
"Jadi apakah kau mau menikah denganku?"
"Aku...."
Davina menghentikan ucapannya membuat jantung Marvin berdetak tak karuan. Baru pertama kali Marvin merasakan kegugupan menanti sebuah jawaban.
"Maaf.. Aku tidak mau." jawab Davina membuat tubuh Marvin seketika lemas.
"Kau menolakku lagi? Bukankah tadi kau bilang akan menerimaku?" tanya Marvin tak rela dengan wajah sedih.
Davina menatap Marvin lekat kemudian terkekeh membuat pria itu kebingungan.
"Kenapa kau malah tertawa? Kau senang karena sudah menolakku?" tanya Marvin heran.
"Aku belum selesai bicara tapi kau malah sudah memasang wajah sedih seperti itu. Aku tidak tahan melihatnya." kekeh Davina.
"Memangnya apalagi yang akan kau katakan? Bukankah jawabanmu sudah jelas kalau kau menolakku?" tanya Marvin memastikan.
Davina menghentikan tawanya kemudian menghela nafas panjang.
"Oke dengarkan aku dulu." pinta Davina.
Marvin menatap Davina dengan perasaan yang tak karuan.
"Aku tidak mau karena kau mengajakku menikah tanpa ada persiapan." ucap Davina.
"Jadi maksudmu kau mau menikah denganku kalau aku melamarmu lebih dulu?" tanya Marvin memastikan.
"Bisa dibilang begitu." jawab Davina.
Marvin merogoh sebuah kotak kecil dari kantongnya.
"Jadi Davina maukah kau menikah denganku?" tanya Marvin dengan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin berlian.
Davina menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya membulat seolah tak percaya.
"Apakah kau selalu membawanya kemanapun?" tanya Davina heran.
"Iya, aku berharap jawaban setuju darimu jadi aku membawa cincin ini kemanapun aku pergi. Aku tahu pertemuan kita selalu terjadi tanpa rencana bukan?" jawab Marvin membuat Davina takjub.
"Kenapa kau diam saja? Apakah kau masih tetap menolakku? Kalau begitu aku akan melakukan pesta pertunangan kita terlebih dahulu agar kau yakin menerimaku." kata Marvin.
Davina dengan cepat menggelengkan kepalanya. Davina bingung harus memberi jawaban apa. Disatu sisi Davina masih ragu dan disisi lain Davina tidak ingin menolak Marvin.
"Apakah kau masih meragukanku?" tanya Marvin mendapati Davina hanya diam saja.
"Bukan begitu." jawab Davina tidak enak.
"Lalu? Apakah kau takut aku hanya mempermainkanmu?" tanya Marvin yang dijawab anggukkan kepala Davina.
Marvin menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan kasar.
"Mungkin sekarang kau boleh meragukanku, aku tidak bisa memaksamu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku Marvin Harris tidak pernah mendekati wanita manapun. Kau adalah wanita pertama yang membuatku tertarik dan aku tidak ingin berpacaran denganmu. Aku ingin menikahimu dan melindungimu seumur hidupku. Mungkin bagimu perkataanku tidak masuk akal mengingat pertemuan kita yang sangat singkat. Tapi aku Marvin Harris tidak pernah main-main dengan ucapanku. Kau bisa percaya itu." kata Marvin tegas membuat Davina tertegun.
Davina tahu apa yang dikatakan Marvin adalah kebenaran. Davina bisa melihat ketulusan melalui tatapan mata Marvin.
"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Davina sebelum memberikan jawaban kepada Marvin.
"Silahkan." jawab Marvin dengan senyum menawan.
"Kelak kalau kau mengetahui identitasku yang sebenarnya, apakah kau masih tetap akan menerimaku?" tanya Davina dengan raut wajah khawatir.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" kata Marvin balik bertanya.
"Aku bukanlah gadis biasa seperti yang kau kira. Identitasku juga sangat berbahaya. Bisakah kau menerimanya? Karena aku tahu, saat identitasku terungkap maka kehidupan kita tidak akan baik-baik saja." jawab Davina.
Marvin terdiam sejenak, dalam hatinya semakin penasaran siapa sebenarnya gadis yang berada dihadapannya ini.
"Jika kau tidak siap menghadapinya, maka kau boleh membatalkan niatmu." ucap Davina membuat Marvin mengerutkan kedua alisnya.
"Kau pikir aku pria pengecut? Aku tidak selemah itu. Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya. Saat aku sudah yakin untuk menjadikanmu istriku maka aku sudah siap menanggung segala resikonya. Aku tidak akan membiarkanmu masuk dalam bahaya sedikitpun." kata Marvin tak goyah.
Davina tersenyum tipis kemudian menatap lekat pria tampan dihadapannya itu. Meskipun Marvin 10 tahun lebih tua dari usianya, namun paras pria itu masih pantas seperti pemuda yang berusia 20an tahun.
"Bisakah aku mempercayaimu?" tanya Davina dalam hati.
"Sebenarnya siapa dirimu kelinci kecilku? Aku semakin penasaran denganmu. Aku pasti akan melindungimu." batin Marvin.
