
Hari sudah berganti, matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Davina perlahan mulai membuka matanya. Davina mencari keberadaan Marvin saat melihat ranjang disebelahnya sudah kosong. Davina mendengar suara gemercik air yang menandakan Marvin berada dikamar mandi.
"Apakah semalam dia tidur disampingku?" tanya Davina dalam hati saat menyentuh sisi ranjang kosongnya yang terasa hangat.
"Apa yang kau pikirkan, Vina?" batin Davina mengusap wajahnya kasar.
"Kau sudah bangun, Sayang? Apakah tidurmu semalam sangat nyenyak?" sambut Marvin dengan bertelanjang dada dan rambut yang masih basah.
"Hem. Aku mau mandi dulu." pamit Davina bergegas masuk kekamar mandi.
"Eh, apakah tadi aku salah lihat? Wajahnya memerah?" tanya Marvin memastikan.
"Sial! Apa yang kau pikirkan Vina? Ternyata tubuh pria itu menggoda sekali." batin Davina merasakan pipinya tiba-tiba memanas.
Merupakan hal normal jika Davina tergoda dengan paras Marvin yang tampan dan tubuhnya yang berotot.
Terlebih mereka sudah menjadi pasangan suami istri.
"Tahan dirimu, Vina. Memalukan sekali." ucap Davina menggerutu kesal pada dirinya sendiri.
15 menit kemudian Davina sudah selesai membersihkan dirinya.
"Memangnya dokter sudah memperbolehkanmu pulang hari ini?" tanya Davina yang sudah melihat Marvin berpakaian lengkap.
"Iya tentu saja. Jangan-jangan kau tidak ingin aku pulang? Kau masih ingin kita berduaan disini?" tanya Marvin menggoda Davina.
"Kau ini. Tapi sepertinya aku tidak bisa ikut pulang denganmu. Pagi ini aku ada kuliah." jawab Davina mengingat jadwal kuliahnya.
"Aku akan mengantar dan menunggumu. Kita pulang kerumah bersama." ucap Marvin.
"Kau tidak sedang menarik perhatian orang-orang kepadaku kan?" tanya Davina curiga.
"Tenang saja. Aku akan meminta Johan menyiapkan mobil sederhana. Aku tidak akan membuatmu menjadi sorotan orang-orang." jawab Marvin membuat Davina bernafas lega.
"Baiklah." sahut Davina tak menolak tawaran Marvin.
"Sepertinya hari ini kelinciku menjadi lebih penurut." gumam Marvin senang.
"Kau yakin kau sudah baik-baik saja? Tidak perlu perawatan lagi?" tanya Davina sedikit khawatir.
"Aku sudah meminta Andre untuk memeriksaku dirumah. Kau jangan khawatir, suamimu tidak selemah itu." jawab Marvin santai.
"Ternyata orang ini benar-benar keras kepala." batin Davina melihat kepala Marvin yang masih dibalut perban.
"Ayo, Johan sudah menunggu di mobil." ajak Marvin.
Davina menganggukkan kepalanya lalu berjalan disamping Marvin.
"Silahkan Tuan, Nona." sambut Johan ramah kemudian membukakan pintu mobil untuk keduanya.
20 menit berlalu, mobil yang dikemudikan Johan sudah sampai didepan kampus Davina.
"Jo, bisa antarkan aku ke kos? Ada beberapa barang yang harus kubawa masuk kuliah hari ini." pinta Davina.
"Baik Nona." sahut Johan sopan.
"Kau lurus saja, nanti kos ku dikiri jalan." ucap Davina menambahkan.
"Kau mau sarapan dulu?" tawar Davina kepada Marvin.
"Disini ada soto ayam enak. Kau mau?" tanya Davina.
"Boleh." jawab Marvin tersenyum.
"Jo, berhenti dipertigaan jalan depan. Disitu ada pedagang kaki lima yang menjual soto ayam. Jam segini pasti ramai sekali, semoga kita masih kebagian." ucap Davina bersemangat.
"Baik Nona." sahut Johan menuruti permintaan istri Tuannya.
"Buk, soto ayam 3 ya." ucap Davina.
"Baik. Ditunggu ya Kak." sahut ibu penjual soto.
Davina memilih tempat yang kosong untuk mereka duduk. Hanya tersisa tempat duduk lesehan.
"Hanya ada tempat ini yang kosong, apakah kalian tidak keberatan?" tanya Davina lebih dulu.
