Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 28 Gadis yang Sama


Esok harinya, Adam dan Sera telah tiba di bandara kota A. Mereka mencari hotel yang tidak jauh dari kampus Davina. Hal itu bertujuan agar Davina tidak perlu berpergian jauh untuk bertemu dengan orangtuanya.


Drt Drt


Ponsel Davina bergetar, terdapat panggilan dari ayahnya.


"Pagi Ayah. Apakah Ayah dan Ibu sudah sampai?" tanya Davina.


"Sudah, Nak. Ayah kirimkan lokasi hotel ya, nanti kamu kesini saja. Ibumu sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu." jawab Adam antusias.


"Baik Ayah. Tapi Davina masuk kuliah dulu, ada jam pagi." ucap Davina memberitahu.


"Baiklah. Nanti ajak Mely dan Orkan saja untuk berjaga-jaga." pesan Adam mengingatkan.


"Oke Ayah." sahut Davina patuh.


"Kedatangan kita kesini tidak membuat orang curiga kan, Yah?" tanya Sera khawatir.


"Kau tenang saja, kita kesini tidak menggunakan identitas asli. Tidak akan memancing musuh." jawab Adam.


"Syukurlah." ucap Sera lega.


"Jangan khawatir, aku sudah menyusun rencana dengan rapi. Musuh tidak akan memiliki celah." kata Adam yakin.


"Hem.. Baik, aku percaya padamu." sahut Sera sambil memeluk Adam.


Adam tersenyum kemudian membelai lembut rambut panjang istrinya.


Begitulah selama ini Adam tidak ingin para musuhnya mengetahui tentang keluarganya. Adam selalu waspada untuk melindungi istri dan anaknya. Adam tidak akan membiarkan identitas mereka terungkap.


*


*


*


"Tuan sepertinya Nyonya besar sedang menyelidiki Nona Davina." ucap Johan memberitahu.


"Apa? Bagaimana mungkin? Darimana Nenek tahu tentang gadis itu?" tanya Marvin menghentikan aktivitasnya didepan laptop.


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi kalau saya tidak salah dengar, Nyonya bilang kalau Nyonya sedang mencari gadis yang pernah menyelematkannya. Apa mungkin yang dimaksud Nyonya adalah Nona Davina yang Tuan kejar saat ini?" jawab Johan sekaligus memberikan pertanyaan.


Marvin terdiam sejenak untuk mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat itu Julia memang mengatakan kalau telah diselamatkan dari pencopet oleh seorang gadis. Mengingat saat pertama kali Marvin berusaha mendekati Davina, serangannya memang menandakan kalau gadis itu menguasai beladiri.


"Apa ada kebetulan yang seperti ini?" gumam Marvin.


Marvin kembali teringat saat Julia berniat menjodohkannya dengan gadis penyelamat itu. Kalau memang itu adalah Davina yang sama, maka semuanya benar-benar telah ditakdirkan.


"Tuan? Kenapa Tuan diam saja?" tanya Johan memperhatikan.


"Ah.. Kau biarkan saja Nenek menyelidiki tentang gadis itu. Kalaupun dia adalah Davina yang sama, aku yakin Nenek tidak akan berniat buruk padanya." jawab Marvin dengan menyunggingkan senyum tipis diwajahnya.


"Baik Tuan." sahut Johan patuh.


Setelah menyampaikan informasi, Johan keluar dari ruangan kerja Marvin.


"Kelinci kecilku, sepertinya kita memang berjodoh." gumam Marvin.


"Mungkin aku butuh bantuan Nenek yang akan lebih menaklukkanmu daripada aku." batin Marvin menyeringai.


Marvin bergegas menuju kamar Julia, Marvin mengetuk pintu kamar Julia dengan hati-hati.


TOK TOK TOK


"Masuklah cucuku." sahut Julia dari dalam kamar.


Marvin membuka pintu mendapati Julia sedang duduk disoffa menikmati secangkir teh.


"Bagaimana Nenek tahu kalau ini aku?" tanya Marvin heran.


"Aku hafal suara langkahmu dan caramu mengetuk pintu." jawab Julia santai.


"Wah, Nenek hebat sekali." puji Marvin kemudian duduk disamping Julia.


"Ada apa? Kau mau Nenek membantumu dalam hal apa?" tanya Julia yang bisa menebak tujuan Marvin.


"Wow! Nenek benar-benar hebat! Selalu bisa membaca isi hatiku." jawab Marvin takjub.


"Apakah Nenek sedang menyelidiki seorang gadis? Bolehkah Marvin tahu siapa dia, Nek?" tanya Marvin.


Julia meletakkan cangkirnya lalu menatap Marvin kemudian menghela nafas.


"Apakah Johan yang memberitahumu?" tanya Julia.


Marvin tersenyum dengan menampakkan gigi depannya.


