Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 13 Asisten Kepo


Lima belas menit perjalanan, taxi yang ditumpangi Davina sudah berhenti didepan supermarket. Setelah membayar driver, Davina dan Mely bergegas turun masuk ke supermarket. Davina dan Mely berpencar untuk belanja kebutuhan masing-masing.


Davina menuju tempat penjualan buah-buahan, ia memilih beberapa buah segar. Sedangkan Mely ke tempat yang menjual alat mandi lebih dulu.


Sekitar 30 menit berbelanja, Davina dan Mely sudah mengantre untuk melakukan pembayaran di kasir. Kedua wanita ini memang tidak suka menghabiskan waktu berlama-lama untuk belanja. Mereka hanya membeli apa yang mereka butuhkan.


"Kau sekalian saja denganku." ucap Davina kepada Mely yang mengantre dibelakangnya.


"Tidak usah Nona. Saya membayar sendiri." sahut Mely tak enak hati.


"Tidak perlu sungkan." kata Davina.


"Tapi Nona..."


"Kau tabung saja uangmu. Membayarimu tidak membuatku miskin." bisik Davina memotong perkataan Mely.


Mungkin bagi orang baru, ucapan Davina bisa diartikan sebuah kesombongan. Tapi bagi Mely itu sudah merupakan hal biasa yang ia dengar. Davina sendiri tidak akan berkata seperti itu jika bukan dengan orang terdekat dan kepercayaannya.


Setelah membayar Davina dan Mely keluar dari supermarket menuju sebuah resto makanan cepat saji yang berada disamping supermarket.


"Kita sekalian makan dulu." ajak Davina.


"Baik Nona." sahut Mely menyetujui.


Davina langsung memesan dua porsi makan dan minum kemudian mencari kursi yang kosong. Restoran cukup padat karena bertepatan dengan jam pulang kerja.


Tak butuh waktu lama pramusaji sudah datang membawa pesanan Davina.


"Terimakasih." ucap Davina ramah.


Pramusaji wanita itu membalasnya dengan anggukan dan juga senyuman kemudian kembali melanjutkan tugasnya. Davina dan Mely langsung menyantap makanan yang dihadapannya. Ternyata berbelanja begitu saja sudah menguras tenaga mereka.


"Nona siapa orang yang berani meneror Nona?" tanya Mely setelah keduanya selesai makan.


Davina tak langsung menjawab, ia menyeruput es mocachino yang ada ditangannya lebih dulu.


"Hanya seseorang yang kurang kerjaan." jawab Davina santai.


Mely mengernyitkan keningnya mendengar jawaban majikannya yang membuatnya semakin curiga.


"Apakah itu dari musuh kita?" tanya Mely tak puas dengan jawaban Davina.


"Bukan. Sudahlah jangan membahasnya. Tidak terlalu penting untukku." jawab Davina datar.


"Maafkan saya Nona." ucap Mely merasa bersalah sudah membuat Davina marah.


"Lebih baik sekarang kau harus lebih bertanggungjawab atas tugasmu. Jadi kau bisa langsung mengetahui siapa yang menerorku tanpa banyak bertanya kepadaku." kata Davina memperingatkan.


"Baik Nona." sahut Mely cepat.


Mely merasa Davina sedang menyindirnya karena telah lalai beberapa hari ini. Bisa-bisanya Mely kecolongan dan tidak mengetahui siapa yang menguntit majikannya. Itu merupakan sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan dalam tugasnya menjadi seorang pengawal pribadi. Jika bukan Davina mungkin dirinya sudah dipecat.


"Semoga saja yang menguntit Nona bukanlah orang yang berniat buruk." batin Mely.


"Aku harus lebih waspada kedepannya." tekad Mely bersemangat.


"Aku ingin menghirup udara segar. Kita jalan-jalan sebentar yuk." ajak Davina.


"Baik Nona. Belanjaanya biar saya yang bawa." ucap Mely tidak ingin membuat majikannya kelelahan.


"Tidak perlu repot-repot, kita minta pengawal rahasia yang dipekerjaan Ayahku untuk mengantarnya ke kos." kata Davina.


"Bagaimana kalau security di kos curiga Nona?" tanya Mely khawatir.


"Kau tenang saja. Bawahan ayahku pasti tidak bodoh." jawab Davina dengan senyum liciknya.


Davina yang mengetahui keberadaan Orkan langsung memanggilnya dan memberikan perintah.


Davina hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan barang belanjaannya kepada Orkan dan diikuti oleh Mely. Orkan melirik sekilas dan memberikan tatapan tajam kepada Mely.