"Kalau kau masih ragu padaku, bagaimana kalau kita membuat perjanjian pernikahan terlebih dahulu?" tanya Marvin menawarkan.
"Maksudmu?" tanya Davina heran.
"Kau dan aku bisa menuliskan poin-poin dan peraturan apa saja yang akan kita sepakati bersama setelah kita menjadi suami istri." jawab Marvin.
"Kau tidak takut kalau peraturan yang aku buat akan merugikanmu?" tanya Davina.
"Aku tidak khawatir tentang hal itu. Yang paling penting kau bisa menyetujui pernikahan ini. Aku yakin seiring berjalannya waktu, hatimu pasti akan terbuka untukku." jawab Marvin percaya diri.
"Baiklah. Bisakah kau memberiku waktu untuk mempertimbangkannya sekali lagi?" pinta Davina.
"Satu hari. Aku akan memberimu waktu satu hari untuk memikirkannya. Aku sudah tidak bisa menunggunya lagi." jawab Marvin tegas.
"Oke." sahut Davina membuat Marvin lega.
"Sekarang kemana aku harus mengantarmu?" tanya Marvin menyadari malam semakin larut.
"Ke hotel dimana kita bertemu tadi siang." jawab Davina.
"Kenapa kau kesana lagi? Mau menginap disana?" tanya Marvin penasaran.
Davina hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Maaf atas sikapku tadi siang." ucap Marvin kembali merasa bersalah.
"Sudah jangan dibahas lagi." kata Davina dengan senyum tipis.
Marvin membalasnya dengan senyuman dan anggukkan kepala.
"Kau pasti masih sangat penasaran dengan siapa pria yang aku temui tadi kan? Maaf saat ini aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya kepadamu." ucap Davina merasa bersalah.
"Kau tenang saja, aku bisa memahamimu. Aku tidak akan bertanya apapun jika kau belum ingin mengatakannya kepadaku. Aku tahu kau pasti punya alasan kuat kenapa menutupinya bukan?" kata Marvin.
Davina menoleh kearah Marvin kemudian tersenyum.
"Terimakasih." ucap Davina lirih.
"Sama-sama." sahut Marvin kemudian melajukan mobilnya.
Dalam perjalanan tidak ada percakapan lagi diantara keduanya. Davina dan Marvin fokus dengan pemikirannya masing-masing.
"Bagaimana caraku mengatakannya kepada Ayah dan Ibu ya?" tanya Davina dalam hati.
"Aku tidak peduli apapun yang kau sembunyikan dariku. Bagiku kau menerimaku itu sudah cukup, kelinciku." batin Marvin.
Tak butuh waktu lama, mobil Marvin sudah berhenti didepan hotel.
"Kita sudah sampai." ucap Marvin.
"Ah iya, terimakasih." kata Davina.
"Kenapa kau ikut turun? Kau tidak perlu mengantarku." ucap Davina heran saat Marvin turun dari mobil.
"Tidak masalah." jawab Marvin tersenyum tipis.
"Selamat malam, Tuan." sapa security dengan hormat yang berjaga didepan hotel.
Davina berpikir itu hal yang wajar dilakukan untuk menyambut tamu.
"Selamat malam, Tuan Marvin. Apa ada pekerjaan khusus yang perlu Tuan lakukan hingga malam hari harus berkunjung ke hotel?" tanya manager hotel.
"Tidak. Aku hanya sedang mengantar kekasihku." jawab Marvin membuat manager itu terkejut diikuti beberapa staf hotel yang kebetulan berada diloby.
"Hah? Aku tidak salah dengar kan? Tuan muda Harris sudah memiliki kekasih?" batin manager itu dalam hati yang mungkin pertanyaan itu sama dengan staf lainnya.
Davina menatap kebingungan dengan situasi yang ada dihadapannya.
"Jadi kalian harus mengingat wajah kekasihku ini. Berikan pelayanan dan fasilitas terbaik untuknya." titah Marvin tegas.
"Baik Tuan." sahut mereka serempak.
Davina memberikan tatapan tajam kepada Marvin setelah menyadari situasi yang terjadi.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Marvin heran.
"Kau kenapa tidak bilang kalau kau pemilik hotel ini?" protes Davina.
"Kau tidak bertanya jadi aku rasa tidak perlu memberitahumu." ucap Marvin membela diri.
"Iya aku tahu. Tapi kau tidak perlu memberikan perintah seperti itu kepada para pekerjamu. Lagipula memangnya aku setuju untuk jadi kekasihmu?" gerutu Davina kesal.
"Hem.. tidak masalah kalau kau menolak untuk jadi kekasihku. Tapi kau pasti tidak akan menolak menjadi istriku kan?" goda Marvin.
"Cih! Percaya diri sekali." sahut Davina tak terima.
"Hahaha.. Baiklah aku tidak akan menggodamu lagi. Sudah malam, istirahatlah. Aku harap besok mendapat jawaban baik darimu." pamit Marvin.
"Iya hati-hati." ucap Davina membuat Marvin tersenyum.
...----------------...
-BERSAMBUNG