Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 43 Penuh Persiapan


"Darimana saja kalian?" tanya Julia dengan tatapan penuh intimidasi saat Marvin dan Davina sudah kembali.


Julia memberikan tatapan tajam kepada Johan yang telah berbohong kepadanya. Julia menerima kabar dari rumah sakit kalau cucunya baru saja dirawat disana.


Marvin dan Davina saling berpandangan kemudian keduanya menganggukkan kepala secara bersamaan.


"Nenek ayo kita duduk dulu. Marvin akan bercerita kepada Nenek." ajak Marvin menggandeng tangan Julia lembut kemudian mengajaknya ke sofa ruang tamu.


"Untuk apa kau bercerita kepadaku? Bukankah kau sudah tega menyuruh Johan untuk membohongiku?" tanya Julia membuat Davina merasa bersalah.


"Lihat saja dirimu. Aku bahkan tidak tahu kalau cucuku sedang terluka kalau saja pihak rumah sakit tidak melapor kepadaku." ucap Julia sedih sembari menyentuh kepala Marvin yang diperban.


"Aku baik-baik saja, Nek. Ini hanya luka ringan saja." sahut Marvin mencoba menenangkan kekhawatiran Julia.


"Cucu menantuku juga begitu. Kenapa kau tidak memberi kabar kepada Nenek?" tanya Julia menatap Davina.


Davina tersenyum kemudian mendekati Julia dan berjongkok dihadapannya.


"Nenek maafkan aku. Aku yang meminta Johan tidak memberitahu Nenek. Aku hanya tidak ingin Nenek khawatir." ucap Davina lembut.


"Kau ini. Aku tidak selemah itu. Apalagi ini menyangkut keselamatan kalian." kata Julia penuh perhatian.


"Iya Nenek. Maafkan aku ya?" pinta Davina.


"Baiklah. Tapi kedepannya jangan pernah membohongiku lagi. Aku tidak akan membiarkan kalian masuk dalam bahaya sedikitpun." ucap Julia tegas.


Davina dan Marvin kompak menganggukkan kepalanya.


"Nenek tenang saja, Marvin akan lebih waspada kedepannya. Marvin tidak akan memberikan kesempatan seseorang melukai Nenek dan istriku." kata Marvin membuat Julia dan Davina tersenyum.


"Pria ini benar-benar pintar bersandiwara." gumam Davina dalam hati.


"Sepertinya Nenek sangat senang dengan kehadiran Davina dirumah ini. Aku harap Nenek benar-benar akan menerima dan menyayangi Davina." ucap Marvin dalam hati.


"Kalian ke kamarlah lebih dulu untuk istirahat." kata Julia.


"Baiklah, Nek. Kami ke atas dulu." pamit Marvin disusul oleh Davina.


"Aku tahu saat ini kalian belum saling memiliki perasaan. Tapi aku sangat berharap seiring berjalannya waktu, kalian akan jatuh cinta. Aku sudah sangat ingin menggendong cicit." batin Julia menatap kepergian Marvin dan Davina.


"Kita akan tidur dalam satu kamar?" tanya Davina saat Marvin mengajaknya masuk ke sebuah ruangan.


"Iya. Kau keberatan?" tanya Marvin.


"Bukan begitu. Lalu kita juga akan tidur bersama?" tanya Davina saat melihat dalam kamar itu hanya ada sebuah ranjang king size.


"Iya, ranjang ini cukup besar. Muat untuk kita berdua bukan? Atau kau ingin ukuran yang lebih besar?" tanya Marvin membuat Davina kikuk.


"Tidak-tidak. Aku akan tidur di situ saja." kata Davina menunjuk sebuah sofa yang tak jauh dari ranjang.


Marvin mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Davina.


"Apa sebegitunya kau tidak suka berdekatan denganku?" tanya Marvin.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa aneh jika harus tidur seranjang denganmu. Meskipun kita sudah menikah, tapi aku belum terbiasa dan butuh waktu untuk beradaptasi dalam hubungan ini." jawab Davina jujur.


Marvin menghela nafas kemudian tersenyum tipis.


"Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Jika kau memang tidak nyaman, aku akan tidur diruang kerjaku saja." kata Marvin mencoba memahami Davina.


"Tidak perlu. Kita tidur bersama saja. Tapi kau tidak boleh melebihi batas ini." ucap Davina sembari meletakkan guling ditengah ranjang sebagai pembatas.


"Baik. Kau mandi saja dulu. Pakaianmu dilemari itu." kata Marvin memberitahu.


Davina menganggukkan kepalanya.


"Sial. Dia juga menyediakan ini?" tanya Davina tak percaya.


Davina memutar kepalanya dan melihat Marvin sedang sibuk dengan ponselnya. Davina bergegas menutup lemarinya kemudian masuk ke kamar mandi.


"Pria itu benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik." gumam Davina.


...****************...


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Nathan.


Amel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Nathan panik saat melihat wajah Amel yang terlihat sangat pucat. Tanpa pikir panjang dan meminta persetujuan Amel, Nathan segera membopong istrinya untuk dibawa kerumah sakit. Amel yang sudah bisa menebak kemana Nathan akan membawanya pergi, hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.


"Ada apa dengan Amel, Nak?" tanya Bella khawatir.


"Nathan mau kerumah sakit, Mah." jawab Nathan.


"Mama ikut ya?" ucap Bella yang langsung diangguki kepala oleh Nathan.


Bella bergegas mengikuti Nathan masuk ke mobil dan berangkat ke rumah sakit terdekat.


Bella duduk dikursi belakang sembari memangku kepala Amel yang sudah lemas tidak bertenaga.


"Astaga kenapa sampai begini sih, Nak? Bukannya kemarin kamu sudah mulai membaik?" tanya Bella iba melihat kondisi Amel.


"Iya, Ma. Tadi setelah sarapan, Amel kembali muntah-muntah. Perutnya juga terasa sangat sakit." jawab Nathan mewakili.


"Yang kuat ya, Nak. Semua pasti akan baik-baik saja." ucap Bella membelai lembut kening Amel.


Bella bisa merasakan sakit yang diderita Amel hanya dengan melihat wajah Amel yang sangat pucat dan sesekali meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.


Amel hanya memberikan tatapan sendu dan menganggukkan kepalanya. Amel sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya.


Menempuh perjalanan yang tak terlalu jauh, akhirnya mobil Nathan sampai di rumah sakit. Nathan langsung menggendong Amel agar segera mendapatkan perawatan disusul oleh Bella dibelakangnya.


Datanglah seorang dokter wanita yang bertugas untuk memeriksa Amel.


"Apakah ini kehamilan pertama?" tanya dokter kandungan itu.


"Iya dok." jawab Nathan mewakili.


"Apakah baru pertama kali perutnya sakit seperti ini?" tanya dokter itu memastikan.


Nathan menganggukkan kepalanya.


"Se-sebenarnya sudah beberapa hari ini saya merasakan sakit, Dok." sahut Amel membuat Nathan dan Bella terkejut.


"Maaf aku tidak berani cerita." ucap Amel lirih.


"Sepertinya kondisi janinnya sangat lemah. Saya akan memeriksanya lebih dulu untuk memastikan kondisinya." kata dokter mencoba memahami situasi.


"Tolong pastikan kesehatan istri dan calon anakku, Dok." pinta Nathan tulus.


Nathan menggenggam tangan Amel dengan erat. Bella juga membelai rambut Amel dengan lembut. Mereka paham dengan kondisi Amel yang tak berani mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Kehamilan di usia muda bukanlah hal yang mudah. Pasti Amel juga merasakan tekanan atas perubahan yang terjadi pada dirinya.


Bella merasa bersalah karena dirinya ternyata kurang memperhatikan keadaan menantu dan juga calon cucunya. Begitu juga dengan Nathan yang akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu di kampus.


"Saya akan memberikan obat penguat janin terlebih dahulu. Tapi saya meminta untuk rawat inap dulu untuk benar-benar memastikan kesehatan ibu dan calon bayi." kata dokter memberitahu.


"Baik, Dok." sahut Nathan.


-BERSAMBUNG