Istri Brutal Mr. Arogan

Istri Brutal Mr. Arogan
Episode 86 Mulai Bertindak


"Tuan Carlos baru saja menemui putri dan menantunya, Tuan." ucap Robert.


"Hahaha pertemuan keluarga yang harmonis." sahut Anton menyeringai.


"Apa rencana Tuan selanjutnya?" tanya Robert.


"Tidak perlu buru-buru. Pasti dia akan menemuiku lebih dulu. Kita tunggu saja." jawab Anton santai.


"Baiklah Tuan, saya permisi." pamit Robert.


"Rupanya kau tidak berubah, Adam. Masih saja kelemahanmu adalah orang terdekatmu. Haha kali ini aku pasti bisa mengalahkanmu." gumam Anton dengan senyuman aneh.


"Tuan sepertinya ada yang menyerang markas kita." lapor Robert panik.


"Heh lebih cepat dari perkiraanku." batin Anton.


"Ayo bersiap. Kita sambut tamu kita dengan baik." kata Anton dengan senyuman aneh.


Anton mengambil jas hitam yang menggantung dikursi kebesarannya dan memakainya. Anton berjalan dengan gagah diikuti Robert dibelakangnya.


"Semuanya bersiap, pastikan Tuan kita aman." titah Robert melalui earphonenya.


Diluar markas sudah berdiri Adam beserta anak buahnya yang menunggu Anton menyambutnya.


"Jangan melakukan apapun kalau mereka tidak menyerang kita duluan." pesan Adam.


"Baik Tuan." sahut anak buah Adam kompak.


Pintu gerbang markas Millano pun terbuka. Menampakkan Anton dan juga Robert yang berdiri berhadapan dengan Adam.


"Siapa tamu yang sudah mengusik tempatku pagi-pagi begini?" tanya Anton menyeringai.


"Selamat pagi rekanku, Antonius Millano." sapa Adam dengan tatapan dingin.


"Hahaha rekan? Baiklah karena tamuku sudah jauh-jauh datang kemari, biarkan mereka masuk." kata Anton yang langsung dipatuhi oleh anak buahnya membuka pintu gerbang lebih lebar.


Anton berbalik arah lebih dulu dan diikuti anak buahnya kemudian disusul Adam bersama bawahannya. Anton menghentikan langkahnya di depan aula besar yang tak jauh dari rumah utamanya.


"Siapkan minuman terbaik untuk menyambut rekan lamaku ini." perintah Anton kepada salah satu anak buahnya.


Mata Adam menyipit saat mendapati aula besar itu bernuansa merah. Untung saja aula itu terbuka jadi tidak terlalu menyakiti pandangannya.


"Silahkan duduk, rekanku." kata Anton penuh penekanan sembari menunjukkan sebuah kursi yang sudah ditata berhadapan dengannya.


Adam mematuhinya dan terjadi adu tatap cukup lama diantara keduanya.


"Apa yang membuatmu kemari?" tanya Anton.


"Tidak usah berpura-pura. Kau pasti sudah tahu apa tujuanku kesini." jawab Adam.


"Ckck.. Mana aku tahu. Sebuah kehormatan Tuan Carlos mau berkunjung ke markas kecilku ini." ucap Anton menyeringai.


"Apa tujuanmu menemui putriku?" tanya Adam malas meladeni omong kosong Anton.


"Rupanya kau sangat tidak sabar." jawab Anton mencemooh.


"Aku hanya ingin berkenalan dengan putrimu. Setelah kau menutupinya begitu lama, akhirnya kau mengakuinya didepanku." tambah Anton dengan senyuman aneh diwajahku.


"Kau jangan macam-macam dengannya. Kalau kau berani menyakitinya, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran padamu." ancam Adam tegas.


PLOK PLOK PLOK


"Menarik sekali. Aku baru tahu kalau Tuan Carlos yang terkenal angkuh dan kejam itu ternyata juga punya sisi lemah." sindir Anton.


"Terserah apa katamu. Selain untuk memperingatkanmu, aku juga punya sesuatu untukmu." ucap Adam melemparkan sebuah surat kepada Anton.


"Apa ini?" tanya Anton mengerutkan keningnya.


"Kau bisa membacanya sendiri." jawab Adam.


"Apakah ini trik barumu?" cibir Anton.


"Kau bisa tahu apa yang terjadi dengan Ariana setelah membaca surat itu." kata Adam membuat Anton terkejut.


"Apa maksudmu? Kau tidak pantas menyebut namanya." geram Anton.


"Pantas atau tidak sepertinya kau akan tahu setelah membaca surat yang ia tulis sendiri." kata Adam membuat Anton terdiam.


"Aku memperingatkanmu, jika kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa tahun lalu maka jangan lagi mengganggu putri dan menantuku." pesan Adam tegas kemudian berdiri meninggalkan Anton yang masih terdiam.


"Apakah Tuan akan membiarkan Tuan Carlos begitu saja?" tanya Robert berbisik.


"Biarkan mereka pergi." jawab Anton.


"Baik Tuan." sahut Robert segera memberi komando ke anak buahnya.


"Hanya begini saja, Tuan?" tanya Orkan bingung.