Marvin menggelengkan kepalanya membuat Davina tersenyum, kemudian ketiga orang itu duduk. Posisi Marvin dan Davina berdampingan, sedangkan Johan memilih duduk agak jauh dari Marvin.
"Kenapa? Apa kau ingin duduk bersebelahan dengan asistenku?" tanya Marvin dengan nada dingin.
Davina terkejut lalu mengerutkan keningnya.
"Kau ini apa yang sedang kau pikirkan? Jangan-jangan kau cemburu dengan asistenmu?" bisik Davina tak percaya.
"Memangnya salah? Dia juga pria kan." jawab Marvin santai.
"Astaga pria ini posesif sekali." batin Davina.
"Baiklah, aku salah. Tenang saja aku bukanlah wanita yang mudah membuka hati untuk sembarang pria. Tapi bagaimanapun dia adalah orang kepercayaanmu. Harusnya kau percaya kepadanya juga kalau dia tak mungkin macam-macam." ucap Davina mengingatkan Marvin.
"Aku bisa percaya padamu tapi padanya seorang pria, dalamnya hati siapa yang tahu." kata Marvin membuat Davina terkekeh.
"Ternyata Tuan Muda Harris cemburuan sekali ya." ledek Davina dengan menyentil hidung mancung Marvin.
"Hey, sudah berani denganku ya?" kata Marvin dengan tatapan tajam.
"Salah siapa kau punya sisi kekanakan seperti ini. Membuatku gemas saja." ucap Davina namun segera menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Marvin.
"Ah tidak. Itu aku sudah lapar, ayo makan." kata Davina mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tepat sekali pesanan Davina sudah datang diwaktu dirinya butuh pertolongan.
"Hehe.. Kelinciku sudah berani bermain-main denganku ya. Tenang saja, aku tahu hatimu sudah mulai terbuka untukku. Aku akan terus berusaha sampai kau benar-benar menerimaku sepenuhnya." batin Marvin percaya diri.
Setelah selesai sarapan, Davina menuju ke kampusnya. Hari ini hanya dua mata kuliah yang diikuti Davina.
"Sudah selesai?" tanya Marvin yang menunggu Davina didalam mobil bersama Johan.
"Iya, kenapa masih menungguku? Kan aku sudah bilang kalau aku akan lama." jawab Davina.
"Tidak lama kok. Ayo kita makan siang dulu sebelum pulang." ajak Marvin dengan senyuman tampannya.
Davina membalas senyuman kemudian menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya hubungan Tuan dan Nona mulai membaik. Aku senang dengan kemajuan ini. Aku harap Tuan dan Nona bahagia selamanya." batin Johan mendoakan.
"Jo, apa Nenek tahu kalau aku kecelakaan?" tanya Marvin teringat jika belum memberi kabar kepada Julia.
"Tidak Tuan. Kemarin Nona Davina berpesan kepadaku untuk tidak memberitahu Nyonya Besar. Jadi aku bilang ke Nyonya Besar kalau Tuan dan Nona sedang ingin menikmati malam pertama." jawab Johan polos.
"Uhuk!"
Davina terbatuk saat mendengar perkataan Johan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Marvin khawatir.
"Ti-tidak kok. Hanya saja tenggorokanku terasa kering. Apakah ada air minum?" tanya Davina mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh ini." jawab Marvin sembari menyerahkan sebotol kemasan air mineral.
"Terimakasih." ucap Davina kemudian segera meneguk air itu hingga tersisa setengah.
"Sepertinya kau benar-benar kehausan." kata Marvin membuat Davina tersenyum kaku.
"Sialan. Asisten ini kenapa memberi perkataan omong kosong seperti itu kepada Nenek Julia sih. Memangnya tidak ada alasan yang lebih masuk akal ya?" gumam Davina kesal sekaligus malu.
Bagaimana mau malam pertama kalau perasaan saja belum ada. Davina tiba-tiba berpikir bagaimana kalau dia nanti jatuh cinta dengan Marvin apakah dia siap untuk memberikan dirinya sepenuhnya kepada pria itu.
"Arrrggghhh!!!"
Entahlah! Biar saja waktu yang berbicara.
Bukankah cinta akan hadir karena sering bersama?
Biar saja takdir yang menyatukan Marvin dan Davina.
Entah butuh waktu yang singkat atau lama, sepertinya cinta memang harus setiap saat dipelihara. Semoga saja kali ini Davina sudah benar-benar yakin untuk membuka hatinya untuk Marvin.
-BERSAMBUNG