"Kenapa dia melihatku seperti itu?" tanya Mely dalam hati kemudian bergegas menyusul Davina yang sudah berjalan lebih dulu.


Terkadang Davina memang suka melakukan hal-hal yang sederhana dengan tiba-tiba. Mely yang sudah menemaninya beberapa tahun sudah paham dengan perubahan sifat majikannya. Yang sering Mely ketahui adalah saat suasana hati Davina tidak baik maka akan memintanya untuk menemani melakukan hal-hal tidak biasa seperti malam ini.


"Siapa yang berani menggangu Nona beberapa hari ini? Atau Nona sedang mengingat mantan kekasihnya?" gumam Mely bertanya-tanya dalam hati.


"Jika kau ingin bertanya, tanyalah. Jangan menyimpannya didalam hati." ucap Davina membuat Mely terkejut.


"Apakah Nona cenayang?" tanya Mely spontan.


"Ya boleh kau sebut begitu. Ingatlah apapun yang kau pikirkan dan kau sembunyikan didalam hatimu itu aku bisa mengetahuinya dengan mudah." jawab Davina menatap Mely menyeringai.


Mely menghentikan langkahnya. Tiba-tiba tubuhnya bergidik ngeri setelah mendengar ucapan Davina.


"Apakah tuanku punya indra keenam?" batin Mely.


"Kalau kau mau diam disana saja, maka jangan salahkan aku akan memotong gajimu." teriak Davina menyadarkan Mely yang sudah tertinggal lumayan jauh.


"Tidak Nona tunggu aku!" teriak Mely berlari cepat menyusul Davina.


Davina hanya terkekeh mengetahui kepanikan Mely. Walaupun kadang ceroboh dan menjengkelkan namun Mely adalah orang yang bisa dipercaya Davina. Dan kemampuan Mely juga tidak perlu diragukan lagi. Berulang kali Mely rela melakukan apa saja untuk melindungi Davina bahkan jika nyawa taruhannya maka Mely akan melakukannya dengan senang hati.


"Nona bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Mely setelah mengatur nafasnya.


"Hem." jawab Davina singkat.


"Apakah Nona belum bisa melupakan Tuan Nathan?" tanya Mely hati-hati.


Davina menghentikan langkahnya kemudian menatap datar wajah Mely.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?" tanya Davina.


"Maaf Nona. Aku hanya bertanya saja tidak bermaksud membuka luka lama Nona." jawab Mely tak enak hati.


Davina menghela nafas kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Kali ini Davina berjalan lebih santai.


"Memangnya aku terlihat seperti orang yang sedang patah hati? Apakah kau mengira aku mengajakmu berjalan-jalan ini tandanya aku sedang mengingatnya?" tanya Davina tak habis pikir dengan pertanyaan bawahannya.


"Maaf Nona. Memang biasanya seseorang yang putus cinta tidak bertingkah seperti itu?" Mely malah balik bertanya.


"Coba kau lihat aku apakah terlihat sedih?" tanya Davina menatap Mely tajam.


"Ti-tidak. Nona baik-baik saja malah sekarang terlihat lebih bahagia." jawab Mely sedikit takut.


"Jadi kau bisa menyimpulkannya sendiri kan." ucap Davina menatap jalanan dihadapannya.


"Nona sudah move on dari Tuan Nathan?" tanya Mely penasaran.


"Kita memang harus melepaskan orang yang tidak pantas kita perjuangkan." jawab Davina sedikit menghela nafas kemudian tersenyum tipis.


"Nona benar. Aku berharap Nona akan berjodoh dengan pria tampan, kaya, kuat yang mencintai setulus hati dan setia kepada Nona sampai maut memisahkan." ucap Mely mendoakan Davina sepenuh hati.


"Terimakasih." sahut Davina kemudian tersenyum kepada Mely.


"Pria tampan dan kaya memiliki kesetiaan? Sepertinya aku harus mencarinya diseluruh penjuru dunia untuk menemukan seorang pria seperti itu." gumam Davina.


"Kelebihan fisik dan harta akan membuat seseorang berbuat semaunya. Pria yang memiliki dua hal itu pasti akan mencari wanita hanya untuk bersenang-senang."


"Nathan yang mengenalku sebagai gadis biasa saja bisa mengkhianatiku. Bagaimana kalau identitasku terbongkar? Berapa banyak pria yang akan bersandiwara untuk mendekatiku?" tanya Davina miris di dalam hati.


-BERSAMBUNG