata Marvin mengecup lembut kening Davina.


Davina bernafas lega namun ada rasa bersalah yang menyelimuti hatinya.


"Apakah aku sudah keterlaluan padanya? Dia sudah terlalu lama menahannya." batin Davina menatap Marvin lekat.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Marvin mengerutkan keningnya.


"Maafkan aku." kata Davina lirih.


"Kau tidak bersalah, Sayang. Tenang saja, suamimu ini kesabarannya seluas samudera. Aku akan menunggumu sampai kau siap." sahut Marvin santai.


"Benarkah?" tanya Davina tak percaya.


"Kalau kau ragu, bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" tantang Marvin seketika membuat Davina terdiam.


"Haha.. Aku tahu kau masih butuh waktu untuk menerimaku. Aku tak mau memaksamu. Kita akan melakukannya atas dasar suka sama suka." ucap Marvin lagi sembari membelai lembut kepala istrinya.


"Terimakasih, Mas." sahut Davina tersenyum manis kemudian memeluk Marvin erat.


Marvin tersenyum kemudian membalas pelukan istrinya lebih erat.


"Sabar, Marvin. Kau harus berjuang lebih keras lagi." batin Marvin menyemangati dirinya sendiri.


Hari sudah mulai gelap, Marvin dan Davina pun menyudahi kegiatan berenangnya. Setelah bilas dan berganti pakaian keduanya memutuskan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


"Sepertinya kau sangat hafal tempat-tempat bagus disini ya?" tanya Davina menikmati pemandangan kota dari ketinggian.


"Tentu saja. Aku terlahir dikota ini dan pekerjaanku juga mengharuskanku untuk mengunjungi tempat-tempat seperti ini." jawab Marvin.


"Benar-benar pria sibuk." ucap Davina membuat Marvin tersenyum.


"Tenang saja, walau aku sibuk pasti akan menyempatkan waktu untuk menemanimu. Saat ini kau adalah prioritasku." sahut Marvin.


"Jangan berlebihan. Aku tak ingin mengganggumu. Lagipula kau perlu mengumpulkan uang yang banyak untuk masa depan keluarga kecil kita." kata Davina.


"Haha.. Jangan khawatir istriku. Aku tidak akan membiarkan Nona Muda Carlos kekurangan uang. Kalau itu terjadi, pasti ayahmu akan menghukumku." ucap Marvin membuat Davina tertawa geli.


"Baiklah. Sepertinya kau harus bekerja lebih rajin lagi." sahut Davina.


"Pasti. Aku tak akan mengecewakanmu. Akan aku buat kau bangga memiliki suami sepertiku." ucap Marvin percaya diri.


"Oke, buktikan saja." tantang Davina.


"Oke! Jika aku berhasil maka kau harus memberiku hadiah spesial." sahut Marvin bersemangat.


Davina tersenyum paham dengan maksud suaminya.


"Baiklah." ucap Davina.


"Kalau begitu kau tidak boleh mengingkarinya!" kata Marvin penuh penekanan.


"Oke, deal!" kata Davina membuat Marvin tersenyum puas.


...****************...


"Selidiki keluarga Wijaya!" perintah Julia dengan memendam amarah.


"Wijaya yang mana Nyonya?" tanya Thomas.


"Kalau tidak salah putrinya bernama Amelia Wijaya yang menikah dengan keluarga Johnson." jawab Julia yang sudah mengantongi informasi lewat Mely.


"Baik Nyonya, saya akan segera kembali." sahut Thomas patuh.


"Siapa suruh kau menyinggung cucu menantuku, lihat saja aku akan memberikan peringatan kecil untukmu." batin Julia menyeringai licik.


Julia sudah lama tidak turun tangan sejak Marvin mengambil alih kepemimpinan keluarga Harris. Kali ini ia memutuskan untuk memberi hukuman kepada lalat kecil yang telah berani mengusiknya. Walaupun sudah memasuki usia senja tetapi darah Harris tetaplah miliknya, tegas dan kejam.


"Ini informasi tentang keluarga Wijaya, Nyonya." ucap Thomas yang sudah kembali dan menyerahkan tablet kepada Julia.


Julia menerimanya dan mengeluarkan kacamata lalu membacanya dengan teliti.


"Rupanya kedudukan kecil sudah membuatnya berbangga diri." gumam Julia remeh.


"Kau timbulkan kekacauan kecil dikeluarga itu. Aku ingin lihat apakah lalat wanita itu masih bisa bersikap sombong atau tidak." titah Julia tegas.


"Apakah keluarga Wijaya sudah menyinggung Nyonya?" tanya Thomas penasaran.


"Jangan banyak tanya. Lakukanlah tugasmu dan laporkan padaku hasilnya." jawab Julia dingin.


"Baik Nyonya, segera saya lakukan." sahut Thomas patuh kemudian meninggalkan Julia untuk segera melakukan tugasnya.


"Masih saja ada yang berani menyinggung keluarga Harris. Aku rasa kali ini keluarga Wijaya akan terancam karena Nyonya Besar sudah turun tangan." batin Thomas bergidik ngeri.


"Tenang saja cucu menantuku, aku takkan membiarkan orang menyakitimu. Akan aku buktikan bahwa keluarga Harris juga tidak kalah dengan kekuatan Carlos." batin Julia menyeringai.


"Semoga cucu bodohku itu bisa diandalkan." harap Julia menghela nafas kemudian menyandarkan punggungnya dikursi kebesarannya.


"Eh kenapa sudah gelap mereka belum juga kembali?" tanya Julia menyadari jika Marvin dan Davina belum pulang.


"Haih, pengantin baru. Rupanya aku tetap saja kesepian dirumah ini. Semoga saja Marvin bisa segera menaklukan hati Davina. Aku sudah sangat rindu suara tangisan bayi." gumam Julia penuh harap.


-BERSAMBUNG