"Aku hanya memberinya peringatan kecil. Lagipula masalah diantara kami hanyalah kesalahpahaman. Tapi kalau stelah membaca surat itu dia masih mengganggu putriku, maka aku tidak akan tinggal diam." jawab Adam dingin.


...----------------...


"Permisi Nyonya, Nona yang kemarin datang lagi." ucap Thomas memberitahu.


"Nyalinya bagus juga. 1 jam lagi aku akan menemuinya." sahut Julia.


"Kalau saja bukan karena permintaan cucu menantuku, pasti aku tidak akan menemuinya. Biar saja dia jadi ikan asin karena menungguku." gumam Julia.


"Rupanya Carlos sudah mendidik putrinya dengan baik. Beruntung sekali cucuku menikahinya. Aku jadi tidak perlu pusing menyingkirkan parasit-parasit yang ingin menempel dicucuku." ucap Julia bersyukur.


"Nenek, Vina dan Marvin berangkat dulu." pamit Davina menyadarkan Julia.


"Oh kalian berhati-hatilah." sahut Julia.


"Baik, Nek." ucap Davina dan Marvin serempak.


"Kau kuliah sampai jam berapa?" tanya Marvin saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Mungkin sampai sore." jawab Davina.


"Lama sekali." sahut Marvin kecewa.


"Ada apa denganmu?" tanya Davina heran.


"Entah kenapa rasanya aku tidak rela berjauhan darimu walau sedetik saja." jawab Marvin manja.


Davina membelalakkan matanya tak percaya kalau pria dihadapannya bisa memiliki sifat kekanakan seperti itu.


"Jangan lebay. Hanya beberapa jam saja. Aku kuliah bukan bermain-main." ucap Davina.


"Iya aku tahu." sahut Marvin.


CUP!


"Ayo berangkat nanti bisa terlambat." kata Davina.


"Kenapa hanya cium dipipi?" protes Marvin.


"Jangan protes. Cepat ayo berangkat." gerutu Davina kesal.


"Haha baiklah tuan putriku." sahut Marvin terkekeh lalu mengemudikan mobilnya.


Amel yang mendengar suara deru mobil akan keluar dari mansion mewah itu pun menghadangnya didepan pintu gerbang.


"Siapa wanita gila itu?" tanya Marvin kesal.


"Yang disebut oleh Nenek." jawab Davina santai.


"Dia mau cari mati?" tanya Marvin jengkel.


"Jangan emosi. Kau tak perlu meladeninya." ucap Davina lembut sembari membelai tangan suaminya.


Marvin menurunkan kaca mobilnya.


"Singkirkan dia!" perintah Marvin tegas.


"Baik Tuan." sahut Virat patuh segera menyeret Amel untuk menyingkir.


"Hei, kau kasar sekali!" umpat Amel kesal.


"Jangan menghalangi jalan kalau Nona masih ingin melihat dunia ini." kata Virat seketika membuat tubuh Amel bergetar ketakutan.


Marvin kembali menginjak gasnya begitu saja.


"Dia sudah pergi. Semua ini gara-gara kamu." kata Amel marah.


"Sebaiknya Nona jangan membuat keributan kalau masih ingin menemui Nyonya." ucap Virat memperingatkan dengan tatapan tajam.


"Ba-baik." sahut Amel gugup.


Dengan cepat Virat kembali menutup pintu gerbang dan menguncinya.


"Sial. Kenapa mereka semua menakutkan sekali. Aku juga gagal memastikan apakah wanita yang aku lihat semalam Davina atau bukan. Benar-benar tidak beruntung." gumam Amel.


"Semoga saja kali ini Nyonya Harris benar-benar mau menemuiku. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk menyelematkan keluargaku." harap Amel dalam hati.


"Darimana wanita tidak jelas itu datang?" gerutu Marvin kesal.


"Hei, kenapa kau masih marah-marah begitu?" tanya Davina heran.


"Dia orang yang merebut mantan kekasihmu kan? Harusnya tadi aku memberinya pelajaran. Berani sekali dia menyakiti istriku." jawab Marvin membuat Davina terkejut.


"Apa yang kau katakan, Mas? Tidak ada hubungannya denganmu. Apa yang terjadi diantara kami hanyalah masalalu." kata Davina tak habis pikir dengan pikiran suaminya.


"Tetap saja, aku harus memberi pelajaran pada orang-orang yang pernah menyakiti istriku." sahut Marvin lagi.


"Tidak perlu, Mas. Aku baik-baik saja. Lagipula tidak akan ada pengkhianatan jika salah satu dari mereka menolak. Sudahlah semua sudah berlalu. Sekarang aku adalah istrimu." kata Davina seketika Marvin menepikan mobilnya.


Marvin menatap wajah Davina lekat dan menarik tangan istrinya itu.


"Kau benar. Aku pastikan tidak akan menyakitimu. Aku akan selalu berada disisimu apapun yang terjadi." ucap Marvin lembut.


"Baiklah. Biar waktu yang membuktikan." sahut Davina menyimpulkan senyum manisnya.


"Aku mencintaimu." kata Marvin mengecup kening istrinya cukup lama.


"Terimakasih Mas." sahut Davina.


-BERSAMBUNG