
"Nona apakah mau berjalan sampai ke kos?" tanya Mely menyadari jika sudah berjalan cukup jauh.
"Jika kau lelah, kau bisa menghentikan taxi." jawab Davina santai.
"Tidak mungkin aku meninggalkan Nona sendirian disini." ucap Mely keberatan.
"Kau tenang saja. Orkan sudah kembali." kata Davina setengah berbisik.
"Tidak. Aku akan menemani Nona." sahut Mely kekeh.
"Terserah kau saja." kata Davina tanpa ekspresi.
Tin Tin
Suara klakson mobil terdengar dari arah belakang Davina dan Mely. Menyadari laju mobil yang tak terkendali Mely langsung menarik tangan Davina ke sisinya.
"Nona hati-hati!" teriak Mely.
BRAK!
Sebuah mobil yang baru saja membunyikan klaksonnya itu menabrak pohon di tepi jalan. Sepertinya mobil itu mengalami rem blong. Untuk menghindari tabrakan beruntun dari arah berlawanan mungkin sang sopir memilih untuk membanting stir ke kiri dan alhasil menerobos jalur pejalan kaki dan menabrak pohon besar.
"Nona tidak apa-apa kan?" tanya Mely dan Orkan serempak.
"Aku tidak apa-apa. Sepertinya penumpang mobil itu butuh bantuan." jawab Davina.
"Orkan coba periksa. Tapi hati-hati siapa tahu ini modus dari musuh." bisik Davina mengingatkan.
"Baik Nona." sahut Orkan waspada.
Orkan berjalan mendekati mobil yang menabrak pohon lalu mengintip dari jendela kaca ada dua penumpang yang duduk didepan sedang terluka. Beberapa orang juga menghentikan kendaraanya saat peristiwa terjadi. Terlihat mobil itu sudah dipenuhi oleh orang-orang.
"Hey siapa yang bisa membantunya?" tanya ibu-ibu.
"Kita harus membantu mengeluarkan mereka!" teriak salah seorang pria dewasa.
"Nona apakah aku boleh membantu mereka?" tanya Orkan menghampiri Davina.
Davina menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Tapi kau harus hati-hati." pesan Davina yang mendapat anggukan Orkan.
Orkan bergegas kembali ke arah mobil dan berbicara kepada beberapa pria yang ada dilokasi untuk bekerja sama. Orkan juga meminta seseorang untuk segera menelpon ambulance.
Terlihat asap sudah keluar dari bagasi depan mobil, tanpa pikir panjang Orkan memecahkan kaca mobil kemudian membuka pintu mobil dan meminta orang-orang untuk mengangkat penumpang yang sudah tidak sadarkan diri. Dengan kerjasama itu dua penumpang pria berhasil diselamatkan sebelum api menjalar kebadan mobil. Sepertinya kecepatan tinggi membuat mobil itu hilang kendali dan tabrakan yang lumayan keras membuat mesin mobil terbakar.
Davina mengajak Mely berjalan mendekat untuk melihat kondisi korban kecelakaan yang hampir saja juga melibatkan dirinya.
Davina terhenyak saat melihat wajah salah satu korban sudah berlumuran darah yang tidak asing baginya.
"Dia!" teriak Davina histeris.
*
*
*
"Sayang." panggil Amel kepada suami barunya.
"Iya ada apa?" tanya Nathan lembut.
"Aku ingin ke kota A untuk mengurus cuti kuliahku. Kau mau menemaniku kan?" pinta Amel manja.
"Iya boleh. Tapi besok aku harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu. Bagaimana kalau kita berangkat lusa?" tanya Nathan menawarkan.
"Boleh. Kalau begitu sekarang aku akan memesan tiket." jawab Amel kemudian dengan cepat mengambil ponselnya diatas meja dengan setengah berlari.
"Sayang hati-hati! Ingat aku sedang mengandung." kata Nathan setengah berteriak saat melihat Amel bertindak membahayakan.
"Maaf Sayang. Aku lupa." ucap Amel bersalah kemudian menepuk pelan jidatnya.
"Maaf seharusnya diusiamu ini kau masih berlarian kesana kemari dan menghabiskan waktumu untuk bersenang-senang bersama temanmu." kata Nathan menundukkan wajahnya merasa sangat bersalah.
Amel menghampiri Nathan kemudian menggengam erat tangan suaminya seolah memberikan kekuatan.
"Tidak ada yang perlu disesali. Semua telah terjadi, kita berdua harus melaluinya. Anak didalam perutku ini tidak bersalah. Kita yang harus bertanggung jawab dan menjaganya dengan penuh cinta. Jangan sampai anak kita merasa kalau kehadirannya adalah sebuah kesalahan." ucap Amel lembut.