"Dasar anak itu tidak bisa diajak kerjasama. Ternyata dia lebih takut denganmu daripada aku." ucap Julia kesal.


"Nenek jangan marah dengan Johan. Aku yang memaksanya agar mengatakan yang sebenarnya kepadaku." bela Marvin tidak ingin Johan disalahkan.


"Huh.. Kalian benar-benar atasan dan bawahan yang kompak sekali." cibir Julia.


"Justru itu bagus kan, Nek? Jadi Nenek mau kan memberitahuku? Siapa gadis yang sedang Nenek cari?" tanya Marvin lagi dengan memelas.


"Aku memang tidak bisa menolakmu." ucap Julia kalah.


"Aku sedang mencari gadis yang pernah menolongku waktu itu. Kau masih ingat saat Nenek hampir kecopetan bukan?" kata Julia memulai ceritanya.


Marvin menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Nenek hanya mengetahui namanya. Jadi Nenek mencoba mencari informasinya ke kampus. Tapi Nenek tidak bisa mendapatkan alamat tempat tinggalnya. Nenek jadi penasaran siapa gadis itu kenapa identitasnya tertutup rapat seperti sengaja disembunyikan oleh keluarganya. Padahal Nenek hanya ingin lebih mengenalnya. Sepertinya dia gadis yang baik." curhat Julia dengan nada sedikit kecewa.


"Apakah Nenek benar-benar ingin bertemu dengan gadis itu?" tanya Marvin memastikan.


"Tentu saja. Nenek ingin dekat dengannya, lagipula Nenek sudah berniat menjodohkannya denganmu tapi kau malah sudah punya pilihan sendiri." jawab Julia kesal.


"Bagaimana kalau Marvin setuju dengan perjodohan yang Nenek rencanakan?" tanya Marvin.


Julia menatap Marvin tak percaya.


"Maksudmu?" tanya Julia.


"Iya, Marvin setuju jika Nenek akan menikahkan Marvin dengan gadis yang pernah menyelamatkan Nenek." jawab Marvin tersenyum.


"Tunggu dulu. Bukankah waktu itu kau dengan tegas menolaknya? Kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Julia curiga.


"Nenek, aku percaya dengan gadis pilihan Nenek. Aku yakin Nenek tidak akan salah dalam menilai seseorang." jawab Marvin semakin membuat Julia kebingungan.


"Kenapa kau jadi aneh begini? Lalu bagaimana dengan gadis yang sedang kau kejar itu? Bukannya kau sudah tergila-gila padanya? Apakah dia menolakmu berkali-kali sehingga kau menyerah dan memilih untuk menerima gadis yang akan Nenek jodohkan denganmu?" tanya Julia dengan tatapan penuh selidik.


Marvin terkekeh mendengar banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Neneknya.


"Bagaimana kalau Marvin bilang bahwa gadis yang Nenek pilih dan gadis yang aku kejar adalah orang yang sama apakah Nenek akan percaya?" tanya Marvin.


Julia terdiam sejenak mencerna perkataan cucunya.


"Jadi maksudmu? Apakah gadis yang kau maksud juga bernama Davina?" tanya Julia memastikan.


Marvin menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban.


"Kau serius? Tidak berbohong pada Nenek?" tanya Julia tidak percaya.


Marvin terkekeh kemudian menganggukkan kepalanya.


"Apa-apaan ini? Inikah yang dimaksud dengan kalau jodoh tak kemana? Benar-benar kebetulan sekali." ucap Julia yang masih terkejut.


"Jadi apakah Nenek ingin bertemu dengannya untuk memastikan sendiri? Marvin sudah memiliki nomor ponselnya, Marvin bisa mengatur pertemuan Nenek dengannya." ucap Marvin memberi menawarkan.


"Sial! Ternyata kau sudah unggul satu langkah daripada Nenekmu ini." kata Julia tak terima.


"Jadi Nenek mau tidak? Tapi Marvin hanya bisa membuat pertemuan Nenek dan Davina seolah-olah tidak disengaja. Marvin belum ingin Davina tahu kalau Nenek adalah nenek Marvin. Bagaimana, Nek?" ucap Marvin mengungkapkan rencananya.


"Begitu lebih baik. Jadi Nenek akan pelan-pelan memaksanya untuk menerima perjodohan ini." sahut Julia yang sudah memikirkan rencananya sendiri.


"Tapi Nenek harus berjanji tidak mengungkapkan jatidiri Nenek. Kalau tidak, maka rencana ini akan gagal." pesan Marvin mengingatkan.


"Oke, sepakat." sahut Julia mantap.


Marvin dan Julia saling melemparkan senyuman.


"Semoga Tuhan benar-benar menakdirkan kita berjodoh, kelinci kecilku." batin Marvin penuh harap.


-BERSAMBUNG