Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 21 Rindu


"Vin, kau masih ada jam lagi gak?" tanya Luna menghampiri Davina di ruangan kampus.


"Enggak. Ini aku mau pulang." jawab Davina sibuk mengemasi barangnya.


"Nongkrong dulu yuk. Cari udara segar, memangnya kamu gak bosen di kos terus?" ajak Luna yang sedang gabut.


"Boleh juga." sahut Davina setuju.


"Oke, hari ini aku yang bayar. Tapi jangan lebih dari lima puluh ribu ya, uangku mepet." ucap Luna meringis menampakkan gigi depannya.


"Dasar perhitungan. Yasudah ayo berangkat." kata Davina dengan menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan Luna.


"Let's go!" seru Luna bersemangat.


Davina dan Luna berjalan menuju sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari kampus Y. Terlihat banyak muda-mudi yang sudah memenuhi kafe tersebut.


Setelah memesan minuman dan makanan ringan, kedua wanita itu mencari tempat duduk yang kosong.


"Vin, gimana hubunganmu dengan si tuan muda Harris?" tanya Luna kepo.


"Hah? Apa maksud dari pertanyaanmu itu?" tanya Davina heran.


"Loh bukannya kalian sedang pedekate?" tanya Luna menebak-nebak.


"Sembarangan! Aku tidak punya hubungan seperti itu dengannya." elak Davina tak habis pikir dengan pemikiran aneh temannya.


"Memangnya pria itu tidak menemuimu lagi?" tanya Luna penasaran.


"Sudah jangan bahas itu. Aku tidak ada hubungan dengannya." jawab Davina mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Haish sayang sekali. Padahal kalian berdua terlihat sangat cocok lho. Cantik dan ganteng, kalian juga punya aura yang sama. Jika ada penghargaan pasangan terkeren dinegara ini, pasti kalian akan mendapatkannya." cerocos Luna.


PLAK!


"Jangan banyak berkhayal! Lebih baik kau pikirkan bagaimana mengerjakan tugas-tugasmu yang sudah tertumpuk sejak bulan lalu." ucap Davina mengingatkan.


"Ah mendengar tugas saja kepalaku langsung pusing!" keluh Luna yang tiba-tiba menjadi lemas.


"Kau ini! Jangan sampai kau tertinggal karena aku akan wisuda lebih dulu." kata Davina menggoda Luna.


"Aku juga ingin cepat lulus tapi apalah dayaku? Otakku tidak sepintar dirimu." sahut Luna sadar diri.


"Kau ini! Semua bisa kalau terbiasa. Kau hanya sedikit pemalas saja." sarkas Davina.


"Sudahlah. Aku juga masuk jurusan ini bukan karena keinginanku. Orangtuaku yang memaksaku." ucap Luna mencari pembenaran.


"Hey! Orangtuamu pasti mengharapkan yang terbaik untukmu. Semangatlah, anggap saja sebagai baktimu untuk membuat mereka bangga." kata Davina menyemangati Luna dengan mengangkat dan mengepalkan tangannya.


Luna tersenyum melihat Davina yang selalu bisa mengembalikan mood dan memahami suasana hatinya.


"Terimakasih, Vina." ucap Luna terharu.


"Jangan sungkan. Sudah sewajarnya kita sebagai teman harus saling support." sahut Davina tersenyum.


Tak lama setelah berbincang-bincang, pelayan datang menyajikan pesanan Davina dan Luna. Setelah itu keduanya sibuk untuk melepaskan dahaga dan mengganjal perutnya masing-masing.


"Oh iya, Vin. Kamu tidak penasaran apa motif si Tuan Marvin itu ingin mendekatimu?" tanya Luna tiba-tiba kembali membahas Marvin, si pria aneh menurut penilaian Davina.


"Aku tidak tertarik." jawab Davina tanpa ekspresi.


"Astaga kau ini! Diluar sana banyak sekali yang mengidolakan tuan muda tampan dan kaya raya itu. Tapi aku dengar sampai sekarang dia belum memiliki kekasih bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita sekalipun. Padahal usianya sudah menginjak 30 tahun." cerita Luna yang sudah muncul penyakit nyinyirnya.


"Sepertinya kau paham sekali dengan kehidupan pribadi orang lain." sindir Davina.


"Sudah banyak rumor yang mengatakan itu." ucap Luna lagi tidak ingin berhenti menggosip.


"Jangan mudah percaya dengan apa yang kau dengar dari mulut orang lain. Terkadang ada orang yang melebih-lebihkan atau bisa jadi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya." kata Davina menasehati.


"Kau benar juga." sahut Luna yang mengangguk-anggukan kepalanya setuju dengan perkataan Davina.


"Tunggu dulu! Kau ini tidak sedang membela si tuan muda Harris kan?" goda Luna.