Nathan tertegun mendengar ucapan dewasa yang keluar dari mulut wanita yang saat ini menjadi istrinya. Nathan tidak menyangka dengan sisi lain dari Amel. Nathan menyangka bahwa Amel hanyalah seorang gadis manja dan berpemikiran sempit. Tapi ternyata saat dihadapkan dengan kondisi seperti sekarang, Nathan bisa melihat kedewasaan istrinya. Nathan berpikir kehamilan diluar nikah di usia muda akan mempengaruhi mental Amel. Namun ternyata Amel sudah lebih siap menerima kenyataan daripada dirinya.
"Kau benar Sayang. Ayo kita jaga dan besarkan anak ini bersama." ucap Nathan sembari mengelus perut istrinya lalu memeluknya.
Amel melepaskan pelukannya kemudian membuka aplikasi pemesanan tiket online di ponselnya.
"Sudah. Kita berangkat lusa jam 8 pagi." kata Amel.
"Hem. Baiklah. Ayo kita tidur." ajak Nathan kemudian keduanya membaringkan diri diatas kasur.
*
*
*
Mobil ambulance datang dan membawa dua korban kecelakaan ke rumah sakit.
"Orkan, Mely aku akan ikut ke rumah sakit." ucap Davina panik.
"Baik Nona. Kami akan ikut." sahut Orkan dan Mely serempak.
Sebuah taxi berhasil dihentikan oleh Davina dan ketiga orang itu melaju menuju rumah sakit.
"Tolong selidiki kecelakaan yang terjadi dijalan Anggrek yang baru saja terjadi malam ini." perintah Davina mengubungi seseorang ditelpon.
"Baik Nona."
Davina sangat terkejut saat melihat wajah pria yang menjadi korban kecelakaan yang hampir saja mengancam nyawanya. Davina merasa ada kejanggalan dari tragedi itu. Untung saja luka para korban tidak terlalu parah. Terlebih lagi reflek Mely yang sangat cepat melindunginya.
"Mely terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku." ucap Davina tulus.
"Itu adalah tugasku Nona. Keselamatan Nona adalah tanggungjawabku." kata Mely tersenyum manis.
Davina membalas senyuman Mely kemudian memeluk pengawal pribadinya erat. Mely merasa tersanjung saat mendapatkan pelukan dari Davina. Walaupun sudah lama bekerja dengan Davina, Mely selalu saja tersentuh saat Davina memeluk dirinya. Mely merasa Davina tidak pernah menganggap rendah dirinya. Justru Davina selalu memperlakukan Mely seperti saudara kandung. Untuk itulah Mely tidak merasa keberatan jika harus berkorban untuk Davina. Bagi Mely, majikannya itu memang pantas mendapatkannya.
Sepuluh menit berlalu, sampailah taxi dirumah sakit dimana dua korban tadi akan dirawat.
Davina bergegas turun disusul Orkan dan Mely dibelakangnya.
"Apakah Nona mengenal salah satu dari mereka?" tanya Orkan saat melihat kepanikan Davina.
"Iya aku mengenalnya walau tidak terlalu dekat. Pastikan mereka mendapatkan perawatan terbaik." jawab Davina sembari memberikan perintah kepada Orkan.
"Baik Nona. Nona tenang saja, saya bisa memastikan mereka tidak terluka parah. Saya akan meminta dokter terbaik disini untuk memeriksa kondis mereka." kata Orkan berusaha menenangkan Davina kemudian pergi meninggalkan dua wanita itu.
Davina tiba-tiba tersadar saat mendengar ucapan Orkan.
"Mel, apakah aku tadi terlihat sangat panik?" tanya Davina.
"Iya Nona. Saat Nona melihat wajah salah satu korban, saya bisa melihat Nona sangat khawatir. Aku jadi penasaran siapa pria itu, Nona?" tanya Mely membuat Davina terkejut.
Davina hanya diam tidak menjawab pertanyaan Mely yang sangat penasaran.
"Untuk apa aku peduli dengannya?" tanya Davina bingung.
"Kenapa tiba-tiba ada perasaan takut saat melihatnta terluka? Kenapa denganku ini?" batin Davina bertanya-tanya dalam hati.
Tidak mendapat respon dari Davina, Mely hanya menghembuskan nafas kasar.
"Lagi-lagi aku dibuat penasaran. Siapa pria itu?" tanya Mely dalam hati.
-BERSAMBUNG