"Aku hanya berpikiran positif." jawab Davina datar.


"Hem.. Baiklah." sahut Luna dengan senyum penuh arti.


*


*


*


"Apakah Tuan sudah menghubungi Nyonya Besar kalau hari ini Tuan akan pulang kerumah?" tanya Johan yang sudah lebih dulu kembali beraktivitas satu hari yang lalu.


"Pihak rumah sakit pasti sudah langsung memberi kabar kepada Nenek." jawab Marvin karena rumah sakit yang menjadi tempat Marvin dirawat merupakan milik keluarga Harris.


"Tolong masukkan barangku ke mobil." titah Marvin yang disanggupi oleh Johan.


Para perawat dan dokter memberikan salam saat bersimpangan jalan dengan Marvin.


Marvin hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan tatapan datar. Marvin memang sangat jarang tersenyum bahkan hampir tidak pernah jika berhadapan dengan orang lain. Tatapan dingin yang dimiliki Marvin seolah bisa membuat orang membeku.


"Antar aku ke kampus Y." perintah Marvin saat sudah berada didalam mobil.


"Baik Tuan." sahut Johan menyanggupi dan melajukan mobilnya sesuai dengan perintah Marvin.


Johan tidak ingin bertanya alasan Marvin karena ia bisa menebak apa yang ingin dilakukan majikannya. Menurut penglihatannya, Johan bisa menilai kalau Marvin sedang berusaha mengejar seorang gadis.


Hal itu merupakan sebuah perubahan besar dalam kehidupan tuan muda Harris karena selama ini hanya Johan yang berada didekat Marvin. Bahkan Marvin tidak terlihat tertarik sedikitpun saat dihadapkan dengan banyak gadis yang mencoba mendekatinya. Sehingga munculah gosip yang mengatakan kalau Marvin dan Johan mempunyai hubungan gelap. Padahal baik Marvin maupun Johan adalah laki-laki tulen dan normal. Entah siapa yang pertama kali berani menyebarkan rumor aneh itu. Namun keduanya sama sekali tidak ambil pusing.


Setelah melaju selama 20 menit, Johan sudah menghentikan mobilnya ditepi jalan depan kampus Y.


Marvin menatap gerbang kampus yang terbuka sedikit dan mendapati kampus yang mulai sepi pertanda para mahasiswa dan mahasiswi sudah selesai kegiatan kuliah.


"Apa kelinci kecilku sudah pulang ya?" gumam Marvin bertanya dalam hati.


"Tuan, apakah saya perlu bertanya kepada security?" tanya Johan hati-hati.


"Tidak perlu. Kita lanjut mengelilingi daerah sini saja." jawab Marvin yang memiliki niat lain.


Saat melajukan mobil beberapa meter, Johan melihat gadis yang sedang dicari tuannya sedang berjalan berlawanan arah yang tak lain adalah Davina bersama temannya.. Dengan cepat Johan memutar balik mobilnya untuk menyusul Davina.


"Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku?" umpat Marvin marah.


"Maaf Tuan, saya baru saja melihat Nona Davina." ucap Johan merasa bersalah.


"Dimana?" tanya Marvin yang sudah celingak-celinguk mencari keberadaan Davina.


CKIT!


Johan menginjak rem secara tiba-tiba membuat Marvin hampir saja tersungkur dan terbentur kaca mobil. Beruntung kaki dan tangan Marvin sigap menahan agar tidak menambah cedera diwajahnya.


"Kenapa kau mendadak berhenti?" tanya Marvin kesal.


"Maaf Tuan, itu Nona Davina. Apakah Tuan ingin menemuinya?" tanya Johan sekaligus memberitahu.


"Ikuti saja dia." jawab Marvin menyeringai.


"Baik Tuan." sahut Johan patuh.


Merasa ada mobil yang membuntutinya, Davina sadar dan mempercepat langkahnya.


"Kenapa kau tiba-tiba jalan cepat?" tanya Luna heran.


"Sstt.. Ada yang mengikuti kita." bisik Davina membuat Luna kaget.


"Jangan melihat kebelakang!" cegah Davina saat mendapati Luna hendak menoleh.


"Sepertinya Nona Davina menyadari kalau kita sedang menguntitnya, Tuan." ucap Johan.


"Tidak masalah. Aku penasaran apa yang akan dilakukan gadis unik itu." sahut Marvin membuat Johan mengerutkan keningnya.


"Sepertinya Tuanku sedang memasuki masa pubertas." batin Johan tertawa kecil.


"Apa yang kau tertawakan? Jangan mengumpatku didalam hatimu." kata Marvin dingin.


"Tidak Tuan. Saya tidak berani." ucap Johan gugup.


"Apa Tuan Marvin benar-benar punya indera ketujuh? Kenapa dia bisa tahu?" tanya Johan kebingungan di dalam hati.


-BERSAMBUNG